SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 184


__ADS_3

Terhitung satu hari dua malam Safa di rumah mertua. Selama itu pula Ibu Dyah memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan Safa tak menyangka ternyata wanita itu memiliki sisi keibuan yang lembut. Kini setelah mengenalnya lebih dalam, Safa tahu Ibu Dyah orang yang mengagumkan.


Selepas kepergian ayah mertua, beliau mau tak mau harus menekuni bisnis untuk meneruskan usaha suaminya. Sempat hampir bangkrut karena menjadi korban penipuan klien-nya. Hingga akhirnya bangkit kembali dibantu anak-anaknya.


Terutama Om Tirta yang memutuskan beralih profesi yang mulanya ingin menjadi peneliti, namun tak punya pilihan selain berhenti dan sepenuhnya menjadi pengusaha bersama sang ibu.


Meski Om Reno dan Edzar sekalipun kini lebih banyak berbisnis. Karena mereka sadar keuntungan yang didapat jelas lebih besar.


Berita kehamilan Safa sudah diketahui keluarga besar. Ibu Dyah yang memberitahukan kabar tersebut di grup WhatsApp kemarin, tepat setelah Safa dan Edzar melakukan cek di dokter kandungan dan mengetahui bahwa usia kehamilannya 1 bulan 5 hari. Itu berarti setelah malam pertama dan kedua mereka.


Entah benih yang mana yang jadi.


Kabar itu disambut gembira, terutama Ayah dan Bunda yang kabarnya akan langsung ke Jakarta dua hari dari sekarang. Karena sang ayah masih memiliki urusan kerja di sana, jadi Bunda harus dengan sabar menemani suaminya, kendati dia ingin sekali menyapa calon cucunya yang sekarang ada di perut Safa.


Safa menggeleng, belum juga perutnya besar sudah serempong itu. Percuma disapa juga gak bakalan dengar, orang bentuknya saja masih berupa titik.


Eh, titik atau apa ya? Yang pasti belum membentuk, sih. Safa lihatnya sama saja pas di USG. Abu-abu. Meski dokter menjelaskan dan menunjuk ini itu, tetap saja otak Safa gak mampu menjabarkan. Hanya Edzar yang sepertinya mengerti.


Pagi ini, Safa tengah di dapur menonton Bik Narsih— Asisten Rumah Tangga di rumah Bu Dyah— beserta sang mertua yang tengah memasak untuk sarapan. Ternyata bukan hanya ayahnya yang suka makan berat pagi-pagi, Edzar dan keluarganya pun tidak bisa kalau tidak ketemu nasi.


Safa mau membantu, tapi bantu apa? Dia saja tak bisa pegang pisau.


"Sudah, sana kamu duduk saja. Jangan berdiri terus, nanti pegel," ucap Bu Dyah yang tengah mengocok telur untuk omelet.


Namun sedetik kemudian keningnya berkerut. "Kamu gak mual atau apa gitu? Biasanya orang hamil penciumannya sensitif?" tanya Bu Dyah heran melihat Safa yang anteng-anteng saja di dapur sejak tadi.


Kini giliran Safa mengerutkan dahi. Bibirnya sedikit mengerucut seolah berpikir. Kepalanya menggeleng merespon pertanyaan sang mertua. "Enggak. Safa biasa aja," ucapnya lebih ke bingung.


"Bener-bener gak mual? Atau kamu kerap menginginkan sesuatu yang khusus?"


"Sesuatu yang khusus?"

__ADS_1


"Heem. Orang hamil 'kan biasanya ada makanan tertentu yang diinginkan. Kamu gak mau minta apa gitu?"


Sekali lagi Safa menggeleng. Karena dia memang biasa saja. Makan juga makan apa saja yang dihidangkan. Tidak ada masalah-masalah seperti mual dan sebagainya.


Tak lama Edzar memasuki dapur. Pria itu sudah rapi dengan seragam cokelat tua kebanggaannya. Bibirnya mengulas senyum kala matanya menemukan Safa. Dia pun segera menghampiri sang istri dan mengecup keningnya sekilas.


"Kenapa berdiri terus? Ayo duduk. Nanti kalau perut kamu keram lagi gimana?" Safa tak punya pilihan selain menurut.


Edzar menuntunnya menuju kursi makan di sana. Pria itu jongkok memijati betisnya yang baru Safa sadari ternyata sedikit pegal. Mungkin efek kelamaan berdiri.


Safa berkerut saat tiba-tiba Edzar bersikap aneh. Pria itu seolah menahan sesuatu. Dan Safa tak bisa menahan diri untuk bertanya.


"A Uda kenapa?"


Edzar bungkam. Mulutnya terkatup rapat dengan hidung mengkerut. Pun ekspresinya yang masam semakin membuat Safa keheranan.


"Kenapa, si—"


"Hoeeek ..." Edzar berlari ke arah wastafel, sedikit mendorong Bik Narsih yang tengah mencuci tomat di sana.


"Hoeeek ..."


"A Uda kenapa, sih? Sakit, ya?" Edzar tak menjawab. Dia kembali menunduk berusaha mengeluarkan isi perut. Namun apa daya, pagi ini dia belum makan apapun kecuali minum. Alhasil yang keluar hanya berupa cairan.


Pria itu terengah. Wajahnya mengkerut berusaha menahan perasaan ingin muntah yang kembali muncul. Safa memberinya teh hangat yang dibuatkan Bik Narsih barusan. Wajah Edzar sedikit pucat. Berkali-kali pria itu menutup hidung seolah mencium sesuatu yang tak enak.


Benar saja, selanjutnya Edzar melempar protesan pada Bu Dyah yang tengah menggoreng telur. Meski tadi sempat berhenti karena terkejut oleh anaknya yang tiba-tiba membuat kehaduhan.


"Buk, ngapain goreng telur, sih? Bau tau!" ucapnya bersungut.


Bu Dyah terdiam sesaat. Menatap Edzar dan telur di atas wajan bergantian. "Lho, Ibu 'kan cuman bikinin sarapan favorit kamu. Omelet sayur."

__ADS_1


Edzar menggeleng, tampak sekali dia menderita saat tanpa sengaja melihat wajan, lalu segera mengalihkan pandangan. "Enggak, Buk. Pagi ini Edzar sedang tak ingin makan omelet. Ditambah pula sayur. Baru sadar ternyata mereka kombinasi yang memuakkan."


Safa yang mendengar lagi-lagi berkerut. Apalagi saat lelaki itu melenggang meninggalkan dapur dan berteriak memanggil Om Tirta.


"Tirta ...! Beliin Es Degan, sana ...!!"


Yang dibalas dengan teriakan pula oleh Om Tirta. "Dasar orang gila! Wayah gini minta Es Degan. Mana ada yang jual ...!!"


Safa, Bu Dyah, serta Bik Narsih hanya bisa berkedip sambil mematung menyaksikan perdebatan dua kakak beradik itu yang berlangsung cukup alot.


Edzar yang keras kepala meminta hal yang tidak mungkin, dan Tirta yang sama kekehnya menolak permintaan semena-mena kakaknya.


"Bang Edzar gila, ya? Mau keliling Jakarta sampe bensin habis pun gak akan nemu!"


Safa meringis membenarkan dalam hati. Lagian Edzar ada-ada saja minta Es Degan pagi-pagi.


Tiba-tiba Bu Dyah menyeletuk. "Ternyata bukan kamu yang ngidam, tapi Edzar," ucapnya kalem sembari meneruskan memasak.


Karena mubazir jika omelet itu dibuang, maka Bu Dyah memberikannya saja pada Bik Narsih yang bersedia memakannya. Itu pun Bik Narsih bawa ke teras belakang supaya tidak tercium oleh Edzar.


Dan pagi itu, seisi rumah dipusingkan oleh keinginan Edzar mengenai Es Degan. Dengan sukarela setengah dongkol, Tirta yang dipaksa ibunya untuk mencari pun tak bisa berbuat apa-apa selain pergi.


Dan dalam waktu satu jam pria itu baru kembali dengan membawa Es Degan yang diminta. Tak tanggung-tanggung dia juga membawa semanggar kelapa muda yang katanya untuk cadangan kalau-kalau Edzar merepotkan lagi. Jadi mereka tinggal buat sendiri.


Tirta bilang, dia mendapatkan semua itu dari hasil mengemis-ngemis pada si pedagang. Tirta bahkan sampai datang langsung ke rumahnya setelah bertanya-tanya sekian kali pada orang-orang saat mendapati kedainya yang tutup.


Iyalah tutup. Ini bahkan belum jam delapan pagi.


"Gak mau tau pokoknya aku minta bayaran yang setimpal, Bang!"


Edzar menyeruput dan menyendok lahap Es Degan yang sudah Bik Narsih pindahkan ke dalam gelas besar. "Tenang, nanti saya beliin tiket ke Maldives buat bulan madu kamu sama Miranti."

__ADS_1


Dan seketika itu pula Tirta bersorak keras. Sementara Safa tanpa sadar mengerucut. Bisa-bisanya Edzar kasih tiket ke orang lain sementara mereka saja belum pergi liburan ke manapun selain Bandung.


Menyebalkan.


__ADS_2