SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 186


__ADS_3

Waktu bergulir cepat. Tak terasa usia kandungan Safa sudah menginjak dua bulan. Dan setelah pemikiran yang matang serta musyawarah seluruh keluarga, akhirnya resepsi pernikahan Edzar dan Safa dilaksanakan berbarengan dengan Tirta dan Miranti.


Mau bagaimana lagi. Mereka dikejar waktu, takut perut Safa keburu membuncit. Pasti publik akan berpikir yang tidak-tidak. Sebisa mungkin Edzar akan menghindarkan istrinya dari segala fitnah.


Sekarang saja Safa sudah tidak bisa mengenakan pakaian ketat. Kebaya yang dipakai sengaja tidak dibuat pas badan. Meski begitu desainnya tetap elok dan mengikuti jaman. Berterima kasihlah pada kemahiran Sebastian Gunawan yang mampu menciptakan gaun pengantin indah yang bisa menyamarkan lekuk pinggang.


Edzar tersenyum menyalami setiap tamu undangan yang hadir memberi selamat. Termasuk para koleganya di Kejaksaan. Juga rekan-rekan usahawan yang kerap menjalin kerja sama dalam beberapa kesempatan.


"Selamat, Pak Edzar. Waaah ... Wajah kebanggaan Kejari akhirnya berlabel resmi. Hahaha ...." Seseorang menyeletuk yang lantas disambut tawa oleh rekan-rekannya.


"Samawa, ya, Pak. Cepat dikasih momongan juga."


Entah berapa banyak yang mengatakan kalimat persis seperti di atas. Rasanya Safa maupun Edzar ingin tertawa. Yang mereka doakan justru sudah hadir duluan di dalam perut. Tapi tak apa. Keduanya tetap mengaminkan.


Satu persatu orang memberikan selamat. Safa tak bisa menahan rasa bahagianya. Perutnya sejak tadi dipenuhi oleh rasa geli tak karuan. Gugup, nervous, senang, semuanya campur aduk. Hingga beberapa kali ia meremas lengan Edzar sebagai pelampiasan.


Edzar yang mengerti kerap mengusap jemari sang istri. Berusaha menenangkan wanita itu agar berhenti bersikap tegang. Bahaya kalau perutnya keram.


Meski sejauh ini kandungan Safa sehat-sehat saja, tak ada masalah kecuali di awal-awal saat wanita itu kelelahan dan pingsan. Mungkin juga dipicu oleh stress mengenai hubungan mereka yang saat itu merenggang.


Sebisa mungkin Edzar tak membiarkan Safa melakukan aktivitas berlebihan yang terlalu menguras tenaga. Yoga juga belum dianjurkan oleh dokter karena katanya akan lebih baik jika kehamilan sudah memasuki trimester kedua.


"Pak Edzar ...!!!" Kedatangan Doni mengejutkan mereka berdua. Kening Edzar sedikit berkerut saat staf-nya itu datang bersama Heru.


Kenapa mereka bisa bersama?


Ia memutar mata saat Doni menghambur memeluknya. Risih tentu saja. Dan lebih menyebalkan karena Heru tertawa geli di belakang.


"Saya masih gak percaya Pak Edzar sudah nikah. Padahal Pak Edzar ini paling jomlo di kantor. Eh, tahu-tahu nyebar undangan. Sudah gitu akadnya diam-diam. Banyak staf wanita yang patah hati tau, Pak."


"Memang saya peduli?"


"Jahat." Doni menjauhkan tubuh sembari mencibir. Tatapannya jatuh pada Safa yang cantik jelita. Sontak saja mulutnya menganga melihat kekontrasan pasangan di hadapannya.


Safa adalah definisi bidadari versi bumi bagi Doni. Cantik, putih, mulus, dan seksi. Betul-betul seperti lirik lagu ST12 yang judulnya apa, ya? Doni lupa. Maklum, lagu jadul itu. Tapi sempat tenar pada masanya.


"Selamat, ya, Zar. Semoga kali ini samawa." Heru menepuk-nepuk pundak Edzar, merangkul sahabat yang akhirnya kini kembali memulai hidup baru.


Meski Heru sempat ragu dengan kesetiaan Safa. Ia pikir wanita itu akan lantas meninggalkan Edzar saat tahu lelaki itu duda.


Tapi, syukurlah. Ia salah mengira karena ternyata kekuatan cinta mereka lebih besar dari yang ia duga. Heru berharap, pernikahan ini menjadi yang terakhir bagi keduanya.


Dia sendiri yang menjadi saksi bagaimana berantakannya rumah tangga Edzar dulu. Tapi ia sadar, Safa tak bisa disamakan dengan Sinta. Mereka jelas dua wanita yang berbeda.


Safa memiliki kedudukan tinggi di hati Edzar. Kalau dulu Edzar mempertahankan Sinta karena rasa tanggung jawab. Berbeda dengan kali ini, pria itu benar-benar sudah menemukan cintanya.


Cinta yang seumur hidup Edzar tunggu. Sampai-sampai pria itu sempat pesimis dan hilang kepercayaan, berpikir mungkin Tuhan tak mempersiapkan ia jodoh seperti orang-orang.

__ADS_1


"Aamiin ..." Edzar balas menepuk punggung Heru. "Kapan nyusul?" lanjutnya yang langsung mendapat decakan dari pria itu.


"Jangan kayak orang-orang kolot, deh. Setiap orang punya waktu yang berbeda dalam menemukan pendamping. Mentang-mentang udah halal. Sekarang bisa bebas ledek sana sini."


"Siapa yang ngeledek, sih? Kamu aja yang sensi."


"Cih." Heru berdecih. Kemudian dia mengangkat alis saat hendak menyalami Safa.


Heru menggeleng mendapati Doni yang masih betah menatapi istri Edzar. Sampai-sampai perempuan itu dibuat salah tingkah, lebih tepatnya risih oleh tatapan Doni yang sudah mirip guguk mengeluarkan liur.


Mata Heru beralih pada Edzar. Kontan dia menyenggol Doni supaya pria itu sadar. "Minggir. Kamu membuat kesal yang mengantri."


Sebenarnya dia berusaha mengingatkan karena kasihan. Tidak tahu saja ada mata pisau yang siap menghunus kapan saja.


Tapi memang dasar Doni cari mati. Dia malah terus terpaku memandangi Safa dengan raut terpesona. "Wah, ini tidak adil. Bagaimana mungkin Malaikat Kematian bisa menikahi Bidadari?" ucapnya sekonyong-konyong tanpa sadar.


Jelas saja wajah Edzar berubah masam. Pria itu menatap tajam pada Doni yang dengan lancang mengagumi istrinya. Kontan tangannya meraih bahu Safa untuk dia rangkul, hingga tubuh itu bergeser dari hadapan Doni.


"Ehem." Edzar berdehem keras. "Sepertinya saya tidak jadi merekomendasikan kamu."


Seketika Doni melotot. "Kok gitu, Pak?" sergahnya tak terima.


Edzar mengangkat bahu, rautnya dingin tanpa ekspresi. Apa Edzar serius dengan kata-katanya? Batin Doni.


"Pak, jangan gitu dong, Pak. Saya salah apa?"


"Loh, loh, loh. Ini serius?"


Doni sedikit memberontak saat Heru menggiringnya dari pelaminan. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, berteriak pada Edzar, meminta supaya lelaki itu segera menarik kata-katanya.


Safa menggeleng. Edzar mulai lagi. Suaminya memang pencemburu akut. Jangankan Doni, handphone saja dia cemburui.


"A Uda gak serius 'kan tadi?"


"Siapa bilang?" tanya balik Edzar, datar.


"Ish. Kasian tau. Segitunya banget sama orang."


"Kamu belain dia?" sewot Edzar menoleh padanya.


"Siapa yang belain, sih? Tau, ah."


Edzar menghela nafas. "Ini sudah waktunya untuk kamu istirahat. Ke kamar, gih. Biar Uda sendiri yang menyalami tamu."


Safa mendelik, "Terus, membiarkan A Uda ketemu para mantan di sini, gitu?"


"Berapa kali Uda bilang, Uda gak punya mantan selain Sinta."

__ADS_1


"Hah, gak percaya. Masa seumur hidup gak pernah suka sama seseorang."


"Kalau itu pernah. Cinta pertama Uda."


Safa menoleh. "Siapa?" tanyanya penasaran. Jantungnya mulai berdebar menyakitkan. Persis ketika tahu lelaki itu pernah punya hubungan dengan Sinta. Apa ini perasaan cemburu?


Safa ingat, Sinta bilang Edzar pernah menyukai seorang gadis, tapi orang tuanya tak merestui. Siapa sebenarnya gadis itu?


Padahal waktu itu Safa tak mempermasalahkan. Tapi entah kenapa sekarang dia jadi begitu penasaran.


Belum sempat Edzar menjawab, Kamila datang memeluk Safa. Gadis itu merengut saat Edzar menegurnya karena dinilai pelukannya terlalu erat. Mau tak mau Kamila menjauhkan diri, lalu mulai mengoceh ini itu pada Safa.


"Tega banget, sih, nikah gak undang-undang. Tahu-tahu udah resepsi aja. Jadi bener akadnya udah lama? Kenapa gak bilang?" Kamila kesal karena merasa Safa tak menganggapnya sebagai teman. Padahal komunikasi mereka lancar meski Safa tinggal berjauhan di Bandung. Kamila masih kerap mengirimi Safa endorse'an.


Kok, bisa-bisanya Safa menyembunyikan cerita sepenting ini darinya.


Safa meringis tak enak hati. Dia hanya bisa meminta maaf. Bukan hanya karena pernikahan yang mendadak, tapi jujur saja waktu itu Safa belum siap memberitahu siapapun mengenai statusnya, termasuk pada Kamila. Safa sedikit malu karena menganggap dia masih terlalu muda untuk menikah. Dia takut jadi bahan ledekan teman-temannya.


Safa menoleh kala Edzar menyentuh bahunya.


"Uda ambil makanan buat kamu," ucapnya kemudian melenggang.


Entah Edzar berniat memberi Safa dan Kamila waktu untuk berdua atau apa. Yang pasti keduanya sama-sama merasa lega dan lebih leluasa saat berbincang.


"Maaf, ya, Mil. Mendadak banget soalnya. Aku juga sebenarnya malu mau bilang sama kamu. Jujur aja, kalo aku gak hamil aku gak bakalan mau resepsi cepet-cepet."


Kamila terperangah. Dia berbisik lirih. "Kamu hamil?"


Safa mengangguk.


"Gak bercanda 'kan?"


Kali ini Safa menggeleng.


"Berapa bulan?"


"Dua."


"Gila, tokcer, ya, suami kamu. Eh, tapi kayaknya aku kenal, deh, cowok itu. Berasa pernah lihat. Di mana, ya?"


Safa terkekeh. "Dia yang waktu itu nolongin aku di mal. Kamu ingat insiden aku jadi tawanan maling? Nah, itu Om Edzar yang nolongin aku. Dia juga tetangga aku sih."


Mulut Kamila membulat. "Oohh .... Aku ingat. Bener. Kapan hari juga pernah ketemu di cafe 'kan? Waktu pulang pemotretan sama Bang Randy dan Leo juga?"


"Eh, tapi kalo gak salah waktu itu dia sama cewek, deh. Aku pikir itu pacarnya. Kok, bisa nikahnya sama kamu?" tanya Kamila bingung.


Safa tersenyum. "Nanti saja aku ceritain."

__ADS_1


Karena bukan hanya waktu yang tidak tepat, mood Safa pun mendadak agak memburuk. Dia masih penasaran dengan siapa sebenarnya cinta pertama Edzar.


__ADS_2