
“Kalo berondongnya kayak Om Tirta sih Safa gak akan nolak,” lanjut Safa yang membuat Miranti melotot. Serta-merta dia mendorong Safa dari pelukannya.
“Ngomong apa kamu?” tanya Miranti dengan raut galak.
Safa nyengir cengengesan, dia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. “Becanda, Tante. Kan Safa bilang ‘kalau’. Sampai kapanpun Om Tirta cuman milik Tante.”
Miranti mencibir memutar bola mata.
“Jadi, kamu suka pria dewasa?”
Safa mendengus, “Iyalah. Masa bayi,” jawabnya ketus.
Miranti mendelik, “Tante nanya beneran, lho.”
“Ya Safa juga jawab beneran.”
“Orangnya seperti apa?”
“Ganteng.”
“Tinggi?”
“Hu’um.”
“Berotot?”
“Oh, jelas ...”
“Umur?”
Safa mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, matanya memutar ke atas.
“Kayaknya 30-an deh. Atau lebih. Entahlah.”
“Apa Tante kenal orangnya?”
Safa mengangguk. Miranti semakin penasaran, padahal dia hanya menduga-duga.
“Siapa?”
Dengan ragu Safa menoleh menatap tantenya. Ekspresinya terlihat serius membuat Miranti kepo tingkat dewa.
“Park Hyung Sik.”
Krik ...
Krik ...
“Hah?”
“Namanya Park Hyung Sik. Dia main sama Han Hyo Joo kemarin di Happiness. Seru ... banget. Safa belum bisa move on dari drama itu.”
__ADS_1
Sekonyong-konyong wajah Miranti berubah datar.
Safa senyum-senyum sendiri kala mengingat aktor dan aktris favoritnya di drama Korea yang baru ditontonnya beberapa hari lalu. Meskipun adegan kissing nya hanya di episode terakhir, tapi hubungan mereka yang menurut Safa lucu itu cukup membuat baper.
Sae Bom yang cuek dan Yi Hyun yang lembut. Sungguh perpaduan yang sempurna.
“Safa ...?”
Safa menoleh dengan raut yang terlihat polos di mata Miranti. “Hum?”
Percayalah, di dunia nyata, tipe-tipe seperti ini tidak ada imut-imutnya, yang ada mereka menyebalkan. Safa contohnya.
“Malam ini kamu tidur sendiri,” ujar Miranti cepat sambil bergegas meninggalkan Safa.
Safa yang ditinggal sendiri kalang kabut. Cepat-cepat dia menyusul tantenya yang hendak keluar kamar.
“Yahh ... Tante kok gitu sih? Katanya mau nemenin bobo? Safa gak mau sendirian ... takut ...”
“Tante mau telponan sama Tirta.”
“Ya-“
“Kasian, kamu jomblo, nanti baper.”
“Tante, ih, gitu aja ngamuk. Jangan tinggalin Safa sendirian ...”
Safa mengejar Miranti sampai ke kamar wanita itu, namun dia tak bisa masuk saat pintu itu ditutup oleh tantenya.
“Tante ...!”
“Hwa ... Tante buka pintunya ...!”
“Tante, Safa takut ...”
“Tante ...!”
“Oma ...!”
Hiks.
Dan malam itu, Safa benar-benar menangis. Cairan bening yang sejak siang ia tahan-tahan akhirnya keluar. Entah karena emosi terpendam atau kekesalannya pada Miranti, malam itu suasana hatinya benar-benar melow.
***
"Den Edzar?"
"Den Edzar!"
Lelaki itu tersentak. Ia menoleh dan mendapati Bik Yah— asisten rumahnya tengah berdiri menatapnya heran.
"Kenapa, Bik?"
__ADS_1
"Harusnya Bibi yang tanya begitu. Den Edzar ngapain malem-malem bengong di sini?"
Edzar berkedip, lalu menatap halaman belakang rumahnya yang dipenuhi cahaya temaram. Ia menatap jam di ponsel menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Itu berarti sudah satu setengah jam sejak ia duduk di sini.
"Saya lagi cari angin saja, Bik. Di dalam panas soalnya."
Kening Bik Yah berkerut. "Masa, sih? Kan ada AC?" tanyanya heran.
"Saya ingin cari udara yang alami, Bik," tukas Edzar memberi alasan.
"Oohh ... gitu, toh? Ya sudah, Bibi masuk duluan, ya? Atau Den Edzar mau Bibi temenin?"
Edzar menggeleng. "Gak usah, Bik. Bibi masuk saja. Sudah malam, waktunya istirahat, Bibi pasti capek."
"Ya sudah, nanti jangan lupa kunci pintunya ya, Den. Bibi mau tidur soalnya."
"Hm," angguk Edzar seraya tersenyum tipis.
Ia kembali termenung menatap ke depan. Banyak sekali yang ia pikirkan. Dan sebagian besar adalah masalah pekerjaan.
Matanya melirik asbak yang tergeletak di meja kopi di sampingnya. Ada dua puntung rokok yang sudah tandas dihisapnya.
Edzar menghela nafas. Lehernya menggeliat meregangkan otot-otot yang terasa pegal. Sesaat kemudian, pandangannya mengarah ke atas. Sesuatu mengerlip di sana. Bukan bintang, melainkan pesawat yang kebetulan lewat.
Ponselnya berdenting. Ia pun merogoh benda pipih itu dari saku celananya. Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau. Edzar menggeser layar kunci hanya untuk membaca pesan itu dari pop up notifikasi. Ia enggan membuka langsung yang akan membuat si pengirim tahu pesannya telah dibaca.
"Edzar, tadi Ibu bertemu teman lama di pasar. Kapan-kapan antar Ibu main ke rumahnya, ya? Dengar-dengar anaknya cantik."
Kembali ia menghela nafas. Lagi-lagi ibunya mengenalkan ia pada wanita. Mungkin sudah puluhan kali Edzar mengikuti kencan buta. Semua itu atas arahan sang ibu. Dan dari sekian banyak yang ia temui, tak ada satu pun dari mereka yang bisa menggerakkan hatinya.
Menurutnya itu hanya buang-buang waktu. Edzar memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Membereskan meja, mengambil cangkir bekas kopi, lalu kotak rokok beserta pematiknya.
Ia melenggang masuk ke dapur. Mencuci bersih cangkir, mengelapnya hingga kering, lalu menyimpannya di tempat semula ia mengambil.
Edzar berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Lantas mematikan lampu sebelum kembali ke kamar. Kini rumah Edzar sudah sepenuhnya gelap gulita. Hanya ada sedikit penerangan ketika ia menyalakan ponsel.
Pun sama dengan rumah sebelahnya. Edzar menatap sebentar rumah itu sebelum menutup gorden kamarnya. Entah apa yang ia pikirkan. Yang pasti otaknya tak bisa mencegah bayangan senyum dari seseorang yang akhir-akhir ini kerap ia lihat setiap harinya.
Namun tak seperti biasa, sore ini senyum itu tak nampak oleh pandangan.
\=\=\=
“Ingat, jangan minggat-minggat lagi. Meskipun kamu minggatnya ke rumah Oma, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di jalan. Apalagi kemarin kamu naik ojol, Tante khawatir karena akhir-akhir ini sering mendengar berita tak mengenakan. Terlebih kamu itu cewek.”
'Siapa yang bilang Safa cowok?' batin Safa.
“Lebih baik kamu minta antar Dava atau Pak Iwan kalau mau ke mana-mana.”
Safa merengut, Tante Miranti tak tahu saja Dava itu nyebelin, susah dimintai tolong. Lagipula abangnya ‘kan sibuk di kantor, mana ada waktu nganterin jalan-jalan. Pak Iwan juga gak selamanya punya waktu luang, terkadang pria itu mengantar bundanya saat ada urusan.
Safa tak ada pilihan lain selain naik taksi, kemarin dia naik ojol karena sedang kesal. Entah apa yang dia pikirkan saat itu. Yang Safa tahu dia tak mau melihat Edzar. Walau ujung-ujungnya juga tetap rindu, dasar.
__ADS_1