SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 140


__ADS_3

"Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam...." sahut beberapa orang serentak. Berpasang-pasang mata menoleh ke arah pintu. Sejenak Safa terpaku dan menelan ludah. Dia benar-benar gugup sekarang. Rasanya ingin berbalik dan pulang saja.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Safa terlalu hanyut dengan ucapan Edzar saat di teras tadi. Hingga dia nurut-nurut saja ketika Edzar merangkulnya, menggiring Safa untuk segera memasuki rumah.


Alhasil sekarang dia nervous bukan main. Memang perkataan Edzar sempat membuatnya tenang, sedikit. Tapi setelah kakinya melangkah melewati garis ubin di pintu, semua kecemasan itu kembali datang menyerangnya.


"Aduh.... Cah Bagus.... Piye toh iki? Ibunya sudah nyampe sedari tadi, lah kamu kenapa baru datang sekarang?" seru salah satu wanita yang kini bangkit dari duduknya di sofa, menghampiri Edzar dan Safa yang juga mendekat ke tengah ruangan.


Edzar mengulas senyum menyalami wanita itu. Pun Safa ikut melakukan hal sama sebagai bentuk kesopanan. Dahi wanita itu berkerut, menoleh pada Edzar, memberinya tatapan bertanya. "Ini?"


Lagi-lagi Edzar tersenyum, "Maaf, Uwa, Edzar terlambat. Tadi habis jemput ke Bandung dulu."


Memang, mereka sampai di tempat ini setelah siang menjelang. Adzan duhur bahkan sudah lewat kurang lebih satu jam.


Wanita yang Edzar panggil sebagai Uwa itu menoleh lagi pada Safa. Sontak Safa bertambah gugup. Menyadari tubuh Safa yang menegang, Edzar mengusap punggung gadis itu menenangkan.


"Ini Uwa-nya Uda. Uwa Nining, ibunya yang punya hajat," bisik Edzar.


Pun Safa tersenyum canggung sembari mengangguk segan. Uwa Nining berkedip menatapnya, Safa semakin dibuat tak karuan. Beginikah rasanya bertandang ke rumah keluarga pacar?


"Gadis ini...."


"Namanya Safana, Uwa. Panggil saja Safa." Edzar menimpali saat Uwa-nya nampak menggantung ucapan.


"Pacarmu?" tanya Uwa Nining pada Edzar.


Lelaki itu hanya tersenyum. Sebenarnya Edzar sedikit geli mendengar kata pacar, di umurnya yang sekarang rasanya agak bagaimana. "Insya Allah calon, Uwa."


Seketika ucapannya mengundang kaget. Safa mematung, sementara Uwa Nining nampak terperangah sebelum kemudian dia berseru, "Alhamdulillah....."


Safa terkejut saat Uwa Nining merangkulnya, mengusap bahu dan lengannya dengan wajah berseri.


"Kamu serius, Edzar? Kenapa ibumu gak cerita dia mau punya mantu lagi?"


"Masyaalloh, cantiknya...." Wanita itu masih sibuk mengagumi Safa. Rautnya yang ramah membuat Safa bisa sedikit merasa lega. Sepertinya Uwa Nining orang yang welcome terhadap siapapun.


Mata mereka bertemu, Edzar mengulas senyum pada Safa yang kelihatannya mulai rileks. Ruang depan pun tampak penuh, sepertinya Uwa Nining tengah menjamu tamu.

__ADS_1


"Hasan mana, Wa? Rewel gak dia habis disunat?" tanya Edzar. Dia berniat memberikan hadiah Safa yang sempat dia ambil saat menyalami Uwa Nining.


"Enggak rewel. Anaknya baik banget. Ngeluh pas awal-awal saja, agak manja sama papanya. Tapi sekarang udah biasa lagi, cuman jalannya aja agak hati-hati, haha."


"Oh iya, kalian ke taman belakang saja. Keluarga lagi pada kumpul di sana. Hasan juga tadi Uwa lihat lagi main game. Dia gak mau di kamar, katanya bosan, sumpek. Maklum, anaknya aktif banget. Apalagi kalau sehat, bocah itu mana betah diam di rumah."


Edzar mengangguk, lantas mengajak Safa ke taman belakang yang dimaksud Uwa-nya. Di sini tidak dipasang tenda seperti acara hajatan lain yang kerap Safa lihat. Rupanya keluarga mereka hanya akan menggelar acara syukuran dan doa nanti sore sehabis ashar. Tidak ada yang diundang, hanya saja tetangga pada datang atas kemauan masing-masing.


Orang Sunda biasa menyebutnya sebagai 'nyecep'. Memberi amplop berisi uang seikhlasnya pada anak yang disunat. Hal itu biasa dilakukan juga pada anak yang baru lahir.


Sesuai ucapan Uwa Nining, keluarga besar Edzar tengah berkumpul di taman belakang. Semuanya kompak menoleh kala Safa dan Edzar melangkah di jembatan kecil yang menjadi penghubung antara beranda dan gazebo yang berdiri di atas kolam.


Rumah Uwa Nining begitu asri dan nyaman. Banyak tanaman hias juga beberapa pohon yang membuat rindang. Sangat cocok dijadikan tempat berkumpul.


"Hey, Mas Bro! Kemana aja sampeyan baru datang, hah?" seru seseorang yang merupakan sepupu Edzar. Safa hanya menebak, soalnya mereka terlihat seumuran.


Yang lain ikut ramai menimpali, pertanyaan yang sama kenapa Edzar bisa telat, sementara ibunya sudah sampai sejak tadi. Bisa dibilang itu hanya bentuk basa-basi sapaan, karena siapapun berhak datang di waktu kapan saja, setiap orang punya kepentingan sendiri bukan?


Edzar tersenyum tipis menyalami satu persatu keluarganya, Safa mengikuti apa yang dilakukan lelaki itu. Meski dia merasa sejak tadi seluruh pasang mata itu memperhatikannya.


Safa gugup. Dilihatnya Edzar menghampiri seorang anak lelaki yang berbaring di pangkuan wanita berhijab. Sepertinya itu Hasan, anak sepupu Edzar yang habis disunat.


Wanita yang baru Safa ketahui namanya Leni itu kontan menarik ponsel dari tangan si anak, menimbulkan rengekan keras dari mulut bergigi ompong itu.


"Mama....."


"Salim dulu itu sama Om," titahnya.


Edzar tersenyum menatap Hasan yang merengut. "Tante Safa bawa hadiah, nih. Yakin gak mau?"


Hasan menoleh kotak berukuran agak besar di tangan Edzar. Sebenarnya itu Edzar yang belikan, hanya saja Safa yang memilih. Seharusnya itu dari Edzar, Safa jadi merasa numpang nama kalau begini.


Anak itu masih terlihat malu-malu, tapi matanya tak berhenti melirik hadiah yang Edzar bawa. Rasanya Safa ingin tertawa melihat itu, sepertinya keluarga Edzar memang rata-rata punya gengsi yang tinggi.


"Mau gak?" tanya Edzar lagi, iseng.


Anak lelaki itu mengerucut, membuang muka pada perut ibunya. Sontak hal itu mengundang tawa orang-orang, termasuk Safa yang tak bisa menahan kekehan.


"Halahh.... mau itu mau.... Cuman dia malu tititnya habis dipotong."

__ADS_1


"Hahaha....." Gelak tawa terdengar riuh kala laki-laki yang tadi menyapa Edzar bersuara.


Hasan merengek, kesal karena dia ditertawakan. Lucu sekali, dia hanya bisa menyembunyikan wajah tanpa sedikit pun bergerak. Tubuhnya berbaring terlentang, nampaknya rasa ngilu masih membuatnya tak berkutik.


"Gak mau, ya? Ya sudah, Om kasih saja ke Akbar kalau begitu," ucap Edzar menyebut salah satu keponakannya yang ada di sana. Masih bayi, mata bulatnya mengerling lucu, apa dia sadar namanya telah disebut?


Hasan menjerit, dia semakin merengek dengan wajah terbenam di perut Mbak Leni. Wanita itu tertawa pelan, mencoba melepas pelukan sang putra yang malu-malu meong.


"Ayo salim dulu, ih. Dusun banget jadi anak."


Hasan kekeh tak mau.


Edzar menggeleng geli melihat kelakuan keponakannya. Dia menyimpan kotak itu di hadapan Mbak Leni, mengusap kepala Hasan, mengecupnya sebelum kemudian beranjak.


"Pinter lah habis disunat." Edzar juga menyelipkan dua lembar uang berwarna merah ke genggaman si anak. Dia terkekeh saat tangan Hasan mengepal guna melindungi rupiah berharga itu, pikirnya mungkin Edzar akan mengambil kembali uangnya. Ada-ada saja.


Safa tak mau ketinggalan, dia juga memberi Hasan uang meski anak itu masih enggan menoleh. Mbak Leni tersenyum, lalu menepuk lengan putranya gemas.


"Tuh... Dikasih uang sama Om dan Tante. Merah semua lagi. Ayo salim, malu-maluin aja!"


Safa tersenyum, "Gak papa, Mbak. Mungkin anaknya malu."


"Dek Hasan pinter, ya, gak nangis. Dulu ponakan Tante malahan rewel 3 hari nangis terus, padahal udah gede, udah masuk SD." Safa mengusap sekilas rambut hitam anak itu, sedikit menceritakan salah satu anak sepupunya ketika habis disunat dulu.


Mbak Leni tersenyum, "Kalau Hasan nangisnya cuman tadi aja, Teh. Tapi ya gitu, makin manja aja anaknya, haha."


Safa tersenyum lebar saat menangkap Hasan yang diam-diam meliriknya. Mbak Leni menepuk kembali lengan putranya. "Giliran yang cantik aja dilirik. Lah, Om-nya sendiri malah dicuekin."


Safa tertawa, pun Edzar yang tersenyum menatap interaksinya.


"Umurnya berapa, Mbak?"


"Sekarang jalan 4, Teh. Lagi nakal-nakalnya, jajan mulu pula."


Tiba-tiba mata Leni mengerling, menatapnya penuh arti sembari mengulum senyum. "Jadi kapan, Teh? Udah nentuin tanggal belum?"


Safa berkedip, otaknya yang lemot mulai kembali berpikir. Tanggal apa?


Leni menoleh pada Edzar, "A Edzar, kapan atuh si tetehnya dihalalin?"

__ADS_1


Mata Safa sedikit membola. Dihalalin? Halal? Maksudnya nikah?


__ADS_2