SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 105


__ADS_3

Tak terasa lima belas hari sudah Safa bekerja di perusahaan. Selama itu pula Safa berusaha bertahan sebelum tujuannya tercapai. Sayangnya sampai saat ini dia belum menemui petunjuk apapun.


Tidak ada masalah dengan keuangan perusahaan, semuanya tampak normal kecuali berkas dan uang yang ditemukan penyidik waktu itu.


Hanya ada satu kemungkinan, korupsi ini dilakukan secara pribadi tanpa melibatkan perusahaan. Safa cukup bersyukur akan hal itu.


Selain masalah investor yang belum stabil, mereka tak perlu membayar ganti rugi pada pemerintah. Pertanyaannya, siapa pelaku sebenarnya jika bukan Dava?


Ah... Tidak bisakah Tuhan memberikannya petunjuk? Berhari-hari dia memikirkan ini dan tak kunjung mendapat jawaban. Belum lagi Safa harus menjalani peran sebagai Wakil Direktur yang baik. Hal ini sungguh membuatnya pusing.


Ada satu orang yang Safa curigai. Bima Laksana. Dia manajer keuangan, besar kemungkinan dia melakukan kecurangan. Tapi, lagi-lagi Safa tidak bisa menuduh tanpa bukti. Apa dia harus menggeledah semua ruangan di gedung ini? Ha, itu tidak mungkin. Yang ada Safa dituding melanggar privasi.


"Bagaimana menurut anda?"


"Bu Safa?"


"Bu Safa?"


"Ah, iya?" Safa menggaruk dagunya dengan satu jari. "Maaf, bisa tolong ulangi?"


"Saat ini beredar rumor bahwa produk kita mengandung barang haram. Menurut anda, apa yang harus kita lakukan?"


Safa berpikir sejenak. Selain membantu Tuan Halim mengerjakan berkas, ternyata dia juga harus terjun dalam meeting seperti ini. Syukurlah Safa sudah mulai terbiasa, meski otaknya harus diputar secara keras, dan pendapatnya seringkali diremehkan serta tak dianggap.


Percayalah, mereka bertanya seperti itu bukan untuk menerima sarannya, tapi untuk melihat sejauh mana kemampuannya.


"Kalau untuk masalah itu, saya pikir akan lebih efektif jika kita mengundang satu atau dua selebgram dan influencer untuk melakukan dokumentasi mengenai pabrik kita."


"Dengan cara merekam aktifitas di dalam pabrik, lebih mudah untuk secara halus mempengaruhi kesan publik terhadap perusahaan kita."


Maksud anda kita menggunakan sosial media untuk memperbaiki citra perusahaan?"


Safa mengangguk. "Betul. Menurut riset, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 191,7 juta per tahun 2022. Angka ini setara dengan 68,9 persen dari total populasi di Indonesia . Jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini diperkirakan mencapai 277,7 juta per tahun 2022."


"Jadi, menurut saya cara ini sangat efisien untuk memperbaiki nama baik perusahaan. Bagaimana? Apa saya benar?"


Hening.

__ADS_1


Para anggota rapat terdiam, mereka saling lirik satu sama lain. Usulan Safa cukup masuk akal, malah terdengar sangat meyakinkan.


Safa menghela nafas dalam hati. Dia tahu setiap ucapannya selalu diragukan bukan tanpa alasan. Mereka berpikir karena Safa tak memiliki pengalaman, dari segi pendidikan juga meragukan. Jelas mereka tak serta-merta menerima.


Meski Safa juga tak berniat ikut campur dalam masalah internal perusahaan, namun Safa sadar posisinya sekarang bukan untuk ajang main-main. Selagi mencari bukti yang Dava butuhkan, Safa juga harus menjaga posisi ini agar tidak jatuh ke tangan orang yang tidak sesuai.


Sekarang Safa tahu mengapa Dava memintanya menempati posisi ini. Karena ternyata banyak yang mengincar dan berusaha memanfaatkan otoritas kekuasaan. Safa tidak bisa membandingkan lebih rumit mana di antara dunia politik dan bisnis. Keduanya sama-sama berbahaya menurut Safa. Tak sedikit orang ingin menjatuhkan kita secara diam-diam. Mereka melakukannya dengan sangat halus.


Rapat selesai tepat pukul 10. Rencananya hari ini Safa berniat mengunjungi Dava di lapas. Buru-buru Safa membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Safa meraih ponsel untuk kemudian keluar dari ruangan.


Sebelum itu dia mengkonfirmasi kepergiannua pada Pak Anjas. Lagipula jadwalnya hari ini tidak terlalu padat. Safa hanya perlu memeriksa beberapa arsip setelah ia kembali nanti.


"Safa? Mau ke mana?"


Kakinya seketika berhenti. Safa memutar matanya malas dan mendengus samar. Orang yang selalu memanggilnya sok akrab. Siapa lagi kalau bukan Bima Laksana.


Safa berbalik menghadap pria yang baru saja menegurnya itu. Senyumnya terulas lebar meski dalam hati dia merasa kesal. Entahlah, Safa tidak menyukai kepribadian Bima yang bukan hanya sok akrab, tapi juga sok iya.


Apalagi Safa menargetkannya sebagai terduga pelaku yang menjebak Dava. Bagaimana ia semakin tidak suka. Safa tahu tuduhannya tak berdasar. Hanya saja Safa pernah memergoki Bima bertingkah aneh, gerak-geriknya mencurigakan.


Meski begitu, Bima malah tersenyum seolah tak terpengaruh aura permusuhan yang terang-terangan Safa lontarkan. Bima bisa mengerti Safa merasa kesal karena akhir-akhir ini dia kerap mengganggunya.


"Tidak. Saya hanya penasaran kamu hendak pergi ke mana?"


"Sepertinya saya tidak memiliki kewajiban memberitahukannya."


Bima mengangkat alis lalu mengangguk, bibirnya sedikit mengerucut tanpa terlihat berlebihan. "Begitu. Baiklah. Apa kamu punya waktu malam ini?"


"Kenapa memangnya?"


"Saya ingin mengajak kamu makan malam. Bisakah?"


Akhirnya sosok playboy menunjukkan aksi. Ternyata benar apa yang para karyawan bilang, Bima ini tipe pemain wanita. Safa dengar sudah banyak korbannya di perusahaan ini. Rata-rata dari mereka wanita muda yang baru memulai karir.


Huh, jangan kira rayuannya akan mempan pada Safa. Dilihat dari segi kualitas saja Edzar lebih baik. Meski Bima bertubuh bagus, tapi Edzar jauh lebih tinggi dan kekar.


Ih, apaan, sih. Kok, jadi Edzar lagi. Sepertinya Safa harus cepat-cepat pergi untuk menjaga kewarasannya.

__ADS_1


"Mohon maaf sekali, Pak Bima. Malam ini saya sudah ada janji dengan keluarga. Jadi sepertinya tidak bisa. Permisi."


Safa bergegas pergi meninggalkan Bima. Tak peduli lelaki itu masih ingin bicara, urusannya dengan Dava lebih penting ketimbang merencanakan kencan dengan pemain wanita.


"Jalan, Pak," ucapnya pada sopir kantor yang akan mengantarnya.


..................


"Jadi kamu mencurigai Bima? Kenapa?"


"Karena dia terlihat mencurigakan, Bang. Posisinya juga memungkinkan untuk berbuat curang. Bukankah dia yang memegang keuangan?"


"Tapi kamu bilang tidak ada masalah dengan keuangan."


"Memang," angguk Safa. Sementara Dava mengernyit.


"Tapi bisa saja, kan, sebenarnya dia yang bekerjasama dengan Pak Menteri? Lalu karena tahu aksinya mulai tercium jadi dia melimpahkan kesalahan pada Abang."


"Tapi, Bang. Saat itu Abang terlihat akrab dengan Pak Menteri?"


Dava bisa melihat tatapan curiga dari adiknya. Dia pun menghela nafas sebelum mulai menjelaskan. "Memang beberapa kali beliau datang ke perusahaan. Tujuannya untuk mengajak Abang bergabung dalam proyeknya, sebagai penyokong dana. Beliau juga menjelaskan berapa keuntungan yang akan Abang dapat."


"Tapi, Abang tolak dengan halus. Alasannya karena Abang tidak mau terlibat apapun dengan urusan negara. Abang malas dengan sesuatu yang berbau politik. Cukup menjadi warga negara yang baik dengan membayar pajak tepat waktu. Abang juga banyak berinvestasi di BUMN. Jadi menurut Abang itu sudah cukup."


"Intinya saat itu Abang menolak dan kerjasama batal. Entah bagaimana berkas kesepakatan itu ada di meja Abang. Padahal Abang sendiri tidak ingat pernah menandatanganinya."


"Lalu, uang jutaan dollar itu...."


"Jelas ada yang menyelundupkannya. Kalau itu milik Abang, kenapa Abang harus menyimpannya di perusahaan? Abang punya rekening, Abang punya brankas sendiri di rumah maupun Bank."


Safa mengangguk, penjelasan Dava sangat masuk akal. Jadi, sebenarnya siapa yang melakukan penyelundupan uang itu?


"Safa, kamu juga harus tahu, sesuatu yang terlihat belum tentu seperti yang kita lihat."


"Maksud Abang?"


"Jangan terlalu fokus pada Bima. Terkadang, kita terkecoh dengan sesuatu yang menurut kita pasti."

__ADS_1


__ADS_2