SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
OUR FAMILY 2


__ADS_3

"Ai?"


"Hm?" Safa bergumam, menjawab Edzar yang baru saja memeluknya dari belakang.


"Kangen," bisik Edzar halus.


"Tiap hari juga ketemu."


"Enggak, kita ketemu di ruang makan dan kamar saja. Uda minta maaf atas kesibukan yang menyita waktu kita."


Safa menghela nafas lalu menyimpan wadah skincare yang baru saja dipakainya. Ia menatap Edzar melalui pantulan kaca di depan mereka.


Tangannya turun mengusap bisep Edzar yang melingkari perutnya. "Gak apa-apa, namanya juga tugas, Safa ngerti, kok. Tugas A Uda bukan hanya menegakkan keadilan dalam keluarga, tapi juga negara."


Safa tersenyum lembut. "Safa bangga punya suami kayak A Uda. Maaf, ya, kemarin sempat egois dan nuduh A Uda yang macem-macem. Habisnya Safa takut banget, Safa sayang banget sama A Uda. Safa takut A Uda berubah."


Edzar terharu mendengar keluh kesah itu. Ia mengecup pelipis sang istri dan memeluknya semakin erat.


Sorot mata keduanya bertemu di depan cermin."Tidak akan," bisik Edzar serak.


Pandangan yang menggelap mengawali segala cumbuan yang menggelora. Entah kapan mulanya Edzar membopong Safa ke atas tempat tidur, yang pasti malam itu mereka kembali harmonis setelah beberapa bulan ini kesibukan Edzar memicu sedikit kerenggangan.


Semakin hari Edzar semakin belajar, bahwa ia harus mulai mengatur waktu untuk bekerja dan perhatiannya untuk keluarga. Keduanya sama-sama penting, namun dalam porsi dan prioritas yang berbeda.


Pagi harinya Safa memasak seperti biasa. Ia tersenyum ketika mendapati putranya sudah rapi menuruni tangga. Seragam sekolah elite menempel lekat di tubuhnya. Ibra termasuk anak dengan pertumbuhan tinggi badan yang terbilang pesat. Bahkan tingginya sebentar lagi menyamai Edzar.


"Morning, Sayang ..."


"Morning, Mom," sahut Ibra, mengecup sekilas pipi Safa yang sudah duduk menanti di ruang makan.


Ibra mengambil cepat gelas susu yang sudah disiapkan Safa lalu menenggaknya hingga habis. Ia mencomot sandwich di piring dan memakannya serampangan.


Melihat itu Safa kontan menggeleng. "Mas ... yang bener, dong, makannya. Duduk. Mau ke mana sih buru-buru banget? Masih jam 6 juga. "


"Ibra berangkat duluan, Mi. Audi mau piket hari ini, Mas mau bantuin dia, kasihan."


"Audi piket?"


"Huum," gumam Ibra dengan mulut penuh.

__ADS_1


"Palingan nanti kamu yang bersih-bersih, bukan Audi, ya kan?"


"Hehe, Audi masih kecil, kasihan."


Berdecak, Safa kembali menggeleng. "Guru membuat program itu bukan tanpa alasan, Mas. Kalau kamu terus yang gantiin Audi setiap piket, kapan Audi bisa bersih-bersih sendiri?"


Mungkin Safa ngomong panjang lebar, namun Ibra seolah tak menghiraukan. Anak itu malah minum cepat lalu mengambil tangan sang mami untuk salim.


"Ibra berangkat. Assalamualaikum."


"Ih, cepet banget," keluh Safa.


"Ibra buru-buru, Mi."


"Ai!" Di tengah kekisruhan keduanya, suara Edzar terdengar dari lantai atas.


Selanjutnya terdengar langkah kaki yang menuruni tangga dengan cepat.


Safa menatap heran suaminya yang masih memakai kolor dan kaos singlet. "Kok belum pakai seragam?"


Edzar menggaruk alis. "Itu ..."


"Iya, tapi ... itu, tadi celananya kotor kena lotion kamu."


"Apa? Kok bisa?"


"Hehe, Uda salah ambil minyak rambut tadi," ringisnya tak enak. "Botolnya malah tumpah saat Uda buru-buru."


Astagaaa ...


Ingin rasanya Safa memaki. Tapi mau bagaimana lagi. Memaki pun tak akan menyelesaikan masalah.


"Mi, Ibra berangkat, ya?"


Safa hampir lupa dengan anaknya. Ia menoleh begitu pula Edzar. Pria itu mengernyit sebentar. "Piket?"


Berbeda dengan Safa, Edzar sudah hafal betul kalau Ibra sudah giat dari jam 6, itu berarti jadwal piket Audi.


"Hm. Assalamualaikum ..." Ibra mencium tangan Safa dan Edzar bergantian, lalu melenggang keluar dan berlari ke rumah di seberang mereka. Siapa lagi kalau bukan rumah Bang Dava.

__ADS_1


"Ck, ck, ck, Ibra terlalu berlebihan sama Audi gak sih, A?"


"Berlebihan gimana?"


"Dia kayak over gitu."


"Wajar lah, Ibra sudah anggap Audi adik sendiri. Dia anak tunggal dan gak punya seseorang untuk dijaga selain ibu bapaknya."


"Makanya, ayo program hamil lagi biar Ibra punya adik," pancing Safa. Siapa tahu kali ini berhasil.


Tapi seperti yang sudah-sudah Edzar tetap menolaknya. "Apa, sih? Udah tua masih mau nambah anak."


"Enak aja. Safa masih 35, ya! Masih ting-ting! Emang A Uda udah mau 50 tahun?"


"47, kok," sahut Edzar tak terima.


"Ya tetap aja 3 tahun lagi 50," balas Safa tak mau kalah.


"Terserah, yang penting tenaga Uda masih kuat buat gempur kamu," ucap Edzar cuek.


"Digempur terus tapi gak jadi-jadi. Sekali-kali jangan pake lateks kenapa, sih? Gak enak juga ke akunya," rengek Safa.


Dia benar-benar mau punya anak lagi, tapi Edzar selalu punya seribu satu cara dan alasan agar semua itu tak terwujud.


"Safa tuh mau punya anak lagi biar gak kesepian di rumah. Sekarang kan Ibra makin gede, udah sekolah, pulang sore kalo les. A Uda juga pulangnya sore bahkan sering malem, rumah ini kayak gak ada penghuninya selain Safa."


"Ai, cukup, ya?" mohon Edzar.


"Tau, ah! A Uda mah gitu!" Merengut, Safa balik badan dan kembali ke dapur tanpa menghiraukan Edzar.


"Lho, lho, Ai? Kok marah, sih? Ini baju Uda gimana?"


"Gatau! Urus aja sendiri!" teriak Safa tak peduli.


"Astaga," lirih Edzar sambil meremat rambut.


Mana asisten rumah sedang cuti. Masa iya Edzar suruh supirnya untuk setrika baju?


"Ai!"

__ADS_1


__ADS_2