
Adhyaksa. Artinya adalah jaksa. Entah bagaimana Ayah dan Ibu memberi saya nama itu. Seolah mereka memang sengaja menyematkannya sebagai do’a untuk karier saya di masa depan. Terbukti dari sekarang hal itu terwujud dalam bentuk sebuah profesi.
Mereka tidak memaksa saya. Saya sendiri yang terobsesi dengan nama sendiri. Bertekat merealisasikan makna menjadi sebuah gelar. Bukan semata untuk bergaya, tapi untuk intensi juga cita-cita yang mulia.
Jaksa. Bagi saya bukan hanya profesi semata. Tapi jaksa adalah segalanya. Tempat mengabdi pada negara dengan ketulusan hati demi menegakkan hukum. Banyak suka dan duka yang saya alami selama menjadi seorang jaksa. Terhitung 10 tahun lebih saya bekerja, berbagai pengalaman menarik saya cecap dan rasakan selama bertugas. Termasuk berpindah-pindah tempat sesuai penempatan dinas.
Menjalani hidup dari satu kota ke kota lainnya. Menangani berbagai kasus dan permasalahan yang berbeda. Mengatasi beragam perkara yang seolah tak ada habisnya. Banyak pelajaran yang saya ambil dari semua itu.
Benar. Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup.
“Jadi kamu akan dimutasi lagi ke sini, Nak?” tanya Ibu ketika saya menelpon malam itu. Ada getar senang dalam suaranya.
Saya tersenyum, “Lebih tepatnya Jaksel, Bu.”
Ibu mende*sah, “Baiklah. Setidaknya tidak sejauh tempat kerjamu yang sekarang. Ibu akan lebih mudah mengunjungimu nanti.”
Saya kembali tersenyum sebagai tanggapan. Begitulah kira-kira percakapan antara saya dan Ibu ketika memberitahunya perihal mutasi. Beliau sangat senang mengenai perpindahan saya ke Jakarta.
Sejak Ayah berpulang, Ibu tidak lagi memiliki sandaran selain anak-anaknya. Hari-harinya beriring sepi. Terlebih harus merelakan satu-persatu dari mereka bererak memiliki keluarga sendiri. Hidupnya semakin hampa. Ditambah saya yang terus-menerus berpindah ke luar kota.
Sempat saya mengajak beliau untuk ikut bersama, namun ibu menolak meninggalkan rumah yang dibangunnya bersama Ayah. Untuk usaha yang Ayah rintis, Tirta yang melanjutkan. Mengingat saya dan Reno memilih jalan berbeda.
__ADS_1
Saya beruntung memiliki orang tua seperti mereka yang tidak pernah membatasi keinginan kami sebagai anaknya. Mereka orang yang independen. Sejak di bangku sekolah Ayah telah membebaskan bidang yang kami minati. Beliau hanya akan menyalurkan sedikit saran-sarannya jika kami sedang kesulitan.
Meski hidup berjauhan dengan keluarga, saya selalu mengusahakan untuk pulang sebulan sekali menengok Ibu. Dan saya bersyukur dengan perpindahan ke Ibu Kota membawa saya lebih dekat pada wanita paling berjasa dalam hidup itu.
Berbeda dari peralihan kerja sebelumnya, di mana saya akan menempati rumah dinas atau mess yang menjadi fasilitas pegawai kejaksaan, maka lain dengan sekarang. Saya memilih membeli hunian sendiri di kawasan yang lumayan dekat dengan Kejari, tempat yang akan menampung aktivitas saya beberapa waktu ke depan.
Bonusnya lagi saya bisa memantau langsung usaha sampingan saya setelah sebelumnya hanya bisa meninjau sebulan sekali. Selebihnya ada orang kepercayaan yang menghandle.
Permukiman cluster menjadi pilihan. Selain karena keamanan yang terjamin, kawasan itu termasuk paling strategis bagi saya. Syukurlah tabungan saya mencukupi.
Rencananya, rumah itu akan saya sewakan lagi jika waktu mengharuskan saya untuk kembali berpindah. Lumayan, bisnis properti cukup menjanjikan saat ini. Saya memang terbiasa merinci hal apa saja yang akan saya lakukan di masa mendatang.
Ibu sengaja menempatkan Bik Yah sekaligus untuk memantau saya, mengetahui kabar-kabar tentang saya. Saya faham niatannya itu. Dan saya memaklumi karena semua itu merupakan bentuk perhatian orang tua pada anaknya.
Ada rasa bangga tersendiri memiliki hunian pribadi. Dulu saya berpikir karena hidup berpindah-pindah, saya tidak perlu repot-repot memikirkan untuk punya sebuah rumah. Toh, saya difasilitasi untuk itu. Tapi dipikir lagi, saya juga ingin menikmati kemewahan hasil jerih payah sendiri.
Selama ini saya hidup berkecukupan karena sokongan orang tua. Untuk menunjukkan kesuksesan, diperlukan bukti nyata sebagai afirmasi realitas. Hal itu juga akan memupuk kebahagiaan di hati mereka.
Syukurlah beberapa bisnis saya berjalan lancar, hingga bisa menambah pendapatan yang semula tak seberapa.
Orang bilang, saya perencana yang baik. Mungkin iya. Saya hanya menjalankan apa yang menurut saya benar. Menata hidup adalah hal yang sangat penting bagi saya. Tanpa perincian yang serius, kecil kemungkinan hidup akan teratur.
__ADS_1
Itu juga berlaku untuk masalah hati. Selama ini saya selalu membatasi diri dari sesuatu yang akan memicu kerumitan. Saya terlalu malas jika harus direpotkan dengan sesuatu yang berbau perasaan.
Meski berulang kali Ibu meminta untuk segera menikah, berkali-kali juga Ibu mengenalkan saya pada beberapa anak temannya. Tetap saja, tidak ada satupun dari mereka yang dapat menggetarkan hati saya.
Katanya, cinta itu akan datang setelahnya. Cinta akan hadir karena terbiasa. Tapi yang tidak orang lain mengerti adalah, saya sangat sulit menjatuhkan hati pada seorang wanita. Entah kenapa, berapa kali pun saya mencoba menjalin hubungan, semuanya akan berakhir sia-sia. Ujung-ujungnya saya akan menyakiti mereka karena tak juga membalas perasaannya.
Ada sesuatu yang membuat saya enggan, mungkin ini menyangkut pengalaman yang tak bisa saya sebutkan. Hal yang ingin saya lupakan dan kubur dalam-dalam. Saya tahu, masa lalu bukan untuk disesali, melainkan sebagai wadah untuk mawas diri, supaya lebih matang bilamana hal serupa terjadi lagi.
Saya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi dulu, tapi untuk mengikis seratus persen impresinya membutuhkan waktu cukup lama. Efeknya tak serta-merta hilang, hati saya masih sulit untuk terbuka lagi.
“Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Nak? Umurmu tidak muda lagi. Apa kamu tidak berpikir untuk memiliki keturunan?” cecar Ibu saat lagi-lagi saya mengecewakannya. Kencan buta yang direncanakannya kembali gagal.
“Bu, saya tidak melakukan apapun. Mereka sendiri yang memutuskan tak ingin melanjutkan ini,” sanggah saya waktu itu.
“Betul. Kamu memang tidak melakukan apapun. Tapi mulutmu yang terlalu jujur itu merisaukan, Edzar!”
“Apa salahnya bicara jujur, Bu? Jika mereka memang berniat menjalin hubungan dengan saya, maka mereka berhak tau kebenarannya,” balas saya masih dengan nada halus. Pantang bagi saya meninggikan suara di hadapan orang tua.
“Kebenaran tak melulu harus dibeberkan. Ada kalanya kamu harus diam demi kebaikan.”
“Bu, sudah. Abang baru pulang dari Surabaya. Masa iya Ibu langsung cekoki dia dengan kencan buta? Abang juga capek kali, butuh istirahat.” Tirta yang kala itu ada di rumah menjadi penengah antara kami.
__ADS_1