
“Kamu mau pesan apa?”
Safa mengulas senyum, lebih tepatnya terpaksa. Kakinya tidak bisa diam di bawah meja sana. Suasana canggung melingkupi dua insan yang tengah duduk di kafe, atau hanya Safa yang merasa.
Selepas kepergian Bu Sinta, Safa langsung diseret ke tempat makan terdekat yang ada di kawasan mall. Jelas Safa tak bisa menolak begitu saja, lagi-lagi karena perasaan tak enak.
Safa masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Sebenarnya ada apa dengan hari ini? Kenapa takdir begitu sempit hingga mempertemukannya dengan orang-orang dari masa lalu. Dan dari sekian banyak penghuni Jakarta, kenapa harus Leo? Si cupu yang sekarang berubah jadi don juan.
Lihat saja penampilannya sekarang, Safa hampir tak bisa mengenalinya. Tidak ada lagi rambut batok kelapa dan kacamata tebal, yang ada pria tampan bersurai coklat yang sedikit berantakan. Astaga, inikah yang dinamakan kodok berubah jadi pangeran?
“Spaghetti seafood, sama ... minumnya jus mangga aja.”
“Kamu masih suka banget sama mangga, ya?”
Safa tak menanggapi, dia hanya tersenyum seadanya. Entahlah, Safa masih belum terbiasa dengan perubahan Leo yang sekarang. Dulu cowok itu pendiam banget, boro-boro nanya makanan kayak tadi, ada yang ngajakin ngomong saja langsung menunduk seperti orang takut dipukul.
Berbeda dengan sekarang, Leo tampak lebih percaya diri dan smart. Wanita manapun akan mengakui pesonanya. Sebenarnya Safa ikut senang dengan perubahan lelaki itu, tapi yang membuat Safa tak nyaman adalah tatapan Leo. Pria itu terang-terangan menatapnya sejak tadi.
Safa tak tahu apa dia juga terlihat pangling di matanya, seperti Leo yang hampir tak bisa Safa kenali. Kalau bukan karena tahi lalat di ujung mata, mungkin Safa tak akan menyadari dan menargetkan Leo sebagai incaran barunya, lumayan ‘kan buat cadangan.
Sayangnya setelah tahu itu si cupu Safa jadi mengurungkan niatnya.
“Spaghetti Seafood 2, Jus Mangga 1 sama Thai Tea 1 ya, mbak.”
“Baik, Kak. Mohon ditunggu ....”
Tanpa sadar Safa mengamati interaksi Leo dengan pelayan tadi. Jika dulu Leo terkesan pemalu dan tak berani menatap lawan jenis, maka yang Safa lihat barusan adalah Leo yang tersenyum begitu manis hingga membuat Si Mbak meleleh.
Sebagian hatinya masih menolak percaya bahwa laki-laki di hadapannya adalah Napoleon Brahmana. Siswa yang pernah Safa tolong di kamar mandi sekolah dulu. Safa masih ingat dulu ia menemukan Leo dengan keadaan basah kuyup dan bau, jelas sekali ada yang mengganggunya.
Mengingat kejadian itu tanpa sadar mata Safa memanas. Leo yang penakut dan tak berdaya sering kali membuat Safa marah dan geregetan. Lihatlah, sekarang pria itu bersinar layaknya bintang. Diam-diam Safa tersenyum dalam hati, semoga Leo mendapat keadilan di tempatnya yang sekarang.
__ADS_1
“Safa?”
Safa mengerjap mendengar panggilan itu, kedua alisnya terangkat bertanya.
“Apa kabar?” lanjut Leo.
“A-aku baik. Kamu sendiri?”
Leo tersenyum manis, “Tak pernah merasa sebaik ini.”
Safa balas tersenyum dengan canggung. Suasana macam apa ini? Kenapa Safa terlihat kaku sekali? Kalau Dava atau Nyonya Halim lihat, mereka tak akan percaya Safa bisa se-anteng ini.
“Kamu ... berubah banyak,” ucap Safa.
Lagi, Leo tersenyum menatap perempuan di hadapannya, “Aku berubah demi seseorang.”
Mulut Safa sedikit menganga.
Leo mengangguk membenarkan, “Sangat.” Matanya tak lepas melihat Safa yang sekarang sibuk meneliti seisi kafe.
Sebenarnya yang Safa lakukan hanya untuk pengalihan, Safa tak mau Leo tau dirinya tengah dilanda gugup, mau ditaruh di mana mukanya kalau Safa kedapatan salting karena pria itu. Bukannya apa, dulu Safa suka marah dan bentak-bentak Leo. Pria itu kerap jadi pelampiasannya ketika kesal akan sesuatu.
Tapi lihatlah sekarang, Leo yang berubah seperti ini malah membuatnya malu.
30 menit berlalu, Safa dan Leo sudah menghabiskan makanannya. Safa menyeruput jus mangga dan terpejam saat rasa segar itu melintasi kerongkongannya. Hal itu tak luput dari perhatian Leo, lelaki itu tersenyum melihat ekspresi Safa yang menurutnya begitu lucu.
Tiba-tiba tangan Leo terangkat menyentuh dagu Safa, membuat Safa reflek memundurkan kepalanya karena terkejut. Sebelum Safa salah faham, Leo segera bersuara, “Ada saus.”
Kini giliran Safa yang mengangkat tangan meraba-raba dagunya mencari sesuatu yang dimaksud Leo. Namun dia tak menemukan apapun di sana. Leo menggeleng dan menjulurkan lagi tangannya bermaksud membantu. Padahal Safa berniat berkaca di kamera ponsel, tapi ya sudahlah, kalau ada yang cepat kenapa harus cari yang lama? Ponselnya ada di dalam tas.
Jari telunjuk Leo mengusap pelan dagu mulus Safa, pria itu tertawa lirih sebelum kemudian menarik kembali tangannya.
__ADS_1
“Kebiasaan, mau makan serapi apapun kamu selalu meninggalkan jejak, ya.”
Safa cemberut, kemudian mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak pernah Safa sangka akan bertemu di sini. Safa mengernyit, “Om Reno?”
Pria itu tersenyum lebar melambaikan tangannya sekilas. “Halo, adik manis.”
Safa mematung menatap tak percaya. Ia merasa aneh sendiri dengan hari ini. Kenapa orang-orang yang Safa kenal bermunculan secara bersamaan seperti ini? Memang, sih, mereka hidup di kota yang sama, tapi ‘kan Jakarta luas. Apalagi rumah sakit tempat Reno bekerja cukup jauh dari sini. Apa ini hanya sebuah kebetulan?
Dan lagi, kenapa dokter seperti Reno mampu berkeliaran di jam seperti ini? Safa melirik jam tangan, memang sudah masuk jam makan siang. Tapi apa iya Reno berniat makan di sini? Rasanya tidak mungkin.
“Kok, Om bisa ada di sini?”
Reno mengangkat alis, “Kenapa? Oh ... saya tahu, pasti saya ganggu kencan kalian ‘kan?” ujarnya dengan nada jenaka.
Sementara itu Safa gelagapan, dia menatap Leo dan Reno secara bergantian. “Enggak, siapa yang kencan? Dia teman lama aku, Om. Gak sengaja ketemu.”
Entah kenapa Safa merasa harus menjelaskan.
“Namanya Leo. Le, kenalin ini Om Reno.”
“Leo.” Leo melempar senyum sopan yang dibalas anggukan ramah. “Reno.”
“Om Reno ngapain di sini?”
“Saya nemenin Pak Bos bertemu klien.”
Safa mengernyit, “Pasien maksud Om?”
Reno tertawa, apanya yang lucu?
“Ya ... anggap saja begitu,” jawabnya tak jelas.
__ADS_1
Sudahlah. Lupakan masalah Reno yang bertemu pasien atau klien, lebih baik Safa memesan taksi online karena dia ingin segera pulang. Safa tak sabar untuk segera menjajal kemampuannya di dapur.