
Safa berjalan dengan langkah santai di sepanjang lorong menuju lobi. Pikirannya berkecamuk memikirkan perkataan Dava. Dari yang Safa lihat abangnya itu meragukan kesimpulannya mengenai Bima.
Kenapa? Jelas karena mereka berkawan baik. Huh, Dava itu polos atau bagaimana? Teman saja bisa menusuk kita dari belakang.
Terlalu larut dengan pikirannya, Safa tidak sadar di hadapannya sudah berdiri seseorang. Alhasil tubuhnya bertabrakan tanpa bisa dicegah.
Safa meringis mengusap keningnya yang terasa nyeri. Dia sempat berpikir yang membenturnya ini bukan tubuh manusia, melainkan dinding.
"Aduh...."
Sejurus kemudian sebuah tangan singgah di keningnya. Usapan lembutnya membuat Safa terpaku. Safa mengenali sentuhan ini. Dan benar saja, saat ia mendongak wajah Edzar memenuhi atensinya. Lengkung samar terlihat ketika mata mereka beradu.
"Maaf, kening kamu jadi merah," ucap Edzar dengan nada halus.
Safa menyipit menepis tangan Edzar. Kenapa pria itu bisa ada di sini?
"Kamu habis menemui abangmu?"
"Bukan urusan Om."
Edzar tetap mengulas senyum meski Safa terang-terangan bersikap ketus. Hal itu justru membuat Safa berkerut heran. Mulai lagi, deh, anehnya.
"Mau pulang? Kebetulan saya juga."
"Gak nanya," ujar Safa melengos melewati Edzar.
Edzar tak menyerah. Pria itu mengekori Safa dengan kaki panjangnya, jelas tidak ada gunanya jika Safa ingin lari. Ujung-ujungnya juga kesusul.
"Om ngapain, sih, ngikutin aku? Jauhan sana!" Safa mendorong Edzar yang menurutnya berjalan terlalu dekat. Namun emang dasar tubuh Edzar itu patung, dorongan Safa tak mempan sama sekali.
Bahu pria itu bergetar menertawakan Safa. Tanpa sadar Safa merengut dan menghentakkan kakinya kesal. Rusak sudah rencananya untuk bersikap dingin.
"Kamu imut banget, sih," ucap Edzar mengusap rambutnya pelan.
Lagi-lagi Safa menepisnya, jantungnya bergemuruh menerima perlakuan Edzar. Akhir-akhir ini sikap pria itu berubah manis. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Safa tidak mau berharap lebih.
Safa melanjutkan lagi langkahnya, tentu Edzar mengikutinya di belakang. Raut Safa sudah masam karena kedatangan pria itu. Apa ini kebetulan? Ada urusan apa Edzar kemari? Menemui Liandra? Wanita itu kan juga ditahan di sini.
Sudah lah, itu bukan urusannya. Untuk apa Safa pikirkan.
"Kita pulang bersama?"
Safa tak menjawab.
"Kamu gak bawa mobil, kan? Pulang sama saya, ya?"
__ADS_1
"Ada sopir kantor," ketus Safa.
"Maksud kamu Pak Dadang?" tanya Edzar sembari melihat punggung mungil Safa. Gadis itu terus berjalan tanpa menghiraukannya. Lalu dengan santai Edzar berkata, "Orang itu sudah pulang."
Seketika Safa berhenti, Edzar bersorak dalam hati karena berhasil membuat gadis itu menoleh.
"Apa? Om tau dari mana?"
"Saya yang menyuruhnya." Wajah Edzar seakan tanpa dosa saat mengatakan itu. Sejak kapan Edzar berubah menyebalkan seperti ini?
"Om menyuruhnya pulang?"
Edzar mengangguk.
"Atas dasar apa Om melakukan itu?"
Edzar terdiam sebentar, pria itu nampak berpikir. "Tadi dia bilang sakit perut, jadi saya suruh pulang saja," ujarnya beralibi. "Apa kamu tega membiarkan Pak Dadang pingsan di sini? Dibanding itu perjalanan kalian jadi tidak aman."
"Jadi lebih baik kamu pulang sama saya."
Alasan Edzar tak masuk akal. Lalu, dari mana pria itu tahu Pak Dadang sopir yang mengantar Safa? Apa Edzar mengikutinya?
"Om ngikutin aku?"
Edzar menggelang, "Saya gak ngikutin kamu. Saya juga menemui seseorang di sini."
"Siapa? Liandra?"
Pertanyaan tak terduga. Edzar menatap Safa dengan pandangan rumit. Diamnya Edzar malah membuat Safa berpikir bahwa semua itu benar. Gadis itu mendengus sinis dan berbalik, melanjutkan langkah yang tertunda.
"Jadi selera Om yang begitu, ya? Penipu, kriminal, apalagi?"
"Ohh... Iya. Wanita simpanan." Safa menekan dua kata terakhirnya penuh ejekan.
"Ternyata level kita memang berbeda," lanjutnya dengan dagu terangkat sombong. Safa berjalan angkuh meninggalkan Edzar yang setia terdiam.
Entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Sebenarnya Safa sedikit tersentil memikirkan Edzar benar-benar menemui Liandra.
Saat dia tengah larut dan berpikir Edzar tak lagi mengikutinya, tiba-tiba sebuah serangan datang dari arah belakang. Safa tersentak saat tubuhnya membentur dinding lorong. Meski tidak keras, jelas hal ini membuatnya terkejut.
Edzar mengurung Safa dengan tubuh besarnya. Mata tajamnya menghunus Safa dengan hangat. Safa meneguk ludah kasar, melihat Edzar sedekat ini membuatnya ketakutan. Dia takut goyah dan kembali jatuh pada pesona luar biasa yang dimiliki pria itu.
Mata mereka beradu. Meski Safa sudah berusaha menahan diri, netra sekelam malam itu selalu berhasil menariknya tanpa batas. Keduanya larut dalam pesona masing-masing. Edzar yang juga tenggelam oleh keindahan di depannya tak mampu berkutik saat wangi seharum mawar membelai hidungnya.
Safa benar-benar seperti Dewi yang turun dari langit. Kenapa Edzar baru menyadarinya sekarang.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" bisik Edzar memecah keheningan.
Hal itu membuat Safa tersadar dan berkedip rusuh. Kedua tangannya berusaha mendorong Edzar. "Awas!"
Tubuh Edzar tak bergerak seinci pun. Harusnya Safa tahu usahanya sia-sia. Pria itu sekuat baja dan sekeras beton. Safa hanya butiran kapas baginya.
"Katakan bahwa kamu memang cemburu."
"Apaan, sih! Kenapa juga aku harus cemburu!"
"Karena kamu menyukai saya."
"Apa? Kesimpulan bodoh macam apa itu?"
Meski tahu hanya membuang tenaga, Safa tetap berusaha menyingkirkan Hulk itu dari hadapannya. "Om awas, ih! Nanti ada yang liat!"
"E-eh!" Tanpa peringatan tiba-tiba Edzar menyeretnya ke sebuah ruangan. Terlihat seperti ruang kerja seseorang. Lancang sekali Edzar membawanya ke sini. Sudah gitu masuk ruangan orang tanpa izin.
Edzar kembali menahan tubuh Safa di balik pintu. Menatap gadisnya yang sibuk mengalihkan pandangan ke sana kemari. "Sekarang kita aman," bisiknya.
"Om apa-apaan! Lepas gak! Bukan ini maksud aku...." rengek Safa. Dia ingin Edzar melepaskannya, bukan malah mengungkungnya lagi seperti ini.
"Syut." Edzar meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Safa. Sontak Safa mematung dengan raut tak percaya. Akhir-akhir ini Edzar bersikap agresif dan pemaksa. Apa mungkin memang ini sifat aslinya?
"Jangan mendebat lagi. Sekarang jawab pertanyaan saya. Kamu cemburu, kan?"
"Meski aku jawab enggak, Om tetep maksa aku untuk jawab iya!"
Seketika Edzar tersenyum, "Memang. Karena kenyataannya pun begitu."
"Dasar narsis! Lepasin!" Safa mencengkram kedua tangan Edzar bermaksud menyingkirkannya agar dia bisa kabur.
"Bisakah kamu tenang? Sikapmu yang seperti ini malah membuatku ingin menciummu."
Mulut Safa ternganga, "Om gila, ya?"
Edzar memaku Safa dengan tatapannya, "Kamu bisa menyebutnya seperti itu."
"Wah, beneran gila ternyata."
"Dan sialnya aku dalam cengkraman orang gila ini," lanjutnya bergumam tanpa sadar.
Edzar tersenyum mendengar itu. Meski tak terdengar jelas, Edzar bisa membaca gerak bibir Safa.
"Jadi, maukah kamu menerima kegilaan saya?"
__ADS_1