SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 132


__ADS_3

Safa berkedip pelan. Ditatapnya dua lelaki yang tengah berbincang asik di hadapannya. Sebentar, apa dia tidak salah lihat. Kenapa ayahnya tampak akrab sekali dengan Edzar?


Pria itu bahkan tidak menaruh curiga ataupun bertanya mengapa Edzar bisa ada di sini. Jika situasi normal, bukankah seharusnya Tuan Halim menginterogasi Edzar karena telah berani berduaan dengan putrinya di vila?


Mereka terus saja bercakap-cakap tanpa menghiraukan Safa yang tengah kebingungan.


"Eh, iya, tadi saya sama Pak Iwan beli bakso. Mau makan di sini atau ruang makan?"


"Om repot-repot begini, saya jadi gak enak," ringis Edzar.


"Nanti juga enak sendiri kalau sudah makan. Ini salah satu bakso langganan saya saat di Bandung, dijamin maknyus. Ayo, Safa ambil mangkuknya, kita makan di sini aja biar lebih enak. Ayah lagi kepingin lesehan," titah Tuan Halim seraya meluruhkan tubuhnya hingga kini duduk di karpet bawah sofa.


"Kok, bengong? Ayo ambil, Nak."


Mau tak mau Safa bangkit berjalan ke dapur untuk mengambil peralatan makan. Dia masih berusaha mencerna situasi. Safa benar-benar tidak mengerti kenapa ayahnya bisa sesantai itu. Biasanya Tuan Halim akan langsung siaga jika ada lawan jenis yang menatapnya sejenak saja. Lah, ini Edzar sampai masuk vila, loh. Bisa dibilang mereka hampir melakukan hal tak senonoh tadi.


Aneh. Safa jadi curiga sama mereka berdua. Jangan-jangan Tuan Halim sendiri yang memberitahu keberadaan Safa pada Edzar.


Safa menggeleng. Tidak mungkin. Atas dasar apa ayahnya memberitahu. Tapi, tetap saja interaksi mereka terasa aneh.


Terlalu hanyut dalam lamunan membuat Safa tidak sengaja menjatuhkan pisau buah yang entah sejak kapan Safa pegang. Niatnya kan dia mau ambil sendok.


Baru saja dia hendak berjongkok meraihnya, sebuah tangan sudah lebih dulu mencomot pisau itu dari lantai.


Edzar mengembalikan benda itu pada tempatnya, kemudian menatap Safa. "Jangan melamun di dapur. Kalau pisau itu jatuh mengenai kaki bagaimana?"


"Kenapa Om ke sini?" Safa malah bertanya.


"Saya punya firasat kamu akan memecahkan sesuatu jika tidak disusul," jawab Edzar terdengar asal. "Benar, kan? Kamu menjatuhkan pisau dan hampir melukai kaki sendiri."


Safa tak menyahut, Edzar mengambil alih baki yang sudah berisi 4 mangkuk, sendok, dan garpu. Pria itu membuka kulkas memilah-milah minuman segar yang berjejer di sana.


"Kamu mau minum apa?"

__ADS_1


"Air putih aja."


Edzar mengeluarkan sebotol besar air putih dingin, lalu diserahkan pada Safa. Sementara dirinya mengambil gelas di rak, meletakkannya bersama mangkuk dan sendok di atas baki.


"Kuat gak?"


Safa mendelik, "Memangnya aku selemah apa? Ini bahkan lebih ringan dari bayi," ketusnya.


Entah hanya perasaan Safa atau memang raut Edzar sedikit berubah tadi. Hanya sekilas, karena setelahnya pria itu langsung tersenyum, mengajaknya kembali ke ruang depan.


"Wahh... Seger, nih." Pak Iwan menatap berbinar pada bungkusan bakso dalam kresek.


Safa lagi-lagi dibuat heran. Ini hanya kebetulan atau apa jumlah baksonya pas, empat porsi, seolah Tuan Halim tahu ada orang lain selain dirinya di vila ini.


Edzar, Tuan Halim, dan Pak Iwan sibuk mengisi mangkuknya masing-masing. Safa tak mau kalah, dia pun mengambil satu yang tersisa dan bersiap membuka plastiknya.


Namun tiba-tiba Edzar menahan tangan Safa. Pria itu menggeser mangkuk bagiannya yang sudah terisi bakso besar melebihi dua kepalan tangan ke hadapannya. Lalu menggeret milik Safa yang belum dibuka.


Safa termenung sebentar, lalu menoleh pada Edzar yang kini sibuk dengan mangkuknya sendiri. Terlihat biasa saja. Apa Edzar sadar apa yang tadi dia lakukan?


Lantas Edzar tersenyum dan mengambilkan sambal yang dimaksud Pak Iwan. Ternyata pria ini bisa sangat ramah pada orang tua.


"Makasih. Maaf ya, Mas Edzar, ya."


"Kenapa harus minta maaf, sih, Pak? Minta tolong bukan sebuah kesalahan."


"Hehe, ya saya segan toh. Mas Edzar ini Jaksa."


"Jaksa itu pekerjaan, dan saat ini saya tidak sedang dalam masa kerja. Saya tidak pakai seragam, jadi kita sama saja sekarang," tutur Edzar.


Pak Iwan mengangguk-angguk sembari tersenyum. Matanya melirik Tuan Halim yang sibuk mengeksekusi bakso di mangkuknya, seolah tidak mendengar atau lebih tepatnya peduli dengan percakapan barusan.


Safa mengernyit, apa arti tatapan Pak Iwan itu?

__ADS_1


Tau, ah.


Lebih baik Safa fokus sama air liurnya yang hendak menetes karena mencium bau segar kuah kaldu. Tak lupa dia menambahkan sambal secukupnya. Safa tidak menambahkan kecap atau saus karena dia lebih suka kuah bening.


"Jangan terlalu pedas. Nanti perutmu panas," celetuk Edzar tiba-tiba.


Safa mendelik. Bisa tidak, pria itu menahan perhatiannya? Di sini ada Ayah Safa juga Pak Iwan. Nanti kalau mereka curiga bagaimana?


Safa lupa, sejak awal situasi ini memang sangat aneh.


..................


Tuan Halim mengusap-usap perutnya kekenyangan, pun Pak Iwan yang kini selonjoran di atas karpet, keadaannya tak jauh berbeda dari sang tuan. Kedua pria baya itu nampak kepayahan, mereka gagal menghabiskan bakso yang besarnya hampir menyamai kepala bayi. Hanya Edzar yang berhasil melahap habis sampai ke kuah-kuahnya.


Lagian untuk apa coba mereka balapan seperti anak kecil? Saat di pertengahan, sekonyong-konyong 3 lelaki itu melakukan pertaruhan konyol. Mereka bertaruh siapa yang bisa memakan bakso besar itu sampai habis.


Sejak awal Safa tahu ayahnya akan kalah. Hey, porsi makan Tuan Halim dan Pak Iwan tidak sebesar itu.


Tanpa sadar Safa melirik perut Edzar yang kotak-kotak. Kira-kira berapa lama Edzar akan berolahraga untuk membakar kalori?


Kemudian mata Safa melihat mangkuknya sendiri. Safa bahkan belum menghabiskan setengah dari bakso itu. Mendadak perutnya kenyang hanya dengan melihat ketiganya makan dengan cepat.


Sebuah sentuhan mampir di pinggangnya. Safa tersentak, lalu mendelik pada Edzar yang duduk di sampingnya. Dia bersyukur mereka lesehan di bawah hingga terhalang meja.


Dicubitnya lengan Edzar dengan kesal. Apa-apaan coba sikapnya itu. Karena tak fokus Safa jadi tersedak kuah pedas. Melihat itu Edzar sigap mengulurkan air yang langsung Safa minum hingga tandas.


Refleks Edzar mengelus punggung Safa pelan. Tanpa Safa sadari posisi duduk mereka sudah merapat tak ada jarak. Edzar bergumam 'maaf' merasa bersalah. Dia pikir Safa tersedak karena dirinya. Gadis itu jadi tidak fokus makan.


"Gimana?" tanya Edzar saat batuk Safa mulai mereda.


"Perih...." Safa merengek mengusap hidung dan lehernya. Edzar semakin merasa bersalah. Mata Safa sampai berair saking hebat batuknya tadi.


Entah sejak kapan Tuan Halim pergi ke dapur mengambil air hangat. Tahu-tahu gelas itu sudah terulur di hadapannya.

__ADS_1


Bukan Safa yang menerima, melainkan Edzar. Dengan telaten pria itu kembali membantunya minum. Tanpa menyadari dengusan samar yang keluar dari mulut Tuan Halim. Sudut bibirnya terangkat tipis, "Dasar anak muda," gumamnya pelan.


__ADS_2