SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 30


__ADS_3

“Atau kalau bisa kamu segera punya pacar, deh. Biar ke mana-mana ada yang nganter.”


Safa mendelik tak setuju, “Itu pacar atau sopir?”


“Haduh ... kamu pernah pacaran gak, sih? Minimal minta antar jemput temen cowok gitu?”


Dengan polos Safa menggeleng.


Miranti tak percaya, “Masa sih kamu gak pernah punya pacar? Coba hitung mantan kamu ada berapa?” desaknya.


Safa mulai berpikir. Lalu mengangkat sepuluh jarinya.


Miranti ternganga, “Sepuluh?” tanyanya tak percaya. Katanya gak pernah pacaran?


Safa melipat sembilan jarinya menyisakan kelingking berkutek biru. “Satu. Kayaknya.”


Melihat tantenya yang seolah linglung, Safa menghembuskan nafas kasar.


“Tante kayak gak tau aja Ayah gimana. Baru punya gebetan aja galaknya udah kayak maung.”


'Oh, pantas. Gak heran, sih. Bang Surya emang nyebelin dari lahir,' ujar Miranti dalam hati.


“Iya, dan sekarang maungnya ada di depan pintu.” Miranti mengendikkan dagunya ke arah pintu rumah Safa yang terbuka. Mereka mengintip dari celah dedaunan dan pagar.


Miranti baru saja mengantar Safa pulang. Pagi sekali, sekalian dia berangkat kerja. Safa dibangunkan tepat saat adzan subuh berkumandang. Pukul 4 lebih berapa menit, entahlah. Dan tebak apa yang Miranti lakukan? Wanita itu menyuruhnya mandi! Daebak!


“Cepat masuk. Kamu gak lihat tatapannya udah kayak mau bunuh orang?”


“Tante gak mampir?”


“Gak. Yang ada nanti Tante gak berangkat kerja karena diceramahin. Padahal ‘kan bukan tante yang salah.”


Safa meringis menampilkan gigi putihnya yang rapi. Dia tahu Miranti sedang menyinggungnya.


“Ya udah. Tante hati-hati ya di jalan. Makasih udah nganterin Safa.”

__ADS_1


“Heemm ... sama-sama. Tante cuman gak mau kena amuk Ayah kamu. Baru ditinggal semalam aja udah kayak mau lepasin anak merantau. Dikira kamu gak makan di rumah Oma.”


Lagi-lagi Safa meringis. Kadang dia merasa ayahnya memang berlebihan.


Miranti mengampiri Safa, ekspresinya melembut seiring tangannya yang terangkat mengusap rambut Safa.


Wanita itu nampak menghembuskan nafas sebelum bersuara. “Jangan terlalu larut dalam kesimpulan sendiri. Tanyakan langsung kebenarannya. Sikapmu kemarin menandakan bahwa kamu masih lemah. Kamu harus menyiapkan hati dan mental sebelum benar-benar yakin ingin memiliki seseorang.”


“Tante berangkat. Kamu baik-baik di rumah, jangan bikin Bundamu marah-marah terus,” kekehnya pelan. Kemudian dia memasuki mobilnya dan memencet klakson sebagai tanda perpisahan.


Safa tersenyum melambaikan tangan, dia nampak termenung sebentar memikirkan ucapan tantenya. Miranti benar, Safa masih terlalu labil menanggapi rasa cemburunya. Baru menemukan butiran debu saja dia sudah lari, gimana nanti kalau ada badai yang menerjang.


Abaikan pikiran tak nyambungnya. Lebih baik dia segera memasuki rumah. Safa tahu ayahnya sudah mengawasi sejak tadi, dan mau tak mau Safa harus siap bila nanti diintrogasi.


Ada kemungkinan Safa beruntung karena ini pagi hari, Tuan Halim mau pun Dava pasti sibuk bersiap sebelum berangkat kerja. Tapi Safa gak jamin dia bisa lari dari Nyonya Halim, kecuali kalau sang bunda ada acara yang mengharuskannya keluar, arisan misalnya.


Langkah Safa terhenti saat tanpa sengaja matanya menangkap keberadaan Edzar yang sedang membuka pagar. Sejenak mereka bertatapan, sebelum kemudian Safa mengalihkan pandangan.


Melihat Edzar membuat Safa teringat kembali dengan apa yang dilihatnya kemarin. Safa ingin bertanya dan memastikan seperti yang dibilang Miranti tadi, tapi otaknya mendadak blank saat berhadapan langsung seperti ini.


Haruskah dia bertanya ‘siapa wanita itu’?


Kalau dipikir-pikir Safa juga gak berhak merasa cemburu karena mereka gak ada hubungan apa-apa, lebih tepatnya dia tidak berhak untuk bertanya. Safa hanya merasa iri, kapan Safa dan Edzar bisa seakrab itu?


Aih ... dasar hati, gampang banget kamu melow. Biasanya juga kuat. Ini baru teman, gimana nanti kalau ternyata Edzar benar memiliki orang yang disuka, tapi bukan Safa? Mungkin hatinya akan menangis darah.


“Pagi, Om.” Safa mengangguk menyapa Edzar.


Jika biasanya Safa akan tersenyum lebar hingga matanya menyipit, kali ini tidak. Safa hanya tersenyum kecil sebagai bentuk kesopanan. Salahkan suasana hatinya yang tidak mendukung. Mungkin selama ini Safa kurang piknik, makanya hatinya sensitif.


Safa meneruskan langkahnya membuka pagar.


“Safa?”


Baru sedikit Safa menggesernya, suara berat Edzar tiba-tiba menyapa telinga. Safa gak lagi halusinasi, ‘kan? Edzar memanggil namanya? Ini beneran bukan mimpi? Kalau dipikir-pikir ini perdana Edzar menyebut nama Safa. Iya ‘kan? Katakan kalau ia salah.

__ADS_1


Safa menoleh perlahan menunggu Edzar menyampaikan maksudnya. Tidak mungkin pria itu memanggilnya tanpa alasan.


Hampir semenit mereka hanya saling tatap, Edzar nampak ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Terlihat dari mulutnya yang membuka menutup dengan ragu.


“Kenapa, Om?”


Edzar berkedip seolah tersadar akan sesuatu, kemudian berdehem dengan suara yang membuat Safa panas dingin.


Duhai otak, jangan mulai kau. Jangan mempermalukanku di depan gebetan dengan pikiran tak sopanmu.


“Terima kasih makanannya.”


Safa mengernyit, apa maksud Bapak Jaksa yang terhormat ini? Safa gak merasa ngasih makanan apapun pagi ini. Apa pria itu tidak melihat dirinya saja baru pulang. Mana sempat mempersiapkan itu.


“Kemarin.”


Safa berkedip. Sial, apa orang cerdas selalu seperti ini? Bicara singkat-singkat membuat orang yang mendengarnya harus memutar otak.


Please deh, Mas. Kalo ngomong jangan setengah-setengah. Beban banget buat otak Safa yang hanya separuh.


Sepertinya Edzar mengerti kebingungan Safa.


“Terima kasih untuk makanan kemarin. Rantangnya sudah saya kembalikan pada bundamu.”


“Oh ...”


Hati Safa mengkerut kecewa. Ia kira Edzar akan bertanya dari mana saja ia semalam tidak pulang. Safa menertawakan kebodohannya, memangnya dia siapa sampai Edzar harus mengkhawatirkannya?


Safa menghela nafas tersenyum, berusaha menekan hatinya yang mulai drama. Harap maklum, hati Safa terbiasa dimanja, jadi dia agak lebay.


“Sama-sama, Om. Walau mungkin masakannya gak seenak makanan cafe.”


Safa menatap Edzar penuh arti, sebelum kemudian tangannya membuka dan menutup pagar, meninggalkan Edzar yang masih mematung di luar.


\=\=\=

__ADS_1


Keberuntungan berpihak pada Safa, Nyonya Halim pergi arisan sesuai harapannya. Akhirnya Safa bisa leha-leha nonton Drakor tanpa khawatir ada gangguan. Bundanya juga tidak ada waktu untuk mengomel karena sibuk dandan di kamar.


Dasar emak-emak, waktu Safa dandan sedikit lebih lama saja langsung diomelin. Lah, Nyonya Halim sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam untuk siap-siap.


__ADS_2