
Kegaduhan pun terjadi kala pecahan piring dan baki silih berjatuhan beradu lantai. Menimbulkan kekacauan dan kebisingan yang seketika jadi pusat perhatian.
“Aduh... Kakak hati-hati, dong, kalau jalan. Jatuh semua ‘kan jadinya...” keluh si pelayan sembari mencoba bangkit. Wajahnya terlihat masam dan gelisah. Jelas saja, dia baru saja merusak properti cafe.
Safa menunduk tak enak hati. Dia pun meminta maaf berkali-kali pada si pelayan. Tubuhnya masih terduduk di lantai bersama serpihan beling yang berserakan. Tergesa-gesa tangannya membantu pelayan itu membereskan pecahan piring dan gelas yang sudah tak berbentuk.
Belum lagi makanan yang tercecer mengotori ubin. Ini benar-benar memalukan. Kenapa, sih, akhir-akhir ini Safa sering banget nabrak orang? Waktu itu Om Baskoro, sekarang pelayan cafe. Mau nangis saja rasanya.
Beberapa petugas cafe dengan sigap bertindak. Mereka bergegas menghampiri tempat Safa dan membantu membereskan kekacauan. Safa diminta menepi dan duduk di salah satu kursi, tapi dia menolak. Safa benar-benar merasa bersalah. Matanya sudah berkaca dan siap untuk menangis. Cengeng? Iya, Safa tahu. Tidak perlu kalian jelaskan juga.
“Kak, kakaknya duduk saja di sana, ya? Biar kami saja yang bereskan,” pinta salah satu pekerja dengan suara berat khas pria.
Safa menggeleng dengan bibir sedikit mencebik, tangannya tak berhenti memunguti serpihan tajam hasil ulahnya. Safa benar-benar malu, dia kesal pada dirinya sendiri yang selalu bersikap ceroboh.
“Kamu gimana, sih Yu. Jalan gak hati-hati. Ada Pak Bos tau,” desis seorang perempuan yang merupakan teman si pelayan.
__ADS_1
“Kok aku yang disalahin? Kakaknya yang jalan gak lihat-lihat.”
“Sstt... udah-udah. Jangan saling menyalahkan. Cepat beresin,” ujar yang lainnya.
Safa menggigit bibir mendengar itu, ini semua salahnya. Kalau saja dia tidak terlena dengan kehadiran Edzar, semua ini tidak akan terjadi.
Di tengah kekeruhan itu, seseorang datang mencekal tangan Safa, menghentikan gerakannya yang tak berhenti memunguti beling.
Panjang umur.
Kedatangannya menarik perhatian seisi cafe, terutama para petugas yang sekarang wajahnya berubah pias.
Edzar menatap Safa yang berurai air mata. Gadis itu menangis sesenggukan di hadapannya. Tangis yang sejak tadi ditahannya pecah seketika. Safa menunduk malu, lagi-lagi dia bersikap ceroboh di hadapan Edzar. Pria itu pasti makin ilfil padanya.
“Om....”
__ADS_1
Edzar tak menyahut, suasana mendadak sunyi dan tegang. Safa tak mengerti kenapa para pekerja cafe itu seolah mendadak ciut. Sebesar itukah pengaruh Edzar di mata orang-orang? Apa karena seragamnya yang cukup mengintimidasi? Safa rasa bukan.
Safa sedikit terlonjak saat pria itu meraih bahunya, menariknya untuk segera berdiri. Susah payah Safa bangkit dengan kaki lemas, hal itu membuatnya harus bersandar pada tubuh tinggi Edzar. Pria itu tak keberatan, tangannya melingkar di sekitaran lengan Safa dengan tujuan menahan.
Matanya menatap satu-persatu pekerja cafe. “Bereskan semua ini. Dan kamu.” Edzar menunjuk pelayan yang tadi menabrak Safa. “Kamu berjalan membawa baki. Fokusmu ke depan, bukan samping apalagi belakang.”
Si pelayan menunduk takut, tak menyangka Edzar memerhatikan sedetail itu.
Edzar beralih menuntun Safa ke sebuah ruangan. Safa hanya mengikuti tanpa benar-benar mengamati. Dia sibuk menangis di pelukan Edzar. Hingga pria itu mendudukkannya di sebuah sofa, barulah Safa mengangkat wajahnya dari dada Edzar.
Gadis itu masih sesenggukan, kepalanya merunduk menatap lantai. Kejadian tadi benar-benar membuatnya malu. Terlebih semua itu terjadi tepat di hadapan orang yang disukai. Safa benar-benar merasa telah kehilangan muka sekarang.
“Hani, tolong ambil kotak obat,” titah Edzar entah pada siapa. Yang Safa dengar hanya derap langkah yang menjauh lalu kembali dengan cukup cepat.
“Aw....” Safa meringis pelan merasakan perih di punggung kakinya. Matanya terbuka melihat Edzar tengah mengobati luka gores di sana. Safa bahkan tidak menyadari keberadaan luka itu.
__ADS_1
Bukan hanya di sana, betis juga lututnya ikut menjadi korban. Safa semakin terisak tak berani menatap Edzar. Bukan karena sakit, tapi lebih pada rasa malu yang kian menggunung. Safa tak berhenti memaki sifatnya yang seringkali ceroboh.
Mendadak dia insecure dengan hal itu. Semangatnya untuk mendekati Edzar sedikit meredup, Safa merasa sedikit tak pantas dengan lelaki sesempurna Edzar. Dia bahkan tidak bisa menjaga dirinya dari kecelakaan sekecil ini.