
"Bukankah dia kakak dari calon suaminya Tante Miranti?" tanya Lalisa ragu. Dia tahu dari Nyonya Halim. Orang yang menangkap pria sialan yang menjebak kekasihnya.
"Memang."
"Dan Safa menyukainya," lanjut Renata menjawab pertanyaan Lalisa.
Lalisa mengerjap, "Begitukah? Jadi dia Om-om yang Dava ceritain, ya?" gumamnya tanpa sadar.
Namun masih bisa Safa dengar. Gadis itu memutar bola mata mendapati kecomelan Dava. Bisa-bisanya lelaki itu berghibah hal seperti itu dengan tunangannya.
"Aku kira pelakunya orang dalam, taunya bukan," ucap Rizkia.
"Padahal aku bela-belain jadi Wakil Direktur...." timpal Safa kesal.
Renata tergelak, "Kamu gak ada niat jadi Wakil Dirut beneran aja?" tanyanya jail.
Safa merengut, "Gak mau. Kepalaku ngebul tiap hari berpikir."
"Yeu.... Julaeha! Otak emang gunanya buat berpikir!"
"Ya mau gimana? Aku gak ahli dalam bidang ini!" balas Safa sengit.
Lalisa dan yang lain memutar mata jengah. Ruang rawat yang seharusnya sepi dan tenang malah berisik dengan berbagai perdebatan dan ocehan. Malam itu mereka habiskan dengan bercerita, sampai Nyonya Halim masuk dan menegur bahwa Safa harus segera istirahat.
Lantas mereka semua pulang, minus Lalisa yang bersikeras menemani calon mertuanya menunggui Safa. Sampai kantuk menjemput pun Safa belum melihat Tuan Halim maupun Baskoro. Kemana mereka berdua yang sebelumnya terlihat begitu khawatir?
Selain itu Edzar....
Tunggu, apa dia sedang mengharapkan kedatangan pria itu?
Safa menggeleng. Apa-apaan dia ini. Meski Edzar sudah menolongnya, Safa tak bisa untuk tidak membencinya. Safa beberapa kali menekan hatinya untuk tidak berharap lebih.
Edzar adalah pekerja hukum, sangat wajar bagi dia memberantas kejahatan. Tidak seharusnya kamu baper, Safa. Batinnya.
Keesokan harinya giliran Kamila yang berkunjung. Gadis itu datang tepat setelah keluarga besar Omanya pulang. Ternyata insiden kemarin sudah sampai ke telinga Tante dan Uwanya. Mereka berbondong-bondong menjenguknya dengan berbagai buah tangan.
Alhasil ruang rawatnya penuh beraneka macam hadiah. Sebagian besar bunga dan buah, ada juga cake beraneka rasa yang tidak terlalu manis. Khas selera keluarga Halim yang tidak suka makanan legit.
"Hiks, aku kira aku gak bakal ketemu kamu lagi. Hiks, aku kaget waktu denger kamu kecelakaan di tangga darurat. Yang ada di bayanganku justru adegan berdarah-darah kayak di film. Aku takut banget.... Huaa...."
Safa berdecak, telinganya sudah pengang mendengar tangisan Kamila yang menurutnya sangat berlebihan. Sejak kapan sahabatnya ini jadi begitu eksesif? Setahunya Kamila orang yang sangat realistis.
"Udah deh, Mil... Gak usah lebay. Orang aku gak papa, kok."
Tapi bisa saja yang Kamila pikirkan itu terjadi andai Edzar dan Diko tidak segera datang. Mungkin tubuhnya akan menggelinding sampai ke lantai dasar jika Edzar tak segera menangkapnya. Tentu lukanya juga akan lebih parah, beberapa tulangnya patah atau bahkan kepalanya remuk.
__ADS_1
Membayangkannya saja membuat Safa bergidik dan hampir bersujud jika tidak mengingat kondisi tubuh dan infus yang menghalanginya untuk bergerak.
"Salah, ya, aku nangis? Kamu hampir kehilangan nyawa!"
Safa memilih diam dan tak bicara lagi. Ada kalanya Kamila lebih kekanakan dari dirinya. Saat itulah giliran Safa yang harus mengerti perasaan Kamila. Jika Kamila sedang seperti ini lebih baik diam. Gadis itu hanya perlu suasana sunyi untuk menenangkan diri.
"Kalau kamu mati, aku gak bisa dapat duit lagi dari endorse...." celetuknya sekonyong-konyong. Seketika Safa kehilangan empatinya. Dasar medusa! Sudah ia duga Kamila tidak mungkin menangis hanya karena masalah sepele.
Hah!
"Masih banyak barang yang belum kamu endorse.... Jadi cepat sembuh, ya...."
Safa tak hentinya mencibir. Bisa-bisanya gadis itu membahas endorse di saat seperti ini. "Kamu jadi terdengar oportunis," gumamnya tak jelas.
"Kamu bilang sesuatu?" tanya Kamila polos dengan hidung merah dan mata sembab. Orang lain akan mengira dia benar-benar menangis untuk temannya. Nyatanya gadis itu menangisi sumber uangnya.
Cih.
Safa mendecih dan berbalik memunggungi Kamila. Membuat gadis itu berkedip bingung. "Kamu mau tidur? Ini bahkan belum tengah hari?"
"Tidak ada batasan kapan harus tidur untuk orang sakit!" ketus Safa.
"Kok, sensi? Kamu lagi mens? Atau ini efek terbentur kemarin?"
Safa mengerjap merasakan usapan halus di rambutnya. Dia benar-benar tertidur saat merajuk pada Kamila.
Jam berapa sekarang?
"Kamu sudah bangun," ucap halus seseorang.
Safa menaikkan matanya melihat Baskoro tengah tersenyum, tangannya berpindah mengusap pipi Safa sejenak, sebelum kemudian duduk di kursi samping ranjang.
"Mau minum?" tanya Baskoro.
Safa mengangguk. Lantas pria itu mengambil air di nakas dan membantu Safa meminumnya.
"Gimana keadaan kamu sekarang?"
"Sudah tak sepening kemarin, tapi badan Safa masih sakit-sakit...." keluhnya manja.
Baskoro mengulas senyum hangat, "Sabar, nanti juga sembuh. Makanya kamu harus makan dan minum obat. Om bawa sop iga. Dimakan, ya?"
"Tapi Safa gak enak makan. Lidah Safa pahit."
"Paksain. Meskipun sulit tapi ini demi menunjang kesembuhan kamu."
__ADS_1
"Tadi ayahmu datang, tapi kamu masih tidur. Terpaksa dia keluar lagi karena harus mengurus masalah kemarin. Satu pegawainya yang akan jadi saksi masih tak sadarkan diri."
Mendengar itu seketika Safa terlonjak, "Pak Anjas?" tanyanya memastikan.
"Heem," angguk Baskoro.
"Keadaannya.... Bagaimana?"
"Om dengar cukup parah, organ dalamnya terkena tusukan benda tajam. Dokter juga menyebutkan dia mengalami gegar otak ringan. Kondisinya sudah stabil setelah kemarin sempat kritis," terang Baskoro sembari tangannya berkutat menyiapkan sop ke dalam mangkuk.
Penjelasan pria itu membuatnya terhenyak. Tapi dia bersyukur Pak Anjas selamat. Safa benar-benar merasa bersalah karena meninggalkannya kemarin. Tapi itu karena dia harus menyelamatkan diri dari kejaran Galuh.
"Sudah, jangan dipikirkan. Sekarang kamu makan. Aaa...."
Safa membuka mulut menerima suapan nasi beserta daging iga lembut yang gurih dengan kuahnya yang segar. Pikirannya berkecamuk memikirkan berbagai hal.
Kondisi Pak Anjas separah itu. Galuh benar-benar sakit jiwa. Safa jadi takut hanya dengan membayangkan ekspresi wajahnya kemarin.
.............
"Maaf karena kamu baru melihat Ayah sekarang, Sweetheart."
Safa tersenyum di tengah usapan Nyonya Halim yang tengah memakaikan skincare pada wajahnya. Meski sedang sakit Safa tak mau melewatkan rutinitas wajib merawat kulit. Bisa-bisa sel kulit matinya menumpuk yang akan menyebabkan timbulnya flek hitam.
No! Safa tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Gak papa, Ayah. Safa ngerti, kok. Lagian dari kemarin banyak yang berkunjung." Kecuali Edzar, lanjutnya dalam hati.
Safa tersenyum kecut, lagi-lagi dia memikirkan Edzar. Sejak kemarin Safa tak melihat batang hidungnya sekali pun. Tidak kah pria itu mau menjenguknya?
Setelah bersikap manis akhir-akhir ini, Edzar kembali menghempaskan Safa ke jurang kesadaran.
Safa tidak tahu sang ayah menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Pria itu memandang putrinya dengan rumit. Secuil rasa marah dan kecewa membayangi matanya.
Dia ingin bertanya sesuatu, tapi kondisi Safa sekarang ini belum memungkinkan untuk membahasnya.
Menghela nafas pelan, Tuan Halim kembali bersuara, "Mulai saat ini kamu tidak perlu lagi berangkat ke kantor."
Safa menoleh cepat, pun Nyonya Halim yang menghentikan kegiatannya merawat Safa. Keduanya menatap sang kepala keluarga dengan ekspresi heran.
Safa bertanya, "Lho, kenapa? Bukankah Abang masih ditahan? Pak Anjas juga masih sakit?"
Sejenak tak ada jawaban. Safa berkedip merasakan hawa yang berbeda dari ayahnya.
Ada apa? Apa Safa berbuat sesuatu yang salah?
__ADS_1