
"P-pak, maaf tadi anaknya gak sengaja nabrak lutut saya...." cicit Safa dengan nada terbata. Safa benar-benar gugup sekarang. Ini pertama kali dia bertemu secara langsung dengan seorang pejabat negara. Hatinya resah. Safa gak akan dituntut 'kan? Apakah ada pasal yang akan menjerat seseorang karena membuat anak kecil menangis?
Semoga bocah itu gak ada luka, bisa-bisa Safa dituduh melakukan penganiayaan. Safa mana bisa melawan anak menteri meski dia masih sebesar kecambah.
Sesuatu terasa menyenggol lengannya. Safa menoleh mendapati Dava yang tengah menatapnya dengan tatapan menuntut. Jujur dia tak mengerti isyarat yang dilayangkan abangnya. Sudah tahu adeknya gak peka, pakai kode-kodean segala.
Melihat Safa yang tidak juga mengerti, Dava menghela nafas samar berusaha sabar. Lupa kalau Safa itu lemot dalam berpikir.
"Pak, saya mohon maaf atas kecerobohan adik saya terhadap anak Bapak. Saya benar-benar menyesal dengan itu. Kalau Bapak tidak keberatan, tolong izinkan Safa menebus kesalahannya."
Safa menoleh cepat, kenapa jadi dia yang disalahkan?
Pak Menteri tertawa renyah, dia mengusap pucuk kepala anaknya dengan sayang. "Tidak perlu, Pak Dava. Saya yakin adik anda tidak sengaja. Ini juga karena Ineu yang kurang berhati-hati. Dia sedang senang-senangnya berlari. Saya dan Mamanya pun pusing dengan kakinya yang tidak bisa diam. Hahaha...."
Kepalanya menggeleng, "Gadis nakal. Kamu diam-diam menguntit Papa, ya?" selorohnya mencubit hidung Ineu. Ineu merengut dengan wajah sedikit merah. Tangisnya sudah berhenti, hanya menyisakan isak kecil yang terdengar lirih.
"Ineu mau esklim..." ucap Ineu dengan logat cadelnya.
"Eskrim? Ya sudah, ayo kita pulang. Nanti sekalian mampir di jalan."
Gadis itu menggeleng. Tanpa diduga jari telunjuknya yang gemuk menunjuk Safa, membuat Safa terperanjat di tempat. Matanya berkedip setengah panik. Mau apa anak itu?
"Kakak Cantik tadi janji mau beliin Ineu esklim," ucapnya polos.
Safa yang tak kalah lugu malah menjawab, "Lho, bukannya tadi bilang gak mau, ya?"
"Aw!" Dava mencubit pinggang Safa gemas. Gak tahu situasi banget ini anak, batinnya.
"Ahh... Eskrim, ya? Dek Ineu tenang saja, Kakak Safa akan beliin bua...nyak buat Adek. Ya 'kan, Kak?" Dava berkedip cepat memberi isyarat pada Safa. Syukurlah kali ini Safa mengerti hingga dia langsung mengangguk.
"I-iya, benar. Kakak beliin, hehe."
.....................
Slurp....
Safa menyeruput kuah sop setelah meniupnya terlebih dahulu. Lalu memasukkan potongan iga yang sudah dibuat kecil-kecil ke mulutnya. Mengunyah dengan rakus bersama nasi yang dipisah di mangkok berbeda. Safa terlihat sangat lahap. Membuat Dava geleng kepala melihatnya.
"Pelan-pelan kali, Dek. Gak akan ada yang minta, kok," cetus Dava sebelum menyuap makanannya dengan santai. Pria itu duduk di sofa, sedangkan Safa gepor di lantai dengan makanan di atas meja.
Mereka tengah makan siang saat ini. Delivery, karena Dava malas keluar. Pun ia melihat sang adik yang juga kelelahan setelah mengantar Ineu jalan-jalan. Entah apa yang dilakukan anak Pak Menteri sampai membuat Safa tepar seperti itu. Safa bilang, dia diajak berkeliling ke berbagai kedai eskrim, namun ujung-ujungnya Ineu malah beli Boba.
Jelas saja Dava tergelak, apalagi melihat wajah Safa yang kusut mirip koran lusuh. Jarang-jarang melihat adiknya tampil berantakan.
"Laper! Capek! Abang diem aja. Princess lagi ngisi tenaga!"
"Ini yang aku benci dari anak kecil, mereka itu ngerepotin," lanjutnya menggerutu.
Dava hanya berdecak dan kembali fokus pada sop iga miliknya. Safa memang tidak terlalu suka dengan anak-anak. Menurutnya mereka sangat mengganggu.
"Dek, Abang punya usaha sama temen. Masih baru. Bantu promosiin, dong."
"Boleh aja. Asal bayarannya Louis Vuitton."
"Ck, baru tahu iklan Bakso Aci semahal itu." Dava bersungut sembari menyuap nasi.
"Kan ekslusif. Bertahan seumur hidup di profil aku. Kalo yang lain cuman beberapa hari. Nah, punya Abang akan terus aku upload secara berkala. Sebanding 'kan?"
Dava mendenguskan senyum tak percaya. Metode iklan dari mana itu? Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dava menyahut menyuruh orang itu untuk masuk. Nampaklah seorang pria tiga puluhan dengan tinggi standar namun cukup tampan. Pria itu membawa sebuah map entah berisi apa. Kakinya mendekat ke arah Dava yang tengah duduk di sofa. Pas sekali abang Safa itu telah selesai makan.
"Ini catatan keuangan yang Bapak minta. Maaf saya harus menyerahkan ini sekarang dan mengganggu waktu Bapak," ucapnya seraya menyerahkan map itu pada Dava. Dava menerima dan membukanya selintas, lalu menyimpannya di atas meja dan beralih meraih gelas berisi air untuk diminum.
"Tidak apa-apa. Nanti saya cek lagi. Kamu bisa keluar sekarang."
Pria itu mengangguk, lantas keluar dari ruangan Dava. Safa melihat abangnya yang tengah bersandar dengan mata terpejam, kemudian dia menyeletuk, "Bukannya ditawarin makan, malah suruh keluar. Gak sopan banget jadi atasan."
"Suka-suka," sahut Dava lirih.
Sorenya Safa pulang ke rumah Kamila. Dia berencana menginap di rumah sahabatnya itu. Kamila bilang besok dia free, makanya ngajak Safa maraton film. Safa juga sudah bilang sama orang tuanya, bahkan Dava sendiri yang mengantarnya ke sini. Kalau sama Kamila mereka sudah percaya. Gadis itu sebelas dua belas dengan Safa yang hobi diam di rumah.
Safa mandi dan ganti baju di sana. Ada beberapa pakaian miliknya di lemari Kamila. Sengaja Safa tinggal buat jaga-jaga kalau harus bermalam seperti sekarang.
__ADS_1
Sebelum mulai nonton, mereka jalan-jalan dulu beli makanan. Dari mulai ciki-cikian di minimarket sampai street food seperti hotang, otak-otak, bakso bakar, pangsit, dan jajanan lain yang sekiranya ada di blok surganya kuliner Jakarta Selatan itu.
Safa dan Kamila memasuki mobil, lantas mereka pulang dengan segunung makanan di kursi belakang.
"Mau nonton apa dulu, nih?" tanya Kamila sesampainya di rumah. Gadis itu tengah mengotak-atik laptop.
Safa menyeruput jus mangganya sebelum menjawab, "Terserah, yang penting tamat."
"Bulgasal?"
"Enggak, ah. Aku gak suka pemain ceweknya."
Kamila berdecak, "Tadi katanya terserah. Bantu pilih, dong," ujarnya setengah kesal.
Safa mendekat dengan setusuk bakso bakar. Matanya menyisir jajaran Drama Korea terbaru di sebuah aplikasi nonton berbayar. Sesekali ia menggigit bulatan bakso di tangannya. Lalu telunjuknya mengarah pada salah satu poster yang berhasil menarik perhatiannya.
"Kayaknya ini seru," ucapnya sambil mengklik drama tersebut.
Balum setengah jalan, Safa sudah berhenti nonton dan minta ganti yang lain. Yang mana hal itu membuat Kamila mencibir. Kebiasaan, kalau pemeran ceweknya gak srek pasti jatohnya begini. Safa itu suka Drakor, tapi gak maniak kayak orang-orang yang melahap semua drama untuk ditonton. Safa itu lebih condong pada pemeran utama wanita. Entah seperti apa kriteria yang dia tanamkan. Yang pasti sulit ditebak, karena Safa sendiri sulit menjelaskan.
Itu juga berlaku untuk semua film. Safa tak serta-merta akan menonton hanya karena film itu tengah booming dan ramai diperbincangkan. Tetap Safa harus menilai pemeran wanitanya yang srek dengan hati.
"Udah kayak nyari jodoh aja harus sesuai hati," ucap Kamila saat pertama kali tahu kebiasaan Safa yang satu ini.
Akhirnya setelah tiga puluh menit berlalu mereka menemukan drama yang cocok. Biasanya Safa akan mencari hingga berjam-jam. Tapi syukurlah kali ini tidak. Bisa mati bosan Kamila kalau itu terus terjadi.
Pilihan mereka jatuh pada drama baru Park Min Young dan Song Kang. Wanita dewasa, kalem, dan pria naif yang imut-imut gemesin. Ralat, Safa yang memilih. Kamila hanya ikut saja karena sejujurnya dia oke-oke saja mau nonton apapun. Selama bukan bunuh-bunuhan yang frontal banget kayak penggal kepala atau apapun yang akan membuatnya jijik dan sulit makan. Dia bukan Safa yang rewel dalam segala hal.
Beralih pada episode dua, mereka sudah disuguhi adegan panas kedua tokoh utama. Jangan tanya wajah Safa dan Kamila bagaimana. Dua wanita jomlo itu jelas mupeng dengan mata lekat menatap layar. Mereka kompak berhenti mengunyah saking fokusnya. Sebenarnya gak terlalu hot jika dibandingkan film Hollywood. Tapi untuk ukuran single seperti mereka yang gak punya partner untuk mencoba, adegan seperti itu cukup membuat hati ser-seran.
Lagi asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba....
Jlep.
"Aaa...!!"
Gelap. Seluruh lampu di rumah Kamila mati tanpa peringatan. Reflek Safa menjerit dan melonjak memeluk Kamila karena terkejut. Kamila juga sama, namun gadis itu menyikapinya dengan lebih tenang. Tidak seperti Safa yang kini merengek-rengek sambil mendekapnya erat, membuat Kamila sesak tak bisa bergerak.
"Diem kenapa, sih, ih. Sakit nih telinga! Udah tau gelap. Nyalain ponsel, kek. Bukan malah teriak-teriak."
"Lepas! Aku mau liat keluar dulu," lanjut Kamila sambil menggeliat berusaha melepas lingkaran tangan Safa.
Bukannya lepas, Safa malah mengeratkan pelukan. "Ngapain keluar?" tanyanya ngeri.
"Ck, mau liat apa semua rumah lampunya mati atau cuman rumah ini doang." Kamila menjelaskan dengan malas. "Udah, ah, lepas! Sesak, nih!"
Kamila melepas paksa pelukan Safa dan beranjak dari sofa. Tak mau ditinggal sendiri, Safa ikut bangkit dan merangkul lengan Kamila erat-erat. Kamila memutar bola matanya malas. Susah punya temen penakut, batinnya.
"Saf, kamu tunggu di sini, deh. Gak akan lama, kok."
"Gak mau!" tolak Safa keras.
Kamila menghela nafas menyerah, "Ya udah, ambil ponselnya, kita butuh senter."
"Emang senter kamu di mana?"
"Safa....." panggil Kamila gemas.
Tak mau berdebat, Safa menyerahkan ponselnya yang sejak tadi ia pegang.
"Kenapa gak dinyalain?" tanya Safa ketika melihat Kamila yang malah terbengong.
"Kamu dari tadi pegang ponsel?"
Dengan polos Safa mengangguk. Ingin rasanya Kamila menjerit meluapkan rasa kesal. "Terus kenapa gak kamu nyalain.... Malah teriak-teriak gak jelas. Kenapa, hah?"
"Kan takut. Ya udah, sih tinggal nyalain apa susahnya? Repot amat," ujar Safa lempeng.
Heuuhhh.... Kamila menggertakan giginya gemas.
Kamu yang repot, Safa! Bukan aku!
__ADS_1
Malas memperpanjang urusan, lekas Kamila berjalan ke ruang depan. Tentu saja Safa mengintilinya seperti anak ayam. Gadis itu tak mau melepas lengannya barang sedetik pun.
"Mil... pelan-pelan," bisik Safa takut.
Kamila tak menghiraukan. Bergegas kakinya mendekat ke arah jendela dan melihat keluar. Ternyata semua gelap. Berarti memang mati lampu. Entah sejak kapan hujan turun semakin deras. Memang, sih, sewaktu mereka pulang membeli makanan langit sudah bergemuruh. Sekarang pun petir menyambar-nyambar saling bersahutan. Mungkin ini juga alasan kenapa listrik mati total. Bisa jadi ada pohon tumbang.
"Mati semua, ya, Mil?"
"He'em."
"Terus gimana, dong?"
"Gimana apanya?" Kamila masih sibuk melihat keluar.
"Ya kita gimana? Masa mau gelap-gelapan."
"Ya terus? Namanya juga mati lampu, ya gelap lah."
"Kamu gak ada genset gitu?"
"Enggak, rusak."
"Gak beli lagi?"
"Banyak nanya, ya kamu. Bicit! Udah, ah, ayo lanjut nonton aja."
"Bentar bentar! Kamu gak ada lilin?"
"Gak ada!" tegas Kamila mulai kesal.
Safa merengut. Kamila berbalik hendak kembali ke ruang tengah. Namun langkahnya tertahan karena Safa yang tiba-tiba memaku kakinya. Kamila menoleh, "Kenapa?" tanyanya.
Kamila mengikuti arah pandang Safa yang melihat ke luar jendela. "Ngeliatin apa, sih?"
Safa terdiam, mendadak wajahnya berubah pias seperti melihat hantu. Membuat Kamila berkerut terheran-heran.
"Kamu kenapa, sih? Ngeliatin apa?" tanyanya lagi.
Gadis itu tampak menelan ludah sebelum kemudian menjawab dengan suara pelan, "Mil, tadi aku liat ada orang di sana."
"Orang?" Kamila melihat lagi ke luar jendela. Tidak ada siapapun. "Mana? Gak ada siapa-siapa."
Safa menggeleng yakin, "Enggak. Tadi aku beneran lihat orang. Cowok. Pakai topi."
"Ah, ngadi-ngadi. Orang gak ada siapa-siapa, kok."
"Mil.... Aku gak bohong...." ucap Safa mulai merengek.
"Halusinasi kali. Atau enggak orang yang mau beli lilin. Udah, ah, ayo."
Kamila menarik lengannya sedikit memaksa. Mau tak mau Safa melangkah mengikuti Kamila kembali ke ruang tengah. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, melihat jendela yang sudah tertutup gorden dengan bayang-bayang kilat yang menyala di luar sana.
Safa yakin dia melihat seseorang tadi. Posturnya juga terasa familiar di mata Safa. Topi hitam itu, entah berapa kali ia melihatnya.
.............
Di tempat lain, seseorang berjalan di tengah lorong sebuah rumah sakit. Ketukan sepatunya menggema memecah suasana malam yang sunyi. Jas putih melekat sempurna di tubuh jangkungnya yang tegap. Kakinya melangkah dengan mantap menuju sebuah ruangan. Sejenak ia berhenti saat dua orang bodyguard mencegatnya di depan pintu ruang rawat VIP, tempat yang ia tuju sejak tadi. Keduanya mengangguk karena dirasa tak ada yang mencurigakan. Dokter itu dipersilahkan masuk.
Tepat saat pintu tertutup, pria itu menurunkan maskernya hingga menggantung di bawah dagu. Matanya tertuju pada satu-satunya ranjang di sana. Sebuah tubuh teronggok tak berdaya di atasnya. Dokter itu mendekat perlahan, matanya datar menatap pasien wanita dengan keadaan memprihatinkan. Kepalanya menggeleng tak habis pikir. Orang seperti ini masih dipertahankan?
"Tidak berguna," bisiknya pelan.
Lelaki itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, lalu berhenti pada sebuah sofa yang letaknya tak jauh dari sana. Kakinya mendekat, mengambil sebuah bantal sebelum kembali ke arah ranjang. Menatap tanpa ekspresi wanita lemah dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.
Perlahan tapi pasti, tangannya terangkat meraih alat bantu pernapasan yang melingkupi hidung serta mulut wanita itu. Namun, gerakannya terhenti saat mengingat sesuatu. Pria itu berdecak menjauhkan tangannya, melempar bantal yang tadi sempat diambilnya dari sofa.
"Aku lupa telah menyiapkan cara yang lebih berkelas untuk menghabisimu," ucapnya merogoh sesuatu di balik kaos kaki.
Sebuah suntikan lengkap dengan cairan di dalamnya. Lantas dia membuka penutup jarum dan menjentikkan jarinya di sana. Sudut bibirnya terangkat miring. Matanya tak lepas menatap wanita yang terbaring lemah itu, lalu beralih pada tiang infuse di sampingnya.
"Good bye, ma'am," bisiknya sembari mengarahkan suntikan pada selang infuse.
__ADS_1