
Acara tasyakur tujuh bulanan baru saja usai dilaksanakan. Rumah Edzar maupun Tuan Halim penuh oleh keluarga yang datang dari berbagai kota.
Bu Dyah, Nyonya Halim, dan sekumpulan wanita yang terdiri dari Uwa serta para Bibi ramai membincangkan berbagai hal mengenai kelahiran. Sementara Edzar bergabung dengan Tuan Halim dan keluarga laki-laki yang lain.
Adapun Safa yang sedang tergelak bersama Kamila dan para sepupunya. Ditambah sebagian saudari Edzar yang ikut meramaikan.
Semuanya penuh sukacita. Kekeluargaan yang terjalin begitu kental dan hangat.
"Gak nyangka banget, ih, kamu udah mau punya anak. Sementara aku jomlo mulu. Ayang aja gak punya." Kamila merengut di samping temannya.
Safa terkekeh. Pun yang lainnya tertawa mengasihani sekaligus mengejek.
"Lha, Bang Randy gimana?" goda Safa menyenggol lengan gadis itu.
Kamila merengut. "Masih abu-abu ..."
"Dia tuh entah suka atau enggak sama aku. Dibilang suka, gak pernah bilang. Dibilang gak suka tapi dia perhatian. Aku harus apa ...."
"Daripada pusing mikirin ayang, mending kamu fokus sama kuliah. Bentar lagi kan kamu masuk semester akhir," sahut Liliana yang langsung disetejui semuanya.
"Eh, anakku dah tidur. Aku duluan, ya?" Rizkia bergegas menggendong putranya ke rumah Tuan Halim. Mereka memang menginap di rumah orang tua Safa sejak kemarin. Dan mungkin besok pada pulang ke kota masing-masing.
Malam semakin larut, Edzar meminta Safa untuk segera memasuki kamar. Pria itu sangat konsisten menyuruhnya tidur tepat waktu. Ini yang membuat Safa kesal. Dia kan kadang gak bisa tidur, tapi Edzar selalu memaksa untuk matanya terpejam.
"Kenapa malah ngeliatin? Buka resletingnya." Safa merengut melihat Edzar yang malah terbengong. Bukankah tadi katanya suruh tidur?
Edzar terpaku menatap sang istri dengan teduh. Sejak tadi ia ingin mengungkapkan kekagumannya. "Kamu sangat cantik pakai hijab dan gamis itu."
Aduh, susah kalau sudah gombal begini. Batin Safa. Tak ayal pipinya merona. Hadeuh, dasar lemah. Pasti di perut anaknya sedang memutar bola mata mendengar kebucinan orang tuanya.
Safa memang pakai busana muslim tertutup. Persis saat empat bulanan bayi mereka. Karena memang gak enak rasanya. Masa pengajian gak tutup aurat.
"Uda gak gombal, Sayang. Kamu memang cantik pakai gamis itu."
"Iya, iya ... Tau, kok, cantik." Safa membuang muka.
Edzar terkekeh. Mendekat dan mulai membantu membuka resleting gamis yang letaknya di belakang. Tentu Safa kesulitan meraihnya.
__ADS_1
"Tapi fotonya gak Uda jadiin profil."
Safa mendelik. "Kenapa? Takut gak ada yang naksir sama A Uda lagi? Atau Safa gak bagus di foto itu?" sewotnya.
Kepala Edzar menggeleng. Tangannya lantas memeluk Safa dari belakang. Sementara gamis itu sudah merosot bertumpuk di lantai. Edzar menciumi rambut Safa yang sudah tak tertutup hijab.
"Kamu terlalu cantik. Uda cemburu kalau pasang foto kamu. Karena nanti pasti banyak yang suka."
"Sekali lagi Uda gak gombal. Uda hanya ingin menjaga kamu dari pandangan laki-laki yang bukan makhrom. Uda bukan laki-laki suci. Jujur saja sebelum kita menikah, Uda kerap memandangi foto kamu dengan hasrat. Maaf."
"Wahh ... Jadi A Uda memang beneran suka mikir jorok tentang Safa, ya? Ngaku!" Safa menyenggol tubuh Edzar di belakangnya.
"Hmm." Lelaki itu hanya menggumam. Dan jawabannya sudah pasti iya.
Kok, Safa jadi takut, ya.
"Kalau A Uda saja begitu, gimana orang lain, ya?"
"Makanya, sebenarnya Uda mau minta kamu untuk tidak terlalu sering posting foto. Kalau bisa yang lama juga dihapus. Apalagi foto-foto kamu lumayan seksi. Uda saja pernah bangun lihatnya."
Kesannya kayak Safa yang maruk banget.
"Uda normal," sahut Edzar pendek.
"Berarti A Uda juga sering gitu kalau lihat cewek-cewek seksi?" tanya Safa nyolot.
Edzar tak bisa menahan tawanya. Dia paling senang kalau sang istri sudah cemburu. Ia gigit tali bra Safa, menggesernya ke samping hingga melewati bahu. Edzar semakin dibuat kagum dengan ukuran asetnya yang kian membesar. Lebih dari saat sebelum hamil.
Sebelum hamil saja dada Safa sudah besar dan berisi. Apalagi sekarang. Sebentar lagi wanita itu jadi ibu menyusui.
"Uda memang kagum dengan keindahan makhluk bernama wanita. Tapi, di antara semuanya hanya kamu yang mampu membuat Uda hampir gila. Mau itu dulu atau sekarang, kamu tetap melekat di hati Uda."
Safa masih tak puas dengan jawaban Edzar. Dia merengut kala lelaki itu membawanya ke atas ranjang. Duduk setengah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Safa memang engap kalau berbaring terlentang. Makanya Edzar membeli banyak bantal untuk tambahan. Ada bantal leher juga yang kerap Safa pakai jika sedang ingin.
"Mau apa sih?" Kening Safa berkerut melihat Edzar yang duduk di hadapannya.
Edzar tersenyum. Dengan pelan ia menurunkan tali bra Safa yang satunya lagi. Hingga kini Safa setengah telanjang dengan payu*dara menantang yang semakin hari semakin sekal.
__ADS_1
Edzar menyentuh pelan bulatan itu. "Sakit?" tanyanya seraya mendongak.
Safa menggeleng. "Gak terlalu. Kan cuma diusap."
"Kalau diisep sakit?"
"Coba aja."
Keduanya saling melempar tatap. Edzar pun tak menolak undangan Safa yang menggoda. Dia mulai melabuhkan bibirnya di pucuk mencuat itu. Menyentuhnya sedikit dengan lidah. Lalu menghisapnya hati-hati.
Namun sesaat kemudian Edzar menjauh. Matanya berkedip, lidahnya berdecap merasakan sesuatu.
"Sudah ada airnya, ya?" Wajah Edzar terlihat takjub.
Safa tersenyum. Ia mengangguk merespon reaksi yang menurutnya lucu itu. "Kadang suka keluar kalau dipijat."
"Waahh ...." Edzar tak lepas menatap buah dada istrinya.
Ia tersenyum haru. Menunduk, menempatkan wajahnya di atas perut Safa yang membuncit. Sudut matanya berair merasakan pergerakan putranya di dalam sana. Kegiatan baru yang rutin ia lakukan semenjak Safa hamil. Dia akan memeluk dan menciumi perut sang istri. Memantau perkembangannya setiap hari. Seperti sekarang.
Edzar mengecup dalam permukaan perut besar itu. Anaknya terbilang aktif bergerak. Dan Edzar selalu takjub karena saat itu perut Safa akan berkedut.
"Apakah sakit?"
"Hm?"
"Saat dia bergerak. Apa kamu merasa sakit?"
"Geli, sih."
Edzar tersenyum. Mencium kembali perut Safa. Saat itulah putranya kembali bergerak. "Jangan nakal, ya, Nak. Jangan sering-sering juga geraknya. Kasihan Mami kamu gak bisa tidur," ucapnya seraya mengusap lembut di sana.
Akhirnya dia setuju dengan panggilan Papi Mami sesuai permintaan Safa. Mulanya Edzar ingin Ayah dan Bunda saja. Atau Papa Mama juga boleh.
Tapi karena Safa maunya Papi dan Mami, ya sudah, Edzar tak bisa memaksa. Terlebih wanita itu yang paling berperan besar mengandung anak mereka.
"A Uda, kalau Safa meninggal gimana?" tanya Safa tiba-tiba.
__ADS_1