
"Ahh ...."
"Engh ...."
Safa mendesah dengan mata terpejam, setengah berbaring di pinggiran jacuzzi yang cukup luas. Tangannya tertekuk menahan berat tubuhnya dengan siku. Mulutnya tak berhenti mengeluarkan rintihan kecil, sesekali menjerit kala sebuah gigitan ia rasakan di bawah sana.
Sapuan hangat lidah Edzar membuatnya bergetar oleh rasa asing. Geli, tapi enak. Safa memang sudah mendengar dari beberapa orang yang pernah mengalaminya, juga video-video yang kerap ia tonton. Ternyata memang senikmat ini.
Udara dingin tak lagi Safa hiraukan. Meski tubuh sepenuhnya sudah keluar dari air karena perbuatan lelaki itu yang tengah mengeksplorasi di bawah sana. Safa tak tahu lagi harus apa selain pasrah. Kakinya lemas, sementara Edzar masih betah membenamkan kepala di antara pangkal pahanya.
Sesekali tangan pria itu naik meremas dadanya, memilin puncaknya dan menariknya dengan cubitan. Safa berusaha menahan suara agar tak terlalu menjerit. Mungkin tempat ini memang privat, tapi tak menutup kemungkinan kegiatan mereka diketahui orang lewat suara yang terdengar.
"Emh ...." Edzar menggeram seraya mulutnya tak berhenti bermain.
Safa menunduk, tangannya terulur meremas rambut pria itu yang kini tampak berantakan karena berkali-kali menjadi pelampiasannya. Safa lelah, sikunya sakit terus menekuk seperti itu, alhasil dia berbaring sepenuhnya di ubin kayu, membiarkan Edzar memuaskan keinginannya di bawah sana.
Safa hanya bisa mendesis, menggigit lengan dan merintih lirih. Sesekali pinggulnya bergerak mencari kenyamanan. Edzar pun sangat pengertian. Pria itu membebaskan Safa memilih posisi apapun yang sekiranya tak membuat pegal.
Entah berapa menit hal itu berlangsung, sesuatu dalam dirinya mendesak ingin keluar. Safa menggeleng rusuh, pinggul dan kakinya bergerak tak karuan. Tangannya berusaha menjauhkan kepala Edzar dari bawah tubuhnya. Safa menjerit karena Edzar keras kepala dan tetap aktif memainkan lidahnya di sana, sesekali menghisapnya hingga membuat Safa semakin tak kuat.
"A Uda ...." rengek Safa.
Kakinya merapat menjepit kepala Edzar, namun pria itu berhasil melebarkannya kembali dan menahannya terus seperti itu. Pun tangan Edzar tak berhenti memanjakan buah dadanya. Safa menggelinjang kala desakan itu semakin datang. Kontan dia berusaha menjauhkan Edzar, walau sia-sia karena kepala itu seolah dilem, menempel kuat di bawah tubuhnya.
"Berhenti ...." rintih Safa tak karuan.
"Ehm." Edzar malah menggumam tak menghiraukan.
"A Uda, awas! Engh ...." Safa menendang-nendang ke bawah air. Dia merasa pinggulnya bergetar saat sesuatu itu berhasil keluar. Nafas Safa terengah, tubuhnya seketika lemas, merasa lega dengan apa yang menimpanya barusan.
Mata Safa mengerjap, tahu-tahu wajah Edzar sudah ada di atasnya. Lelaki itu duduk di pinggiran jacuzzi tempat Safa berbaring. Penampilan Edzar tak jauh berbeda darinya. Berantakan, mata sayu dengan nafas tak beraturan. Mulut pria itu mengkilap basah. Sesekali Edzar mencecapnya dengan bibir terlipat.
Safa mengernyit jijik. Dia tahu apa yang Edzar makan barusan. Sontak Safa merengut, "Udah dibilangin awas, awas, malah gak didengar," gerutunya sebal sekaligus malu.
Edzar tersenyum, mengusap tepian bibirnya. "Gak papa. Ini enak."
"Kamu gimana. Enak?"
__ADS_1
Safa manyun, "apaan, sih."
Pria itu terkekeh, menunduk dan mengecup gemas leher Safa sembari meremas salah satu buah dadanya.
"Lanjut?" tanya Edzar, menatap manik Safa yang sama-sama sayu.
Tanpa diduga gadis itu mengangguk.
"Yakin? Uda gak akan maksa kamu, Sayang. Kalau belum siap, Uda siap nunggu kamu sampai kapan pun."
Safa menggeleng, "Safa gak mau nunda lagi. Mau sekarang atau nanti, Safa tetap harus kasih haknya A Uda."
"Ini juga bukti bahwa Safa tetap memilih A Uda di antara lelaki lainnya. Jangan cemburu kayak gitu lagi. Gak enak tau dicuekkin," lanjutnya merengut.
Edzar mengulas senyum lembut, sorotnya hangat mematri mata Safa seraya tangannya tak berhenti mengusap permukaan dada gadis itu. "Cemburu itu umum dirasakan semua pasangan, termasuk Uda."
"Ya tapi jangan kayak gitu juga. Drama banget sampai senyum aja gak boleh."
Edzar mengecup sekilas puncak dada Safa yang mengeras, membuat istrinya tanpa sadar mendesah.
"Uda punya alasan. Uda bukan larang kamu untuk senyum sama orang. Uda hanya minta kamu pilih-pilih. Jangan semua kamu kasih senyum mentang-mentang senyum itu bagian dari sedekah. Terlebih pria. Kamu tidak bisa sembarangan mengumbar senyum jika tidak ingin orang lain salah paham."
Safa mengangguk, enggan meneruskan pembicaraan. Tangannya turun menyentuh sesuatu di bawah pusar Edzar. Sontak lelaki itu tersentak, dan Safa hanya melempar senyum menggoda seraya mengelus dan meremas benda keras itu.
Edzar terengah, matanya kembali sayu dengan mulut setengah terbuka. Jakunnya naik turun menelan ludah.
Safa mendekat, mengecup puncak dada Edzar, mengemutnya seperti yang kerap lelaki itu lakukan padanya Terdengar desisan serta geraman dari mulut Edzar. Hal itu membuat Safa semakin berani menggerayangi.
"Buka, ya?" pinta Safa. Tangannya sudah berada di tepian pinggang sang suami, bersiap menurunkan satu-satunya penutup yang Edzar kenakan.
"Istriku mulai berani. Siapa yang ajarin?"
"Suamiku."
Edzar terkekeh, memagut bibir Safa lalu menjauh, menegakkan punggung. Matanya melirik ke bawah, memberi isyarat untuk Safa melakukannya.
Pun Safa bangkit dari rebahan, meluruhkan tubuh ke dalam air hingga posisinya tepat berhadapan dengan gundukan pria itu yang sudah mengeras. Safa menggigit lidah sembari meneguk ludah. Hal yang sudah lama ia dambakan kini secara nyata ada di hadapannya.
__ADS_1
Mula-mula Safa mengelus benda itu dari luar. Matanya melirik pada Edzar yang terpejam. Menikmati sentuhan Safa yang penuh akan rasa penasaran.
Tanpa buang waktu Safa menurunkan bokser Edzar. Pria itu sedikit mengangkat pinggulnya, memudahkan Safa meloloskan kain itu. Seketika ia dibuat takjub, untuk kedua kalinya ia melihat milik Edzar yang mengacung tegak. Bedanya kali ini lebih dekat. Tanpa sadar telunjuk Safa terangkat menyentuh guratan-guratan urat yang menonjol di sana.
"Sshh." Edzar mendesis merasakan sentuhan pertama Safa pada miliknya.
Safa berkedip saat benda itu bergoyang. "A Uda. Safa sudah banyak belajar secara virtual. Sekarang izinkan Safa belajar secara nyata," bisiknya masih menatap takjub milik suaminya.
Mata Edzar semakin menggelap mendengar pernyataan Safa. Terlebih saat gadis itu mulai mendekatkan wajah, mengecup ujung kepalanya, disusul genggaman lembut di batangnya yang mengeras.
"Oh ..." Edzar tak bisa menahan erangan kala Safa mulai memasukkan setengah bagian dari miliknya.
Hangat dan lembab. Mulutnya sudah seenak ini, bagaimana dengan intinya? Edzar membatin seraya mengamati Safa yang terus bermain memainkan lidah serta mulutnya, tangannya aktif memberi pijatan yang membuat Edzar tak berhenti menggeram.
"Ahh ... Sayang. Sudah cukup." Edzar menarik miliknya dari mulut Safa. Gadis itu mengerjap, menatap sedikit tak rela benda itu. Baru saja nyicip, ucapnya dalam hati.
Safa mencecap lidahnya sendiri. "Asin," gumamnya tanpa sadar.
Edzar terkekeh, menggeleng geli dengan keluguan sang istri. Katanya penggemar dua satu plus, tapi yang begitu saja tidak tahu.
"Itu pre-cum, Sayang. Cairan yang keluar sebelum ejakulasi. Kemari." Edzar meraih tangan Safa untuk mendekat. Mereka sudah sama-sama terbenam di dalam air.
Safa duduk di pangkuannya. Edzar tersenyum, mengecup sekilas bibir sang istri, sebelum beralih pada buah dada yang tak bosan ia mainkan.
Safa menggigit bibir merasa geli. Sesekali ia tertawa saat Edzar dengan sengaja menggigit kecil puncaknya. Pria itu juga tersenyum melirikkan matanya ke atas. Ia senang karena kali ini Safa tidak tegang. Malah cenderung menggebu seperti Edzar.
Edzar sengaja membuat gadis itu lebih santai. Dia tidak mau Safa tertekan karena kurangnya pemanasan. Mungkin kemarin ia salah karena terburu-buru, jadi Safa sedikit ketakutan dan kurang menikmati permainan.
"Ahh ..." Safa mendesah kala Edzar mulai menggesekkan miliknya di celah intim. Kedua tangannya terangkat merangkul kepala lelaki itu di depan dada.
"A-ah ..."
Edzar mulai memasukkan secara perlahan. Mata Safa terpejam disertai ringisan. Kontan Edzar langsung mencium bibirnya seraya tangannya tak berhenti bergerak menggoda gundukan lembut milik Safa.
"Emh ..."
"Aahh ...!" Safa menjerit melepaskan tautan bibir mereka. Sesuatu terasa merobeknya di bawah sana. Safa merintih kesakitan, namun Edzar segera mengalihkan kembali perhatiannya dengan ciuman. Tangannya aktif meremas, mengusap, juga memilin permukaan lembut milik Safa. Hingga lambat-laun tubuh Safa kembali rileks.
__ADS_1
Edzar menggeram, membiarkan Safa terbiasa dengan penyatuan mereka. Akhirnya setelah sekian usaha, Edzar berhasil menembus dinding pelindung kegadisan itu.
Edzar berbisik di tengah nafas mereka yang memburu. "Sekarang kamu sudah menjadi milik Uda sepenuhnya, Sayang," ucapnya disertai senyum haru. Wajahnya ia benamkan di bahu telanjang Safa. Mengecup lembut kulit putih yang selalu membuainya dengan kehalusan.