SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 130


__ADS_3

"Apa makanannya tidak enak? Kamu terlihat tidak nafsu makan akhir-akhir ini?"


Safa yang tengah termenung mengaduk makanannya tersentak mendongak. "Enak, kok, Kak Rey. Safa hanya kepikiran Abang. Kapan bebas," gumam Safa tak sepenuhnya bohong. Lalu menyuap sedikit daging ayam yang baru saja dipotongnya.


Dia memang kepikiran Dava, juga.... Edzar. Safa menghela nafas berat. Berusaha untuk tidak terlalu memikirkan lelaki itu.


Rey tersenyum, "Kalau masalah itu ada kabar baik. Om Baskoro bilang Dava sudah bisa keluar besok."


Safa menoleh cepat, "Serius, Kak?"


"He'em," angguk Rey. Senyumnya semakin lebar melihat Safa yang mulai antusias. "Maka dari itu kamu makanlah yang banyak. Abangmu tak akan senang jika kamu tiba-tiba jatuh sakit."


"Oke!"


Rey terkekeh, tangannya terulur menggasak rambut Safa. Gadis itu mendelik menepisnya dengan garpu. "Sudah kubilang jangan mengacak rambut! Ini sangat menyebalkan," ketusnya.


Rey justru tertawa menanggapi sikap impulsifnya. Pria itu bersandar di punggung kursi sambil mengamati Safa yang makan dengan lahap. Sudut bibirnya terangkat menyungging senyum. Setidaknya saat ini Safa mengisi perut dengan baik.


Mereka lanjut makan dengan damai, diselingi obrolan ringan mengenai berbagai hal. Seperti Safa yang menceritakan kegiatan barunya sebagai selebgram, hingga pengalamannya menjadi Direktur ketika abangnya mendekam di tahanan.


Mendengar abangnya akan segera bebas Safa jadi lebih bersemangat. Meski dalam hati tetap ada yang mengganjal, Safa senang karena mungkin kehidupan damainya akan segera kembali.


Dia tak akan lagi merasa terbebani dengan urusan kantor. Terlebih Safa bisa mulai fokus terkait pekerjaannya dengan Kamila. Kasihan, sahabatnya itu sudah kebanjiran orderan, dan Safa tidak bisa menghindar lagi.


Safa membuka ponsel membaca pesan dari Lalisa, calon kakak iparnya. Perempuan itu mengirimkan foto selfie-nya dengan Dava. Ternyata benar, abangnya akan pulang besok.


Mendadak wajah Safa jadi murung. Hal itu dilihat oleh Rey yang kontan mengerutkan kening. "Kamu kenapa? Kok, murung lagi?"


"Safa gak akan bisa jemput Abang besok," lirihnya pelan.


Rey terdiam. "Kalau kamu mau saya bisa antar kamu lagi ke Jakarta."


Safa lantas menggeleng. "Enggak, Kak. Kakak pasti capek bolak-balik. Lagian Ayah gak bakal izinin."


"Bukankah aku di sini juga karena Ayah?" lanjutnya setengah berbisik.


Hening. Rey tak berusaha membuka suara karena apa yang Safa katakan benar adanya. Tuan Halim sendiri yang memintanya menjemput gadis itu. Dan sudah mewanti dirinya agar Safa tak pergi ke mana-mana, kecuali sekitar daerah ini.


Rey menatap Safa dengan lekat. Mengusap rambut gadis itu sekilas. Kemudian menunduk menyelesaikan makan siangnya yang tertunda. Untuk mencairkan suasana, Rey menceritakan sedikit pengalamannya pada Safa. Terutama hal-hal lucu dan konyol yang pernah dialaminya.

__ADS_1


"Kamu mau mampir ke suatu tempat dulu?" tanya Rey ketika mereka dalam perjalanan selepas makan.


Safa menggeleng, "Langsung ke villa aja. Safa capek, mau istirahat," ucapnya lemah sembari bersandar di jok mobil.


Akhir-akhir ini Safa kerap merasa lelah. Bawaannya ingin terus tidur dan berbaring di kasur.


Rey mengerti. Lantas pria itu menjalankan mobilnya sesuai keinginan Safa.


Entah berapa lama mereka berkendara, tanpa sadar Safa tertidur dengan pulasnya. Rey menoleh mengamati wajah polos itu, mereka sudah sampai di depan villa yang Safa maksud.


"Safa?" panggil Rey pelan.


Gadis itu masih saja memejamkan mata. Rey bingung, apa dia harus menggendongnya?


...............


Safa mengerjap melampas serbuan cahaya yang menyergap matanya. Gadis itu menggeliat pelan, merasakan entitas empuk menggelayuti punggungnya. Sangat nyaman. Rasanya Safa sudah beristirahat begitu lama.


Sebentar, dia sedang berbaring?


Lantas gadis itu membuka mata dan menatap sekitar. Ini kamar yang dia tempati di villa. Kening Safa berkerut. Berapa lama dia tertidur? Seingatnya dia masih di mobil bersama Rey.


Ruangan luas berdominasi warna putih dengan dinding kaca melingkar di sekelilingnya menjadi yang pertama Safa lihat.


Mata Safa mengedar, kakinya kembali berayun ke tengah ruangan.


"Kak Rey?" panggil Safa mencari.


Dahinya mengernyit tak mendapati tanda-tanda keberadaan lelaki itu. Apa mungkin sudah pulang? Namun sedetik kemudian dia merasakan kehadiran seseorang. Lantas Safa berbalik, "Kak Rey—"


Kalimat Safa mengambang di udara ketika yang ia dapati bukanlah Rey. Melainkan sosok tinggi yang tengah menyorot tajam padanya. Tubuh Safa seketika menegang. Jantungnya bertalu dengan irama tak karuan.


Susah payah dia menenggak ludah menelan gugup. Terutama ketika dua pasang mata itu bertemu dan Safa dibuat lemas seketika.


"Aku cemburu kamu memanggil nama pria lain, Sayang."


"O-Om, kenapa bisa ada di sini?" gagap Safa setengah tak percaya.


Dari mana Edzar tahu dia ada di sini?

__ADS_1


Safa ingin menjerit tapi tak bisa. Terlebih sosok Edzar mulai mendekat. Tungkai panjangnya menghampiri Safa dengan pelan. Otaknya memerintahkan Safa untuk mundur. Namun kakinya malah terpaku seolah menanti kedatangan Edzar.


Belum sempat dia memikirkan cara untuk lari, tangan Edzar sudah meraih pinggangnya dan melingkarinya dengan erat. Pria itu menunduk, menghunus netra Safa dengan mata elangnya.


"Kamu salah jika ingin lari dariku. Karena aku pasti akan mengejarmu kemana pun. Bahkan ke tempat terjauh sekalipun, aku akan tetap menemukanmu," bisik Edzar dengan suara yang membuat Safa meremang.


"Sudah cukup bermain-mainnya. Aku tidak sesabar itu, kau tahu?" Wajah Edzar mendekat. "Kamu berhutang penjelasan padaku. Tapi sebelum itu, biarkan aku melepas rindu terlebih dulu."


Edzar melepas topi baseball yang dekenakannya, melemparnya asal sebelum meraup Safa dalam keterkejutan.


Safa mematung. Bau rokok bercampur mint yang seolah sudah menjadi khas Edzar kembali Safa rasakan. Pria itu menciumnya. Safa seolah linglung saat bibir tebal Edzar menyapu halus indera perasanya. Membuainya dengan pagutan lembut namun menuntut.


Safa berkedip.


Edzar menyesap satu persatu belah bibirnya dengan mata terpejam. Membuat Safa terlena dengan rasa geli menggelinjang di perut.


Cambang tipis itu menggesek pelan sekitaran dagu. Edzar mengulum, menggigit, dan membelaikan lidahnya di sana. Menggoda Safa untuk membuka akses merasakan mulutnya lebih dalam.


Hatinya menolak, namun gerak tubuh seolah mengkhianati. Bibirnya serta-merta merekah menerima biusan Edzar yang langsung menyusupkan lidahnya, mengekspos rongga mulut Safa dengan gerakan menggoda.


Sesekali Edzar berhenti membiarkan Safa mengambil nafas, lalu kembali menyerangnya dengan lebih menggebu. Pria itu seolah kehausan dan tidak minum berhari-hari. Lagi-lagi Safa dibuat kewalahan oleh Edzar yang melahap habis bibirnya.


Diraupnya bagian depan kaus polo yang Edzar kenakan, melampiaskan seluruh rasa yang bertentangan dalam hati dan otaknya. Safa ingin mendorong Edzar, tapi dia tidak bisa mengelak bahwa dia juga menikmatinya.


Dekapan Edzar mengerat, sejurus kemudian tangan kekar itu meraih tungkai Safa hingga melingkar di pinggangnya. Edzar menggeram kala gadis itu mulai membalas ciumannya. Tubuh jangkungnya berjalan ke arah meja konsol dekat mereka, meletakkan Safa di sana tanpa melepas tautan bibirnya.


Entah sejak kapan tangan Safa berpindah di leher Edzar. Memeluk hingga meremas pelan antara rambut dan tengkuknya. Geraman rendah lagi-lagi terdengar. Edzar semakin merapatkan tubuh mereka hingga Safa bisa merasakan kerasnya perut pria itu. Mereka larut dalam ciuman dan melepas rindu yang sama-sama terpendam.


Safa melenguh saat tangan Edzar turun membelai pinggangnya, lalu kembali ke atas dan tanpa sengaja mengenai pinggiran dadanya. Refleks bagian bawah tubuhnya berdenyut.


Sontak dia melepas tautan bibir mereka. Dengan nafas terengah Safa merengek. "Om cukup, nanti Mr. P bangun...."


Edzar tak menghiraukan dan malah beralih mengecupi rahang hingga leher putih itu. "Telat, Sayang. Dia memang sudah bangun," bisiknya serak.


Edzar menekan dan menarik pinggul Safa hingga bagian bawah mereka bertubrukan. Safa melotot merasakan sesuatu yang menonjol mengenai pangkal pahanya.


"Om!"


"Ini salahmu. Saya terlalu rindu hingga menjadi naf*su."

__ADS_1


__ADS_2