
Safa turun dari taksi online yang ditumpanginya. Dia berjalan memasuki cafe dan mengedarkan pandangan mencari Kamila. Gadis itu bilang sudah sampai.
Ketemu. Kamila berdiri di ujung tangga melambai padanya. Rupanya gadis itu memilih tempat duduk di lantai dua.
Tidak buruk. Cafe ini mengusung tema Bali yang cukup kental. Nuansa alami terlihat dari pilihan furniturnya sejak pertama kali Safa masuk. Kursi dan meja yang terbuat dari rotan melengkapi sekeliling area cafe.
Dengan hiasan anyaman tali rami dan dedaunan kering yang tampak estetik, cafe ini memiliki banyak sekali spot foto dengan berbagai tema berbeda, namun tetap tak lepas dari tropika alami yang mendominasi.
Seperti nama cafe itu sendiri, pengunjung bebas berfoto ‘Sepuasnyah’. Tanpa dipungut biaya tambahan.
Pertemuannya dengan Kamila sedikit mengobati rasa kecewanya karena tak melihat Edzar. Mereka bercerita saat-saat masa sekolah dulu. Terutama saat SMA.
Menurut Kamila itu pengalaman paling seru. Apalagi saat mengingat MOS, Safa pernah menangis dibentak kakak kelas karena suaranya gak kedengaran.
Katanya Safa kayak lagi ngomong sama pacar saking halusnya. Padahal dia takut, makanya suaranya cenderung mencicit.
“Eh, Saf. Kamu ingat gak sama si Akmal yang dulu sekelas sama kita?” tanya Kamila tiba-tiba.
Safa mengernyit. “Yang mana? Akmal ‘kan ada 2. Ada Muhammad Akmal, ada Akmal Fahreza.”
“Akmal yang pernah naksir sama kamu.”
Mereka memesan beberapa makanan untuk santap siang. Tak lupa mengabadikannya dengan kamera untuk diunggah ke sosial media.
“Oh ... Akmal Fahreza. Kenapa emang?”
Safa berpose membelakangi meja mengajak Kamila selfie. Ia terkikik geli menerima protesan gadis itu karena menjepretnya saat belum siap.
“Kamu tau ‘kan dia kuliah di Singapura?”
“Tau lah. Siapa sih yang gak tau kabar anak most wanted?” jawabnya sedikit tak fokus.
Safa sedang mengunggah fotonya di Instagram. Dalam satu klik, puluhan like dan komentar langsung memenuhi postingannya.
“Nah, kamu pasti belum tau sekarang dia di UI. Sekampus sama aku. Cuman beda fakultas doang.”
Safa menoleh cepat “Lho, kok bisa?”
“Ya mana aku tau ...”
“Oh iya. Dia juga sempat nanyain kamu pas kita ketemu. Jangan-jangan dia serius dengan ucapannya waktu itu?”
“Ucapan yang mana?” tanya Safa bingung.
__ADS_1
“Kamu lupa? Dia ‘kan punya dendam karena kamu PHP’in.”
“Emang dulu dia ngomong apa?”
Kamila memutar bola mata malas. Safa yang bersangkutan tapi dia yang lupa. Malah Kamila yang ingat terus sampai sekarang.
Belum sempat Kamila membuka mulutnya lagi, ponsel Safa tiba-tiba berdering menunjukkan nama Nyonya Halim sebagai pemanggil.
Dengan terpaksa Safa mengakhiri pertemuan mereka karena katanya Safa harus ke Cipete bersama sang bunda untuk berkunjung ke rumah Oma.
Dan hari itu sampai malam tiba pun Safa belum melihat Edzar lagi.
***
Keesokan harinya, Safa bangun pukul setengah enam. Jika kemarin Safa sudah nangkring di balkon sejak jam segini, maka lain dengan sekarang. Selain karena Safa baru tidur beberapa jam setelah sebelumnya dia pulang hampir tengah malam dari rumah Oma, Safa juga tidak ingin kena prank harapan.
Entah dia harus merajuk pada siapa. Pada takdir yang tidak berpihak, atau pada Edzar karena tidak muncul di depan mata.
Toh, kalaupun Safa masih tak bisa melihat Edzar hari ini, masih ada hari esok dan hari-hari lainnya. Lagi pula kalau Safa tak jadi dapat Edzar, Safa masih bisa dapat yang lain. Begitu pikirnya.
Namun sepertinya nasib berkata lain. Tepat saat Safa membuka gorden, dia melihat Edzar di bawah sana. Pria itu sedang mencuci mobil.
Sontak Safa melebarkan matanya yang masih mengantuk, dia bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka. Anggap dia labil, Safa tak jadi menyerah. Semangatnya untuk mendekati Edzar sudah kembali.
Selesai dengan cuci muka dan gosok gigi, Safa buru-buru keluar menuruni tangga. Tak apa penampilannya tak serapi sehabis mandi. Kesempatan gak datang dua kali. Toh, Safa masih cantik meski belum membasuh diri.
Dengan cepat Safa membuka pintu dan hampir berlari menuju gerbang. Secepat ia berjalan, secepat itu pula ia sampai.
Kini Safa berdiri di depan rumah Edzar. Ini yang kedua kali. Bedanya sekarang gerbang rumah Edzar terbuka, dan Safa bisa melihat dengan jelas pekarangannya.
Cukup lama Safa memaku dirinya di sana. Dia sudah seperti orang gila senyum-senyum sendiri melihat Edzar mengusap mobilnya dengan air berbusa.
Pria itu tampak seksi. Otak ngeres Safa bekerja tanpa diminta. Safa memang lemah kalau disuguhi pemandangan seperti ini. Salahkan Edzar yang terlalu hot di mata Safa.
Pagi-pagi begini sudah dapat angin segar. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Tuhan ... Bolehkah Safa bawa pulang dan kunci di kamar?
Lamunannya buyar saat tiba-tiba saja seciprat air menimpa dirinya. Safa terperanjat dan refleks mengusap wajahnya yang basah. Bibirnya mengerucut tak senang.
“Maaf, saya tidak sengaja. Saya tidak tahu ada kamu di sana.”
Rupanya Edzar yang menyemprotnya. Entah sengaja atau tidak, Safa segera merubah rautnya menjadi tersenyum menatap pria itu.
__ADS_1
Edzar keheranan. Dia bertanya. “Ada perlu apa?” Gadis itu berdiri di depan rumahnya bukan tanpa alasan ‘kan?
Safa menggigit bibirnya bingung. Ada perlu apa dia ke sini? Jawabannya tentu untuk melihat Edzar. Kira-kira Edzar ingat gak ya mereka pernah bertemu.
“Safa mau ambil rantangnya Bunda,” ujarnya menemukan alasan yang lebih logis. Beruntung otak udangnya gak kepeleset.
Edzar mengernyit “Rantang?”
Safa mengangguk cepat. Semoga saja benda itu masih di sini, pikirnya.
Dilihat dari ekspresinya yang bingung, sepertinya Edzar tak tahu.
“Iya. Waktu itu Bunda ada masak makanan dan nyuruh Safa anterin ke sini,” jelasnya dengan nada polos.
Hening beberapa saat. Hingga seorang wanita paruh baya muncul dari pintu rumah Edzar. Edzar pun bertanya pada asisten rumahnya yang hendak menyiram tanaman. Sepertinya belum sadar ada Safa di sana.
“Bik.”
Wanita yang dipanggil Bibi itu menoleh. “Iya, Den. Den Edzar perlu sesuatu?”
Edzar menoleh pada Safa yang juga diikuti oleh si Bibi.
“Dia bilang mau ambil rantang?” ucap Edzar setengah bertanya.
Si Bibi tersentak. Kemudian dia berseru setelah beberapa lama terdiam. “Oalah ... Bibi lupa, Den. Dua hari lalu tetangga sebelah ada ngasih makanan. Lauk yang Den Edzar makan malam itu, yang bibi sempat hangatkan.”
“Bibi lupa balikin rantangnya. Maaf Neng ya ... Astaghfirullah ... Pasti ibunya nyariin, ya? Tunggu ya, Neng. Bibi ambilkan dulu rantangnya.”
Sementara si bibi masuk ke dalam, Safa meringis di tempatnya. Bundanya bahkan terlihat sudah lupa dengan rantangnya. Secara koleksinya banyak banget, Nyonya Halim gak akan sadar kalau ada yang nyuri 1 rantangnya sekalipun.
Lain hal dengan Edzar yang berdiri kaku, Safa menatap pria itu terang-terangan. Hal itu membuat Edzar sedikit mengernyit. Edzar mengamati penampilan Safa yang memakai piyama biru muda bercorak bunga-bunga dengan sandal teplek rumahan.
Meski terlihat biasa, tapi kulit putihnya bersinar cerah. Tipikal gadis yang suka perawatan.
“Ini, Neng. Maaf telat balikinnya. Terimakasih, ya. Makanannya enak. Den Edzar aja sampai nambah. Ya ‘kan, Den?”
Edzar mengangguk kaku. Tak lupa pria itu berterimakasih sebagai formalitas kesopanan. Lalu setelahnya kembali pada kegiatannya mencuci mobil. Begitupun si bibi yang kembali masuk untuk menengok cucian.
Edzar berpikir Safa akan langsung pergi setelah mendapat rantangnya kembali. Faktanya Safa masih setia mematung tanpa bergeser sedikit pun.
Safa memeluk rantangnya erat dengan mata tertuju pada Edzar yang sedang mencuci mobil. Dia jadi melting sendiri melihat gerakan Edzar yang gesit.
Tangannya pasti kuat banget. Uratnya sampai timbul gitu. Safa jadi membayangkan digendong Edzar. Pelukannya pasti hangat. Dadanya sandarable banget. Safa ‘kan jadi gak kuat pengen meringkuk di sana, huhu ...
__ADS_1
Godaan berat di pagi hari ini namanya.