SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 95


__ADS_3

"Jangan sombong dulu, Pak Edzar. Saya ditahan bukan berarti saya bersalah. Pengadilan belum menentukan. Kamu tahu itu."


Edzar mendengus mengangkat sudut bibirnya sinis. Pria itu tak mengatakan apapun. Hanya menatap Santoso Ilyas dengan pandangannya yang datar. Saat ini dia tengah berkunjung ke rutan KPK, tempat Santoso Ilyas ditahan.


"Kamu tidak memiliki wewenang apapun menangani ini. Jadi berhentilah ikut campur. Kamu sudah lihat akibatnya. Keluarga orang yang kamu sayangi kini di ambang kejatuhan. Hahaha...."


"Kamu pikir aku orang bodoh mampu kamu kelabui? Ck ck ck, kamu yang bodoh bertindak terlalu gegabah. Kamu mungkin mengira aku lepas pengawasan pada gadis itu. Nyatanya seorang Edzar Adyaksa tak lebih dari pria yang tengah dimabuk cinta. Menggelikan."


"Satu lagi, saksi yang kalian hadirkan saja tidak cukup. Bermimpilah jika ingin menahanku. Aku hanya perlu waktu dua puluh hari berdiam diri di sini. Seperti dulu, pada akhirnya aku akan bebas."


Santoso Ilyas terus saja mengoceh dengan kekehan pelan. Berbanding terbalik dengan Edzar yang tetap tenang. Pria itu tak beriak menanggapi kicauan seorang Menteri di hadapannya. Ralat, sebentar lagi akan menjadi mantan Menteri.


"Siapa bilang tidak cukup? Tujuanku kemari justru ingin menunjukkan satu saksi yang sangat penting bagi perjalanan sidang nanti."


Kekehan itu berhenti, Santoso Ilyas mendongak mengangkat kedua alisnya menatap Edzar. Lagaknya masih terlihat percaya diri. Dan Edzar yakin ekspresi itu akan segera berubah setelah melihat seseorang yang Edzar bawa.


"Masuklah!" seru Edzar.


Tepat setelah itu sebuah kaki jenjang yang terbalut sepatu hak tinggi memasuki ruang besuk. Wanita cantik dengan setelan formal berdiri sedikit gugup di belakang Edzar. Sesuai dugaan, raut Santoso Ilyas langsung berubah setelah melihat wanita itu.


"Liandra?" ucapnya tanpa sadar.


Ya, wanita itu adalah Liandra. Dia menatap Santoso sekilas-sekilas dengan tangan bertautan saling meremas.


"Bagaimana? Apa sekarang sudah cukup?" tanya Edzar pongah. Sudut bibirnya terangkat melihat pria di hadapannya tak berkutik.


"Salah satu orang yang menerima aliran dana hasil korupsi. Atau boleh saya sebut sebagai wanita simpanan?"


"Tadi anda bilang saya bodoh?" Edzar mendengus. "Anda yang bodoh membiarkan orang lain mengetahui semua aksi yang anda lakukan."


Edzar mencondongkan sedikit punggungnya. "Bukan saya yang gegabah, tapi anda sendiri yang ceroboh."


Menggertakkan gigi, Santoso Ilyas menatap Liandra dengan tajam, membuat wanita itu menunduk tak berani mendongak. "Apa yang kamu pikir kamu lakukan di sini, Liandra?"


"Sa-saya...."


"Kamu menghianatiku?"


Liandra menggeleng kalang kabut. Sikapnya terlihat gugup sekaligus takut. Dia bingung harus bicara apa. Sebenarnya ini juga bukan keinginannya. Tapi mau lari pun percuma, semuanya sudah ketahuan. Dan mungkin hidupnya tak akan sama lagi setelah ini.

__ADS_1


"Kamu lupa? Aku yang membiayai kuliahmu. Aku juga yang membayar semua pengobatan ibumu. Dan ini balasanmu padaku?"


"Ma-maaf," ucap Liandra gagap.


"WANITA JAL*NG!"


"Kamu pikir aku tidak tahu kamu tergoda olehnya?! Akhir-akhir ini kamu dekat dengannya, bukan?" tunjuknya pada Edzar.


Wajah Santoso Ilyas tampak memerah. Jelas emosi mengendap dalam ekspresinya.


"Aku memintamu memata-matainya. Bukan malah hanyut dalam perasaan!"


Liandra terisak di tempatnya. Sedikit rasa bersalah muncul di hatinya. Ia merasa segan pada Santoso Ilyas karena pria itu sangat berjasa dalam hidupnya. Tapi ia juga resah karena harus menipu Edzar. Edzar orang baik, Liandra sungkan mempermainkannya. Meski dia tahu Edzar pun melakukan hal yang sama padanya.


"Ini bukan sepenuhnya salah Liandra."


Seseorang lain tiba-tiba muncul dari pintu. Pria tinggi dengan ketenangan serupa Edzar itu masuk dengan balutan jas elegan. Lalu berhenti di depan meja, berdiri di antara Edzar dan Pak Menteri.


Lagi-lagi wajah Santoso terperangah. Rupanya Edzar tak main-main.


"Galuh, kamu?"


"Papa."


Galuh Ganindra menatap Santoso yang tak lain merupakan papanya. Matanya menghunus tanpa ekspresi, namun ada secuil kekecewaan yang tak orang lain ketahui.


"Apa-apaan ini?" bisik Santoso sembari merekatkan gigi.


"Kamu juga berniat menghianatiku, Galuh?"


Galuh terdiam, namun matanya tak lepas menatap Santoso yang kini menunduk mengusap wajahnya kasar.


"Bukan aku yang menghianati Papa. Papa lah yang menghianatiku," ucap Galuh datar.


"Papa menghianati Mama, Papa juga menghianati Ineu. Papa menghianati kami semua."


"Papa pikir selama ini aku tidak tahu hubungan Papa dengan sekretarisku? Aku sudah mencurigainya sejak di mana Papa bawa Liandra untuk bekerja di perusahaan."


"Aku diam karena tidak mau Mama sakit hati. "

__ADS_1


"Tapi ternyata aku salah. Sikapku yang menyembunyikan perselingkuhan Papa berkali lipat membuat Mama kecewa. Terlebih sekarang Papa terjerat kasus, jangan salahkan Mama kalau Mama tak ingin menemui Papa sekarang."


"Galuh..." geram Santoso Ilyas lengkap dengan tatapan tajamnya.


"Papa tidak berhak marah. Lebih-lebih seharusnya Papa merenungi perbuatan Papa sendiri."


Tatapan Galuh beralih pada Liandra yang setia menunduk. Sesekali isakan terdengar dari mulutnya.


"Dan kamu, jika kamu perempuan baik, kamu akan mengerti perasaan perempuan lainnya," ucap Galuh terakhir kali sebelum ia berlalu keluar.


Tak lama kemudian, petugas menginterupsi bahwa jam besuk telah berakhir. Edzar dan Liandra keluar meninggalkan Santoso Ilyas yang kini tengah merunduk meremas rambut dan membenturkan kepalanya sendiri ke atas meja.


"Aargh...!"


Teriakan terdengar tepat saat petugas menutup pintu. Beberapa penyidik yang menunggu di luar segera mendekat . Mereka akan melakukan pemeriksaan terhadap Liandra dan pastinya menahan wanita itu. Saat ini Liandra merupakan tersangka karena ikut menikmati uang hasil korupsi, juga beberapa kali melakukan aksi kriminal atas perintah Santoso Ilyas.


Sebelum pergi Liandra menoleh pada Edzar, pandangannya meredup ketika melihat lelaki itu. "Sekarang aku mengerti. Mas Edzar mendekati aku karena ini." Bibirnya melengkung miris.


"Tapi aku sadar, aku juga salah telah membohongi Mas Edzar. Aku minta maaf."


Liandra menunduk sebentar kemudian mendongak lagi. "Satu hal yang harus Mas tau, aku tulus menyukai Mas Edzar. Meski aku tahu hati Mas sudah terisi oleh seseorang."


"Perempuan itu.... Bukan keponakan Mas, kan?"


"Aku bisa tahu hanya dari tatapan Mas yang seringkali meliriknya dari spion waktu itu."


Liandra tersenyum tulus, "Aku juga minta maaf karena telah lancang mencium Mas tanpa izin. Sekali lagi maafin aku, ya, Mas."


"Karena Mas aku sadar, materi tiada arti jika aku menyakiti orang lain. Selama ini aku dibutakan oleh uang. Aku sempat hampir kehilangan Ibu karena tidak ada uang. Dan saat itulah Pak Santoso mengulurkan tangannya membantuku."


"Aku juga sempat berharap berhubungan dengan Mas Edzar bisa menjadi penyelamat yang akan membawaku keluar dari lingkaran hitam ini."


"Mas memang berhasil membuatku terlepas, meski bukan dengan cara yang sempat aku perkirakan."


Liandra mengibaskan tangannya sambil terkekeh, "Maaf jadi curhat, hehe," ucapnya mengusap sudut mata yang berair.


Edzar mengangguk pelan sebagai tanggapan, "Tak apa," ucapnya singkat.


"Jadi, siapa namanya waktu itu? Safa, ya? Dia bukan keponakan Mas, kan?" Raut Liandra berubah jenaka, lebih tepatnya berusaha dibuat jenaka untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.

__ADS_1


Edzar terdiam sebentar sebelum kemudian menjawab dengan yakin. "Bukan. Dia seseorang yang akan saya perjuangkan."


__ADS_2