
"Om ngomong apa, sih!"
"Saya sedang menunjukkan apa itu gila yang kamu maksud."
Dua pasang mata itu bertemu. Safa hampir terhanyut oleh tatapan Edzar yang entah kenapa terasa lembut. Suara pria itu juga terdengar halus. Kalau diingat-ingat, beberapa waktu belakangan memang nada suara Edzar berubah. Edzar yang berdiri di hadapannya saat ini sama sekali tak terlihat seperti Edzar yang pernah melontarkan kata kasar padanya.
Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Tuhan, jangan biarkan Safa berharap lagi.
"Mungkin ini terlambat. Tapi saya ingin minta maaf."
"Saya tidak akan maksa kamu untuk memaafkan saya. Karena saya tahu sebanyak apa luka yang kamu dapat."
"Saya hanya ingin mengutarakan apa yang saya rasakan. Kamu boleh memaki, mencaci, atau memukul saya. Mengatakan saya b*rengsek, ba*jingan, apapun terserah kamu."
"Satu yang perlu kamu tahu...."
Detak jarum jam mendadak terdengar nyaring, saking sunyinya suasana di antara mereka. Tangan Edzar terulur menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga Safa. Netra mereka tak lepas menatap satu sama lain.
Safa terkejut. Tahu-tahu wajah Edzar mendekat dan mengecup keningnya.
"Saya sayang sama kamu."
Deg.
Hening.
Edzar menjauhkan wajahnya meneliti reaksi Safa. Gadis itu terdiam dengan tatapan kosong. Wajahnya berubah datar tanpa ekspresi, lebih dari yang semula Edzar lihat. Edzar menghentikan niat untuk menyentuh pipi Safa kala gadis itu menepisnya.
Dia tak terkejut sama sekali. Sudah pasti Safa menolaknya setelah perlakuannya selama ini.
"Sayang?" Safa mendengus, "Omong kosong." Kepalanya menengadah menatap Edzar. "Om tidak perlu berusaha menyenangkan aku sekeras ini. Aku tidak butuh rasa kasihan Om."
"Aku tidak butuh rasa iba dari siapapun," ujar Safa menekankan.
"Safa—"
"Om pikir aku akan percaya begitu saja? Mana ada orang yang tadinya benci tiba-tiba berubah jadi suka."
"Ini dunia nyata, bukan fiksi romansa yang bisa dengan mudah memutarbalikkan rasa."
"So, berhenti membuat pertunjukan tak berguna."
Safa menyentak lengan Edzar yang menghalangi jalannya. Kali ini dengan mudah ia lakukan karena Edzar tak melakukan perlawanan.
Safa sudah berbalik hendak membuka pintu, namun sejurus kemudian bahunya ditarik dan diputar ke belakang.
Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, sesuatu mendarat dan menekan bibirnya dengan cepat.
__ADS_1
Safa mematung, matanya membeliak karena terkejut. Cukup lama Safa terdiam mencerna keadaan hingga akhirnya dia sadar apa yang tengah Edzar lakukan.
"Emhh...." Safa memukul-mukul bahu Edzar yang tiba-tiba menciumnya.
Kurang ajar! Apa maksudnya ini!
"Emhh...."
Edzar tak bergeming dan tetap melancarkan aksinya. Safa semakin kalang kabut saat pria itu mulai menyapukan bibirnya perlahan. Menyesapnya lembut dengan gerakan membuai.
Berbeda dengan Safa yang terus memberontak berusaha melepaskan diri, Edzar justru memejamkan mata dan tampak menikmati. Tangan kekarnya bertengger di pinggang dan tengkuk Safa, menekannya perlahan hingga tubuh mereka merapat tak berjarak.
Pria itu menggigit kecil bibir Safa hingga terbuka. Memperdalam ciuman lewat celah yang ia ciptakan. Memasukkan lidah, membelai apapun yang ia dapat di sana. Mencicip rasa manis rongga mulutnya yang memiliki aroma menggoda.
Safa yang lelah memberontak terpaksa hanya bisa pasrah. Tangannya malah sakit dan menjadi korban. Gerakannya melemah dan beralih mencengkram seragam bagian depan milik Edzar.
Bau rokok bercampur mint menyusup menguasai penciuman. Nafas Safa mulai sesak dan kewalahan menghadapi Edzar yang tak kunjung selesai mengeksplor bibirnya.
Pria itu terus menyesapnya tanpa henti, mengabaikan erangan protes yang mungkin dianggapnya sebagai sinyal. Safa hanya bisa berteriak dalam hati bahwa dia memerlukan oksigen sekarang juga.
"Emhh...."
Buk buk buk.
Dengan sisa tenaga yang lemah, Safa kembali memukul Edzar dengan brutal—menurutnya. Berharap Edzar segera menghentikan aksinya yang berpotensi menyebabkan kematian bagi Safa.
Safa menepuk-nepuk dadanya perlahan, berusaha memperlancar jalan nafas yang seakan terhambat karena perbuatan Edzar.
"Uhuk-uhuk!"
"Akh... Hah... Hah... Hah...." Ini namanya asma dadakan.
Safa terlalu sibuk mencari oksigen hingga mengabaikan tangan Edzar yang terulur membelai bibirnya. Pria itu tersenyum. Bibir Safa membengkak dan merah karena ulahnya. Mendapati kenyataan itu saja sudah membuat Edzar merasa senang.
Tahu-tahu....
Plak!
Sebuah tamparan keras hinggap di pipinya, walau tak sampai membuat wajahnya menoleh, namun bekas merah itu mengecap di sana.
"Dasar b*rengsek!" maki Safa. Gadis itu sudah kembali dan mendapatkan kewarasannya.
Dengan nafas yang belum sepenuhnya normal, Safa menatap Edzar dengan nyalang. Wajahnya berkerut masam pertanda ia tidak senang. Jarinya terangkat menunjuk wajah Edzar yang seakan tak melakukan kesalahan.
Pria itu tetap tenang dengan ekspresi datarnya. Membuat dada Safa terasa panas dengan amarah yang semakin menggelegak. Matanya tiba-tiba saja berkabut, emosinya meluap-luap minta dilepaskan.
Cukup. Safa sudah lelah. Edzar yang terus mempermainkannya seperti ini membuat Safa frustasi.
__ADS_1
"Aku memang pernah mencintai Om. Bahkan mungkin sekarang pun masih." Suaranya terdengar bergetar.
"Tapi bukan berarti Om bisa semena-mena sama aku!!!" jerit Safa dengan air mata yang mulai turun.
"Kenapa Om bersikap seperti ini? Om anggap aku wanita murahan yang bisa dicium seenaknya, begitu?"
"Apa Om sedang menjilat ludah sendiri? Om bilang aku pengganggu! Om bilang aku pemalas! Iya aku bodoh! Aku pemalas! Lalu sekarang apa!"
"Om cium aku seakan aku gak punya harga diri!"
"Bukankah Om yang minta aku menjauh? Aku sudah lakukan. Aku sudah berusaha gak muncul di hadapan Om. Lalu kenapa sekarang Om tiba-tiba berubah? Sikap Om yang seperti ini membuatku sulit...."
"Kenapa...."
"Kenapa Om setega itu sama aku...."
Edzar mematung membiarkan Safa memukuli dadanya. Raungan gadis itu membuat Edzar merasa bersalah. Edzar berusaha memeluknya walau Safa terus memberontak.
Tuhan, apa yang sudah dia lakukan? Lagi-lagi Safa menangis karena keegoisannya.
"Safa."
Safa meraup dan menarik-narik seragam Edzar dengan brutal. Edzar tak berusaha mencegah meski mungkin beberapa kancing, plaket, dan emblemnya terancam rusak.
Edzar tak peduli, jeritan Safa membuatnya sakit dan ingin memukuli diri sendiri.
"Maaf."
"Maafin saya."
"Maafin saya, Safa."
"Saya benar-benar minta maaf." Edzar terus bergumam menciumi rambut Safa. Tangannya melingkar memeluk erat gadis itu yang tidak lagi berontak. Pun pukulannya sudah melemah, menyisakan isak tangis memilukan yang menjerat hati Edzar hingga ke dasar.
"Maaf...."
"Kamu bukan wanita seperti itu. Kamu berharga. Saya yang salah karena tidak bisa menahan diri. Maaf..."
"Hiks, Om jahat...."
"Iya, saya jahat."
"Jahat... Om jahat! Jahat! Jahat!" Safa kembali memukuli Edzar dengan lemah.
"Berhenti membuat Safa berharap...."
"Safa capek...."
__ADS_1
Edzar mengecup puncak kepala Safa dengan sayang. "Baiklah. Kamu boleh berhenti. Biarkan saya yang berjuang kali ini."