SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 28


__ADS_3

“Ayah mana yang gak akan cemas mendapati anaknya belum pulang sampai malam? Kamu turun di toko buku dan nyuruh Pak Iwan pulang duluan apa maksudnya? Udah gitu ditelpon susah, siapa yang gak akan berpikir buruk?”


Nyonya Halim mendekat mengusap lengan suaminya menenangkan.


“Kamu serius di rumah Oma? Bukan di tempat lain?” tanya Tuan Halim menyelidik.


Hening.


Hal itu berimbas pada Edzar yang tanpa sadar menatap lekat Tuan Halim. Entah apa yang dipikirkannya hingga mematung seperti itu. Yang jelas, ada setitik rasa cemas timbul di sudut hatinya. Apa itu sebuah bentuk kepedulian terhadap orang yang kita kenal?


Beberapa detik kemudian Tuan Halim menghela nafas lega, mungkin Safa berhasil membuktikan dirinya tidak berbohong.


“Ya sudah. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan sampai sakit. Jangan lupa makan juga. Awas kalau Ayah dengar kamu kenapa-napa, Ayah akan kurung kamu sebulan di rumah.”


Setelah itu, Tuan Halim menurunkan tangannya pertanda ia sudah selesai berbicara. Matanya menatap sang istri yang terlihat menuntut jawaban. Seketika bibirnya mematri senyum.


“Safa baik-baik saja, dia betulan di rumah Ibu, tadi aku dengar suara Miranti.”


Nyonya Halim menghela nafas. “Syukurlah ....”


Namun sedetik kemudian dia menggerutu. “Anak itu. Selalu saja bikin kelimpungan. Sok-sok’an gak angkat telpon lagi. Padahal tiap detik pegang ponsel.”


Tuan Halim terkekeh. “Bilang saja kamu khawatir.”


“Pas di rumah saja kamu omelin terus, giliran anaknya gak ada, kesepian ‘kan?”


Nyonya Halim membuang muka, saat itulah tatapannya jatuh pada Edzar. Seketika matanya membola menghampiri pria muda itu.


“Astaga ... ya ampun maaf, Nak Edzar. Saya lupa masih ada orang di sini. Makasih rantangnya, ya. Baik banget udah dicuciin.”


Seruan itu membuat Edzar tersentak dari lamunan. Kepalanya menggeleng samar berusaha mengenyahkan pertanyaan aneh dalam otaknya. Sejak kapan dia jadi begitu penasaran dengan keadaan seseorang, terlebih yang baru dikenalnya.


“Tidak apa-apa, Tante. Sama-sama. Harusnya saya yang berterimakasih, dan sudah kewajiban saya mengembalikannya dalam keadaan bersih. Kalau begitu saya permisi.”


***

__ADS_1


Miranti menatap lekat keponakannya yang terduduk di kasur. Mereka baru saja selesai melakukan telpon dengan kakaknya, Ayah Safa.


Tatapannya menyelidik berusaha menebak alasan apa yang membawa anak itu kemari. Bukannya apa, Safa terbilang paling anti dengan rumah Omanya, terlebih jika harus menginap.


Tepat saat Miranti pulang kerja, gadis itu datang dengan kendaraan yang tak seperti biasanya. Sejak kapan keponakan cantiknya itu bersedia naik ojol?


“Tumben kamu main ke sini, udah gitu nginap pula.”


Safa mendelik dengan bibir sedikit mengerucut. “Apa salahnya Safa berkunjung ke rumah Oma? Safa kan juga cucunya.”


Miranti mengangguk.


“Siapa yang waktu itu nangis-nangis membuat kehebohan saking gak maunya nginap di sini?” Nadanya terdengar biasa, tapi sebenarnya Miranti sedang menyindir.


Dia ingat betul kejadian selepas acara pertunangannya dengan Tirta tempo lalu. Ketakutan Safa akan hantu menjadi alasan utama gadis itu menghindari rumah ini. Tapi lihatlah sekarang, Safa berniat menginap dan hal itu cukup membuat Miranti bertanya-tanya.


Suasana yang hening membuat Miranti menghela nafas. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, Safa tak seceria biasanya. Miranti tebak gadis itu sedang galau.


“Kamu baik-baik saja?”


“Tante dengar ... kamu sedang menyukai seseorang?” tanya Miranti lamat-lamat. “Apa kegalauanmu sekarang ada hubungannya dengan itu?”


Safa semakin menunduk, ia mengayunkan kakinya yang menggantung di sisi ranjang. Hal itu membuat Miranti semakin yakin keponakannya sedang dilanda masalah perasaan. Dengan lembut, Miranti mengulurkan tangan merangkul bahu gadis itu, mengusap pelan di sana.


“Katakan, apa yang membuatmu begitu murung sampai rela meninggalkan rumah dan menginap di rumah berhantu?” Rautnya jenaka saat mengatakan kalimat terakhir.


Safa mendelik. Apa-apaan tantenya itu. Lihat, dia ‘kan jadi parno. Safa mengusap lehernya yang terasa merinding sambil menengok sana-sini. Rumah Oma Halim yang besar dan terkesan antik mengingatkan Safa pada film-film horor yang pernah ditontonnya bersama Kamila.


Belum lagi keberadaan jam yang berbunyi dengan suara menggema. Hiih ... kok, Oma sama Tante Miranti betah sih tinggal di sini. Terlebih Oma, dia menolak saat ditawari renovasi oleh anak-anaknya.


Memang rumah ini rapi dan terawat. Safa juga tahu benar hiasan dan guci-guci koleksi Oma berharga fantastis. Tapi apa gunanya benda-benda mahal itu kalau rumah ada hantunya.


Miranti terkekeh melihat ekspresi was-was di wajah keponakannya. Dia masih penasaran tentang suara yang Safa bilang hantu itu.


Seumur hidup Miranti tinggal di rumah ini belum pernah sekalipun mengalami kejadian mistis. Makanya dia tidak percaya saat Safa bilang ada hantu.

__ADS_1


Tapi sekarang bukan saatnya menanyakan itu, ada hal yang jauh lebih penting dan itu menyangkut hati dan perasaan Safa.


“Tenanglah ... gak ada hantu, kok. Tante cuman bercanda. Kamunya aja yang penakut.”


“Sekarang bilang sama Tante, kamu ada masalah apa?”


“Apa ini tentang seseorang yang kamu suka?”


“Kenapa? Apa dia tidak menyukaimu? Atau dia menyukai orang lain? Bilang sama Tante, Tante akan kasih kamu tips cara menggaet pria yang ampuh dan manjur.”


Perlahan kepala Safa mendongak, lalu menoleh menatap tantenya lamat-lamat. “Safa gak yakin ...” lirihnya dengan wajah lemas.


Astaga, keponakannya benar-benar sakit! Belum pernah sekali pun Miranti melihat Safa semurung ini.


\=\=\=


“Gak yakin apa?”


“Kayaknya dia emang gak suka Safa. Tapi Safa gak tau apa dia suka orang lain atau enggak ...”


Miranti masih mendengarkan.


“Tadi siang Safa lihat dia masuk kafe bareng cewek. Dari bajunya sepertinya mereka teman.”


Miranti diam, serta-merta kepalanya menyimpulkan sesuatu. Dia malah salah fokus sama baju.


“Baju? Maksud kamu seragam?”


Safa mengangguk.


“Kamu ... naksir anak sekolahan ... Safa?” tanyanya hati-hati.


Safa menganga tak percaya. Serius, dari sekian banyak kata yang ia ucapkan tantenya mengambil kesimpulan seperti itu? Dan dari berbagai jenis seragam, kenapa harus seragam sekolah?


Safa merengut, “Tante pikir Safa suka berondong?”

__ADS_1


“Oh ... bukan, yah?” gumam Miranti hampir tak terdengar.


__ADS_2