SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 24


__ADS_3

“Om Reno mau makan? Duduk sini aja.” Sebenarnya itu hanya basa-basi Safa, dia tak berharap Reno akan benar-benar duduk di antara dirinya dan Leo.


Dan syukurlah, pria itu menunjuk meja lain yang berisikan beberapa orang, katanya itu Bos dan klien yang dimaksud.


Safa mengangguk mengerti. Akhirnya dia bisa bernafas setelah kepergian Reno. Tatapannya kembali pada Leo, tiba-tiba Safa teringat sesuatu yang membuatnya amat penasaran sejak tadi.


“Le.”


Leo mendongak mengangkat alis, “Apa?”


“Tadi aku lihat kamu belanja sayur dan daging? Itu ... buat apa?”


Kontan Leo tertawa. Pertanyaan Safa terdengar sangat konyol di telinganya, mungkin orang lain juga.


“Ya buat masak lah, menurut kamu buat apa? Hahaha...”


“Leo ih aku serius.” Safa cemberut.


“Ya aku juga serius. Itu buat masak.”


“Kamu bisa masak?”


Leo menatap lurus pada Safa, “Kamu ngeremehin aku? Aku ini calon chef, lho.”


Kening Safa berkerut, kemudian dia terperangah. “Kamu jadi kuliah Tata Boga?” serunya tanpa sadar.


Leo terkekeh dan mengangguk. Safa masih tak percaya, ia kira dulu Leo hanya bercanda. Tapi ternyata pria itu benar-benar terjun ke dunia perdapuran?


“Apa ini? Berapa kali aku bilang berhentilah membawakanku bekal, Leo. Asal kamu tahu, masakanmu tidak ada yang masuk di lidahku. Kamu harus sekolah dulu kalau mau memberiku makanan.”


“M-maaf, Safa. Aku hanya ingin berterima kasih. B-baiklah, setelah lulus nanti aku akan sekolah memasak agar bisa membuatkanmu makanan yang lebih spesial.” Nadanya terdengar sangat polos.


Dan Safa berdecak dalam hati, tidakkah Leo mengerti maksudnya? Safa berkata seperti itu agar cowok itu berhenti memberikan bekalnya pada Safa. Safa tahu Leo jarang menginjak kantin karena merasa kurang nyaman. Dan safa juga tahu Leo hampir tidak pernah makan siang sejak bekalnya selalu diberikan pada Safa.


“Sudah ku bilang aku akan membuat sesuatu yang spesial ‘kan?” Leo tersenyum, “Kapan saja kamu mau, aku akan membuatnya di depan matamu.”

__ADS_1


Safa mematung, dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Katakan pendengarannya sedang bermasalah. Si cupu ini tidak benar-benar memasukkan perkataannya ke dalam hati ‘kan? Hey ... Safa tidak serius dengan ucapannya, kenapa si bodoh ini malah ....


Haih ... tau, ah. Safa pusing. Terserah apa yang mau Leo lakukan. Safa harap, setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.


Walau kemungkinan itu kecil terjadi.


\=\=\=


Ting!


Denting notifikasi mengalihkan perhatian Edzar dari sederet dokumen yang sedang dibacanya. Lelaki itu meraih ponselnya di ujung meja dan menekan pop up setelah menggeser bagian atas layar. Keningnya berkerut melihat isi pesan yang ternyata dari Reno.


Reno send a picture :


Warning! Dedek gemes diembat perjaka ting-ting!


Sesaat Edzar terdiam menatap layar ponselnya, lebih tepatnya pada gambar yang dikirim Reno. Terdapat seorang gadis yang dikenalinya sedang duduk di sebuah tempat makan, mungkin di kafe. Di depannya ada seorang pria yang Edzar taksir seumuran gadis itu sendiri.


Menghela nafas pelan, Edzar meletakkan kembali ponselnya dan membaca dokumen. Apa maksud Reno mengirimkan hal seperti itu padanya. Sudah Edzar bilang, Safa itu masih anak-anak dan labil, jiwa berpetualangnya masih besar. Apa yang Reno harapkan dari gadis itu?


Lagipula Edzar sadar betul ibunya tak menyukai Safa. Tidak suka dalam artian untuk jadi menantu. Jangan kira dirinya tidak peka dengan perilaku ibunya saat di Puncak kemarin yang berusaha menjauhkannya dari Safa. Sedikit tak tega, tapi itu lebih baik ketimbang gadis itu yang terus memupuk harapan padanya.


Tok tok tok.


“Masuk.”


“Pak Edzar, ini berkas dari kepolisian, kelengkapan yang bapak minta.”


Edzar mengangguk menerima laporan berupa kasus dari tim penyidik atas kekurangan yang dia minta beberapa hari lalu. Memeriksanya sebentar sebelum mengangguk puas. “Terimakasih, semuanya sudah lengkap.”


Orang itu kemudian pergi setelah dirasa tugasnya selesai. Edzar kembali larut dalam pekerjaannya melupakan pesan Reno yang menurutnya tidak penting.


Sementara itu, dapur keluarga Halim tengah dilanda kekacauan. Pelakunya tak lain adalah Safa sendiri. Nyonya Halim hanya bisa meringis jijik melihat keadaan dapur mewahnya yang kotor dan berantakan. Sepertinya dia melakukan kesalahan besar dengan mengizinkan anak manja itu wara-wiri di sana.


“Oh, astaga... dapur ratusan jutaku....”

__ADS_1


“Ya ampun, Safa! Yang bener dong motong buahnya, jangan sampai loncat-loncat ke lantai begitu, banyak semut nanti!”


“Tuh, tuh. Aduh... bukan gitu caranya. Kamu ngupas mangga aja gak bisa! Apa, sih, bisanya?”


“Kamu mau motong apel apa mau menggal orang?”


“Astaga, Safa....”


“Kamu bla bla bla bla....”


Safa memutar bola mata untuk yang kesekian kali. Sumpah, Nyonya Halim ngeselin banget. Selama setengah jam dia berusaha sabar dan menebalkan telinga. Mulut Nyonya Halim seolah tiada rem mengeluarkan berbagai kalimat larangan. Kalau begini gimana Safa bisa fokus?


“Bunda....” Safa melirik malas pada Nyonya Halim.


“Bukankah kesepakatannya hanya Bik Inem yang nemenin Safa? Kenapa bunda ikut patroli di sini?”


Nyonya Halim mendengus mengalihkan pandangannya dengan kedua tangan terlipat di atas perut. “Kamu pikir bunda akan percaya gitu aja kamu gak akan hancurin dapur kesayangan bunda ini? Lihat, baru beberapa menit aja bunda udah mengalami kerugian,” ujarnya ketus.


Safa merengut, “Ya namanya juga belajar, gak ada yang instan. Nanti kalo Safa udah pinter gak akan kayak gini. Bayi aja kalo belajar makan suka berantakan, kok.”


“Kalo bunda larang-larang terus kapan Safa bisa berkembang? Lama-lama mending Safa sewa tempat buat belajar masak.”


“Ya udah, itu jauh ... lebih bagus!”


“Bunda, ih!” Safa menghentak kesal.


Bukannya mendukung, ibu satu ini malah mempersulit langkah anaknya. Siapa yang selalu ceramah saat Safa diam saja saat di rumah? Sekalinya ada kegiatan malah kayak gak ikhlas gitu.


\=\=\=


“Ini....”


“Ini puding buatan Safa, Ayah. Ayok cobain.”


Selepas makan malam, Dava dan Tuan Halim dikejutkan dengan penampakan makanan penutup yang tersaji di atas meja. Warnanya bening seperti jelly pada umumnya. Terdapat potongan buah yang letaknya tak beraturan.

__ADS_1


Dava tidak tahu entah ini jelly, puding, atau agar-agar. Atau mereka sama saja? Entahlah, Dava tak peduli. Yang pasti sesuatu di hadapannya ini tidak seperti ketiganya. Ini lebih seperti air dengan cincangan buah di dalamnya.


__ADS_2