
"Sebenarnya tugas anda cukup mudah. Anda hanya perlu membantu pekerjaan Direktur Utama."
Mudah dia bilang. Sementara aku harus berpikir keras dan bolak-balik membaca paragraf demi paragraf per halaman untuk bisa benar-benar memahaminya. Oh, ayolah.... Baru menelusuri satu baris saja matanya sudah berat. Ngantuk!
Andai saja ini novel, Safa bisa membacanya selama berjam-jam tanpa rasa jenuh.
Tapi syukurlah, sejauh ini Pak Anjas banyak membantu dan mengajarinya secara bertahap. Meski Safa belum ngerti-ngerti amat. Tapi, yah... sedikit banyak dia sudah tahu visi misi perusahaan.
Sebenarnya ini sedikit melenceng dari tujuan. Safa bukan niat kerja di sini, Safa hanya diminta Dava mencari sesuatu, dan akan lebih mudah jika Safa menduduki posisi ini. Tapi, Safa saja tidak tahu harus memulai dari mana.
Haih, kenapa harus Safa? Kondisi ini benar-benar menyulitkannya. Tapi... Dava jauh lebih sulit. Setelah pertemuannya dengan Lalisa tiba-tiba pria itu mengiriminya surat berisi mandat untuk menggantikannya di perusahaan.
Awalnya Safa menolak keras, tapi sepertinya Dava sudah mewanti tunangannya untuk mendoktrin Safa agar setuju. Huh, dua orang itu. Tunggu saja pembalasannya. Tuan Halim bahkan tidak tahu mengenai hal ini, sang ayah hanya tahu bahwa Safa mulai ingin belajar.
Melihat dari perubahannya akhir-akhir ini Tuan Halim percaya. Karena Safa sendiri sudah jarang meminta uang untuk berfoya-foya. Dalam bulan ini Safa murni mengandalkan penghasilannya sebagai selebgram. Tidak ada yang tahu betapa sulitnya Safa menekan sifat borosnya mati-matian.
Kelembutan Tuan Halim memudahkannya untuk mendapat izin. Sebetulnya Safa merasa tak enak hati karena memanfaatkan otoritas dan kekuasaan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, Safa terlanjur menyetujui usulan Dava. Lagipula ini hanya sementara, setelahnya Safa tidak peduli siapa yang akan duduk di kursi kakaknya.
"Sampai sini anda mengerti?"
"Ah? I-iya." Safa mengangguk dan tersenyum canggung. Faktanya dia sama sekali tak mendengarkan penjelasan Pak Anjas barusan.
"Kalau begitu anda bisa istirahat. Sekarang sudah jam makan siang. Mau saya pesankan sesuatu?"
"Eh, tidak perlu. Saya bisa pergi ke kantin atau pesan sendiri. Terima kasih atas bantuannya hari ini, Pak Anjas."
"Ini bukan apa-apa. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya membimbing anda karena Pak Dirut sendiri yang meminta."
"Jika ada sesuatu yang diperlukan, anda tidak perlu canggung berbicara pada saya. Saya siap membantu sebisa mungkin."
"Ah, iya terima kasih." Safa hanya bisa mengangguk dengan senyum lebar yang dibuat-buat. Apa Pak Anjas memang biasanya sekaku ini? Safa jadi berasa berhadapan dengan butler kerajaan alih-alih pegawai. Dari mana Tuan Halim mendapat orang seperti ini?
Fiuuh...
Safa menghela nafas lega setelah Pak Anjas keluar. Kepalanya bertumpu di atas meja dan terpejam. "Ini sih namanya sekolah, bukan kerja," gumamnya pelan.
.................
"Gimana hari pertamamu? Ada masalah?"
"Semua berkas-berkas itu adalah masalah bagiku," keluh Safa tak bersemangat.
Tuan Halim tertawa renyah mengacak pelan rambut Safa. "Wajar, namanya juga permulaan."
"Tapi Ayah, Safa tidak punya titel sarjana, pengalaman Safa juga nol. Orang-orang pasti merasa aneh."
"Kamu kan tidak sepenuhnya bekerja, hanya perlu mengamati Pak Anjas. Bisa dibilang kamu belajar di sini."
"Kalau begitu, seharusnya Pak Anjas yang jadi Wakil Direktur."
__ADS_1
"Entahlah. Sepertinya beliau memang sudah nyaman dengan posisinya sekarang. Berkali-kali ditawari naik jabatan pun tidak mau."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Safa heran. Padahal Pak Anjas itu orangnya sangat intelek.
"Mana Ayah tahu. Lebih baik kamu ceritakan kegiatan kamu pagi ini."
"Ck, bukankah sudah pasti ayah tahu semuanya? Yang Safa pelajari juga hasil preferensi Ayah."
"Maksud Ayah apa kamu menemui kesulitan?"
"Sudah Safa bilang semua itu sulit."
Tuan Halim mengusap puncak kepala anaknya, tatapannya yang teduh membuat siapa saja merasa tenang. "Tidak ada yang mudah saat pertama kali mencoba. Bakat bisa kalah oleh tekat. Artinya, orang pintar sekalipun bisa kalah dengan orang yang memiliki kemauan."
"Ayah tidak akan memaksa kamu. Jika kamu lelah dan merasa tidak mampu maka berhentilah. Ayah lebih khawatir kamu stres."
Safa menoleh lesu, "Ternyata jadi kaya itu tidak mudah, ya? Safa jadi merasa bersalah karena sering habisin uang Ayah."
"Ayah tersinggung jika kamu merasa seperti itu. Sudahlah, sudah kewajiban bagi Ayah untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Berhenti mengeluh dan cermati pekerjaan barumu."
"Ayo ke kantin. Kamu harus makan biar energimu terisi kembali."
"Gak pesan aja?"
"Kalau pesan, kamu pasti pilih makanan tidak sehat. Mending ke kantin yang sudah jelas teruji ahli gizi."
Cih.
Safa merengut. Di sini ia tidak bisa bebas bertingkah. Benar-benar menyebalkan. Safa harus bersikap di luar kebiasaan. Seperti beramah-tamah kepada orang asing dan sebagainya.
..........................
Matahari sore bersinar cerah. Safa pulang bersama Tuan Halim serta Pak Iwan sebagai sopir. Ia bersandar lelah di kursi belakang. Safa merasa kembali ke masa sekolah berangkat pagi pulang petang.
Hari pertama sudah seletih ini. Bagaimana ke depannya. Apa Safa masih bisa bertahan?
Safa melirik ayahnya yang duduk di samping tengah memainkan tablet. Grafik-grafik memusingkan berjejer di atas layar. Apa tidak lelah seharian bekerja menguras otak? Kalau Safa jadi sang ayah dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Sekarang pun kepalanya pasti ngebul gara-gara menerima pelajaran dari Pak Anjas.
Malas menegur, Safa mengalihkan lagi matanya ke luar jendela, menatap padatnya hilir mudik kendaraan di saat jam pulang kerja. Pikirannya benar-benar kosong, mungkin karena efek mengantuk juga.
Baru saja dia hendak mengkhayal ketemu Kim Min Kyu, sebuah goncangan mengejutkannya dan membuat Safa terlonjak.
Jlug.
"Ayah, ada apa?" tanyanya heboh karena mobil tiba-tiba berhenti. Beruntung Pak Iwan masih sempat meminggirkan mobilnya dan tidak mengganggu pengendara lain.
"Entahlah, tapi sepertinya ada masalah di ban mobil. Coba, Pak Iwan cek."
Tanpa diminta pun Pak Iwan sudah melepas sabuk pengaman dan bersiap keluar. Lelaki itu berkeliling mengamati satu persatu roda kendaraan.
__ADS_1
"Wah... Benar, Tuan. Ban mobil belakang kempes. Bocor ini, ada pakunya."
"Terus gimana?"
"Ya harus telpon bengkel."
"Lama, dong?"
Tuan Halim menarik bibirnya berusaha sabar. "Lama, Sayang. Montirnya juga harus bermacet-macetan untuk sampai ke sini."
"Yaahh...." Wajah Safa keruh seketika. Padahal dia sudah berharap cepat sampai ke rumah dan berbaring di ranjangnya yang empuk. Tubuhnya pegal-pegal, belum lagi kakinya yang seharian memakai high heels. Mungkin ini yang dirasakan para wanita karir di luaran sana.
"Pesan taksi aja, ya? Maaf karena kamu harus mengalami ini. Anak Ayah pasti capek banget," ucap Tuan Halim mengusap sekaligus merapikan rambut Safa dengan wajah menyesal.
"Gak papa, Ayah. Ini, kan bukan salah Ayah maupun Pak Iwan. Kenapa harus minta maaf? Pak Iwan juga kenapa pasang muka kayak gitu? Jelek tau."
Wajah kedua lelaki itu sangat tidak enak dilihat. Seakan-akan mereka melakukan kesalahan fatal sampai harus meminta maaf.
"Sekitar sini gak ada cafe atau warteg." Tuan Halim mengedarkan pandangan saat mereka tiba di luar.
"Di sana ada minimarket. Kamu jajan dulu, gih."
"Males jalan."
"Mau Pak Iwan beliin, Non?"
Sontak Safa menggeleng, "Enggak usah, Pak Iwan~ Safa lagi gak mau makan apapun." Safa maunya pulang dan bobo di kasur, lanjutnya dalam hati.
Lama mereka menunggu montir yang beberapa menit lalu dihubungi. Safa duduk di atas kap mobil sambil bersidekap dengan kaki mengetuk-ngetuk jalan. Tanpa menyadari posenya membuat orang-orang yang lewat tak bisa untuk tidak menoleh dua kali. Penampilannya yang modis bak artis jelas menarik perhatian. Sekali lihat saja mereka tahu Safa bukan orang biasa. Bahkan sebagian mengira dia selebriti Korea yang nyasar di Jakarta.
Aduh, kenapa lama sekali.
Safa mengusap keningnya dengan tisu saat rasa gerah mulai mengganggu. Safa sudah pesan taksi, tapi si pengemudi pasti juga sama berperang dengan kemacetan. Tak ada sesuatu yang efisien untuk cepat sampai ke rumah. Semuanya memakan waktu lama.
Di tengah kekeruhan hatinya, sayup-sayup ia mendengar suara familiar mengobrol di balik punggungnya, tempat Pak Iwan dan Tuan Halim berdiri di pinggir jalan.
Safa tidak tahu dengan siapa mereka bicara karena posisi yang berlawanan. Safa ada di depan mobil, sementara Pak Iwan dan Tuan Halim ada di belakang.
Namun tak lama kemudian derap langkah terdengar mendekatinya. Safa enggan menoleh karena kadung nyaman dalam posisinya, menatapi ujung sepatu yang secara berkala membentur aspal.
"Safa," panggil Tuan Halim.
"Hmm...." Safa menjawab dengan gumaman panjang. Tampak sekali gadis itu tengah merasa jenuh.
"Kamu pulang sama Nak Edzar saja, ya? Taksi kamu juga kayaknya lama. Dicancel aja."
Gerakan kakinya berhenti. Safa mematung sebentar berusaha memastikan pendengarannya tidak salah. Seolah tersadar, Safa memutar kepalanya cepat.
Mulutnya sedikit terbuka dengan raut tak percaya.
__ADS_1
Lho, lho, lho, ini apa?
Kenapa ada Edzar di sini?