
“Ini bukan sepenuhnya salahmu,” ucap Edzar tiba-tiba. Pria itu seolah tahu apa yang Safa pikirkan.
Dengan telaten Edzar membersihkan tempias kemerahan yang berasal dari luka Safa. Safa meringis menahan perih. Air matanya seakan menolak berhenti turun. Bibirnya setia terisak membuatnya semakin merasa seperti anak kecil.
“Safa minta maaf. Om pasti kesal karena nolongin Safa terus... hiks.”
Safa menatap Edzar yang jongkok di bawahnya.
“Sekarang Safa sadar, mana mungkin Om Edzar suka sama orang ceroboh seperti Safa,” ucapnya serak.
“Safa masih suka nangis. Om Edzar pasti muak dengarnya... hiks.”
Safa membersit hidung berusaha menahan ingus yang berlomba ingin keluar.
“Om pasti malu tadi. Kenapa Om gak pergi aja? Pura-pura gak kenal juga boleh. Safa ngerti, kok,” ucapnya lagi.
“Hiks, Safa-“
“Sstt....”
Ucapan Safa terpotong saat jemari Edzar mampir di bibirnya. Safa mematung, pria itu perlahan mendongak menatapnya. Ada yang berbeda, jika biasanya netra itu menampilkan sorot datar tanpa ekspresi, lain dengan sekarang yang Safa lihat. Ada kelembutan yang Safa rasakan dari sana, dan itu sukses membuatnya terpaku.
“Bisakah kamu berhenti bicara?”
__ADS_1
“Om....”
“Selain cengeng kamu juga cerewet.”
Safa mengangguk tak mengelak, “Om pasti gak suka.”
“Maka dari itu berhentilah menangis.” Tangan Edzar beralih mengusap pipi tembam Safa yang basah. Menyapu lembut mata sipitnya yang sembab. “Ini membengkak,” bisiknya pelan.
Perlakuan lembut Edzar membuat Safa bergeming, mulutnya bungkam tak berani mengeluarkan suara. Matanya terpejam menikmati belaian halus di wajahnya. Benarkah yang ada di hadapannya ini Edzar? Kenapa berbeda sekali?
Safa membuka matanya kembali, menatap netra sekelam malam yang membuatnya hanyut dalam ambiguitas rasa yang realitasnya Safa ragukan. Mereka saling memandang cukup lama. Tatapan Edzar yang redup membuat Safa larut enggan berpaling.
“Om...?” lirih Safa.
Belum sempat dia menerjemahkan arti dari kalimat Edzar, Safa terhenyak saat sebuah benda kenyal menghampiri bibirnya. Lagi dan lagi, Safa merasakan kembali kelembutan itu. Kali ini lebih nyata, bukan hanya sekilas seperti yang pertama mereka lakukan.
Sapuan lembut itu terasa jelas, bergerak lambat di atas permukaan bibirnya, bersamaan dengan desiran halus yang perlahan turun ke hati, lalu berputar di perut menghantarkan rasa geli yang membuatnya terasa seperti kupu-kupu beterbangan.
Safa masih syok dengan mata terbeliak. Edzar menjauhkan wajahnya setelah sebelumnya membubuhkan kecupan singkat di ujung bibir. Mengusapkan jarinya di sana, lalu menekannya sedikit hingga mulut Safa mengatup kembali.
Serta-merta dia berkata, “Manis.”
Seperti salju yang turun di Arab Saudi, terdengar mustahil namun nyata adanya. Edzar mengulas senyum tipis seolah Tuhan baru saja mengirimkan keajaiban. Efeknya sampai menembus perut bumi dan menghantarkan lahar panas yang mengendap di area pipi, melahirkan rona merah di atas permukaannya yang putih dan lembut.
__ADS_1
Edzar mengusapkan jarinya di sana, merasakan kehalusan yang membuat siapa saja terlena saat menyentuhnya.
“Kenapa ini memerah?”
Safa tergagap tak mampu mengeluarkan suara.
“A-a-“
Brak!
Suara pintu yang ditutup kasar membuat Safa terlonjak. Jantungnya bertalu keras merespon keterkejutan dalam dirinya.
“I-itu....”
Di luar sana, Hani berdiri dengan nafas tersengal seolah habis lari. Teman-temannya yang sejak tadi menunggu di dekat pintu langsung mendekat dan heran melihat Hani keluar dengan berkeringat.
“Han, kamu kok kayak kecapekan gitu? Omong-omong, perempuan tadi benaran keponakan Pak Bos?” tanya Jeje, salah satu karyawan di cafe itu. “Kalau benar, matilah kita. Apa yang harus kita jelaskan nanti?”
Hani tak menjawab, dia masih berusaha menetralkan nafasnya yang sejak di dalam ruangan ia tahan. Saking takutnya merusak suasana.
“Han, kok diam? Jawab, dong. Itu benaran keponakan Pak Edzar?” tanya yang lain.
Hani menoleh pelan, “Keponakan bapakmu! Mana ada keponakan yang dilu*mat-lu*mat bibirnya.”
__ADS_1
Mereka terbengong mencerna perkataan Hani. Lalu kompak ternganga, “Hah...???”