
"Ai, kamu di mana? Pulanglah. Ayah sama Bunda sangat khawatir. Begitu pula Uda."
Edzar tak lepas memandangi ponselnya. Puluhan pesan telah ia kirim, meski tak kunjung mendapat balasan. Begitu pun panggilan yang beberapa kali terhubung ke kotak suara. Edzar menghela nafas, menundukkan kepala di atas kemudi. Ke mana lagi ia harus mencari Safa. Hampir seluruh tempat daerah ini ia kelilingi sampai berkali-kali kehabisan bensin.
Hujan sudah surut beberapa saat lalu. Namun rinai gerimis masih setia membasahi bumi. Setidaknya tak selebat tadi. Matanya melirik angka di dashboard, pukul 9 lebih sekian malam. Itu artinya dia sudah berkeliling kurang lebih 4 jam.
"Ai ..." lirihnya dengan mata terpejam.
Wajah Edzar pucat, tak pelak dia berkali-kali menembus hujan. Terlebih bajunya belum ia ganti sejak sore tadi. Edzar bahkan melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia terlalu larut dalam kekhawatiran mencari Safa.
Seketika dia mengucap istighfar. Tidak seharusnya dia melupakan Sang Pencipta karena satu makhluknya.
Edzar pun segera mencari masjid terdekat. Hingga tak berapa lama dia menemukannya di samping kiri jalan. Lekas dia membelokkan mobilnya, memarkirnya di tempat parkir yang luas dan kosong. Mungkin karena ini sudah sangat malam dan lewat waktu shalat. Beberapa lampu bangunan berkubah itupun sudah gelap.
Edzar membuka bagasi. Ada tas gym berisi pakaian ganti yang selalu ia bawa ke mana-mana. Baru sekarang Edzar menganggapnya sangat berguna.
Namun sebelum itu Edzar harus membersihkan diri. Dia belum bersuci seusai percintaannya dengan Safa siang tadi. Karena tidak ada peralatan mandi, Edzar harus berjalan beberapa meter lagi untuk mendapatkannya. Dia ingat sempat melewati minimarket 24 jam.
Setelah itu dia kembali ke masjid dan memasuki toilet untuk menumpang mandi. Selepasnya dia pun segera menunaikan ibadah yang terlewat, sekaligus mengganti beberapa yang ia tinggalkan dengan meng-qada nya.
Edzar berdoa, memohon ampun pada Tuhan yang Maha Kuasa. Meminta petunjuk mengenai keberadaan istrinya yang saat ini entah berada di mana. Berharap bisa mendapat pencerahan dari semua masalah yang tengah menimpanya. Edzar juga berdoa semoga Safa baik-baik saja. Kendati Edzar tahu hatinya remuk redam, setidaknya Safa aman dan dijauhkan dari marabahaya apapun.
Selesai berdoa, Edzar lekas keluar dan kembali ke mobil. Ponsel yang berkedip seketika menarik perhatiannya. Buru-buru Edzar meraihnya, berharap ada pesan atau panggilan balik dari Safa.
Namun harapan itu harus kandas karena yang menelponnya bukanlah sang istri, melainkan mertuanya sendiri.
__ADS_1
"Halo. Assalamualaikum, Ayah. Kenapa? Apa ada kabar mengenai Safa?"
Sesaat tak ada jawaban. Edzar berharap-harap cemas ketika mendengar sebuah helaan nafas berat dari sang mertua.
"Ada."
Kontan Edzar langsung mengucap syukur. Matanya terpejam, menghela nafas lega mendengar kabar baik itu. "Apa Safa sudah pulang? Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja? Siapa yang mengantar?" tanyanya beruntun.
"Istrimu baik-baik saja, Nak Edzar. Dia pulang dalam keadaan fisik yang utuh."
"Alhamdulillah," gumam Edzar. Tak pelak sudut bibirnya terangkat mengulas senyum.
"Tapi, dia tidak ingin bertemu Nak Edzar untuk sementara waktu. Maka dari itu, dengan maaf yang sebesar-besarnya saya minta Nak Edzar untuk kembali ke Jakarta malam ini juga. Atau jika keadaan tidak memungkinkan, Nak Edzar bisa menginap dulu di hotel mana saja yang ada di Bandung. Mohon pengertiannya."
Ucapan lanjutan dari Tuan Halim membuatnya tertegun. Sesuatu seolah menekan dadanya hingga sesak. Namun dia tak bisa egois. Edzar tak bisa memaksa karena dia yang bersalah.
Sebagai gantinya Edzar mengirimkan maaf dan salam untuk sang istri. Edzar juga meminta untuk terus dikabari apapun yang terjadi.
Kendati Safa masih tak mau mendengar suaranya, bagi Edzar, mengetahui wanita itu baik-baik saja sudah cukup untuk saat ini.
..........
Hari demi hari berlalu tanpa kehadiran Safa. Pun kehidupan Edzar berubah suram dan hampa. Biasanya, di jam seperti ini Safa akan merecokinya, mengingatkan untuk makan, serta merengek minta ini dan itu. Bertanya satu dua hal yang akan Edzar jawab dengan sabar. Membicarakan apa saja dengan ekspresi mengundang tawa.
Edzar rindu. Sangat. Namun dia harus cukup puas dengan kabar yang selalu mertuanya berikan. Safa masih menolak bicara apalagi bertatap muka. Dan itu membuat Edzar frustasi, menahan keinginan untuk nekat pergi ke Bandung, memeluk serta melihat langsung wajah sang istri yang selalu membuatnya gelisah.
__ADS_1
Tapi, sekali lagi Edzar tak mau egois. Dia akan bertemu jika sekiranya Safa sudah siap. Baru setelah itu Edzar akan menjelaskan. Tanpa terkecuali.
Edzar sudah memutuskan dia akan membuka semua masa lalunya pada Safa. Apapun tanggapannya akan Edzar terima kecuali berpisah. Untuk yang satu itu tidak akan Edzar kabulkan. Meski Safa nekat melayangkan gugatan sekalipun.
Inilah tujuannya menikahi Safa lebih awal. Agar dia memiliki kuasa penuh terhadap hubungan mereka. Egois? Ya, dia tak akan mengelak. Memang benar kata Heru, sebagian besar pernikahan ini sudah ia rencanakan. Termasuk memancing rasa iba sang ibu. Edzar tahu, di balik karakternya yang keras, ibunya tak akan mampu melihat Edzar terinjak di hadapan orang lain.
Semua itu dia lakukan untuk Safa, lebih tepatnya untuk Edzar sendiri. Edzar tak akan ikhlas dunia akhirat jika wanita itu dipinang lelaki lain. Posisinya terancam saat Tuan Halim menunjukkan sederet pria potensial yang menginginkan putrinya.
Alhasil Edzar bergerak cepat untuk menghindari hal yang akan membuatnya menyesal. Dan semuanya berjalan lancar meski dia lupa menyiapkan mas kawin yang lebih layak.
Tak apa, Safa sekarang istrinya. Dan selamanya tetap begitu. Kendati hubungan mereka saat ini tengah renggang. Edzar akan sekuat tenaga mempertahankan.
Safa harus tahu apa itu egois yang sebenarnya. Karena Edzar orang yang serakah jika menyangkut wanita yang menjadi istrinya itu.
Di tengah lamunan tiba-tiba Doni datang mengetuk pintu. Dia berkata ada seseorang yang ingin bertemu. Kening Edzar berkerut, dalam hati ia berharap Safa lah yang menemuinya—meski itu sedikit tak mungkin.
Namun alih-alih Safa, Edzar malah mendapati seseorang yang kehadirannya sama sekali tak ia harapkan.
Apa lagi ini? Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan? Belum selesai masalahnya dengan Safa, kini dia pun harus menghadapi wanita yang pernah menggores luka di hatinya.
Kakinya seketika terpaku di ambang pintu. Doni sudah berlalu setelah mengantarkannya ke ruang penerimaan tamu. Nafas Edzar seolah tercekat. Berapa lama mereka tak bertemu? Enam, atau tujuh tahun? Entahlah, Edzar tak berniat mengingat-ingat.
"Ada apa?" Suara Edzar terdengar dingin.
Sesaat wanita itu tersentak, sebelum kemudian menyungging senyum yang dulu pernah membuat Edzar terkagum.
__ADS_1
"Apa kabar, Mas?"