SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 85


__ADS_3

"Kak Diko, makasih, ya, udah mau anterin Safa. Maaf ngerepotin."


"Repot apanya? Orang aku sendiri yang mau anter kamu," jawab Diko.


"Hehe, makasih, ya."


"Sama-sama. Kalau butuh bantuan, apapun itu, bilang aja, ya?"


Safa hanya menanggapinya dengan tersenyum, bingung harus menjawab apa karena sebenarnya dia merasa tak enak untuk merepotkan Diko lebih dari ini. Safa melambai ketika Diko pamit dengan motornya. Ia pun berbalik hendak memasuki rumah. Namun baru dua langkah seseorang memanggilnya dari arah samping.


Safa menoleh dan menemukan Edzar tengah berdiri dengan sarung dan baju kokonya. Sepertinya pria itu baru selesai sembahyang.


Tanpa diduga pria itu mendekat, "Baru pulang?" tanyanya.


Safa tak menggubris, ia yakin pertanyaan itu tak perlu dijawabnya.


"Habis dari mana?"


"Butik Bu Ani," jawab Safa seadanya.


"Oh." Lelaki itu mengangguk. "Fitting seragaman?"


Kini giliran Safa yang mengangguk. Gadis itu tak berucap apapun. Membuat Edzar sedikit buncah di tempatnya. Namun ia tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Sama siapa?"


Safa mengernyit dalam. Apa dia tidak salah mengira bahwa saat ini Edzar tengah kepo? Walau begitu Safa tetap menjawab. "Kak Diko."


Lagi, Edzar mengangguk disertai gumaman. "Oh, gitu." Tangannya terangkat menggaruk bagian belakang kepala yang sebenarnya tidak gatal.


Karena merasa tidak ada lagi urusan, Safa melanjutkan niatnya yang tertunda untuk memasuki rumah. Namun lagi-lagi Edzar menahan dengan memanggil namanya.


"Kenapa, Om?"


Gelagat Edzar nampak tak biasa. Safa berkerut menyadari hal itu. Pria itu terlihat sedikit gugupan, berbanding terbalik dengan sikap dingin yang selalu diperlihatkan Edzar di depan publik. Apa shalat membuat pria itu sedikit melunak? Ini kali kedua Safa melihat penampilan Edzar yang bersahaja di balik baju kokonya. Safa hampir terlena kalau saja ia tak ingat bahwa Edzar pernah menyakitinya tempo lalu.


Di sisi lain, Edzar tengah luar biasa kebingungan. Saat melihat Safa pulang bersama Diko dari lantai dua kamarnya, Edzar tak bisa menahan kakinya sendiri untuk bergegas turun ke sini. Sedikit menyesal, karena sekarang dia jadi bingung sendiri untuk bersikap.


"Itu...." ucap Edzar menggantung.


Safa menatapnya menunggu, "Itu apa, Om?"


Apa yang harus ia katakan? Berkata bahwa sebenarnya reflek yang membawanya kemari karena melihat gadis pulang dengan seorang lelaki? Tidak mungkin.


"Jangan lupa mandi." Hanya itu yang terlintas di kepalanya. Dan setelahnya Edzar merutuk dalam hati karena kalimat itu terdengar konyol. Terlebih saat melihat raut aneh Safa saat ini. Tentu saja, tanpa diminta pun gadis itu sudah jelas akan membersihkan diri.


Edzar bodoh.


Meski begitu Safa tetap mengangguk sambil bergumam, "Iya." Nadanya terdengar heran.


Kaki Safa kembali bergerah mendekati gerbang. Reflek Edzar kembali menahan, "Tunggu." Edzar pun tak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Dan hatinya meringis melihat Safa yang menoleh dengan wajah kesal.


"Apa lagi, sih, Om? Safa mau mandi, mau shalat. Itu 'kan yang Om katakan tadi? Gimana Safa bisa mandi kalau Om terus seperti ini? Sebenarnya apa yang mau Om katakan?" cerocos Safa pada akhirnya. Dia tak bisa lagi menahan diri.


Edzar terdiam. Matanya menatap Safa lekat. Hatinya sedikit tersentil melihat Safa yang tak lagi memuja dirinya. Namun Edzar sadar, ini buah hasil ulahnya sendiri yang ingin Safa menjauh. Dan sekarang gadis itu benar-benar menjaga jarak darinya. Edzar hanya bisa menghela nafas menahan renyutan dadanya yang terasa sengit.


"Saya lihat kalian sangat dekat? Kamu dan Diko." Edzar lebih terkendali. Pria itu nampak tenang sekarang. Padahal sebenarnya hati Edzar bergemuruh tak nyaman.


"Lalu? Apa itu ada hubungannya dengan Om?" tanya Safa menantang.


"Saya hanya ingin kamu berhati-hati. Jangan sembarangan memilih teman. Apalagi lelaki."


Mendengar itu Safa justru mendengus. Bibirnya tersungging sinis. "Really? Om mengatakan hal itu? Memangnya Om ada hak apa? Ingat, ya. Om tidak punya hak memilih apalagi mengatur pertemanan aku. Om Edzar bukan siapa-siapa aku."


"Jadi bersikaplah sesuai batasnya."


Edzar mematung, ini pertama kali Safa berujar ketus padanya. Dia tak mampu lagi berucap kala gadis itu membuka dan menutup gerbang, menelan bayangannya di hadapan Edzar.


"Maaf," gumamnya pelan. Lalu berlalu memasuki rumahnya dengan perasaan kusut tak menentu. Mungkin ini tak seberapa ketimbang perasaan Safa yang menerima penolakannya waktu itu. Edzar akui rasanya sangat tidak nyaman.


....................


Pagi harinya, Edzar mendapati Safa yang tengah foto-foto di depan gerbang. Di depannya ada Dava yang memegang ponsel dengan raut kesal. Sepertinya pria itu dipaksa untuk menjadi fotografer dadakan. Edzar mendengus geli sembari mengoper mobilnya menempati jalan.

__ADS_1


"Dek, udah. Ayo berangkat. Udah siang. Abang ada meeting jam sembilan."


"Ihh... bentar. Satu lagi..." rengek Safa memberengut.


Dava hanya menghela nafas mengangkat ponselnya kembali. Repot punya adek selebgram. Apalagi yang kelebihan narsis seperti Safa. Apa-apa difoto. Mau jalan beli nasgor aja difoto.


"Dah! Sekarang kita berangkat," ucap Dava tak ada bantahan.


Safa tersenyum puas melihat hasil jepretan kakanya. Tidak buruk, lumayan untuk mengisi profil di instagramnya.


Tin!


Safa mendongak mendengar suara klakson dan deru mobil yang sudah ia tebak siapa pemiliknya. Sejak tadi Safa sudah menyadari pergerakan Edzar yang tengah mengeluarkan mobil. Pria itu mengangguk singkat ke arah Dava sebagai sapaan. Kemudian berlalu setelah memberi lirikan pada Safa.


Safa mendengus, mulutnya monyong-monyong mengeluarkan gerutuan.


"Tumben, kamu gak nyiapin bekal buat dia? Biasanya dari subuh udah rusuh di dapur sama Bik Inem. Kenapa? Kalian ada masalah?"


Dava tak bisa untuk tidak penasaran melihat sang adik yang menurutnya sedikit berubah. Terutama sikapnya pada Edzar. Bukankah Safa sangat tergila-gila dengan pria itu? Kenapa sekarang terlihat biasa saja?


Safa menoleh masih dengan wajahnya yang kecut, "Tidak, memangnya dia siapa sampai Safa harus punya masalah dengannya?" ketusnya membuat alis Dava terangkat heran.


Mereka sampai di perusahaan tepat pukul setengah sembilan. Gara-gara Safa, Dava terlambat setengah jam dari jadwal biasanya. Ya, Safa ikut dengannya karena gadis itu memaksa. Dengan dalih ingin melihat-lihat ladang uang yang selama ini menghidupinya. Dava mendengus, paling ujung-ujungnya numpang ngonten.


Dava biarkan saja, siapa tahu Safa dapat hidayah dan mau membantunya mengurus perusahaan. Walau kemungkinannya hanya 1 persen. Safa itu sangat payah dalam bidang akademik. Jadi lebih baik tak ikut campur daripada perusahaan ini harus hancur. Toh, Dava tak masalah Safa menghabiskan ratusan juta uangnya untuk belanja. Dava senang karena merasa diandalkan. Itu artinya Safa harus memiliki pasangan yang setidaknya setara dengannya. Dan Edzar tidak masuk hitungan. Meski kelihatannya cukup kaya, Dava tak yakin dengan gaji pria itu yang mungkin tidak lebih dari sepuluh juta perbulan. Untuk ukuran Safa yang shopaholic itu sangat kurang.


"Pagi, Pak."


"Eh, Dek Safa? Pagi, Dek...."


Berbagai sapaan ia terima ketika memasuki gedung bersama Dava. Safa mengangguk dengan senyum membalas mereka semua. Sudah lama Safa tak menginjakkan kakinya di sini, ia tak menyangka para karyawan itu masih mengingatnya.


"Pagi juga, Mbak...." ujar Safa dengan seulas senyum.


Safa mengekori abangnya yang berjalan ke arah lift khusus Direksi. Mereka hanya berdua dalam kotak besi itu. Tak lama pintunya terbuka tepat di lantai 8, tempat ruangan Dava berada. Di sana, Safa bertemu Mbak Ririn, sekretaris Dava di perusahaan. Sudah lama mereka tak bertemu. Terakhir kali Safa melihatnya wanita itu tengah hamil besar dan hendak cuti melahirkan.


"Dek Safa...." seru Mbak Ririn sembari merentangkan tangan menghampirinya.


"Kemana aja? Kenapa gak pernah ke sini lagi? Mbak kangen tau."


Safa nyengir menunjukkan gigi-giginya yang rapi dan bersih. "Hehe, males, Mbak. Mending di rumah nonton Drakor."


"Hiih... Drakor mulu dari dulu. Masih secinta itu, ya, sama cowok-cowok cantik Negeri Gingseng? Mending juga cowok Hollywood kali... badannya macho, kekar-kekar, uuuhhh... Pokoknya lebih seksi dan menggai*rahkan."


Safa manyun, "Menggai*rahkan, sih. Tapi gak bikin baper."


Dava memutar mata dan menggeleng melihat kedua perempuan itu. Dia berlalu ke ruangannya meninggalkan Safa yang sekarang sudah larut mengobrol bersama Ririn.


Entah berapa lama Safa menghabiskan waktu di luar, kurang lebih pukul sembilan kurang adiknya itu menyusul memasuki ruangan.


Dava melihat jam tangan, "Dek, kamu tunggu di sini. Abang mau meeting. Hari ini kantor kita kedatangan Menteri. Jangan buat onar," peringatnya dengan tegas.


"Menteri?"


"Hm." Dava hanya menggumam sembari merapikan jas dan dasinya sebelum melenggang keluar saat Mbak Ririn masuk dan memberitahu bahwa tamu mereka sudah datang.


Safa berkedip bingung. Ada keperluan apa seorang Menteri mendatangi perusahaan seperti ini?


Kepala Safa menggeleng, dia tidak mengerti mengenai bisnis apapun. Baginya ini memusingkan. Lantas kakinya berjalan menuju sofa dan merebahkan diri di sana. Mengangkat ponsel dan menyalakan kamera untuk selfie. Lalu ia mempostingnya di Instastory dengan caption 'Abang meeting, Adek boring'.


Bohong banget. Nyatanya Safa gak boring-boring amat, kok. Orang dia saja baru sampai. Hihihi.


Beragam tanggapan masuk melalui DM. Namun seperti biasa Safa akan mengabaikannya. Terlalu banyak. Capek kalau ia balas satu persatu.


Kurang lebih satu jam Safa berada di ruangan Dava. Barulah sekarang ia merasa bosan. Mulutnya gatal ingin nyemil makanan. Dan yang ia rindukan malah pisang goreng coklat di Cafe Edzar. Huh, enggak. Mending beli yang lain aja, deh. Dekat sini sepertinya banyak gerai makanan.


Safa ingat, beberapa meter dari gedung ini ada rumah makan bakso. Mungkin nanti agak siangan Safa ke sana. Karena saat ini Safa lagi kepengen yang ringan-ringan. Manis-manis krenyes gitu. Dan pilihannya jatuh pada nugget pisang yang gerainya ada di seberang gedung.


Bergegas Safa mencangklong tasnya dan keluar, memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Safa tersenyum menanggapi beberapa orang yang menyapanya. Dia keluar dari lobi sambil memasang sunglasses menghindari silaunya matahari yang terik.


Safa berlenggok dengan percaya diri, menuruni beberapa undakan tangga dengan sedikit bersenandung. Hingga kemudian sesuatu terasa menabrak kakinya, membuat Safa memekik pelan karena terkejut.


"E-eh!"

__ADS_1


Bruk!


"Aww...." ringis seseorang.


Safa menunduk dan menemukan bocah perempuan tengah terduduk di atas paving. Tangan mungilnya mengelus-elus bokong kecil di balik dress selutut kotak-kotaknya. Safa menurunkan sedikit kacamatanya untuk melihat lebih jelas. Wajah anak kecil itu memerah dan hampir menangis.


Aduh, gawat! Jangan sampai dia beneran nangis.


"Dek, Adek gak papa? Sakit, ya? Maafin Kakak, ya. Kakak gak sengaja. Mana sini yang sakitnya, coba Kakak lihat." Safa berjongkok panik meraih bocah itu untuk berdiri. Menepuk-nepuk bagian belakang tubuh mungilnya dari butiran-butiran debu yang menempel.


Gadis itu mengucek matanya sambil cemberut.


'Alamak... jangan nangis, dong, Dek!'


Safa meringis dengan wajah bersalah. Dia kembali mengutarakan maaf sambil mengusap-usap pipi gadis itu dengan lembut. "Dek, maaf, ya.... Kakak gak sengaja. Gak sakit 'kan, ya? Adek 'kan kuat. Anak cantik gak boleh nangis. Nanti cantiknya berkurang, lho..." rayu Safa pada gadis itu.


"Hiks." Gadis itu menatap Safa dengan hidung memerah. Matanya berkedip lucu dengan bibir melengkung ke bawah.


Aduh, beneran nangis. Safa menggigit bibir kebingungan. Dia tak pandai merayu anak kecil. Malah seringnya berantem sama mereka.


"Dek, jangan nangis, please... Kakak beliin eskrim mau?" tanya Safa coba menawar.


Gadis itu menggeleng.


"Permen?"


Lagi-lagi dia menggeleng.


"Marshmellow?"


Menggeleng lagi. Safa jadi semakin bingung. Dia berusaha berpikir keras. Kira-kira apa yang disukai anak kecil selain yang ia sebut barusan?


"Emm... Adek maunya apa? Nanti Kakak beliin, deh. Janji."


"Hiks, aku mau ketemu Papa... Huaaa...."


Yah... nangisnya malah makin keras. Aduh, Safa kamu gimana, sih? Ngadepin anak kecil aja gak bisa. Jadi malu kan dilihatin orang. Safa meringis menatap tak enak pada orang-orang yang kebetulan lewat dan melihatnya.


Safa membuka kacamata hitamnya, dia kembali bertanya pada gadis yang tengah sesenggukan itu. Mampus, kalo Maknya lihat, bisa habis dia.


"Emang Papanya Dek Cantik ada di mana sekarang?"


Gadis itu tak menjawab, bibirnya sibuk mencebik dan merengek pelan. Namun telunjuknya mengarah ke dalam gedung.


Waduh, jangan-jangan ini anak karyawan?


"Papanya Adek kerja di sini?" tanya Safa lagi dengan halus.


Gadis itu nampak berpikir. Baru saja bibir mungilnya hendak terbuka saat sebuah suara menyeruak di antara mereka.


"Ineu?" panggil seseorang di belakang Safa.


Mampus, apa itu bapaknya?


"Papa...!!" Gadis itu berlari melewatinya menghampiri seseorang yang ia panggil Papa.


Safa menoleh pelan. Di sana ada pria paruh baya yang baru keluar dari lobi, di sampingnya ada Dava yang berdiri dengan beberapa orang bawahannya.


Tunggu. Dava?


Safa berkedip bingung. Kemudian dia berdiri menatap bocah perempuan yang kini berada di gendongan seorang pria yang Safa duga adalah papanya. Dari pakaiannya yang berkelas sepertinya bukan orang biasa. Apa salah satu Direksi kantor ini?


"Ineu kok bisa ada di sini? Kamu ke sini naik apa? Sama siapa?" tanya papanya Ineu dengan raut gusar. Dari kalimatnya Safa menebak bahwa pria itu tak tahu menahu soal anaknya yang ada di sini. Kok, bisa?


"Ineu ikut Papa. Sembunyi di kursi belakang," jawab si bocah dengan polosnya.


Owalah... Gitu, toh? Haduh, ada-ada saja ini anak. Nakal banget. Kalau tiba-tiba hilang gimana?


Dava mendekat ke arah Safa dan berbisik pelan. "Kamu apakan anak Pak Menteri? Kenapa dia nangis begitu?" tanyanya lengkap dengan pelototan galak yang membuat Safa ciut.


Apa katanya tadi? Anak Pak Menteri?


Bukan anak karyawan, bukan juga anak direksi. Ini malah lebih parahnya menteri! Ya ampun, apa di sini ada lubang? Safa ingin sembunyi sebentar...

__ADS_1


__ADS_2