SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 197


__ADS_3

"Gimana ceritanya kamu bisa kepeleset, sih? Berapa kali Uda bilang, jangan naik turun tangga saat Uda gak ada! Bibik juga. Kenapa gak diawasin?"


Safa meringis, mengusap perutnya yang ikutan tegang melihat Edzar marah-marah.


"A Uda. Jangan marahin Bibi. Bik Yah gak salah. Safa yang salah, gak nurut sama A Uda. Lagian gak kenapa-napa. Udah, deh. Gak usah berlebihan. Tadi Safa pegangan sama teralis tangga. Gak sampe jatuh, kok."


"Berlebihan kamu bilang? Uda seperti ini karena khawatir sama kamu!"


"Ya udah gak usah marah-marah, biasa aja! Awh ... Tuh, kan. Jadi keram. Nyeremin banget sih jadi orang ... hiks." Safa menangis. Tidak tahukah Edzar perasaan ibu hamil itu sangat sensitif?


Edzar menghela nafas. Mengusap wajahnya kasar. Dia sampai meninggalkan persidangan yang sebentar lagi akan dimulai karena tiba-tiba Bik Yah mengirim pesan bahwa Safa hampir jatuh dari tangga.


Jelas Edzar panik bukan main. Tanpa pikir panjang dia langsung bergegas pulang untuk mengecek keadaan istrinya. Kendati Safa baik-baik saja, dalam artian tidak ada pendarahan yang terlihat, Edzar tetap tak bisa tenang.


"Kita periksa ke dokter," putusnya.


Safa mendongak cepat. Menatap Edzar yang berdiri menjulang di atasnya. "Apa? Ke dokter? A Uda, Safa gak apa-apa. Kenapa harus ke dokter segala?"


Edzar tak menjawab. Dia gegas mengangkat tubuh bengkak Safa dari sofa dan membawanya keluar. Bersamaan dengan itu, Nyonya Halim memasuki gerbang rumah Edzar. Dan langsung dibuat terheran dengan pasangan suami istri baru itu. Kontan ia mempercepat langkahnya menghampiri mereka.


"Ini? Ini ada apa? Apa Safa mau melahirkan?" tanyanya heboh. Pasalnya, kehamilan putrinya baru menginjak 8 bulan. Masa iya mau lahiran.


Safa yang mendengar suara bundanya spontan menoleh. Menatap wanita itu penuh permohonan. "Bundaaa ..."


"Kami mau ke rumah sakit, Bun. Tadi Safa hampir jatuh. Edzar belum yakin kalau belum diperiksa langsung."


Setelah mengatakan itu Edzar langsung memasukkan Safa ke mobil. Mereka gegas berangkat, meninggalkan Nyonya Halim yang terbengong di tempat.


..............


"Gimana, Dok? Istri dan anak saya baik-baik saja, kan?" Edzar bertanya dengan harap-harap cemas. Dengan hati-hati ia membantu Safa turun dari ranjang pemeriksaan.


Dokter berhijab itu tersenyum melihat kepanikan Edzar. Wajah paruh bayanya berpendar teduh. Ia mempersilakan suami istri itu untuk duduk di hadapannya.


"Tanang, Pak. Kandungan istri anda baik-baik saja. Sangat sehat dan kuat. Kondisi ibu serta anaknya juga baik. Tapi, saya sarankan untuk Ibu lebih menjaga pola makan, ya? Bobot janinnya masih terbilang besar, Bu. Kalau hal ini dibiarkan, mungkin ibu akan sulit untuk melahirkan secara normal."


Seketika Edzar termenung. Wajahnya sedikit menegang mendengar penjelasan dokter. Ia menoleh pada Safa yang terlihat biasa saja. Berbincang dan merespon setiap perkataan dokter itu dengan santai.


Apa aku saja yang terlalu khawatir dan berlebihan? Seperti yang Safa bilang. Tapi, dari bulan-bulan kemarin perasaanku memang tidak tenang.


"A Uda?"


Edzar tersentak saat sentuhan halus mampir di tangannya. Ia menoleh, mendapati Safa tengah menatapnya heran. Edzar kembali memfokuskan pandangan pada lalu lintas di depan. Mulutnya masih bungkam, tak merespon panggilan Safa.


Tentu saja Safa semakin dibuat bingung. "A Uda kenapa, sih? Kok, diam aja? Masih marah, ya? Safa minta maaf. Tadi Safa mau ambil seragam A Uda di atas," jelasnya memilin ujung dress yang dikenakan.


Safa baru sadar ia tak sempat mengganti pakaian sebelum ke rumah sakit. Sandal bulu rumahannya bahkan masih melekat di kakinya.


Kening Edzar berkerut. "Seragam Uda? Buat apa?"

__ADS_1


Safa meringis, menggaruk tengkuknya malu. "Safa kangen A Uda. Eh, bukan. Si Utun kangen Papinya," ralatnya segera.


"Kamu 'kan bisa telpon?"


"A Uda pasti sibuk. Bukannya pagi tadi bilang ada sidang? Lagian, Si Utun maunya cium langsung aroma A Uda. Jadi ... Safa ambil saja seragam bekas A Uda pakai kemarin yang masih di keranjang cucian."


Edzar menoleh. Kali ini lebih lama karena lampu lantas sedang merah. "Utun atau kamu yang kangen?" Ia bertanya masih dengan rautnya yang datar.


Bibir Safa mengerucut. Baiklah. Ia tak bisa mengelak bahwa ia sendiri pun merindukan suaminya. Padahal baru beberapa jam gak ketemu.


Safa merengek saat bibirnya yang tengah monyong dicubit Edzar. "Sakit!" sentaknya menepis tangan jail itu.


Edzar sedikit tertawa. Melajukan kembali mobilnya membelah hiruk pikuk kendaraan.


"Mau makan sesuatu? Atau kamu mau beli sesuatu?" tanya Edzar.


"Emang A Uda gak ke kantor lagi? Sidangnya gimana, dong?"


"Ada jaksa pengganti. Kamu mau apa?"


"Apa, ya? Safa gak pengen apa-apa, sih. Kan yang suka ngidam memang A Uda."


Sontak Edzar mendenguskan tawa. Baru sadar ternyata dialah yang lebih sering mengidam.


"Tapi, kalau gak keberatan, kita mampir butik dulu, ya?"


"Kamu mau beli baju?"


Kontan Edzar menoleh. Hanya sebentar karena ia harus fokus pada kemudi. "Serius kamu?"


"He'em."


"Kenapa? A Uda gak senang?"


Edzar terdiam sebentar. "Senang. Uda sangat senang bila kamu memang mau berhijrah," ucapnya mengulas senyum.


Tangannya mengusap kepala Safa dengan pelan. Yang lantas Safa ambil tangan itu untuk digenggam dan membawanya ke atas perut. Refleks Edzar langsung mengelus permukaan yang membuncit itu. Membelainya halus penuh kasih sayang.


"A Uda sudah punya nama untuk anak kita?"


"Hmm. Ada. Kamu?"


"Safa serahkan semuanya sama A Uda. Safa gak pintar cari nama soalnya."


Edzar menatap Safa teduh. "Ibrahim. Itu nama depannya."


"Ibrahim?"


"Hmm. Kamu gak suka?"

__ADS_1


"Suka. Nama panjangnya?"


"Masih Uda pikirkan. Kalau kamu ada usulan, bilang saja."


Safa tersenyum. Mencium tangan Edzar dan mengusap-usapnya pelan.


"A Uda. Makasih, ya. Sudah mau jadi suami Safa. Safa sayang ... banget sama A Uda."


Edzar menoleh sejenak. "Tumben kamu romantis?"


Pluk.


Safa menepuk punggung tangan Edzar yang ada di genggamannya. "Emangnya A Uda aja yang bisa gombal? Safa juga pengen."


"A Uda," panggil Safa lagi.


"Hmm."


"Kucing yang A Uda ambil di halte itu masih ada?"


"Enggak. Sudah mati."


"Matinya kenapa?"


"Keracunan. Dia gak sengaja makan umpan tikus milik tetangga yang sudah diracuni."


"Ya ampun, kasihan banget si Meong. Padahal Safa belum sempat melihatnya."


"A Uda kasih nama apa waktu itu?"


"Kamu."


"Hem?" Safa mengangkat alis.


"Nama kamu," jelas Edzar.


"Safa?"


"Safana. Sesuai yang tertulis di kalung."


"Oohh ...."


"Kalung itu ... Kalung yang sama seperti yang Mas Heru bilang?"


Edzar mengernyit. "Maksud kamu?"


"Waktu di kafe. Saat itu Safa pernah dengar pembicaraan A Uda sama Mas Heru tentang sebuah kalung."


"Karena itu juga Safa mantap pergi ke Bandung, sesuai permintaan Ayah yang minta Safa untuk terapi. Sebenarnya Safa sekalian melarikan diri. Safa terlalu takut, karena saat itu Mas Heru bilang A Uda belum bisa lupain masa lalu."

__ADS_1


Edzar mengeratkan genggaman mereka. "Sekarang kamu sudah tahu 'kan? Masa lalu itu adalah kamu."


__ADS_2