
Safa menatap malas seseorang di hadapannya. Kalau dia tahu Bima Laksana lah yang bertamu, sudah pasti lebih baik tak usah turun. Safa bela-belain berdebat dengan Edzar karena masalah ini.
Pria itu tak terima ditinggal begitu saja tanpa mendapat jawaban atas pertanyaannya. Padahal Safa sudah bilang dia akan jawab nanti. Edzar baru bisa diam setelah Safa beri ciuman.
Dasar om-om mesum.
"Aku sudah dengar insiden di perusahaan kemarin lalu. Sayangnya aku gak bisa langsung jengukin kamu karena saat itu sedang di luar kota," ucap Bima.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang terlihat, aku baik-baik saja," jawab Safa santai.
"Tapi wajah kamu lebam," ujar Bima.
"Ya namanya juga habis dipukul, masih untung gak meninggal."
"Hus, bicaramu."
Safa mengangkat bahu. Memang benar, kan? Jika saja Bima tahu sekasar apa Galuh waktu itu, dia pasti akan berpikir sama.
"Nak Bima yang waktu itu ajak Safa makan malam, kan?" Nyonya Halim menyela sambil membawa nampan dari arah dapur.
Tumben gak suruh Bik Inem?
"Iya, Tante. Tante apa kabar?" Bima merunduk mencium tangan bundanya dengan sopan.
"Alhamdulillah, baik. Silakan diminum. Kuenya juga dimakan. Itu Brownies favorit Safa."
Safa mendelik. Maksud Nyonya Halim apa pakai segala kasih informasi seperti itu. Gak penting banget.
"Wah... Repot-repot begini, Tante. Saya jadi gak enak. Harusnya saya yang bawa buah tangan ke sini," ucap Bima tak enak hati.
Safa yang melihat itu diam-diam mencibir. Beginikah akting seorang playboy?
"Lah itu apa? Itu juga buah tangan, kan?"
"Haha, iya. Tapi maaf gak spesial sama sekali." Bima menyerahkan sebuah bingkisan berukuran sedang. Di dalamnya ada beberapa kotak makanan yang entah apa isinya.
Pfft...
Saat melihat nama di kreseknya, sontak Safa ingin tertawa. Morinaza? Bukankah itu dari kafe-nya Edzar?
"Aduhhh.... Makasih, ya, sudah repot-repot. Saya pernah dibeliin Safa pisang goreng dari sana, enak banget sampai nagih. Kebetulan kamu bawain sekarang. Ini Tante bawa ke dapur, ya?"
"Oh, iya, silakan Tante."
Nyonya Halim pun beranjak membawa kresek Morinaza itu ke belakang. Andai bundanya tahu owner kafe itu ada di sebelah rumahnya, kira-kira apa yang akan dilakukan? Terlebih sekarang Safa memiliki hubungan dengan Edzar.
Hatinya kembali berdesir mengingat itu. Safa masih tak percaya dia dan Edzar bisa sampai ditahap ini. Pria itu begitu keras seperti batu. Safa bahkan masih merasa asing jika Edzar sudah berbicara lembut padanya. Secara dulu boro-boro, ngomong aja bisa dihitung berapa kata.
"Ehm." Safa berdehem kecil menormalkan ekspresinya. Bisa-bisanya dia membayangkan seorang pria di hadapan pria lainnya. Meski Bima bukan kekasihnya, tetap saja rasanya aneh.
"Kenapa senyum-senyum?"
Bima yang seorang player pasti mengira Safa tersenyum karena dirinya. Ih, amit-amit, kepercayaan dirinya setinggi langit. Padahal muka pas-pasan, jauh jika dibandingkan dengan Edzar.
__ADS_1
Tuh, kan. Edzar lagi. Apa Edzar mengguna-gunainya? Kenapa setiap detik Safa selalu teringat Edzar.
"Emang salah aku senyum?"
"Enggak sama sekali. Kalau yang senyum secantik kamu," ucap Bima seraya melempar seringai mautnya.
Sayangnya itu gak mempan bagi Safa. Alih-alih terpesona, Safa malah ingin melempar hidung Bima yang lebar itu dengan tatakan cangkir.
Astaga, kenapa orang seperti ini bisa jadi manajer. Apa gak ambyar keuangan perusahaan dihandle Bima?
"Oh iya, aku ikut senang pelakunya sudah ketemu. Akhirnya Dava bisa segera kembali ke perusahaan."
Safa mendelik, "Bukankah waktu itu kamu mencurigai Pak Anjas?"
"Siapa bilang?" tanya Bima dengan polosnya.
"Kamu menyuruhku menyelidikinya!"
"Hey, sepertinya kamu salah paham. Aku menyuruhmu memulainya dari Pak Anjas karena dugaanku beliau yang menyimpan bukti-bukti itu."
"Apa?"
"Aku tahu beliau diam-diam mencari solusi untuk membebaskan Dava. Hanya saja semuanya jadi tersendat saat Galuh tahu dan mengancamnya."
"Kamu sudah tahu sebanyak itu, kenapa gak bilang dari awal?" cecar Safa.
Bima meringis menggaruk tengkuk, "Karena sebenarnya aku juga ragu memberitahumu. Galuh terlalu berbahaya."
"Percuma kamu khawatir. Dia sudah menyerangku hingga mau mati."
Kemudian Bima mencomot potongan brownies di atas piring dan memakannya dengan sekali lahap.
"Omong-omong, kalau Dava kembali apa kamu akan berhenti bekerja?"
"Hm. Ayah sudah melarangku masuk sebenarnya," sahut Safa mengambil cangkir teh lalu meminumnya.
"Kenapa?"
Safa mengangkat bahu, "Entah. Mungkin dia tahu kemampuanku di bawah rata-rata."
"Bukan karena kejadian kemarin? Mungkin saja beliau khawatir."
"Bisa jadi, sih," gumam Safa tak yakin.
Dia jadi teringat ekspresi sang ayah waktu di rumah sakit. Safa tidak bisa mengartikan rautnya yang sedikit berbeda dari biasa. Safa masih mencoba menebak kesalahan apa yang mungkin tak sengaja dia perbuat.
"Ayah kamu di Bandung, ya?"
"He'em."
Bima mengangguk, meminum kembali tehnya. Sejenak suasana diliputi keheningan. Safa menoleh pada pintu penghubung dapur yang kebetulan terlihat dari ruang tamu.
'Bunda kemana, sih? Kok, dari tadi gak keluar-keluar?'
"Kalau udah sembut total, kamu mau jalan-jalan?"
__ADS_1
Safa terkejut karena Bima yang tiba-tiba bersuara. Dia pun menoleh, "Hah? Kenapa?"
"Kalau kamu udah sembuh, mau gak jalan-jalan?"
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ya kemana aja. Main gitu."
"Ohh....."
"Ya—"
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam...."
Seseorang tiba-tiba menyela dari pintu depan. Safa terlonjak dan melotot melihat siapa yang datang.
"Maaf mengganggu sebentar," ujar pria itu kemudian menghampiri Safa.
"Makasih handphone-nya."
"Hah?"
Sebentar, ini kenapa ponsel Safa bisa ada di tangan Edzar?
Safa mendongak menatap pria itu bertanya. Namun Edzar hanya membalasnya dengan tatapan datar plus dingin. Safa jadi teringat pertemuan pertama mereka. Edzar juga menatapnya tak acuh seperti itu.
Ini om-om kenapa lagi, sih?
Tangan Safa terulur hendak mengambil ponsel di genggaman Edzar. Saat Safa berhasil meraihnya, Edzar menahan benda pipih itu hingga terjadilah aksi tarik menarik yang tidak kentara. Lebih tepatnya Safa yang berusaha merebut ponsel itu dari tangan Edzar.
Safa mendecak sebal, diam-diam dia melotot meminta Edzar segera berhenti berulah. Sedetik kemudian Edzar melepaskan ponsel itu dan membiarkan Safa mengambilnya.
Namun tak cukup sampai di sana, sekonyong-konyong Edzar duduk di samping Safa. Membuat gadis itu refleks bergeser karena terkejut.
Beberapa kali Safa mengirim delikan, namun percuma saja karena Edzar hanya menatap lurus ke depan, ke arah Bima yang kini membalas tatapannya.
"Mas ini yang waktu itu jemput Safa, ya?" tanya Bima. Suaranya terdengar bersahabat. Berbanding terbalik dengan Edzar yang memasang raut tanpa ekspresi.
Ingin sekali Safa memukul kepala Edzar. Apa-apaan wajah arogannya itu. Bagaimana pun Bima adalah rekan sekantornya.
"Ahh... Hahaha.... Iya, benar," jawab Safa karena Edzar seperti tak ada niat membuka mulut.
"Kalian?"
"Tetangga," sahut Safa segera. "Rumahnya tepat di sebelah." Dia menunjuk sekilas samping kirinya. Tanpa menyadari raut Edzar yang sedikit berubah. Dahi pria itu mengerut tak senang.
"Ohh... Tetangga." Bima mengangguk mengerti.
Responnya itu membuat suasana hati Edzar semakin buruk. Dia jadi merasa seperti simpanan yang tak diakui. Edzar dipaksa diam sementara gadisnya mengumbar tawa dengan pria lain,
Ini benar-benar menyebalkan.
Dia melirik Safa yang sibuk ngalor-ngidul membicarakan sesuatu dengan Bima. Hatinya bergejolak karena merasa diabaikan. Ini pertama kali Edzar terlihat idiot di depan orang.
__ADS_1
Tunggu saja, Sayang. Setelah ini kamu akan mendapat hukuman yang setimpal.