SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 38


__ADS_3

Kamila masih bertahan dengan wajah keponya. Dia penasaran dengan orang bernama Leo, apa benar Leo yang sama seperti yang ia pikirkan?


Safa menyimpan beberapa gelas tuscany di hadapan Kamila. “Iya. Yang sering kamu jadiin babu waktu di sekolah.” Safa menyahut pada pertanyaan Kamila sebelumnya.


“Serius, itu Leo si cupu?” tanyanya masih tak percaya. “Kok, beda banget?”


Safa berdecak. Bisakah Kamila tidak bertanya lagi? Safa pusing. “Ya namanya juga manusia, Mila... mereka bisa berubah kapan aja.”


“Kalau gak percaya liat aja matanya. Kamu bisa menemukan tahi lalat di sana.”


Safa menyanggah saat Kamila hendak berbicara lagi. “Udah. Gak usah tanya-tanya. Mending kamu isiin eskrim ini gelas.”




“Dah, Safa. Aku pulang, ya. Jangan kangen.”



Safa berdecak malas, “Siapa yang mau kangen sama orang kayak kamu? Kurang kerjaan.”



“Kamu imut banget, sih kalau ketus gitu. Aku ‘kan jadi makin suka.”



“Apaan, sih. Udah sana pulang!” Safa mendorong Akmal hingga keluar gerbang. Dia benar-benar sudah lelah ingin istirahat.



Hari sudah sore, jujur saja Safa kesal dan merasa terganggu dengan kedatangan mereka. Entah kenapa hari ini dia agak sensitif. Mungkin karena tubuhnya yang memang kurang fit.



Akmal menaiki motor besarnya dan memasang helm full face. Disusul Leo yang ternyata juga menggunakan kendaraan sejenis. Safa tidak tahu apakah itu masih satu merek atau bukan, keduanya terlihat sama.



“Aku pulang. Nanti kalau kamu udah siap belajar masak, hubungin aja, ya?”



Safa mengangguk melempar senyum tipis. Benar-benar moodnya sedang tidak baik. Bawaannya ingin baring terus.



“Ngapain belajar masak? Aku bisa bawain kamu makanan enak setiap hari.”



Wajah Safa semakin malas. Akmal dengan sifat tak ingin kalahnya.



“Udah sana, ah. Buruan deh kalian pulang!”



“Gak mau peluk dulu?”



“Oke-oke, aku pulang.” Akmal mengangkat kedua tangannya melihat Safa berancang ingin memukul. “Heh, Cupu. Duluan sana!” Akmal tidak mau saat dirinya berlalu Leo si cupu itu malah berkesempatan berinteraksi lebih lama dengan Safa.



Karena Leo malas berdebat akhirnya dia jalan duluan. Bukan menuruti keinginan Akmal, hanya saja dia tak tega melihat wajah Safa yang kian memucat.

__ADS_1



Tin!



Akhirnya Safa bisa leluasa setelah dua pria itu pergi. Ya Tuhan, rasanya dia baru saja terbebas dari ruangan sempit yang menyesakkan. Safa gak bohong, kepalanya terasa pusing sekarang. Sepertinya dia memang butuh tidur.



“Aku juga pulang, ya. Kamu gak papa? Bundamu kapan balik?”



Safa mengangkat bahu, “Bilangnya sih sekarang lagi di jalan.”



Nyonya Halim pergi sebelum dzuhur tadi. Katanya mau jenguk teman yang melahirkan.



“Kamu pulang aja gak papa. Ada Bik Inem. Aku juga bukan anak kecil, kali.”



Safa melihat raut keberatan di wajah Kamila. Tapi dia berhasil meyakinkan dan Kamila pun akhirnya pulang.



Bertepatan dengan itu Safa melihat mobil Edzar. Sepertinya pria itu baru pulang kerja. Seiring jantungnya yang berdetak kencang, Safa mengingat kembali ucapan Kamila. Seandainya benar wanita itu pacar Edzar Safa benar-benar harus mundur. Maka dari itu Safa memutuskan kembali masuk ke rumah.



Tapi entah bagaimana ceritanya kaki Safa keserimpet sandalnya sendiri, menyebabkan dia jatuh dengan tidak elitnya. Dalam hati Safa menangisi kecerobohannya. Kenapa, sih, dia sering banget mempermalukan diri di depan gebetan? Atau sebentar lagi akan jadi mantan gebetan? Kok, Safa gak rela, ya.




Edzar yang tiba-tiba berada di belakangnya kontan membuat Safa berbalik dan beringsut mundur. Responnya itu terlihat berlebihan di mata Edzar. Gadis itu seperti ketakutan, dan itu sangat mengganggu.



Sejurus kemudian Safa mengubah raut wajahnya. Dia melempar senyum pada Edzar, “E-eh, Om. Baru pulang?” tanyanya gugup.



Edzar tak menjawab, pria itu masih sibuk menelisik tindak-tanduk Safa. Dari cara gadis itu merespon kedatangannya, Edzar tahu ada sesuatu yang tidak beres. Dia mengulurkan tangan bermaksud membantu Safa untuk berdiri. Safa pun meraihnya dengan sedikit ragu.



“Masuklah. Istirahat yang cukup. Wajahmu pucat.”



Safa mengangguk kaku, “I-iya.” Kemudian berbalik.



“Satu lagi.”



Baru beberapa langkah suara Edzar kembali mengusik. Safa menoleh lagi pada pria itu.



“Kalau bisa... pergilah ke dokter. Atau psikolog. Sepertinya kamu sedikit mengalami trauma.”

__ADS_1



Apa saat ini Edzar sedang peduli padanya?



\=\=\=



Pepohonan rindang, danau buatan, lahan hijau yang asri tak sekalipun membuat Safa merasa lebih baik. Pagi-pagi sekali Dava membangunkannya dan menyeretnya kemari. Pria itu mengajaknya berolahraga di jogging track yang ada di kawasan taman komplek. Aduh... malas banget, deh. Safa paling gak suka dengan kegiatan satu ini. Selain karena capek Safa juga benci berkeringat.



“Kamu itu harus sering-sering olahraga. Biar gak meletoy. Senggol dikit, jatoh. Hah! Lemah.”



Safa cemberut. Dava sedang melakukan pemanasan, pria itu melotot menyuruhnya melakukan hal yang sama. Dengan setengah hati Safa mengikuti gerakan sang kakak.



Tiba-tiba Dava berdecak, “Yang bener dong geraknya. Ototnya regangin. Kamu angkat tangan aja setengah-setengah.”



Lagi, Safa hanya bisa menurut dengan wajah merengut. Dava cerewetnya udah kayak ibu-ibu komplek. Cocok banget kalau gabung sama tukang gosip.



“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.”



Ganti kiri.



“Satu, dua, tiga, empat....”



Dava bersuara layaknya instruktur olahraga. Lelaki itu melakukan macam-macam gerakan yang diikuti Safa dengan malas. Sampai tiba saatnya mereka lari di jalur lintasan yang mengelilingi danau.



Mungkin jarak 1 kilometer tidak terlalu besar bagi mereka yang terbiasa. Tapi bagi Safa yang hampir tidak pernah olah tubuh ini cukup membuat nafas berat, sangat malah.



Baru satu putaran aja dia udah engap, apalagi kalau ditambah 2 putar lagi seperti yang Dava bilang. Dahlah, mending dia nyemplung ke danau, eh tapi Safa gak bisa berenang, huhu...



“Bang... udah, ah capek...” keluhnya dengan badan membungkuk. “Safa baru sakit, lho. Tega banget di suruh latihan militer kayak gini.” Nafasnya terdengar ngos-ngosan.



“Agus Yudhoyono nangis denger keluhan kamu. Dia latihan 17 kilometer sambil bawa beban 17 kilogram.”



“Ya ‘kan beda, Bang ... Safa cuman remahan kacang mana bisa lari sejauh itu.”



“Iya, tahu. Kamu angkat beras sekilo aja udah salah urat.”


__ADS_1


Safa manyun. Kayak Dava bisa aja lari 17 kilo.


__ADS_2