SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 37


__ADS_3

Demi menyembunyikan rasa malu, Safa mengambil botol minum, masih dalam kresek tadi. Sialnya dia tidak memperhitungkan akan kesulitan dalam membukanya.


Lagi-lagi rasa terkejut datang, Edzar mengambil alih botol itu dan membukanya dengan mudah. Lalu mengulurkan kembali pada Safa yang terbengong.


“Ma-makasih.”


“Uhuk...”


“Ck, pelan-pelan.”


Safa mengangguk dan kembali meminum airnya. Dalam hati dia menyalahkan Edzar. Pria itu yang membuatnya gugup dan salah tingkah sampai tidak tahu harus melakukan apa.


Jangan geer, Safa. Ingat, dia hanya menolongmu. Kamu baru saja patah hati beberapa jam lalu.


.............................


“Makasih, Om,” ujar Safa sedikit terbata. Mereka sudah sampai di depan rumahnya.


Edzar mengangguk, “Sama-sama.”


Safa membuka sabuk pengaman, setelah itu dia keluar. Yang Safa tidak mengerti adalah Edzar yang juga ikut turun. Ngapain?


“Om, mau mampir?” tanya Safa lebih ke heran.


Belum sempat Safa mendapat jawaban, decitan pagar yang dibuka secara terburu-buru mengalihkan atensi mereka. Tuan dan Nyonya Halim serta Dava muncul di sana. Wajah mereka diliputi kekhawatiran.


Nyonya Halim yang pertama menghampiri dan mengecek keadaannya. Entah kabar dari mana, tapi Safa merasa mereka semua tahu apa yang dialaminya.


Dan setelahnya bisa ditebak keadaan seheboh apa. Safa juga baru tahu Edzar menghubungi Tante Miranti, sudah pasti keluarganya tahu dari sang tante.


Edzar juga mewanti-wanti agar mereka tak cemas dan percaya padanya. Bahkan katanya Dava sempat mau menyusul, tapi ditahan. Pantas pria itu santai-santai saja membawanya sesuka hati. Yah... meski cuman ke apotek dan makan roti, itu ‘kan terbilang lama.


Intinya, Edzar ini tak bisa ditebak. Sampai saat ini Safa masih kesulitan memahami sikap pria itu.


\=\=\=


“Mil, menurut kamu... suka sama pacar orang itu salah gak sih?”


Pertanyaan Safa kontan membuat Kamila menoleh, matanya menyipit curiga. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Jangan bilang kamu suka suami orang?”


Plak!

__ADS_1


“Aw....” Kamila mengusap-usap lengannya yang dikeplak Safa.


“Aku bilang pacar. Bukan suami.”


“Iya-iya... kenapa? Kamu suka pacar orang? Aduh, Safa... kayak gak ada cowok lain aja, sih.”


Wajah Safa berubah datar, “Aku enggak ada bilang, lho.”


“Ya itu tadi. Itu kamu nanya gitu buat apaan, coba?”


“Ya ‘kan cuman nanya. Emang salah?”


“Orang kalau nanya pasti ada sebabnya.” Kamila mencondongkan tubuh membuat Safa mundur beberapa senti. “Bilang sama aku, pacar siapa yang mau kamu tikung?”


Mendadak jarum jam melatari keheningan. Safa dan Kamila saling tatap satu sama lain. Kalau dalam film posisi mereka ini bisa dibilang romantis. Orang bisa salah faham dan mengira mereka pacaran.


Safa merebut apel di tangan Kamila, memakannya lamat-lamat tanpa mengalihkan pandangan.


“Mil, mundur dikit. Kalau begini aku bisa mengira kamu yang suka sama aku.”


“Ck!” Kamila berdecak memundurkan tubuhnya. Matanya memutar malas mengambil apel baru di nakas.


“Perasaan suka itu gak ada yang salah. Yang salah itu kalau kamu tau dia punya pasangan tapi tetap ngotot mendekatinya.”


“Masih mending pacar. Lah, kalau udah jadi suami kayak si Aris, hiih... amit-amit jabang bayi. Sing ditebihkeun, Ya Allah...” (Semoga dijauhkan, Ya Allah...)


Safa menggeleng malas. Korban Layangan Putus, batinnya. Safa paling malas menonton atau membaca sesuatu yang berkonflik berat, karena itu bisa menurunkan moodnya.


“Emang kamu lagi suka sama siapa, sih?” tanya Kamila lagi.


Belum sempat Safa menjawab, Bik Inem muncul mengetuk pintu kamarnya yang terbuka.


“Non, ada temennya, tuh di luar.”


\=\=\=


“Temen?”


“Iya. Cowok, dua orang.”


Safa mengernyit, dia tidak merasa punya teman dekat pria. Kalau gebetan banyak. Tenang, itu dulu. Safa tobat setelah kepincut Edzar. Sayangnya cinta Safa hanya sepihak. Tuh ‘kan sedih lagi.

__ADS_1


“Siapa, Bik?”


“Kalau namanya bibi gak tau. Yang bibi tau mereka ganteng dan keren,” ujar si Bibi menggebu mengacungkan dua jempol.


“Ya elah... gak majikan, gak asisten, semuanya melek lihat cowok ganteng,” gumam Kamila tak terdengar.


Safa menoleh pada Kamila, pun Kamila yang ikut bertanya-tanya. Di pikiran mereka itu pasti Angga, Ozan, dan....


Keduanya sama-sama melotot, lalu turun dari kasur berlari ke arah balkon. Dan benar saja, Safa menangkap keberadaan Akmal di sana.


“Saf, itu Akmal sama siapa?”


Safa tak menjawab. Dia sibuk memperhatikan dua orang yang berdiri di luar gerbang. Matahari sedang terik-teriknya di atas kepala. Apa yang mereka lakukan di rumahnya siang-siang begini?


“Safa!”


Safa menoleh ke asal suara, di bawah sana Akmal melambai setelah menyadari keberadaannya. Safa malas, tapi tidak mungkin juga ia mengabaikan mereka. Safa tak setega itu. Menghela nafas, Safa berbalik meninggalkan balkon.


“Eh-eh, Saf. Tungguin!”


Kamila bergegas mengikuti Safa yang berjalan keluar kamar. Sesampainya di bawah, mereka langsung menuju gerbang dan membukanya.


Kriet....


Dua orang yang saling berhadapan itu kompak menoleh, dari gelagatnya sepertinya mereka terlibat adu mulut. Safa menatap bergantian Akmal dan Leo. Ya, Leo adalah satu yang dimaksud Bik Inem tadi.


“Kalian ngapain?” tanya Safa dengan kening berkerut.


Karena tak tahan dengan cuaca panas, mau tak mau Safa menyuruh mereka masuk. Apalagi Safa pusing karena Akmal begitu cerewet. Biar cepat, pikirnya. Terserah mereka mau ngapain kalau sudah di dalam.


“Ini buat kamu.”


Safa menatap bergantian pada Akmal dan Leo, lebih tepatnya kantong kresek yang ada di tangan mereka.


“Siang ini panas banget. Jadi aku bawain kamu eskrim,” ujar Akmal dengan bangga.


Leo menatap Akmal sebelum kembali pada Safa. Akmal sempat memberinya tatapan remeh, tapi tak Leo hiraukan. Dari dulu juga memang Akmal seperti itu. Suka meremehkan orang.


“Kamu lagi sakit. Akan lebih sehat kalau banyak konsumsi buah. Aku bawa banyak, nih. Ada mangga kesukaan kamu juga.” Leo merasa menang saat melihat wajah Akmal berubah masam.


Safa benar-benar tak mengerti dengan mereka berdua. Kenapa dia jadi merasa Akmal dan Leo seolah-olah sedang bersaing? Beberapa kali Safa menangkap tingkah kekanakan mereka. Seperti adu mulut atau berebut sesuatu.

__ADS_1


“Saf, itu... si Leo? Leo yang itu?” Kamila berbisik pada Safa.


Saat ini mereka ada di dapur, menyimpan buah tangan yang dibawa Akmal dan Leo. Safa meminta Bik Inem mengupaskan buah, sekalian saja buat jadiin topping eskrimnya.


__ADS_2