SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 142


__ADS_3

Sontak Edzar menghentikan makan dan berdiri. Pun Safa yang bergegas menyalami Dyah, gadis itu menatapnya segan, tersenyum canggung di sisi Edzar.


Tanpa diminta, Dona menarik Citra dari gandengan ibu mertuanya. "Salim sama Wawa Edzar dan Tante Safa."


Safa tersenyum kala Citra meraih tangannya sesuai arahan sang ibu. Gadis kecil itu tampak lucu dengan kucir duanya dan poni lurus membingkai wajahnya yang bulat. Refleks Safa mencubit lembut pipi gembil itu.


Citra berkedip, kemudian merangsek ke arah Edzar sambil menggigit bibir. Sontak hal itu mengundang tawa Dona, juga Edzar yang seketika terkekeh pelan mengusap rambut keponakannya. "Malu dia," ucap lelaki itu.


Safa ikut tersenyum, menatap Citra lagi yang meliriknya malu-malu. Gadis itu memeluk pinggang Edzar, seolah bersembunyi dari pandangan Safa.


"Wawa Ed, kenapa di rumah Nek Nining ada Bidadari?"


Semuanya mengernyit mendengar pertanyaan gadis itu.


"Bidadari?" tanya balik Edzar.


Citra melirik Safa yang juga terlihat heran. Jemari mungilnya perlahan terangkat. Kontan Safa menunjuk dirinya sendiri kala telunjuk gembul itu mengarah padanya.


"Kakak cantik seperti Peri...." ujarnya sekonyong-konyong. Terdengar polos sekaligus menggemaskan.


Tadi Bidadari sekarang Peri. Yang benar yang mana? Aduh, kenapa Citra harus bilang begitu. Safa, kan, jadi mau terbang.


Edzar mengangkat alis, tersenyum bangga. Pertama kali dalam hidup dia seolah ingin menyombongkan diri karena memiliki pasangan cantik. Diliriknya Safa yang tengah merona. "Jadi menurut Citra, Tante Safa cantik?"


Gadis itu mengangguk. Safa jadi semakin percaya diri. Dia menyentuh sebelah pipi seraya meringis canggung. Citra bisa aja, sepertinya dia harus beri hadiah pada gadis itu nanti.


Tak lama Reno datang dari arah gazebo, melihat istri dan anaknya sudah pulang dari warung. "Tante Safa memang Bidadarinya Wawa, Nak," celetuknya mengundang atensi. "Ayo, ikut Papa. Tuh, Hasan dari tadi nyariin, ngajak main."


Kening Citra berkerut, "Memangnya bisa, Pa? Burungnya Hasan 'kan masih sakit habis dipotong," ujarnya polos.


Safa terkikik geli, tanpa sadar dia mendekat pada Edzar, menahan tawa dengan menyembunyikan diri di bahu pria itu. Edzar menoleh, tersenyum mengusap kepala gadisnya sekilas. Hal itu tak luput dari perhatian sang ibu.

__ADS_1


Interaksi mereka tampak nyata dan natural. Sekarang Dyah percaya bahwa mereka memang berhubungan seperti yang Edzar bilang. Pandangannya menurun, melihat pakaian keduanya yang serasi.


Dyah kenal motifnya. Tentu saja, karena dia sendiri yang memberikan kain itu kepada Edzar. Memang ia kerap memberikan putranya kain sepasang bila ada motif baru di tokonya, guna membuat Edzar sadar bahwa dia harus segera mencari pasangan.


Tak disangka setelah sekian kain yang Dyah berikan tak pernah Edzar gunakan, sekarang untuk pertama kali Dyah melihat putra sulungnya mengenakan salah satu pemberiannya itu.


"Ya bisa lah, kalian duduk aja jangan lari-larian. Yuk!" ajak Reno lagi pada Citra, sekaligus menjawab pertanyaan putrinya. Dia mengirim kode pada Dona untuk segera berlalu dari sana.


Dona yang mengerti lekas mengangguk. Diraihnya bahu mungil Citra dari rangkulan Edzar. "Ayo, Cit. Nanti eskrimnya meleleh kalau gak segera dimakan. Makan di gazebo, ya? Tadi katanya mau berbagi ke kakak dan adek sepupu."


"Oh, iya! Citra lupa, Mama. Tadi kita beli eskrimnya berapa? Kira-kira cukup gak, ya?" tanya gadis itu menatap kresek di tangan Dona.


Dona mengedip mendecakkan lidah, "Aman.... Yuk?"


Citra mengangguk semangat. Sebelum itu dia mendongak pada Edzar. "Wawa Ed, bilangin Kakak Peri, nanti Citra minta foto bareng," bisiknya dengan suara yang terdengar jelas.


Dona menggeleng mendapati kekonyolan putrinya. Ini pasti nurun dari Reno, pikirnya. Sementara Reno sendiri sudah dibuat geli sendiri.


"Bilang sendiri, dong. Masa bilangnya sama Wawa?" cetus Edzar pada Citra.


Pipi Citra menggembung, kepalanya menggeleng sok tegas. "Citra tidak ada waktu untuk itu. Saat ini Citra ada kegiatan sosial yang harus dijalani, yaitu berbagi," ucapnya dengan nada sedikit cadel. Safa semakin gemas dibuatnya.


"Ayo, Mama. Kita cuss bagi-bagi eskrim!" serunya riang, berlari mendahului Dona maupun Reno ke arah gazebo tempat keluarga mereka berkumpul.


Dua sejoli itu meringis malu, kemudian pamit menyusul putri mereka yang kini meloncat-loncat di atas jembatan. Sekilas Safa berpikir itu bola yang memantul, dia meringis membayangkan tubuh bulat Citra mental masuk ke kolam ikan di bawahnya.


Haduh, absurd sekali otaknya.


Safa menggeleng mengenyahkan pemikiran anehnya. Kini tersisa mereka bertiga di beranda. Mendadak Safa canggung kembali. Diliriknya Tante Dyah yang setia bungkam. Aduh, Safa harus bersikap bagaimana kalau begini ceritanya.


"T-tante, mau makan?" tanya Safa gugup. Mati-matian dia memberanikan diri membuka suara.

__ADS_1


Tante Dyah menggeleng, "Saya sudah makan tadi. Kalian silakan lanjutkan."


Safa meringis dalam hati. Diliriknya Edzar yang peka hingga balas memandangnya. Lelaki itu mengulas senyum, kembali menatap ibunya.


"Ibu habis dari mana?" Tanya Edzar, meski dia sudah tahu dari Reno tadi.


"Dari warung, nganter Citra jajan."


"Kamu sampai jam berapa?"


Edzar berpikir sejenak, "Kayaknya jam satuan, deh. Belum lama, sih."


Dyah mengangguk, "Ya sudah, lanjutkan makannya. Setelah itu temui Ibu di atas. Ibu mau ngomong sama kamu."


Setelah mengatakan itu Dyah pergi, meninggalkan keduanya dalam keadaan sama-sama mematung. Menyusul anak dan menantunya ke gazebo yang saat ini ramai dengan sorakan-sorakan keluarga Edzar. Entah apa yang membuat mereka berteriak seperti itu. Yang Safa pikirkan justru ibunya Edzar yang nampak dingin terhadapnya.


Edzar yang mengerti ketegangan Safa sontak tersenyum, mengusap pelan punggung gadis itu, menuntunnya kembali duduk dan melanjutkan makan.


"Gak papa. Ibu memang dasarnya begitu, agak pendiam dan tidak banyak bicara. Kamu maklumin, ya?" Edzar menyapu lembut jemari Safa.


"Ayo makan lagi? Uda masih lapar, nih." Lantas Edzar melahap makanannya dengan semangat.


Sayangnya, nafsu makan Safa sudah hilang. Diam-diam dia menoleh ke arah gazebo, hatinya merenyut menatap Ibu Edzar yang tengah tertawa.


Benarkah wanita itu pendiam? Sangat diam sampai tidak mau memberi senyum segaris pun padanya. Sementara dia terlihat biasa jika dengan orang lain. Memang Tante Dyah itu kalem, persis kata Edzar. Tapi sekalem apapun seseorang, dia tidak akan bersikap dingin tanpa alasan.


Safa tersentak merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Kontan dia menoleh, mendapati Edzar menyodorkan setusuk bakso berukuran sedang. "Makan, Ai," titahnya halus.


Safa menggigit kecil bulatan bakso itu. Edzar tersenyum, mencelupkan sisanya ke kuah bening yang sudah diberi sedikit sambal, lalu menyuapkannya lagi pada Safa.


"Favorit kamu. Bakso bening dengan sambal, tanpa kecap dan saus."

__ADS_1


__ADS_2