
Safa berjalan cepat setelah keluar dari area tahanan. Saat ini ia berada di lobi dan hendak pulang. Pikirannya bercabang ke beberapa saat lalu. Fakta baru yang cukup mengejutkan dan membuat Safa penasaran. Ia yakin tidak salah lihat bahwa itu memang Liandra. Wanita itu memakai baju tahanan. Sudah jelas dia bukan tamu yang berkunjung, melainkan orang yang dikunjungi.
Kenapa Liandra dipenjara? Apa dia ada hubungannya dengan kasus yang menimpa Dava? Mendadak Safa menghentikan langkah dan mematung. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya, terutama mengenai pria yang ia lihat tadi. Ada hubungan apa dia dengan Liandra? Tidak mungkin mereka hanya orang asing yang baru pertama kali bertemu. Kenapa semuanya menjadi rumit? Safa merasa ia tidak bisa mempercayai orang-orang di sekitarnya. Akhir-akhir ini mereka bersikap tak terduga.
Dari mulai Dava yang diam-diam melakukan kecurangan, Edzar yang ternyata ikut andil dalam kasusnya. Hingga orang rumah yang seakan bekerjasama menyembunyikan segala hal darinya. Safa ingat, saat penyergapan itu terjadi tak ada satu orang pun yang menghubungi. Padahal apa salahnya mereka memberitahu lewat telpon meski ia tangah bersama Tante Miranti waktu itu?
Nyatanya, Safa selalu tahu belakangan. Safa selalu menjadi orang terakhir yang tahu bahwa keluarganya ada masalah.
"Non, mobilnya sudah siap."
Suara Pak Iwan berhasil menarik Safa dari lamunan. Ia melangkah mengekor pria paruh baya itu menuju parkiran. Namun saat baru keluar dari lobi, beberapa orang menghadang langkah mereka.
"Mbak Safana Halim?"
"Iya, saya sendiri," jawab Safa ragu.
"Maaf sebelumnya, boleh kami minta waktunya sebentar? Kami dari portal berita online ingin melakukan wawancara mengenai kasus yang menjerat kakak anda."
Seketika Safa terdiam. Apa lagi ini?
Pak Iwan yang mengerti kekhawatirannya lekas menghadang, "Mohon maaf, Mas, Mbak, tapi sepertinya beliau tidak bisa. Kami harus segera pergi sekarang."
"Sebentar saja, Mbak. Gak akan lama, kok."
"Iya, Mbak, cuman sebentar."
"Sebentar aja, Mbak."
Suasana menjadi sedikit riuh saat mereka mulai memaksa. Safa tidak tahu cara menghadapi pers, dia memang selebgram, tapi hanya sebatas bergaya di depan kamera, bukan wawancara.
"Maaf, tapi saya tidak tahu apapun mengenai masalah itu. Saya kemari hanya untuk menjenguk. Permisi," pungkas Safa sambil kembali berjalan menuju parkiran. Pak Iwan berusaha melindunginya dari belakang.
Tanpa diduga orang-orang yang mengaku wartawan itu nekat menjegal langkahnya. "Mbak, tunggu, Mbak. Gimana keadaan Kakak anda setelah empat hari ditahan?"
"Apa tanggapan Mbak mengenai masalah ini?"
Safa menghela nafas berusaha sabar. Ia mulai jengah dan tak nyaman. Tidak tahukah mereka dirinya juga banyak pikiran?
"Kakak saya baik-baik saja. Keadaannya juga sehat. Dan sejauh ini pemeriksaan berjalan lancar. Terima kasih."
Susah payah Safa menerobos orang-orang itu untuk mencapai mobil. Sesekali menjawab yang sekiranya bisa dijawab. Seperti bagaimana pertemuannya dengan Sang Kakak hari ini, tunangan Dava yang belum juga muncul sampai sekarang, dan masih banyak lagi.
Ngomong-ngomong tunangan, seharusnya sore ini Mbak Lisa sudah sampai di bandara. Wanita itu terpaksa menunda kepulangannya karena cuaca buruk akhir-akhir ini. Dia pasti cemas, siapa yang akan baik-baik saja saat mendengar kekasihnya dipenjara? Bisa kalian bayangkan rautnya yang menangis setiap hari. Menunggu kepastian kapan ia bisa bertemu sang tunangan.
"Pak, Safa pengen bakso. Kita berhenti dulu di mana gitu?" ucap Safa di tengah perjalanan pulang. Mereka sudah lepas dari para wartawan.
"Ada langganan Pak Iwan sebelah sana, Non. Mau?"
__ADS_1
"Boleh, Pak. Tapi Safa mau bungkus aja, sekalian beli buat Bunda dan Bik Inem."
"Siap, Non...."
........................
Sesuai yang Safa bilang tadi, Mbak Lisa sampai di Indonesia sore hari ini. Dan tujuan pertamanya justru rumah Safa. Ini sudah lewat dari jam tujuh malam, namun Mbak Lisa masih betah meraung di pelukan bundanya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya karena tidak bisa langsung bertemu Dava.
Tuan dan Nyonya Halim tak berhenti berusaha menenangkan. Safa sendiri hanya diam karena tak tahu harus berbuat apa. Safa mengerti perasaan Mbak Lisa, wanita itu sedang butuh pelampiasan, jadi kalimat sebanyak apapun tak akan bisa membuatnya tenang.
"Sudah, Lisa. Kamu masih bisa menengoknya besok. Sekarang kamu istirahat, ya? Kamu pasti capek. Nginap aja di sini. Kamu juga boleh tidur di kamarnya Dava."
Lisa menggeleng sambil sesenggukan, wajahnya masih setia terbenam di pangkuan Nyonya Halim yang tak berhenti mengusap rambutnya. "Enggak, Bunda. Nanti Dava marah. Dia 'kan gak suka kamarnya ditiduri orang lain...."
"Kamu itu tunangannya, bukan orang lain. Lagian Dava sendiri yang bilang kamu boleh ke kamarnya kalau rindu."
"Huhu... Bisa-bisanya dia bilang gitu disaat yang aku butuhkan ketemu dia langsung!"
"Hiks, dasar pria bodoh! Mau nikah malah bikin masalah. Dia udah janji mau lamar aku bulan depan... Hiks, huaa...."
Tak ada yang berani membuka suara di ruang tamu. Mereka semua menatap Lalisa dengan iba. Apalagi sang bunda. Safa tahu apa yang bundanya pikirkan. Pasti hatinya merasa bersalah atas Dava.
Namun yang Safa syukuri dalam hal ini adalah orang tua Mbak Lisa yang senantiasa memberi dukungan dan tak serta-merta memutus hubungan saat tahu masalah ini. Mereka justru banyak membantu dan menyokong dana di saat para investor berlomba-lomba menarik modalnya.
Cih, beruntung banget Dava punya calon mertua begini. Mungkin karena anaknya udah kadung bucin, jadi apapun akan dilakukan termasuk mengampuni menantu yang terjerat korupsi.
"Pak Rama, Bu Evi, mari makan dulu."
....................
Safa memasuki minimarket pukul sembilan malam. Orang tua Mbak Lisa sudah pulang, sedang Mbak Lisa sendiri memutuskan menginap seperti niat awal.
"Dek, kamu ada stok pembalut, gak?"
"Enggak, mens-ku masih lama, jadi belum beli lagi. Kenapa, Mbak?"
Wanita itu meringis dengan wajah terjepit di antara pintu kamar mandi. Seharusnya saat itu Safa tahu endingnya gimana. Yah, sesuai dugaan dia harus keluar malam-malam beli pembalut buat kakak ipar.
Karena Lalisa sudah baik membawakan oleh-oleh berupa paket skincare seharga dua belas juta, rasanya tidak sebanding kalau Safa menolak hanya untuk membeli pembalut yang tak sampai lima puluh ribu.
"Calon kakak ipar pake yang sayap atau tanpa sayap, ya?" gumam Safa melihat bergantian dua jenis pembalut di tangannya.
Dia merogoh ponsel di saku hoodie, melakukan panggilan pada Lalisa yang untungnya langsung diangkat di dering pertama.
"Halo, Mbak, ini Safa beli yang sayap atau tanpa sayap?"
"Terserah, yang penting ukurannya 30 cm. Eh, tolong beliin Kiranti juga, ya, Dek?"
__ADS_1
"Oke."
Sesuai permintaan Kanjeng Ndoro Puteri, Safa pilih pembalut tiga puluh senti plus Kiranti. Selesai dengan pesanannya, Safa beralih ke lemari pendingin untuk mengambil Cimory.
Namun saat ia sedang memilih-milih, sesuatu menyentuh pundaknya. Safa menoleh mendapati kepala Diko yang meneleng dengan senyuman. Safa menatap pria itu lama, entah kenapa wajah Diko tak lagi memberi kesan hangat di mata Safa.
Satu pertanyaan muncul tiba-tiba. Apa pria itu mendekatinya dengan tujuan?
"Sepertinya minimarket ini punya kesan tersendiri bagi pertemuan kita," ucap Diko dengan mata menyipit.
Senyum Diko perlahan surut melihat respon tak berarti dari Safa. "Ada apa? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Diko meraba-raba wajahnya yang mulus tanpa jenggot apalagi jerawat. Tipe-tipe cowok glowing yang cinta kebersihan.
Safa mengangkat alis balik bertanya, "Memangnya ada apa dengan wajah Kakak?"
Pria itu meringis menggaruk kepala, "Habisnya muka kamu datar gitu. Kayak gak seneng liat aku."
Safa menutup lemari pendingin dan berbalik hendak ke kasir. Diko mengekori di belakang. "Kita tetangga, intensitas pertemuan kita cukup sering, jadi apa yang perlu diistimewakan?"
"Hehe, iya, sih." Lagi-lagi Diko menggaruk kepala.
"Totalnya 49.999, Kak," ucap Mbak Kasir pada Safa.
Tiba-tiba Diko menyerobot, "Mbak, satuin sama punya saya aja," ucapnya meletakan air mineral di meja kasir.
Safa mengernyit, bukan karena Diko yang membayar belanjaannya, tapi apa yang dibeli lelaki itu. Diko kemari hanya untuk sebotol air? Kok, terdengar aneh. Apa iya ke minimarket cuman karena kehausan? Bukankah di rumah juga ada galon?
Safa langsung keluar begitu pembayaran selesai. Meski enggan, Safa tidak punya alasan untuk melarang Diko pulang bersama. Lelaki itu terus mengoceh meski Safa diam saja. Entah kenapa Safa muak. Lalisa yang datang bulan tapi dia yang sensitif. Benar-benar kakak dan adik ipar yang saling melengkapi.
Diko bercerita tentang keluhannya mengenai klien-klien yang minta dibuatkan logo. Intinya, Diko bilang mereka terlalu rewel akhir-akhir ini. Biasanya tak pernah ada masalah dengan desain yang dia buat. Garis besarnya seperti itu. Safa kurang mengerti mengenai grafis atau apapun, dia hanya bisa jadi pendengar. Di samping itu Safa juga malas berbicara.
"Kamu ada masalah?" tanya Diko tiba-tiba. Rupanya pria itu menyadari raut tak mengenakkan Safa.
Safa diam sebentar sebelum menjawab, "Sepertinya semua orang juga tahu masalahku apa," dengusnya.
Nada suara Safa yang sinis membuat Diko berkerut. Gadis itu sangat berbeda dari biasanya. Diko menyadari perubahan sikap Safa terhadapnya. Ia pikir mungkin terbawa suasana hati yang buruk akibat masalah yang menimpa keluarga Halim.
"Abang kamu pasti baik-baik saja. Semuanya akan terlihat setelah 20 hari. Percayalah."
"Ya, semoga saja." Safa menjawab singkat bahkan tanpa menoleh.
Semakin membuat Diko heran dan bertanya-tanya. Ia yakin ada sesuatu yang membuat gadis itu bertingkah aneh. Karena yang ia tahu Safa orangnya sangat ramah.
"Apa aku ada berbuat salah?" tanya Diko hati-hati. Ia tak bisa menahannya lagi. Diko rasa bukan karena suasana hati, melainkan memang ada hal yang membuat Safa seperti ini.
Safa berhenti melangkah begitupun Diko. Keduanya saling menghadap satu sama lain. Safa mendongak menatap pria itu. Lampu jalan menimpa rambutnya yang berantakan namun elok dipandang. Diko sangat tampan, ia pikir mereka adalah teman. Namun,
__ADS_1
"Bukankah tadi kita bertemu di rumah tahanan?"