SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 47


__ADS_3

Pagi-pagi sudah gerah, pagi-pagi sudah panas. Sayangnya ini bukan tentang cuaca yang beringsang, melainkan hati Safa yang meriang. Bukan meriang merindukan kasih sayang, lebih tepatnya meriang melihat gebetan digoda orang.


Mbak Alis ngapain, sih, pagi-pagi sudah bertamu ke rumah Edzar? Mana pakai bawa-bawa rantang segala. Biar apa coba? Ikut-ikutan Safa, gitu? Hih, gak kreatif banget. Edzar lagi, kenapa gak diusir aja itu demit. Malah asyik ngobrol, gak tahu apa di sini ada yang jealous.


Ih, kesel, deh.


Safa menghentak kaki sambil merengut. Bergegas dia meninggalkan balkon dan keluar kamar menuju dapur.


“Bik, ini udah siap?” tanyanya pada Bik Inem.


“Sudah, Non. Semua menu yang Non minta, bibi masakin dan masukin ke sana.”


Safa mengangguk mengambil rantang yang sudah disiapkan Bik Inem.


“Makasih, ya Bik.” Safa langsung melesat keluar dengan buru-buru. Dia tidak mau calon imamnya dibiarkan berlama-lama dengan ulat keket yang akan berpotensi merusak bibit-bibit cinta di hati Edzar.


Bukan Safa tidak percaya pada kemampuan dan pesonanya, bukan pula Safa minder pada Alisia Hartanto yang sukses dengan karirnya. Hanya saja Safa tidak bisa menahan hatinya untuk tidak cemburu. Hey, siapa yang tidak akan panas melihat pria yang disukai berdekatan dengan wanita lain? Tanyakan pada bocah SD yang sudah mengenal pacaran.


Safa sempat berpapasan dengan Nyonya Halim yang baru menuruni tangga. Kening sang bunda mengernyit menghampiri Bik Inem di dapur sambil sesekali menoleh pada kepergian Safa.


“Buat Edzar lagi?”


“Ya, siapa lagi, Nyonya? Non Safa ‘kan emang lagi kesemsem sama tetangga sebelah.”


Nyonya Halim menggeleng, akhir-akhir ini anak itu sering sekali belanja bahan makanan, yang setelahnya akan dimasak Bik Inem setiap pagi. Itu khusus untuk Edzar, yang lain dilarang menyentuh. Lagaknya kayak dia yang masak aja.


“Ck, bocah itu. Antusiasmenya mengingatkan saya pada ayahnya. Dia juga se-semangat itu saat mendekati saya dulu.”


Bik Inem terkekeh, “Namanya juga buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Nyonya,” ucapnya menirukan sebuah kalimat dari google.


Kriett....


Bunyi derit terdengar saat Safa membuka gerbang. Dia menyembulkan setengah badannya terlebih dahulu. Sontak Edzar dan Alisia menoleh padanya. Kompak banget, sih. Sayang, mereka tidak ditakdirkan untuk bersama.

__ADS_1


Safa tersenyum kelewat lebar hingga matanya menyipit. Bukan, tapi hilang. Ingat, mata Safa itu minimalis. Tangannya melambai riang pada Edzar, tak memedulikan keberadaan Alisia yang seharusnya juga disapa. Itu menurut kitab etiket, tatakrama, dan sopan santun. Pendapat Safa lain lagi, kita tak perlu repot-repot beramah-tamah pada seseorang yang memang menjadi saingan. Ini namanya No Munafik Munafik Club.


“Om Edzar.” Safa meloloskan seluruh tubuhnya melewati gerbang. Kakinya berderap ringan menghampiri sang pujaan. Lagi-lagi dia mengabaikan Alisia yang kini berwajah keruh. Apa? Mau cemburu? Hoho... akan Safa tunjukan apa itu cemburu yang sebenarnya.


“Om, maaf Safa agak telat pagi ini. Semalam Safa abis maraton Drakor sampai gak sadar udah dini hari.” Bibir Safa mengerucut merasai efek begadang yang dideritanya.


Mata berat, tubuh lemas, nafas yang mudah lelah. Padahal Safa sudah mewanti pada dirinya untuk tidak begadang, tapi tetap saja prinsipnya luruh saat menemukan drama yang kepalang seru. Tanggung, Safa gak akan bisa tidur kalau rasa keponya belum tuntas.


Walau begitu, Safa tetap mengusahakan untuk tampil segar di setiap pagi. Bertemu Edzar sudah merupakan agenda wajib baginya, Safa tidak mau tampak kusut di depan lelaki itu. Pantang baginya terlihat jelek.


“Oh, iya. Ini menu baru, Om. Dijamin pasti enak. Dicoba, ya.” Safa mengangkat rantangnya ke hadapan Edzar. Senyumnya masih belum luntur menatap pria itu. Safa memang selalu memberi Edzar makanan yang berbeda. Kalau pun sama itu pasti sudah lewat beberapa hari. Biar gak bosan, katanya.


Alisia yang melihat itu langsung mencibir, “Iyalah enak, pasti pembantunya yang masak,” gumamnya pelan tapi masih terdengar jelas.


Safa melirikkan matanya pada Alisia. Wanita itu sudah rapi dengan setelan kerjanya. Berbanding terbalik dengan dress bunga yang Safa kenakan dan sandal bulu rumahan yang terlihat sangat lembut. Safa lupa mengganti alas kakinya tadi.


“Memangnya kenapa? Toh, tak ada batasan dalam berbagi ‘kan? Kecuali kalau ada niatan tertentu ngasihnya,” ucap Safa sambil melengos. Senyumnya kembali tersungging saat menatap Edzar. Dalam hati dia mengecimus, apa bedanya dia dan Alisia? Mereka sama-sama punya tujuan mendekati Edzar.


“Apa?”


“Kamu nuduh saya ada maunya, begitu?”


Safa mengedipkan mata dengan ekspresi bingung. “Memangnya Mbak Alis mau apa?” tanyanya polos. Apa hanya dia yang merasa percakapan mereka tidak nyambung?


Edzar yang sejak tadi hanya diam merasa pusing. Siatuasi macam apa ini? Merepotkan.


Tak lama terdengar sebuah getaran dari sakunya. Dalam hal ini ponselnya seolah jadi penyelamat. Telpon dari Kajari membuat Edzar menghela nafas, entah lega atau apa. Kakinya sedikit mundur menjauhi dua wanita di hadapannya.


“Iya, halo?”


“.......”


“Saya masih di rumah, Pak. Sebentar lagi berangkat.”

__ADS_1


Kepalanya terlihat mengangguk mendengar seseorang di seberang sana.


“Baik, saya secepatnya ke sana. Terimakasih.”


Edzar memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku. Matanya kini melirik dua manusia yang entah kapan mereka akan pergi.


“Om udah mau berangkat?”


Edzar mengangguk.


“Itu-“


“Mbak, ini rantangnya sudah saya cuci bersih. Terimakasih makanannya. Tadi saya cicipi sedikit. Enak, hehe.”


Tiba-tiba Bik Yah datang membawa seperangkat rantang milik Alisia. Putri Pak RT itu menerimanya dengan enggan. Matanya melihat Edzar yang sudah bersiap memasuki mobil.


“Mas Edzar mau berangkat? Gak sarapan dulu, gitu?” Dalam hati dia berharap Edzar mengulur waktu dan mencicipi masakannya yang sudah dihidangkan Bik Yah di meja makan. Walau sepertinya itu tidak mungkin, Edzar terlihat sangat buru-buru. Sia-sia dong dia memasak.


Safa yang melihat itu cekikikan dalam hati. Mampus, nangis gak tuh?


Edzar tak menjawab dan bersikap masa bodoh. Tubuhnya bergegas mendekati mobil di belakangnya, membuka pintu lalu meliukkan badan duduk di kursi kemudi. Safa segera berlari mengikuti, tangannya menahan kaca mobil yang hendak Edzar tutup.


“Tunggu dulu, Om.”


“Ini bekalnya ketinggalan.” Tanpa persetujuan Safa menaruh rantangnya di atas pangkuan Edzar. Lelaki itu hendak protes, tapi Safa tak membiarkan itu.


“Jangan nolak. Om belum makan, pasti di sana lapar. Daripada harus capek jajan mending makan makanan Safa.” Sikapnya terdengar seperti menasihati anak kecil, membuat Bik Yah mengikik menahan tawa di samping Alisia yang berwajah kusut.


Edzar menghela nafas menyimpan rantang itu di kursi penumpang. Safa kembali menahan Edzar yang hendak menarik tuas. Lelaki itu berdecak, terlihat sekali dia sudah mulai kesal.


“Satu lagi, Om. Safa sengaja beli ini buat Om.” Tangannya mengulurkan sebuah benda berupa mouth spray pada Edzar. “Kemaren mulut Om bau rokok. Safa gak suka,” ujarnya senewen membuat orang salah faham.


Alisia mengernyit dalam, memangnya mereka habis apa sampai-sampai Safa tahu aroma mulut Edzar?

__ADS_1


__ADS_2