SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 156


__ADS_3

Safa tak mampu berkata-kata. Lidahnya kelu, matanya kosong, tenggelam dalam pikiran yang berkecamuk. Edzar betul-betul membuatnya tak berkutik. Safa bahkan tak menggubris ledekan-ledekan dari sepupu juga abangnya. Perhatian Safa hanya tertuju pada satu orang, yaitu Edzar. Pria itu tengah menatapnya, sudut bibirnya menyungging kalem, namun mampu memporak-porandakan hati Safa yang belum sepenuhnya pulih dari kejutan.


Safa menelan ludah kasar, mengalihkan pandangan ke samping, pada sang ayah yang memandangnya tak kalah lembut. Tangan besar itu terangkat mengusap hati-hati puncak kepalanya. Hanya sekilas. Karena setelah itu ayahnya melihat kembali ke depan, ke arah Edzar sekeluarga dengan mata yang berpendar tegas, walau begitu beliau tetap tak meninggalkan kesan ramah.


Tuan Halim berdehem, "Ehm."


"Sebenarnya, saya ingin sekali menerima lamaran Nak Edzar untuk putri saya. Saya percaya Nak Edzar laki-laki yang baik juga bertanggung jawab."


"Namun ...."


Mendadak suasana menjadi hening. Semuanya menanti kalimat Tuan Halim yang terkesan menggantung. Terutama Edzar yang kini berubah gugup, dilihat dari gerakan tangannya yang saling meremas. Safa tahu kebiasaan itu. Wajahnya mungkin terlihat tenang, namun siapa yang tahu hatinya tengah resah dan harap-harap cemas.


Tak berbeda jauh dengan Safa, dia pun merasa jantungnya jumpalitan. Dari mulai pertama menginjak kaki di sini hingga sekarang duduk tercenung dengan hati yang campur aduk.


Safa menoleh pada bundanya. Seakan peka wanita itu turut beralih menatapnya. Serta-merta tangan lentik nan halus yang terawat itu hinggap mengusap jemari Safa di atas paha. Bibirnya mengulas senyum seolah menenangkan.


Atensi mereka kembali pada Tuan Halim yang mulai berbicara lagi.


"Namun, sepertinya hal ini saja tidak cukup, jika ibu kandung Nak Edzar sendiri belum memberikan restu pada anak saya."


"Bukankah saya sudah bilang sedari awal? Sepertinya Nak Edzar salah menafsirkan."


"Saya memang merestui hubungan kalian, jauh sebelum Nak Edzar mengutarakan keinginan untuk mendekati Safa, dan meminta izin pada saya untuk mempertemukan dua keluarga. Seperti sekarang."


"Benar. Nak Edzar memang memboyong seluruh keluarga, bahkan yang jauh dari luar kota, luar Pulau Jawa, kamu jemput mereka sana-sini, memohon untuk turut hadir."


"Tapi satu yang kamu lupakan, yaitu ibumu sendiri."


"Beliau lah yang paling penting di sini. Tanpa restunya, maka saya pun tidak bisa menyerahkan Safa seperti yang Nak Edzar minta," tegas Tuan Halim.


Ketegangan menyelimuti, Edzar nampak menelan ludah, pria itu menunduk meremas tangannya yang sudah basah. Benar, dia memang tak membawa serta ibunya dalam acara ini. Bukan tak ingin, tapi sang ibu lah yang menolak. Padahal Edzar sengaja bolak-balik Jakarta, Depok, Bandung selama minggu ini. Hanya untuk mengais restu agar bisa mempersunting Safa secepatnya.


Bukan tanpa alasan, selain dia ingin hubungan mereka disegerakan, tanpa sepengetahuan Safa beberapa lamaran datang pada ayahnya. Ajaibnya, orang yang pertama kali Tuan Halim hubungi adalah dirinya. Karena beliau tahu Edzar sudah lama mendambakan puterinya.


Bahkan, jauh sebelum dia berani mendekati Safa, sebenarnya Edzar sudah terlebih dulu meminta izin.


Dan saat Tuan Halim bercerita mengenai pinangan yang datang berturut-turut, seketika Edzar merasa dia harus mensegerakan Safa menjadi istrinya. Bagaimanapun caranya, termasuk dengan melanggar restu sang ibu.


Namun, ternyata semuanya tak semudah itu. Ayah Safa tetap ingin dirinya mengantongi izin dari orang tua satu-satunya yang ia miliki di dunia saat ini.


Masalahnya, lebih dari sepuluh kali Edzar meminta, semuanya tetap sia-sia. Mungkin dia sanggup memboyong seluruh keluarga besarnya dari luar kota. Edzar bahkan memberanikan diri terbang ke Sumatera seperti yang Tuan Halim katakan tadi.


Dia pikir, lebih dari seratus jiwa mampu menggantikan ketidakhadiran ibunya. Tapi nyatanya tidak. Tuan Halim tetap tegas menolak.

__ADS_1


Lalu, Edzar harus apa sekarang?


Apa lamarannya harus kandas saat ini juga?


Apa perjuangannya yang memakan waktu selama berhari-hari sampai harus mengabaikan Safa sia-sia?


Edzar mengulum bibir sejenak. Dia mendongak, memberanikan diri menatap Tuan serta Nyonya Halim, juga Safa. Edzar melihat gadis itu nanar. Rasanya dia tidak bisa menyerah begitu saja. Edzar tidak rela. Dia benar-benar tidak ikhlas jika harus melepas gadisnya, lalu memberikannya pada pria lain selain dirinya.


Edzar menoleh, merasakan sentuhan di tangannya. Marwan, kakak dari ibunya yang beberapa hari lalu ia jemput dari Ciamis. Pria baya itu menghela nafas panjang, memberi isyarat untuk Edzar tetap diam.


"Pak Halim. Apa saya juga seluruh keluarga saya tidak bisa menggantikan ketidakhadiran ibunya?" tanya Marwan menatap pada sang tuan rumah.


"Apa perjuangan pemuda di samping saya ini masih belum cukup membuat Anda mengeluarkan rasa iba? Dia bolak-balik seminggu penuh untuk menjemput kami, melakukan perjalanan jauh siang dan malam untuk memenuhi syarat Anda, yakni membawa seluruh keluarga besar, tanpa terkecuali."


"Uwa, sudah. Hentikan," bisik Edzar.


Tuan Halim mengangguk. "Benar. Tanpa terkecuali," ucapnya menegaskan. "Termasuk ibunya. Ini yang paling utama."


"Apa Anda tidak merasa malu? Begitu banyak yang Edzar korbankan untuk menggelar acara ini. Terutama pekerjaan yang sebenarnya tidak bisa mengambil banyak cuti."


"Dia juga yang membiayai penuh seluruh persiapan. Dia yang merancang acara supaya pas dan sesuai selera putri Anda. Apa begini balasan Anda pada lelaki yang berjuang penuh mengorbankan waktunya?"


"Lelaki itu sifatnya mandiri, dia bisa melamar siapapun tanpa wali atau orang tua. Apa masalahnya jika hanya ibunya yang tak memberi restu? Di sini kami mendampinginya, mendukung niat baiknya pada putri Anda."


"Saya memberi izin penuh ketika Nak Edzar mengutarakan keinginannya untuk menggelar acara ini. Dengan syarat yang Anda sebut di atas."


"Saya lepas tangan, saya biarkan dia siapkan semua karena memang dia yang meminta."


"Tapi, jika ternyata Nak Edzar keberatan atas biaya dan merasa dirugikan, dengan senang hati saya akan mengganti semua pengeluaran yang telah kamu keluarkan untuk ini."


"Dengan ketentuan, setelah ini kamu harus memutuskan hubungan dengan putri saya," tandas Tuan Halim bagai petir bagi Edzar.


Spontan Edzar menggeleng, "Ini bukan masalah materi. Saya sama sekali tidak keberatan apalagi merasa dirugikan. Berapapun yang harus saya keluarkan, saya sanggup jika itu untuk Safa."


"Saya mohon, Om. Beri saya satu kesempatan lagi. Bila perlu saya akan jemput ibu saya sekarang juga. Tapi, tolong jangan minta saya meninggalkan Safa."


"Saya tulus mencintai dia. Saya tidak ingin kehilangan dia. Jika saya harus menikah, maka harus dia wanitanya."


Hening.


Safa termangu di tempat duduknya. Dari kesimpulan yang ia dengar, dapat dipastikan semua ini rencana Edzar.


Jadi, alasan lelaki itu tak menghubungi dan menerima telpon serta chat-nya karena ini? Edzar sibuk bepergian mengunjungi keluarganya di luar kota? Kenapa dia tidak bilang saja dari awal? Safa jadi merasa bersalah membiarkannya berjuang sendiri, sampai seperti itu. Pantas saja saat bertemu raut Edzar begitu lelah, seolah tidak tidur beberapa hari hingga bawah matanya menghitam.

__ADS_1


Safa terlalu larut dalam ketakutannya hingga dia mengabaikan Edzar. Tanpa tahu lelaki itulah yang paling kesusahan dengan hubungan mereka.


"A Uda ...." lirih Safa mengundang atensi. Dia mendongak, menatap tepat di mata Edzar. "Safa minta maaf. Safa egois membiarkan A Uda melakukan ini semua."


"Jika hubungan kita membuat A Uda sulit .... Ayo kita hentikan saja," cetusnya sekonyong-konyong. Dia tidak tahu, Dava serta sepupunya berdecak di belakang sana. Mereka kompak menggumamkan kata 'bodoh'.


"Dek," tepuk Dava dari belakang. Dia geregetan dan berniat membuat adiknya berubah pikiran.


Namun Safa tak menghiraukan, fokusnya tetap pada Edzar yang kini menatapnya tak terima. "Apa kamu bilang?" seru lelaki itu pelan.


"Seperti yang Ayah katakan, seorang ibu terlalu penting untuk diabaikan. Hal sesakral ini, tentu tidak lengkap rasanya tanpa kehadiran beliau."


"Jika Tante Dyah saja tak menginginkan Safa bersama A uda, bagaimana kehidupan kita nanti? Mungkin Safa akan bahagia dengan A Uda, tapi tidak dengan Tante Dyah. Maka, selamanya Safa hanya akan dihantui rasa bersalah karena membuat hubungan ibu dan anak menjadi dingin."


"Apa A Uda tega, Safa mengalami semua itu?"


"Ai?"


"Bukan Safa tidak mau, tapi Safa hanya tidak ingin memutus tali silaturahmi antara anak dan orang tua."


"Silakan A Uda kembali jika ibu sudah mengizinkan."


"Atau, A Uda bisa cari wanita lain yang setara dengan yang diinginkan Tante Dyah."


Edzar menggeleng tak percaya, "Apa maksud kamu? Mencari wanita lain? Begitu mudah kamu mengatakan hal itu?"


Lelaki itu mendengus, memijat keningnya dengan helaan nafas terdengar berat. Seluruh keluarga dari kedua belah pihak menatap iba padanya.


Kemudian dia mendongak. "Baiklah. Saya pastikan akan membawa ibu kemari. Tapi setelah itu, jangan harap kamu bisa lari," tegas Edzar memutuskan.


"Tidak perlu, Edzar. Ibu sudah di sini." Seseorang menginterupsi perdebatan mereka.


Semuanya menoleh ke arah pintu yang terbuka. Sosok Dyah berdiri dengan anggunnya mengenakan kebaya seragam seperti yang dikenakan seluruh keluarga.


Wanita itu berjalan di antara jajaran kursi yang terisi. Menatap lurus pada Edzar yang kini sedikit terperangah melihat kedatangannya.


Dyah berdiri di hadapan putranya, tersenyum sekilas sebelum kemudian mengalihkan pandangan pada Tuan Halim beserta istri.


"Saya memberi restu," ucap Dyah kalem.


"Dengan syarat mereka harus dihalalkan malam ini juga," lanjutnya membuat semua orang terperangah. Termasuk Safa yang kini melotot entah harus senang atau ngeri.


Menikah malam ini?

__ADS_1


Apa Tante Dyah bercanda?


__ADS_2