
"Ini bukan darah. Ini selai," ringis Safa sembari menyentuh keningnya yang kini berwarna merah, sesuatu yang Edzar sangka sebagai darah.
"Apa?"
"Tadi Mbaknya jatuh saat tidur, Pak. Mungkin gak sengaja mangkuk selainya kesenggol terus jatuh," jelas Hani yang kini membantu Safa membersihkan dahinya yang terkena selai.
Terdengar helaan nafas dari beberapa orang. Mungkin mereka lega karena ternyata tak terjadi apa-apa.
Safa menatap Edzar yang masih saja berekspresi kaku. Disentuhnya lengan pria itu hingga netra mereka bertubrukan. Safa mengulas senyum, membuat Edzar mengejam berusaha menenangkan jantungnya yang tadi sempat panik.
"Kenapa kalian tidak langsung membereskan ini? Bukankah tadi saya sudah menyuruh salah satu dari kalian?"
Mendadak suasana jadi hening. Hani dan teman-temannya menunduk merasa bersalah.
Menyadari situasi yang semakin tak mengenakkan, Safa pun bersuara. "Om, udah, aku yang salah karena terlalu larut dalam mimpi."
Edzar menoleh dengan kening berkerut. "Memangnya apa yang kamu mimpikan sampai terjatuh seperti itu?"
"Safa mimpi dilamar Kang TaeMoo.... Tuh, kan jadi ter-TaeMoo TaeMoo lagi....." Ekspresi Safa berubah saat mulai menceritakan mimpinya. Kedua tangannya dia letakkan di dagu lengkap dengan tatapan berbinar.
Wajah Edzar mendadak keruh. Ia pikir Safa telah memimpikan dirinya. Nyatanya gadis itu malah memimpikan orang lain yang bahkan namanya saja sangat asing di telinga Edzar. Siapa tadi, Kang Taemo? Taemu? Atau Taimu?
Edzar mendengus, yang terakhir sangat menjijikan. Dan lagi, kenapa Safa harus mimpi dilamar orang segala? Sepertinya dia harus cepat-cepat mempersiapkan lamaran.
Heru yang masih berdiri di ambang pintu kontan menahan tawa. Pun orang-orang yang ada di sana merasa konyol dengan pengakuan polos Safa. Bahkan gadis itu nampak masih larut dalam khayalannya, tak menyadari raut Edzar yang kecut menatap dirinya.
Edzar meminta para karyawannya keluar, tentu setelah membereskan meja dari piring-piring kosong yang sempat membuatnya salah paham karena panik. Heru mendekat, pria itu menggeleng geli sembari melihat Safa yang berjalan ke kamar mandi. Tubuhnya terhempas di samping Edzar yang kini menduduki sofa. Mulutnya bergetar oleh tawa yang tiba-tiba keluar.
"Perempuan polos yang menggemaskan. Sangat berbanding terbalik dengan kriteria wanita idamanmu selama ini. Cerdas, dewasa, anggun dan kalem. Apa yang membuatmu berubah?" Heru menoleh pada Edzar yang hanya meliriknya sekilas.
Pria itu nampak tak peduli dengan pertanyaannya, hal itu membuat Heru mendengus karena sepertinya Edzar tak ada niat untuk menjawab.
"Apa karena dia cantik?" tanya Heru tak menyerah. "Memang sih, dia cukup menggairahkan kalau dilihat-lihat."
__ADS_1
Edzar menoleh cepat, "Jaga mulutmu," desisnya tajam. Matanya menusuk, herannya Heru masih tetap santai seolah sudah biasa.
"Kenapa? Apa karena kamu merasa bersalah karena memenjarakan kakaknya, lalu kamu ingin membayar dengan membalas perasaannya padamu? Aku tahu bagaimana gencarnya dia mengejarmu dulu. Kamu sering mengeluh mengenai itu."
"Lalu tiba-tiba sekarang kamu memacarinya, bagaimana aku tidak merasa heran?"
"Brother." Heru menepuk bahu Edzar. "Dalam hal investigasi sudah sewajarnya ada kesalahan. Entah itu salah menempatkan bukti, tersangka, dan lain-lain. Sama halnya dirimu yang salah menduga Davandra Halim sebagai tertuduh. Tapi selebihnya kasus ini sudah diserahkan ke Tipikor, kan? Itu berarti mereka yang menangkap, bukan kamu."
"Berhenti merasa bersalah dan lepaskan Safana Halim sekarang juga. Sebelum kamu memupuk harapannya semakin tinggi, yang akan berpotensi menyakitinya lebih dalam. Sebagai pecinta wanita cantik, aku tidak rela gadis semanis itu kamu kecewakan."
Heru menatap Edzar lekat, kemudian melanjutkan ucapannya yang terdengar serius. "Bukan kamu yang tidak mau mengenalkannya pada ibumu. Tapi sebenarnya kamu juga menikmati hubungan diam-diam kalian. Apa aku benar?"
Edzar menoleh, mereka saling berpandangan dengan ekspresi berbeda. "Aku tidak mengerti apa maksud kamu mengatakan hal ini?" bisik Edzar dengan suara dingin.
Heru tak langsung menjawab, pupilnya turun menatap leher Edzar. Sebuah benda berkilauan nampak tersembunyi di balik kerah seragam berwarna cokelat tua itu. Dia kembali melihat pada Edzar.
"Karena kupikir kamu belum sepenuhnya melepaskan masa lalu."
Edzar menunduk melihat apa yang dimaksud Heru. Kemudian dia mengerti, kalung ini.
"Mau mampir atau beli sesuatu dulu?"
Edzar menoleh karena tak mendapat jawaban.
"Ai?"
Safa tersentak kala Edzar menyentuh lengannya. Gadis itu mengerjap sebelum membalas tatapannya. "Kenapa?"
"Kamu yang kenapa. Dari tadi melamun terus."
Safa terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Aku gak melamun. Om tanya apa tadi?" tanyanya sembari menatap jemarinya yang digenggam Edzar.
"Saya tanya apa kamu mau mampir ke suatu tempat dulu atau beli apa gitu?"
__ADS_1
"Oh, enggak. Langsung pulang aja."
Edzar kembali menoleh sambil sesekali menatap jalanan di depan. Dia merasa Safa sedikit aneh. Gadis itu lebih diam dari biasanya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Edzar.
Safa menghela nafas lelah, "Apa aku harus selalu memberitahu apa yang kupikirkan?"
Edzar tak bicara lagi. Mungkin Safa lelah, jadi dia memutuskan diam sepanjang perjalanan mereka sampai rumah. Meski keinginan untuk bertanya sangat besar, tapi Edzar takut hal itu malah membuat Safa semakin tak nyaman.
Setengah jam kemudian mobil Edzar berhenti di depan kediaman Halim. Safa mencangklong tas dan bersiap keluar ketika Edzar menahan pundaknya.
Refleks Safa menoleh, dan sejurus kemudian sebuah kecupan mampir di atas bibirnya. Safa mematung, Edzar beralih mencium keningnya, lalu menjauhkan wajah dan tersenyum.
"Selamat malam," bisiknya lembut.
"Malam," balas Safa sama pelannya. Kemudian dia berbalik membuka pintu dan turun dari mobil Edzar.
Edzar memperhatikan Safa yang tengah membuka pagar, sampai gadis itu menghilang dari pandangan, entah kenapa perasaan Edzar seperti tak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dan dia belum tahu pasti karena apa.
Tak ingin berspekulasi lebih jauh, Edzar memajukan kembali mobilnya memasuki halaman rumahnya sendiri, setelah sebelumnya dibukakan pagar oleh Bik Yah.
Fortuner itu terparkir di garasi. Langsung saja Edzar membuka pintu rumah diikuti Bik Yah yang baru selesai mengunci gerbang.
Lelaki itu menaiki tangga sembari melepas beberapa kancing teratas bajunya. Rasa lengket di badan membuatnya ingin segera mandi. Sesaat dia terdiam merasakan sesuatu yang dingin tanpa sengaja ia sentuh.
Edzar menunduk menatap kalung itu. Tanpa bisa dicegah perkataan Heru kembali berputar di kepalanya. Apa benar dia belum bisa melepaskan masa lalu, meski kini sudah ada Safa di hatinya?
Sepanjang malam Edzar tidak bisa tenang memikirkan berbagai hal. Dia mencoba mengirim pesan pada Safa dan belum juga mendapat balasan. Ditatapnya foto gadis itu yang menjadi wallpaper, refleks sudut bibirnya melengkung mengulas senyum.
Sampai kemudian deru mobil seseorang mengalihkan perhatiannya. Mungkin tetangga yang baru pulang kerja. Tapi, Edzar tak dapat menahan kakinya untuk melangkah mendekati jendela. Entah kenapa dia merasa begitu penasaran, dan semua itu terjawab saat matanya menangkap sedan mewah terparkir di depan rumah sebelah.
Apa Tuan Halim?
__ADS_1
Tak lama Edzar mendapati Safa keluar dari rumah. Penampilannya rapi. Keningnya lantas berkerut melihat gadis itu menaiki mobil yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Safa mau pergi ke mana? Kenapa dia tidak membalas satupun pesan darinya?