
"Mengadili. Satu, terdakwa Zulaikha Hilmi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama sebagaimana didakwakan dalam dakwaan primer Penuntut Umum, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Zulaikha Hilmi oleh karena itu dengan pidana mati!"
Suara nafas yang terhenyak terdengar mengisi ruang pengadilan ketika hakim memutuskan hukuman. Riuh seketika terjadi saat perempuan yang baru saja mendapat vonis, limbung tak mampu menguasai diri.
"Pak Edzar?"
Pria yang sedari tadi mematung, tersentak begitu seseorang menepuk pundaknya. Dia adalah rekan sesama jaksa yang bertugas dalam kasus tersebut.
"Mari?"
"Ah, iya. Silakan." Edzar melempar senyum tipis sebelum kemudian bangkit dari kursi, membereskan berkas di meja lantas keluar menyusul petugas hukum lain yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan.
Persidangan baru saja berakhir. Setelah beberapa bulan lamanya kasus tersebut berjalan kini akhirnya menemui titik terang. Keadilan sukses ditegakkan, dan kini Edzar bisa leluasa pulang tanpa harus lembur oleh jam persidangan yang gila-gilaan karena dilakukan sampai malam.
Edzar sudah kehilangan banyak waktu dengan keluarganya. Liburan yang sebelumnya sudah direncanakan terpaksa harus ditunda.
"Halo, Ai? Kamu di rumah, kan?" Selagi memasuki mobil, Edzar menelpon sang istri yang nampaknya tengah repot oleh sesuatu.
"Di rumah. Emang kenapa?" Terdengar suara heran di seberang sana.
Tanpa sadar Edzar tersenyum. Rasa letihnya seakan terobati oleh suara merdu selembut beledu itu.
"Gak papa, kangen aja. Uda pulang sore hari ini," ucapnya melipat senyum.
Edzar mulai mengoper mobilnya keluar parkiran sebelum kemudian melaju membelah jalanan sore yang padat.
"Kasusnya selesai, ya?" tanya Safa.
"Alhamduliah. Ibra mana?"
"Ibra lagi mandi, baru pulang les sama Audi. A Uda beneran pulang sekarang?" Tampaknya Safa masih belum percaya lantaran akhir-akhir ini Edzar selalu pulang di atas jam 12 malam.
Hal tersebut sempat membuat mereka bertengkar hebat. Safa curiga jika sang suami main api di belakangnya, dan berkali-kali mencecar Edzar untuk jujur.
Alhasil hampir 3 hari Safa mendiamkan Edzar, dan baru luluh saat Edzar membawa Kepala Kejaksaan yang dengan ramahnya menjelaskan masalah hukum yang sedang ditangani suaminya itu.
"Iya, Sayang. Ini Uda lagi di jalan pulang. Kamu masak gak?"
"Masak."
Edzar tersenyum nanar. Sejak kesibukannya menggila hubungan mereka turut sedikit berubah. Safa seolah tak kentara menjauh. Ia tak pernah lagi bermanja yang begitu Edzar rindukan.
Safanya yang manis kini dituntut semakin dewasa oleh keadaan. Wajar saja, putra mereka juga mulai beranjak remaja sekarang.
"Masak apa?"
__ADS_1
"Tongkol balado sama tumis tahu dan buncis," jawab Safa pelan.
Edzar tersenyum hangat seraya menghentikan mobilnya di lampu merah. "Kayaknya enak. Uda udah ngiler di jalan ini, gimana dong?" selorohnya.
"Makanya cepat pulang."
Cepat pulang. Kalimat yang sangat Edzar rindukan beberapa bulan ini. Edzar tanpa sadar kembali mengukir senyum. Hatinya menghangat mendengar sececah nada merajuk yang berusaha Safa sembunyikan.
Oh, Edzar sungguh tidak sabar untuk segera sampai rumah dan melihat wajah merengut itu secara langsung.
"Siap, Sayang." Edzar berusaha mengulum senyum. Hatinya berbunga-bunga memikirkan bidadari yang menunggunya di rumah.
"Jangan ngebut," ingat Safa.
"Iya."
"Ya udah, Safa tutup dulu telponnya, ya? Itu Ibra ada nanyain baju di kamar."
"Oh, oke." Meski berat hati Edzar pun mengakhiri panggilan dengan seutas kalimat salam. "Assalamualaikum, Cinta."
Sesaat Edzar tak mendengar jawaban, hingga kemudian Safa menyahut dengan nada malu-malu yang sungguh betul-betul membuat Edzar semakin gemas.
"Waalaikumsalam ..."
Terkekeh pelan, Edzar menyimpan ponselnya di atas dashboard. Kendati rindu tak lagi tertahan, Edzar tetap berusaha mengemudi dengan tenang.
Safa selalu mempesona dengan penampilan apa pun, bahkan tanpa make up seperti sekarang. Edzar benar-benar dibuat takjub oleh kecantikan istrinya yang seolah tanpa lekang.
Edzar mengunci mobilnya dan lekas mendekati Safa. Ia tersenyum merangkul sang istri dengan mesra, mengecup keningnya dalam dan memeluknya erat. Safa mencium tangan Edzar lalu mendongak.
"A Uda langsung pulang habis sidang, ya?"
"Iya, kangen kamu soalnya."
Safa menerima jubah yang sebelumnya tersampir di tangan Edzar. Ia menurut ketika lelaki itu menuntunnya memasuki rumah.
"Papi udah pulang? Tumben?"
Ibra yang kebetulan baru turun langsung menghampiri sang ayah untuk salim.
"Iya. Kamu baru mandi, ya? Udah makan?" Edzar bertanya sambil menggasak rambut hitam Ibra yang legam.
Tak terasa waktu cepat sekali berlalu, kini putranya sudah akan menghadapi Ujian Nasional dan menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar.
Ibra melirik Safa sebentar sebelum menjawab. "Belum. Mami bilang Papi pulang sore dan larang Ibra makan duluan."
__ADS_1
Edzar mengangkat alis, menoleh pada Safa. Wanita itu tampak meringis pelan. "Biar bareng-bareng aja."
Edzar tertawa renyah. Ia mengusap kepala Safa hingga hijabnya terlepas. Ia beralih merapikan rambut Safa yang dicepol dan mengecupnya sekilas di depan Ibra. Kontan hal tersebut membuat sang istri melotot dan mencubit perutnya.
"A Uda apa, sih?" bisik Safa.
"Gak apa-apa. Ibra udah besar, bentar lagi masuk SMP. Ya kan, Nak?"
Yang ditanya justru malah mengendik dan melengos meninggalkan keduanya ke ruang makan.
Melihat itu jelas Edzar berseru menahan sang putra. "Heh, mau ke mana?"
Ibra menoleh. "Makan?"
Namun Edzar segera menggeleng dan mengendikkan matanya ke arah jam. "Udah mau magrib, pamali. Kita sholat dulu baru makan."
Ibra meringis. "Serius?" ucapnya menggaruk rambut. "Ibra udah laper banget, Papi. Capek habis les, lho."
Edzar tetap menggeleng. "No. Kamu harus sholat dulu. Lihat, tuh, 5 menit lagi adzan. Apa yang mau kamu nikmati dengan waktu sesempit itu?"
"Aku bisa makan cepet, kok. Lima menit aja selesai."
"Makan cepet, makan cepet. Memangnya kamu makan gak dikunyah dulu bisa selesai 5 menit? Iya kalau puding, kalau nasi jatuhnya malah keselek karena maksa."
"Ayo cepat ambil wudhu dan ikut Papi ke mesjid."
Mendengar ultimatum Edzar, raut Ibra kontan merengut parah. Perutnya sudah berbunyi sedari di sekolah tadi, dan sekarang harus ditunda lagi. Mau makan aja susah banget, sih.
Untung tadi sempat nyolong brownies di rumah Audi, kalau tidak mungkin sekarang Ibra sudah pingsan karena kelaparan parah.
"Tunggu apa lagi? Cepat ambil wudhu. Jangan suka nunda-nunda waktu sholat kamu tuh."
"Iya iya ... Santai aja kenapa, sih, Papi? Berasa lagi di ruang sidang tau gak?"
Safa menutup mulutnya menahan tawa. Ia menggeleng pelan melihat perdebatan suami dan putranya yang semakin hari semakin berani menentang ayahnya.
"Kamu ini, ngomongnya aja mau jadi TNI, baru disuruh gitu aja marah-marah."
Ibra tak menanggapi lagi, ia lekas naik kembali ke kamarnya untuk bersuci sebelum pergi ke mesjid bersama Edzar.
Safa menatap suaminya yang balas menatap teduh. "A Uda senang banget bikin Ibra kesal."
Edzar tersenyum. "Seru aja, sih, ada teman debat. Hehe."
"Ish!" Safa memukul Edzar pelan. "Bisa-bisanya A Uda, tuh."
__ADS_1
Edzar semakin tertawa menanggapi raut tak menyangka istrinya. Ia memang bosan seharian di ruang sidang, dan mengerjai Ibra adalah salah satu kesenangannya.
Lagipula, ia ingin Ibra lebih bisa mengatur waktunya lagi. Ia tidak mau kesibukan membuat anak itu lupa dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.