SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 103


__ADS_3

"Konsep kantin di sini adalah healthy food. Tapi bukan berarti kamu hanya akan menemukan warna hijau dari sayuran."


"Rasanya juga cukup lezat. Bla bla bla......"


Safa tak bisa melepas tatapan dari tangannya. Ini bukan mimpi, ini nyata. Safa benar-benar menyentuhnya. Karena setelah bangun tidur pun ia tak bisa lupa. Safa masih ingat betapa kerasnya......


Stop.


Safa menggeleng-geleng kepala berusaha menepis bayangan tak senonoh yang terus saja memenuhi ruang pikirannya.


Ini tidak benar. Safa harus segera membuang jauh-jauh kejadian kemarin dari otaknya. Kalau tidak, kapan Safa bisa benar-benar melupakan Edzar.


Tapi, sepertinya Safa sudah kehilangan muka di hadapan lelaki itu. Hey, ini sangat memalukan, oke. Tidak ada yang lebih mencoreng dari memegang alat vital orang. Terlebih kepunyaan lawan jenis, dan lawan jenis itu mantan gebetan sendiri.


Aduh, Safa. Kenapa kamu bodoh sekali. Padahal kamu itu penggiat film dua satu plus. Kenapa sampai bisa tidak sadar kalau yang kamu pegang itu burungnya Edzar?


Uuaa.... Tenggelamkan Safa sekarang juga.


"Bukankah itu sangat lembut?"


"Lembut apanya. Dia bahkan sekeras batu."


"Ya? Keras? Kamu yakin?"


Refleks Safa mengangguk.


"Apa Chef-nya kurang matang saat memasak? Sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi."


Gumaman itu membuat Safa tersadar. Matanya berkedip pelan menatap Bima Laksana di hadapannya. "Apa?"


"Makanan di sini selalu diperhatikan. Jarang ada kejadian makanan yang kurang matang dan sebagainya."


Safa mengusap punggung tangannya sendiri berusaha memahami apa yang dibicarakan Bima. "Ma-maaf?"


"Tadi kamu bilang steiknya keras atau alot? Jadi kemungkinan ini kesalahan dari dapur. Sepertinya saya perlu menegur mereka sekarang."


"Eh, tunggu!"


"Itu tidak perlu. Steiknya enak. Tadi saya membicarakan hal lain. Maaf kalau anda jadi salah paham."


Safa bodoh. Bisa-bisanya kehilangan fokus dan bicara melantur. Fix, Safa harus segera melupakan kejadian kemarin. Kalau tidak dia bisa gila.


"Lalu, yang kamu bilang keras itu apa?"


Sebisa mungkin Safa berusaha untuk tidak mendecak atau memutar mata. Bima Laksana ini orangnya sok kenal sok dekat, membuat Safa muak karena pria itu terus bertanya.


Saat ini mereka berada di kantin perusahaan untuk makan siang. Safa terpaksa menerima ajakan pria perlente ini karena dia sendiri tidak punya teman. Dia bisa saja memesan makanan dari luar. Namun, sebenarnya Safa sama sekali tidak nafsu makan.


Juga, kalau ingin mengetahui sesuatu bukankah kita harus mendekati orangnya? Safa akan memulainya dari Bima. Maka dari itu, mari sedikit bersabar dan tetap waspada.


Safa tahu banyak orang di sini yang tidak suka padanya. Alasannya apa lagi kalau bukan karena jabatan. Dia bisa dengan mudah duduk di kursi teratas sedangkan banyak orang yang merangkak untuk mencapai posisinya.


Safa sadar apa yang dilakukannya tidak patut ditiru. Safa berjanji ini hanya sementara. Dia sendiri sebenarnya malas, bisnis bukanlah keahliannya.


"Ah... itu. Sol sepatu saya rasanya keras. Hehe."


Kening Bima berkerut, lantas menunduk melihat pump shoes yang dikenakan Safa.


"Benarkah? Bukankah itu mahal?"


Safa meringis dalam hati. Dia memang payah dalam mencari alasan. Bima pasti tidak percaya dengan ucapannya. Jelas, yang Safa pakai brand ternama dunia. Dan dengan sekilas Bima bisa langsung mengetahuinya. Hebat. Pria itu pasti juga penggemar barang-barang mewah.


"Itu, selera orang beda-beda, kan? Menurut saya ini kurang nyaman." Safa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang. Bima, meskipun dari luar tampak ramah, namun kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya tak jarang berujung menekan. Dia seolah mencari celah kesalahan lawan.

__ADS_1


"Begitu? Sepertinya selera kamu lebih tinggi dari ini," ujar Bima tersenyum.


"Oh, iya. Kamu tak perlu sekaku itu. Bicara santai saja. Bukankah kita rekan?"


Safa mengulas senyum membalas tatapan Bima. "Tentu."


..........................


Fiuuh...


Helaan nafas lega keluar dari mulutnya. Terlepas dari Bima Laksana merupakan hal yang paling ia inginkan sejak tadi. Toilet hanyalah alasan untuk Safa lari dari lelaki itu. Di saat seperti ini jiwa introvert-nya mendadak muncul dan kalau bisa Safa ingin berteleportasi ke kamarnya. Tempat ini benar-benar tidak nyaman. Meski perusahaan ini milik keluarganya, Safa tak lebih dari orang baru yang berjibaku di tempat asing.


Ting!


Notifikasi pesan dari Kamila.


"Saf, aku udah kirim paketan ke rumah kamu. Nanti coba dan foto terus kirim ke aku, ya. Ingat, fotonya yang bagus. Kalau bisa, sih, nanti malam kita ketemu. Biar aku minta Bang Randy yang foto."


Safa termenung melihat pesan dari Kamila. Ia tak bisa menutup mata bahwa kasus Dava juga berpengaruh pada profesinya. Tawaran endorse seketika menurun. Mereka tahu bahwa Safana Halim merupakan adik dari seorang koruptor.


Meski begitu, Kamila tidak menyerah mencari klien. Gadis itu tetap semangat menyokong Safa walau harus ikut mendapat cacian. Akhir-akhir ini kolom komentar Safa dipenuhi hujatan. Terlebih setelah naiknya headline berita yang menyangkut-pautkan dirinya dengan Dava.


[DAVANDRA HALIM, KAKAK DARI SELEBGRAM SAFANA HALIM TERJERAT KORUPSI]


"Jenguk tahanan bajunya semewah itu?"


"Songong banget."


"Lagi pamer barang branded. Pasti belinya pake duit hasil korup...."


Safa menunduk mengingat kembali beberapa komentar yang menyudutkannya. Entah dia harus menyalahkan siapa. Kondisi ini membuatnya marah, namun juga tak mampu Safa lampiaskan. Safa juga belum berani memposting sesuatu di sosial media, dia terlalu takut menghadapi cercaan yang sewaktu-waktu menyerangnya.


Ingin rasanya Safa berteriak pada orang-orang sok tahu itu. Namun Safa sadar harga diri jauh lebih berharga ketimbang mulut-mulut netizen yang menghinanya. Seperti kata Kamila, Safa harus menghadapi ini dengan tenang.


"Kamu sudah lihat Wakil Dirut yang baru itu?"


Tangan Safa menggantung di atas handle pintu. Beberapa orang nampaknya baru memasuki toilet.


"Dia terlihat bodoh."


"Dengar-dengar dia bahkan tidak kuliah. Apa yang bisa dia lakukan? Bukankah ini menyalahi aturan?"


Terdengar suara kocoran air dari wastafel.


"Kamu gak tau slogan 'anak sultan mah bebas' ya? Dia anak pemilik perusahaan. Jelas lah apapun bisa dilakukan."


"Berani banget Pak Halim masukin anaknya. Padahal selama ini aku selalu segan sama beliau. Gak taunya sama aja kayak sultan lain yang suka manjain anak."


Safa mengepal dan menurunkan kembali tangannya. Dia tidak jadi membuka pintu. Akan sangat canggung jika Safa keluar sekarang. Mereka jelas membicarakannya.


"Aku malah kasian sama beliau. Yang satu anaknya dipenjara. Satunya lagi gak punya kemampuan. Tipe anak manja yang sukanya habisin uang."


"Padahal Pak Dava itu pintar. Aku paling ngefans sama dia di perusahaan ini. Tapi setelah dengar dia terlibat korup, rasanya kayak gak percaya."


"Ya gimana lagi, manusia itu gak ada rasa puas. Meski sudah banyak harta mereka tetap serakah."


"Tapi Pak Dava itu baik, lho. Pernah bantuin aku pas dimarahin di ruang meeting."


"Baik di luar, dalemnya tetep aja belang."


Para karyawan wanita itu terus berbicara, tanpa tahu seseorang yang mereka bincangkan tengah mematung di salah satu bilik toilet.


Safa berdiri diam di tempatnya. Menunggu orang-orang itu selesai bersolek dan keluar. Safa memang sudah menduga opini buruk mengenai dirinya. Tapi mendengarnya secara langsung seperti ini ternyata lebih menyakitkan. Terlebih ayahnya turut dibawa-bawa.

__ADS_1


Jika hanya Dava dan dirinya yang mereka cela Safa masih tak masalah. Tapi saat mendengar pandangan sejelek itu terhadap sang ayah, Safa tak bisa untuk tidak merasa bersalah.


Benar. Dia memang tidak berguna. Safa tak sepintar Dava yang bisa memecahkan semua rumus Kimia tanpa bantuan seorang guru. Mampu menyelesaikan pendidikan lebih cepat dari waktu pada umumnya.


Apa yang bisa Safa banggakan? Safa bahkan tidak hafal perkalian. Nilai bahasanya juga buruk.


Benarkah dia putri seorang Halim yang terkenal cerdas dan kaya? Kenapa hanya dia yang berbeda? Setelah dipikir-pikir, Safa juga tidak ada mirip-miripnya dengan mereka.


Tidak, Safa tidak boleh berpikir seperti ini. Ini bukan saatnya dia menangis. Safa hanya kurang giat dan malas belajar. Kalau saja Safa mau berusaha lebih keras lagi dia pasti bisa setara dengan Dava yang pintar.


"Wanita seperti itu hanya mengandalkan kecantikan. Kemampuannya tentu saja nol besar."


Glek.


Safa berusaha menelan ludahnya kasar. Mereka pergi. Lekas dia meraup tisu di samping kloset dan mengusap kasar matanya. Kepalanya menggeleng rusuh. Tidak. Safa tidak menangis. Safa tidak boleh menangis. Hal seperti ini wajar terjadi. Dia tidak boleh menangis lagi.


"Safa sudah dewasa. Safa gak boleh nangis karena udah janji sama Abang...." gumamnya pelan.


"Safa gak boleh nangis, hiks. Enggak... Jangan nangis... Kamu membuatku repot..."


Seberapa keras dia menahan, air matanya tetap luruh juga. Pertahanan hati dan mental seseorang memang berbeda.


Safa terduduk di lantai kamar mandi, berusaha keras mengendalikan emosi dan pikiran yang kian beradu, berbentur satu sama lain membentuk sebuah gejolak yang meluap-luap tanpa bisa disalurkan. Safa hanya bisa menggigit lututnya saat rasa ingin berteriak itu kembali muncul.


Di samping itu, Edzar tengah tersenyum mengetik sesuatu di ponselnya.


"Sudah makan?"


Lelaki itu menghela nafas karena tak mendapat jawaban, dibaca pun tidak. Baiklah, dia akan melakukan panggilan saja. Doni bilang seorang lelaki harus agresif, kan?


Drrtt.... Drrtt.... Drrtt....


"Safa bodoh.... Safa bodoh.... Safa bodoh...."


"Dasar gadis bodoh!"


"Safa bodoh!"


"Hahaha.... Anak bodoh. Dia mana bisa menyelesaikannya."


"Bodoh.... Huuu...."


Safa menutup telinga kala teriakan-teriakan itu terngiang di sekitarnya. Terdengar dekat dan menggema memenuhi ruang pendengarannya. Safa menggeleng menjambak rambutnya sendiri.


Tidak. ini tidak nyata. Ini khayalan.


"Tidak." Safa terus meracau tak jelas.


Bayangan masa kecil yang sudah lama terkubur dalam, entah bagaimana kembali muncul dan mengganggu pikirannya.


"Ini tidak benar."


"Ini tidak benar."


"Kamu harus tenang."


"Tenang, Safa. Tenang....!"


"Aarrghh....!"


Tanpa sadar dia melempar ponsel yang beberapa saat lalu bergetar. Tubuhnya meringkuk di pojokan toilet dengan isak tangis yang mulai terdengar.


Meski gadis itu berusaha meredamnya dengan kembali menggigit lutut. Tapi, sedu sedan samar itu mampu membuat Edzar mematung di seberang sana.

__ADS_1


"Safa?"


__ADS_2