
Safa menunduk, memilin bajunya dengan wajah merengut. Sesekali melirik Edzar yang nampak biasa dan tenang. Heran, bisa-bisanya dia masih datar begitu setelah kelakuan nakal mereka ketahuan.
Seusai keributan di luar selesai, Tuan dan Nyonya Halim menggiring suami istri baru itu ke rumahnya. Untuk apa lagi kalau bukan interogasi perihal celetukan Bu Tejo mengenai mereka yang sering naik turun balkon dan bertemu diam-diam.
Sebenarnya Nyonya Halim yang memaksa, Tuan Halim tak begitu mempermasalahkan. Pria itu terlihat biasa saja, sama seperti Edzar. Apa semua pria memang memiliki sifat setenang air saat menghadapi masalah? Atau kaum wanita saja yang terlalu baperan dan suka berlebihan?
"Benar yang Bu Tejo bilang? Kalian suka bertemu diam-diam dan mojok di kamar?"
Bibir Safa mengerucut. "Apaan, sih, Bunda. Orang kita gak ngapa-ngapain. Kita ketemunya di balkon, kok. Bukan kamar. Ya 'kan A?" ucap Safa meminta persetujuan.
Edzar menoleh sebentar, lalu menghela nafas. "Pernah di kamar. Tapi gak lama," ujarnya kalem.
Safa melotot, merasa kesal dengan kejujuran Edzar. Apa salahnya sih berbohong sedikit.
"Benar itu, Safa?" Safa yang ditanya meringis melirik bundanya. Kalau Edzar sudah berkata ia bisa apa? Mengelak pun rasanya percuma.
Nyonya Halim menoleh pada suaminya. "Ayah dengar sendiri? Ternyata mereka senakal itu di belakang kita. Untung sudah menikah!"
Tuan Halim mengangguk santai. "Ya udah, sih, Bun. Sesuai kata Bunda, mereka sudah menikah. Apa lagi yang perlu dimasalahkan? Toh, sekarang mereka sudah halal mau ngapain aja."
"Ayah gimana, sih? Biasanya Ayah paling rempong, lho, kalo Safa dideketin cowok sebentar aja. Kenapa sekarang biasa aja?"
Tuan Halim menggaruk pelipisnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk ringisan. "Edzar sudah beliin Ayah pancingan mahal. Ya masa Ayah marahin," celetuknya kemudian.
Hening. Nyonya Halim serta Safa nampak tercengang mendengar pernyataan itu. Keduanya kompak menoleh pada Edzar yang kini mengalihkan pandangan.
"Apa? Pancingan?"
Tuan Halim mengangguk.
"Yang Ayah pakai waktu di Bandung itu?"
Lagi-lagi Tuan Halim mengangguk. "Tas Hermes yang kemarin Bunda pakai juga dari Edzar."
"Uhuk, uhuk." Edzar terbatuk, tersedak oleh kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan. Kenapa mertuanya harus buka kartu seperti itu.
"A Uda. Beneran?"
Edzar meringis sembari menggaruk hidung. Matanya melirik Safa dan Nyonya Halim bergantian. Lantas ia mengangguk membenarkan.
Dua pria beda generasi itu dibuat tak berkutik. Keadaan jadi berbalik. Safa dan Nyonya Halim yang kini menginterogasi.
"Jadi A Uda sogok Ayah buat deketin Safa?"
Kontan Edzar menggeleng. "Uda gak sogok Ayah. Ayah kamu sendiri yang minta."
__ADS_1
"Kok, jadi Ayah," sergah Tuan Halim tak terima.
"Ya memang betul 'kan? Ayah juga minta peralatan golf sama saya."
"Jadi kamu gak ikhlas."
"Ikhlas. Tapi karena Ayah jujur, ya sudah, saya hanya menambahi."
"Jangan-jangan waktu Ayah beli motor baru juga dari Edzar?" Nyonya Halim berucap tiba-tiba.
"Ayah beli motor?" Safa bertanya.
Nyonya Halim pun mengangguk. "Heem. Ducati pula."
Safa menatap sang ayah menuntut jawaban. Gila, ternyata selama ini suaminya diporotin? Wah, gak bisa dibiarin. Enak saja uang masa depannya dinikmati tanpa izin.
Tuan Halim meringis. "Kalau itu kita kembaran. Ayah beli sendiri. Dia juga beli sendiri."
"Benar, A?"
Mau tak mau Edzar mengangguk. "Sejak kapan? Kok Safa gak pernah tahu A Uda punya motor?"
"I-itu ... Sebelum kita menikah. Uda gak bilang karena kata Ayah ini rahasia. Biar kita bisa motoran berdua."
Nyonya Halim memukul lengan suaminya. "Ayah! Nekat banget ya naik motor! Katanya cuma buat koleksi? Berapa kali Bunda bilang jangan naik-naik motor lagi. Kepala Ayah suka pusing, kan?"
Safa memasuki rumah Edzar dengan kaki menghentak. Edzar mengejar di belakangnya dengan tatapan khawatir.
"Ai, jalannya pelan-pelan, Sayang. Hati-hati. Kamu lagi hamil."
Safa berbalik. Kontan Edzar langsung berhenti. "Ke-kenapa, Ai?" Edzar tergagap melihat tatapan Safa yang tajam.
"Mana motornya?" tanya Safa galak.
"Ada. Di garasi. Kenapa?"
Safa segera berjalan ke garasi rumah Edzar. Terkunci. "Buka!"
"Iya, Ai. Uda buka, kok. Biasa aja dong, Sayang."
"Buka!" titah Safa sekali lagi dengan mata melotot. Walau jatuhnya lucu karena mata Safa yang sipit.
Sebisa mungkin Edzar menahan tawa. Kasihan, istrinya sudah susah payah terlihat galak.
"Gimana Uda mau buka? Kamu menghalangi sensor."
__ADS_1
Safa menoleh sejenak pada pintu garasi di belakangnya. Lalu bergeser ke samping dengan bingung. Memangnya ngaruh?
Edzar mengeluarkan remot dan menekannya. Tak lama kemudian pintu garasi itu terangkat ke atas. Yang pertama nampak adalah Fortuner yang biasa Edzar pakai. Tapi Safa berkedip ketika melihat dua mobil lainnya yang berbeda.
"A Uda punya Rubicon?" tanya Safa tak percaya. "BMW juga?"
Edzar mengangguk kalem. Ia masuk lebih dalam, menghampiri motor Ducati yang dibelinya kembaran dengan sang mertua. Edzar juga punya beberapa motor matic seperti NMax dan Honda Vario. Lalu ada Kawasaki Ninja juga. Tapi Edzar bilang yang lebih sering dipakai yang Vario. Lebih simpel katanya.
"Kenapa yang BMW gak pernah dipake? Keren tau."
"Itu terlalu mentereng kalau buat kerja. Rubicon kadang Uda pakai, sih. Tapi jarang. Meski begitu Uda selalu rutin cek kelayakan mereka."
"A Uda tahu? Selama ini Safa berpikir bahwa A Uda miskin. Makanya Safa suka mikir-mikir kalau mau beli sesuatu. Dan setelah lihat ini kok jadi nyesel?" ucapnya kesal.
Edzar terkekeh. Merangkul Safa, kemudian melabuhkan ciuman di sudut bibirnya. "Minta saja apa yang kamu mau. Uda akan usahakan kasih kalau mampu."
"Beneran?" Safa mendongak.
Edzar mengangguk. "Tentu, Sayang. Kamu mau apa?"
Safa terdiam sejenak. Edzar dengan sabar menunggu sembari merapikan rambut Safa yang berantakan belum disisir. Dia baru ingat wanita itu habis mandi saat keluar rumah tadi.
Ditambah sempat main jambak dengan mbak-mbak anaknya Pak RT. Terus langsung diseret Nyonya Halim ke rumahnya. Tentu Safa belum sempat menyisir rambut.
Mengingat keributan itu membuat Edzar kembali geram. Apalagi ia mendapati kulit lengan atas Safa lecet terkena cakaran. "Sial," makinya tanpa sadar. Jemarinya mengusap lembut permukaan halus itu. "Apakah sakit?" bisiknya.
Safa meremang menerima sentuhan Edzar. "Perih sedikit. Tapi gak papa, kok. Safa punya obatnya. Bekasnya juga cepat hilang."
"Syukurlah. Kalau bekasnya gak cepat hilang, Uda benar-benar akan melaporkan wanita itu."
"Tadi kamu mau apa?" tanya Edzar kembali ke topik utama.
Pun mata Safa langsung mengerling. Edzar mulai was-was kalau wanita itu akan mengajak bercinta lagi. "Ai, jangan aneh-aneh. Kita baru saja mandi."
"Gak aneh, kok. Safa cuman mau praktekin salah satu gaya di film Hollywood." Wanita itu memanjati kap Rubicon Edzar dan duduk di sana.
Nafas Edzar dibuat sesak ketika Safa mulai mengangkang melebarkan kakinya. Dia panik. Buru-buru menutup pintu garasi secara otomatis.
"Ai, jangan gila. Ayo masuk. Katanya mau Mac and Cheese? Tadi kayaknya pesanannya sudah datang."
Safa tak menghiraukan. Dia menggeser sisi dalaman yang dikenakan, memperlihatkan celah mengkilap yang membuat Edzar terengah.
"Ai, makan dulu, Sayang." Suara Edzar terdengar serak.
Safa menyeringai. Ia tahu suaminya mulai terangsang. "Sebelum itu, A Uda makan ini dulu, yuk." Jemari lentiknya mengusap pelan di sana. Membuka lipatan-lipatan kemerahan yang mengundang Edzar untuk segera menyantapnya.
__ADS_1
Pada akhirnya Edzar menyerah. Ia memang tak pernah bisa menolak permintaan Safa yang satu ini. Godaan wanita itu terlalu berat. Tapi Edzar suka.