
Safa menggigit otak-otak mozarela itu dengan khidmat. Sejak memasuki mall dia memang sudah berniat membelinya sebelum pulang. Terakhir kali dia makan ini saat hang out dengan Kamila. Tapi itu di Jakarta.
Selain otak-otak, ada juga cimol mozarela yang menggugah selera. Safa mencomot satu lalu mengarahkannya pada Edzar. Lelaki itu membuka mulut dan menerimanya dengan senang hati.
Cup.
Tahu-tahu Edzar mengecup sudut bibir Safa. "Ada micin," ucapnya santai sembari kembali fokus pada jalanan.
Dasar modus, batin Safa. Bisa, ya, setelah melakukan itu wajahnya datar-datar saja. Seolah yang dilakukannya hal biasa. Tidak tahukah Edzar jantung Safa seringkali hampir copot karena perlakuannya yang tiba-tiba.
"A Uda suka banget cium Safa."
"Karena kamu wangi," ucap Edzar jujur. Selain menggemaskan, harum Safa membuat Edzar ketagihan.
"Kalau Safa gak wangi, A Uda gak mau cium Safa?"
"Mau dong. Meski kamu belum mandi sekalipun Uda akan tetap cium kamu."
"Kenapa begitu?" Bukankah kalau belum mandi mulutnya akan bau karena belum gosok gigi?
"Karena ternyata kamu lebih seksi saat bangun tidur." Edzar bergumam sembari mengulum senyum, hingga suaranya tak terdengar jelas oleh Safa.
"A Uda bilang apa barusan?"
"Hm?" Edzar menoleh sebentar, alisnya terangkat, dan itu sangat keren di mata Safa. "Uda bilang, kamu tetap wangi meski belum mandi."
Mata Safa menyipit tak percaya, dia yakin yang tadi didengarnya berbeda dengan yang Edzar ucapkan barusan. Tapi Safa malas bertanya lagi, dia lebih memilih menikmati jajanannya ketimbang meladeni Edzar.
"Eh, ini mau ke mana? Gak langsung pulang?" tanya Safa ketika Edzar berbelok melintasi jalan yang bukan mengarah ke villa.
Edzar mengulas senyum tipis, "Hari ini kita full kencan, ya. Nanti malam 'kan Uda sudah harus ke Jakarta."
__ADS_1
"Oh, iya," gumam Safa. Besok hari Senin, sudah pasti Edzar harus kembali bekerja. Ada sedikit rasa tak rela mengingat dia harus berjauhan lagi dengan Edzar.
Halah, kemarin-kemarin sok-sokan menjauh, sekarang malah galau mau ditinggal pulang. Sisi lain hatinya mencibir. Safa hanya bisa mendengus menanggapinya.
Beberapa menit kemudian, sekonyong-konyong mata Safa dibuat tertarik saat mendapati suasana yang berbeda, tepatnya di sisi kiri jalan yang hendak mereka lintasi. Dari yang semula terlihat jejeran beberapa pabrik dan kantor, kini mulai muncul bangunan-bangunan bergaya khas Korea.
Safa berkedip, hatinya diliputi rasa antusias ketika Edzar melajukan mobilnya sedikit masuk ke kiri. Safa menoleh menatap pria itu, "A Uda, ini Kiara Artha Park?"
Edzar tersenyum, "Hm," angguknya singkat.
Senyum Safa mengembang lebar. Ini salah satu list tempat yang belum sempat Safa kunjungi. Kabarnya, di dalam sana ada Plataran Kampung Korea yang banyak dibicarakan orang. Safa sangat ingin pergi ke sana, tapi tidak ada teman dan beberapa hal juga turut menjadi kendala.
Syukurlah, bisa dibilang sekarang Safa perginya dengan ayang, hehe.
Edzar tersenyum melihat raut berbinar yang Safa tunjukkan. Tidak sia-sia dia bertanya pada beberapa teman yang berdomisili di Bandung hingga mendapat rekomendasi sejumlah lokasi yang patut disinggahi. Dia tahu Safa menyukai hal-hal berbau Korea. Dan dari sekian banyak pilihan Edzar memilih taman ini.
Lingkungannya bersih dan asri, cocok untuk dijadikan tempat nongkrong atau sekedar jalan-jalan sore. Banyak juga yang bersepeda di kawasan ini. Karena mereka berkunjung di hari Minggu, tempatnya pun lumayan ramai.
"Sabuk pengamannya buka dulu, Sayang."
Terlalu bersemangat membuat Safa lupa akan segalanya, termasuk membuka pintu tanpa melepas seat belt lebih dulu. Edzar yang melihat itu menggeleng geli.
"Ganti sepatunya, ya. Takutnya kaki kamu sakit karena nanti kita akan banyak berjalan," saran Edzar.
Safa pun mengangguk dan melepas heels yang dibelikan pria itu, menggantinya dengan sandal mules dengan hak tahu sekitar 3 cm yang semula ia pakai. Begini lebih nyaman.
Edzar membantunya turun dari mobil. Safa menjerit kecil ketika pria itu mengangkat pinggangnya. Untung tidak ada orang, akan sangat memalukan jika mereka menjadi tontonan.
Keluar dari area parkir, Edzar menggandeng tangannya melewati jalanan luas beraspal. Sisi kiri kanan dipenuhi rumput hijau dan pohon rindang. Sungguh pemandangan yang sejuk dan damai.
Safa tak berhenti tersenyum melihat sekeliling, banyak anak kecil yang berlarian di sepanjang trotoar, pun orang tua mereka yang kewalahan mengikuti di belakang.
__ADS_1
Tak memakan waktu lama mereka memasuki kawasan Taman Asia Afrika. Terdapat monumen tangan besar yang sedang bersalaman, juga patung-patung setengah badan lengkap dengan keterangan di bawahnya. Pun bendera beberapa negara yang tidak Safa fahami kenapa ada di sana.
Tiba-tiba saja Edzar bersuara, "Itu para penggagas KAA," ucapnya sembari menatap patung-patung setengah badan itu. Tangannya yang bebas tenggelam di saku celana.
"KAA?"
"Konferensi Asia Afrika," jelas Edzar.
"Oh...." gumam Safa mengerti.
"Sesuai dengan namanya, taman ini dibuat untuk mengenang salah satu keberhasilan Indonesia dalam kancah diplomasi Internasional, yakni sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika pertama."
"Seperti yang kamu lihat, ini adalah sederet patung tokoh penting yang jadi kunci digelarnya konferensi tersebut."
"Ada Sir John Kotelawala dari Sri Lanka, Ali Sastroamidjojo dari Indonesia, U Nu dari Myanmar, Muhammad Ali Borga dari Pakistan, hingga Jawaharlal Nehru dari India," terang Edzar seraya menunjuk satu persatu patung yang berderet membelakangi danau buatan. "Lalu Zhou Enlai, salah satu tokoh yang punya peran penting dalam digelarnya KAA."
"Dan itu semua bendera negara yang ikut dalam Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955."
Safa mengangguk-angguk dengan bibir sedikit mengerucut. Jadi begitu. Hebat sekali Edzar bisa hafal sejarah. Sepertinya pria itu memang cerdas.
"Kamu lihat patung tangan itu?" Edzar mengajaknya berbalik melihat patung yang dimaksud. "Patung tersebut melambangkan persaudaraan dan kerja sama antara negara peserta Konferensi Asia Afrika," lanjutnya menjelaskan.
Entah berapa kali Safa manggut kepala, Edzar seperti guru sejarah yang tengah menerangkan pelajaran. Membosankan. Bisa dibilang tempat ini melengkapi taman-taman tematik yang ada di Bandung.
Lengan Edzar melingkar di bahunya. Lantas pria itu menunduk menatap Safa. Seketika senyumnya menyungging melihat Safa yang seakan memahami, padahal dalam hati dia tahu Safa tak tertarik dengan semua itu. Baiklah, ini memang bukan waktunya belajar, melainkan kencan.
Edzar terkekeh mengacak pelan rambut gadisnya, "Sudah, kamu tidak perlu berpura-pura mendengarkan. Maaf karena membuatmu bosan. Mau langsung ke Kampung Korea?"
Sontak wajah Safa kembali berbinar. Itu memang tujuan utamanya ke tempat ini. Safa tidak sabar ingin berfoto dan menyewa hanbok di sana.
"A Uda, nanti fotoin Safa, ya!"
__ADS_1