SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 70


__ADS_3

“Memangnya kamu siapa sampai saya harus membalas pesan-pesan kamu?”


“Kamu pikir saya ada waktu untuk itu?”


“Saya kerja. Saya sibuk. Saya bukan kamu yang kerjanya leha-leha di rumah dan tidak punya kegiatan,”


“Satu lagi. Apapun yang saya lakukan, itu bukan urusan kamu. Dan saya mohon dengan sangat, tolong jangan ganggu saya lagi. Kamu sangat mengganggu,”


..........


"Ibu lihat, kamu sepertinya dekat dengan putri Pak Surya?"


Kening Edzar berkerut, "Dekat bagaimana?"


"Gadis itu menyukaimu."


"Edzar, Ibu memang berharap kamu segera menikah. Tapi, Ibu minta kamu bisa lebih bijak dalam memilih pasangan. Jangan hanya semata karena cantik, atau karena dia kerabat besan kita. Kamu juga harus lihat apakah dia mampu mendampingimu, Nak." Dyah tersenyum menatap putranya, menepuk pelan bahu Edzar. "Kamu mengerti maksud Ibu."


Edzar terdiam cukup lama, menatap wanita yang paling berjasa dalam mendidik dan melahirkannya.


"Ibu tenang saja. Dia bukan tipe gadis yang akan Edzar sukai. Dia hanya anak muda yang masih dalam masa penjajakan mengenal perasaan. Kita berbeda dalam segala hal, termasuk umur. Hatinya labil, tak menentu. Ibu tak perlu khawatir mengenai hal itu."


.......


Safa berjalan gontai di sepanjang trotoar. Hari sudah gelap, adzan maghrib sudah berkumandang beberapa waktu lalu. Sedang kakinya masih saja melangkah tak tentu arah.


Bayang-bayang kalimat Edzar yang menusuk terus saja terngiang. Seharusnya, Safa sudah berhenti sejak dulu. Sejak di mana Edzar berkata pada Ibunya ketika di Bogor tempo lalu. Pria itu tak akan pernah menyukainya, harusnya Safa tahu itu.


Dulu Safa begitu optimis, tak menghiraukan percakapan yang tanpa sengaja didengarnya. Dengan percaya diri yang tinggi Safa terus saja mengejar Edzar. Tanpa peduli bahwa perbuatannya membuat orang lain merasa tak nyaman.


"Kamu sangat mengganggu."


Ucapan terakhir pria itu begitu melekat di hatinya, meremas kuat perasaan yang membuat dadanya kian terasa panas. Kalimatnya terus bergaung, diputar berulang-ulang di sudut lain kepalanya.

__ADS_1


Air matanya kembali bergulir, seiring guntur yang bersahutan memecah cakrawala. Mengikis angan yang perlahan mengabur terisap realita. Safa kalah. Kenyataan menelannya bulat-bulat. Sekeras apapun dia berusaha mendekat, Edzar mustahil memberinya cinta.


Kamu bodoh, Safa. Mana dirimu yang selalu pongah menolak asmara? Kenapa sekarang kamu lemah hanya karena penolakan seorang pria?


Langit bergemuruh disertai kilatan petir yang menyambar. Suaranya menggelegar memekakan telinga. Hujan deras turun mengguyur Ibu Kota sejak sore tadi. Safa menggigil memeluk dirinya sendiri, berusaha menghalau udara dingin yang menembus pori, menusuk tulang, membuat kulitnya memucat.


Dalam keadaan biasa, mungkin Safa akan merasa ketakutan dengan situasi ini. Tapi sekarang, entah kenapa perasaan itu seolah mati.


Kakinya terus berjalan di bawah guyuran hujan. Mengabaikan angin yang bertiup kencang, menyapu air dan pepohonan hingga bergoyang.


Di bawah remangnya lampu jalanan, Safa mengingat beberapa kenangan manis antara dirinya dan Edzar. Yang sempat menerbangkannya ke langit harapan tertinggi hingga sekarang jatuh ke dasar bumi yang terdalam.


Pria itu menghadirkan bermacam rasa di hidupnya. Membuatnya semangat menjalani hari yang biasa diisi kegiatan tak berarti. Hatinya bergetar senang kala melihat sosoknya. Perutnya seringkali terasa mulas oleh rasa bahagia hanya dengan mendengar namanya.


Uforia jatuh cinta. Safa tahu itu.


Edzar tak melakukan apapun, tapi eksistensinya berhasil mendominasi pikiran Safa. Tak terkecuali sekarang. Pria itu baru saja menorehkan luka terdalam dalam hidupnya. Safa tak pernah mengalami patah hati sesakit ini.


Mungkin ini pelajaran baginya, bahwa rupa tak melulu membawa cinta. Buktinya, kecantikan yang selalu ia banggakan seakan tak ada arti di hadapan Edzar.


Tidak, ia tak boleh seperti ini. Edzar harus tahu bahwa Safa tak selemah itu. Safa akan melakukan sesuatu yang akan membuat pria itu menyesal.


Iya, kamu harus bangkit Safa. Jangan menangisi pria yang bahkan tak memedulikanmu. Sudah cukup perjuanganmu selama ini. Lupakan Edzar. Masih banyak pria lain yang lebih superior yang bisa kamu dapatkan.


....................


Cklek.


Seraut wajah terperangah memenuhi atensi Safa saat ini. Kamila berdiri dengan mulut terbuka lebar, matanya hampir meloncat sesaat setelah ia membuka pintu.


"Astaga, Safa? Kamu-" Kamila tercekat melihat penampilan Safa yang sungguh sangat mengenaskan.


Tubuh basah kuyup, kulit sepucat mayat, mata bengkak dan merah. Badan gemetar kedinginan. Apa yang sudah terjadi?

__ADS_1


"Kamu kenapa? Tidak tidak, kamu masuk dulu! Di luar dingin!"


Kamila menarik sahabatnya memasuki rumah. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Safa diminta untuk mandi dengan air hangat dan ganti baju agar tidak masuk angin, walau sepertinya sudah.


Safa menurut, dia juga merasa sangat pusing karena terlalu lama diguyur hujan. Kakinya sakit, berjalan dari Kejari ke rumah Kamila bukanlah jarak yang dekat. Masih bersyukur dia tidak pingsan di jalan.


Selama Safa berbenah diri di kamarnya, Kamila bergegas ke dapur membuat minuman jahe. Kakinya melangkah ke ruang depan selagi menunggu rebusan, berniat mengunci pintu dan melap jejak-jejak basah yang dibawa Safa.


Kamila menengok sebentar ke luar jendela, hujan masih belum reda, pasti banyak wilayah yang banjir saat ini.


Saat hendak menutup gorden, tiba-tiba matanya menangkap keberadaan sebuah mobil di sebarang jalan. Dahinya mengernyit melihat Fortuner hitam yang berhenti di depan rumahnya itu.


"Apa Pak Akbar baru saja ganti mobil?" gumamnya pelan.


Bahunya mengendik tak peduli, bukan urusannya juga. Mending dia bikin mie rebus ekstra pedas, kayaknya enak hujan-hujanan begini.


Kamila kembali ke dapur setelah mengunci pintu. Menyelesaikan rebusan jahenya dan bergegas memasak mie untuk dirinya juga Safa. Gadis itu pasti kelaparan. Entah apa yang membuatnya nekat menerjang badai sampai seperti itu. Kamila akan tanyakan itu nanti, karena saat ini Safa terlihat sangat membutuhkan ketenangan.


Safa keluar dari kamar Kamila, penampilannya sudah jauh lebih rapi. Dia juga menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya lebih cepat. Tubuhnya terhempas di atas sofa, bersamaan dengan Kamila yang muncul dari arah dapur.


Ditangannya ada nampan berisi dua mangkok mie. Wangi gurih menguar membuat perut Safa keroncongan. Apalagi Kamila menambahkan berbagai topping dan rawit di atasnya. Safa ingat, dia belum makan dari pagi, juga kelaparan saat menunggu Edzar.


Mengingat itu wajahnya kembali murung. Pria itu begitu tega membiarkannya luntang-lantung dengan perut kosong.


Safa bisa saja makan waktu itu, tapi rasanya berat meninggalkan tempat sebelum melihat Edzar.


"Makasih," ucapnya menerima uluran mangkok dari Kamila.


Tangannya langsung mengaduk mie itu dan menyuapkannya ke mulut. Namun, sedetik kemudian dia meringis menjauhkan garpunya.


"Aws, panas." Safa merintih pelan.


Kamila berdecak melihatnya, "Makanya pelan-pelan. Udah tau panas. Lagian minum dulu, kek. Maen lahap aja."

__ADS_1


Safa meringis menerima gelas yang diulurkan Kamila. Meminumnya hingga tersisa setengah. Ternyata selain lapar, dia juga kehausan. Setelah itu Safa kembali menggulung mie dengan garpu, meniupnya, lalu memakannya dengan lahap.


Kamila melihat itu dengan wajah redup. Sebenarnya apa yang terjadi, Safa? Kenapa kamu terlihat sangat kelaparan? Dia bahkan sengaja merebus dua porsi untuk Safa. Kalau Safa sadar, mangkuknya lebih penuh dari punya Kamila.


__ADS_2