
Safa tak menampik bahwa dia merasa senang bisa berdekatan dengan Edzar. Harapan yang kemarin sempat terkubur tiba-tiba mencuat. Pikiran Edzar yang sudah memiliki pacar Safa lupakan sejenak. Untuk kali ini saja biarkan Safa menghabiskan waktu dengan pria itu walau sebentar.
Berjalan kaki memang lelah, tapi jika bayarannya bisa berduaan lebih lama dengan Edzar Safa ikhlas. Entah apa dia harus bersyukur karena Dava tak membawa kendaraan saat ke taman, pun dengan Edzar yang juga berlaku sama.
Saat ini mereka pulang berdua karena sebelumnya Dava sempat dijemput oleh temannya, masalah bisnis katanya. Hilih, hari Minggu masih aja ngurusin kerjaan. Apa gak mumet itu hidup? Tapi gak apa-apa, deh. Semakin Dava banyak uang, semakin banyak pula jatah mingguan Safa, hihi.
“Om, mampir makan dulu, yuk. Safa lapar, hehe.”
Sepotong sandwich mana cukup untuk Safa, apalagi dia butuh energi lebih sehabis lari, ditambah pula jalan kaki. Hadeuh... gempor dia sampai rumah.
Edzar menoleh sejenak, lalu mengangguk. Mereka memasuki salah satu cafe dan memilih tempat duduk outdoor. Cafe lumayan padat karena mungkin orang-orang memilih kemari setelah dari taman.
Safa memesan smoothie mangga dan macaroni cheese, plus americano dan pisang goreng untuk Edzar. Safa terkikik geli, dia jadi teringat eyang kakungnya di Surabaya yang senang menikmati kopi hitam dan goreng pisang. Safa jadi ingin berlibur lagi ke sana. Tapi susah kalau melihat kesibukan Dava dan Tuan Halim. Sepertinya kapan-kapan dia ajak Bunda dan Pak Iwan saja.
Makanan sudah tersaji. Safa bahagia bukan main bisa berkesempatan brunch bareng Edzar. Tahu brunch? Artinya breakfast and lunch. Karena ini sudah lewat jam 10 mana mungkin Safa menyebutnya sarapan ‘kan?
Ngomong-ngomong, ini kali kedua Safa ditraktir Edzar. Semoga ada kali ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, ya.
Melihat Edzar menyeruput kopi seperti itu berkah banget buat Safa. Diam-diam Safa mengangkat ponsel berlagak sedang chating, padahal sebenarnya dia sedang memotret Edzar. Puluhan gambar berhasil dia ambil. Karena buru-buru takut ketahuan Safa gak begitu memperhatikan angle, yang penting dapat, udah gitu aja.
Dengan santai Safa menyesap smoothie-nya, bibirnya mengulum senyum dengan hati berbunga. Akhirnya dia bisa ngafe bareng Edzar. Jika bisa Safa meminta, Safa ingin menghentikan waktu sekarang juga. Safa tidak rela kalau setelah ini harus berjarak lagi dengan Edzar.
Gurihnya mac and cheese tak segurih pemandangan di depannya. Edzar yang berkeringat sehabis jogging membuat otak Safa berkelana. T-shirt hitam pas badan dan celana jogger yang dikenakannya entah kenapa terlihat sangat mempesona. Sebenarnya yang membuat Safa gagal fokus sejak tadi adalah topi. Ternyata Edzar makin ganteng kalau pakai itu.
Aahh... tambah klepek-klepek Safa. Macho banget, sih om-om satu ini. Jadi kepingin Safa bawa pulang lalu kunci di kamar. Stop, Safa. Pikiranmu makin gila. Kalau Edzar tahu isi kepalamu pasti dia sudah kabur sejak tadi.
__ADS_1
Selesai mengisi perut, Safa dan Edzar lanjut jalan pulang. Safa tak membuang kesempatan untuk membikin vlog, beragam filter ia coba dan terapkan.
Edzar sedikit terlonjak saat tiba-tiba lengannya dirangkul, dia menoleh hanya untuk mendapati senyum secerah matahari dari gadis di sampingnya. Merasa tak nyaman, Edzar menggerakkan tangannya hendak melepas, yang mana hal itu malah membuat pegangan Safa mengerat.
“Bentar, Om. Safa pinjam lengan sebentar. Biar gak ngenes-ngenes amat gitu dikira jalan sendiri.”
Anehnya Edzar nurut-nurut aja. Laki-laki itu membiarkan Safa berbuat apapun sepanjang jalan. Hingga tiba di mana gadis itu membuat permintaan absurd yang akan membuat orang lain geleng kepala saat mendengarnya, termasuk Edzar.
“Om, Safa penasaran banget. Om mau bantu nuntasin, gak?”
Edzar tak lantas menjawab, keningnya berkerut mendengar pertanyaan Safa.
“Tapi Om jangan marah, ya.”
Apa sekiranya yang akan gadis itu lakukan sampai Edzar harus marah?
Menghela nafas, Edzar hanya mengangguk tak acuh, semata-mata untuk mempercepat apapun itu yang Safa butuhkan.
Edzar tak pernah menduga bahwa permintaan gadis itu lebih gila dari yang dia kira. Tanpa peringatan Safa menggigit lengan atas Edzar membuat lelaki itu seketika meringis. Ekspresi pertama yang Safa lihat selain ketenangan tak beriak.
Akhirnya dia bisa melihat warna lain di wajah Edzar. Tanpa rasa bersalah Safa nyengir menjauhkan mulutnya.
“Hehe, Safa tuh penasaran banget sama otot tangannya Om Edzar. Kayaknya keras banget gitu. Maaf, ya, Safa gigit. Sakit, gak?” tanyanya polos.
Dan Edzar, dia hanya bisa menghela nafas tak habis pikir. Mimpi apa dia sampai bisa bertemu gadis sekonyol Safa? Baru kali ini Edzar kena gigit seorang wanita.
__ADS_1
“Om jangan marah. Tadi udah janji, lho...”
Edzar tak menjawab. Percuma dia mau ngomong apa Safa tak akan dengar karena gadis itu tak terlihat menyesal sedikit pun.
Edzar mengalihkan pandangan menyisir sekitar, Safa mengernyit saat lelaki itu mendekati sekumpulan pemuda dengan motor mereka di pinggir jalan.
Entah apa yang Edzar bicarakan pada mereka. Yang Safa tahu setelahnya Edzar membawa salah satu dari motor-motor itu. Safa menjerit dalam hati saat Edzar dan motornya mendekat. Sumpah, keren banget! Damagenya gak ada obat! Kayaknya Edzar naik ontel pun tetap elok dipandang mata.
Safa mematung sampai tak sadar ketika Edzar memanggilnya berkali-kali. Hingga matanya berkedip saat Edzar mengayunkan telapak tangan di depan wajahnya.
“Cepat naik. Kecuali kamu mau saya tinggal di sini.”
Safa terdiam sebentar. Dia mengamati motor besar yang ditumpangi Edzar.
Motor besar lagi. Klise gak sih? Kemarin Akmal dan Leo, sekarang Edzar. Kesannya kayak gak ada jenis motor lain yang lebih keren dan istimewa. Tapi mau bagaimana lagi, yang Edzar temui itu orang-orang yang tergabung dalam komunitas, jadi gak heran motor mereka sama semua meski sebagian beda warna.
Dengan ragu Safa menginjak pijakan untuk naik. Setelah dirasa pas Edzar pun melajukan motornya melewati para anak muda itu sembari membunyikan klakson. Safa malu saat mereka bersorak, tapi tak ayal hatinya juga merasa bahagia.
“Om tadi bicara apa? Kok, mereka bisa izinin gitu aja motornya dipinjam?”
Edzar hanya menjawab singkat, “Gak penting.”
Safa merengut, bibirnya mencibir menirukan kalimat Edzar tanpa suara. Tapi setelahnya dia tersenyum, memajukan tubuh merapatkan duduknya memeluk perut Edzar. Dapat Safa rasakan lelaki itu sedikit menegang, tapi Safa tak hiraukan. Selagi ada kesempatan siapa yang peduli?
“Om marah, ya? Jangan marah, dong ... Safa kan cuman penasaran.”
__ADS_1
Masih tak ada jawaban. Lupa, Edzar memang sehening ini orangnya. Entah itu marah atau enggak kayaknya sama aja.