
Safa kembali melihat rak makanan.
Diko mengangguk, "Yah... bisa dilihat, aku juga baik. "
"Eh, kamu juga suka itu?" tanya Diko menunjuk apa yang Safa pegang.
Safa mengangguk, membuat pria itu tersenyum. "Aku juga suka."
Safa tak tahu harus menanggapi apa selain balas tersenyum. Walau dia rasa tarikan bibirnya terasa kaku. Safa beralih ke rak minuman, dia mengambil satu susu kotak, kemudian berjalan ke kasir untuk membayar.
Diko mengikutinya di belakang. Mungkin juga sudah selesai. Entahlah, Safa mengangkat bahunya tak peduli.
Kasir itu menyebutkan total belanjaan. Safa segera merogoh saku celana traningnya untuk mengambil dompet. Dia bayar cash karena jumlahnya tak terlalu besar. Ya... di atas 500 ribu lah.
Selesai membayar, Safa langsung bergegas pulang. Diko menyusul kemudian. Akhirnya mereka berjalan bersama. Safa meminum susu kotaknya dengan santai, sesekali Diko mengajaknya bicara yang akan Safa tanggapi seadanya.
Hingga tiba di mana langkah Safa memelan, dia berbalik sedikit melihat sorot lampu dari belakang. Sebuah Fortuner hitam melewatinya. Safa hafal plat nomor itu.
Jantungnya berdebar keras saat tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Edzar. Lagi.
Hanya sekilas, tapi waktu seolah melambat. Pria itu juga meliriknya dari kaca jendela yang terbuka. Sebelum kemudian membuang muka karena mungkin harus fokus pada jalan.
Entahlah, raut Safa tiba-tiba kosong. Raganya memang berjalan, namun pikirannya tidak tahu berada di mana.
Diko menyadari itu. Dia melihat mobil yang berlalu cukup jauh di depan mereka. Tatapannya tak terbaca. Sudut bibirnya berkedut entah memikirkan apa. Tiba-tiba saja dia bertanya, "Itu orang baru, ya?"
"Ya?" Safa sedikit tersentak.
"Yang tadi lewat. Itu orang baru?"
"Eh, iya, dia tetangga baru aku."
Diko mengangguk pelan.
"Oh, pantas."
"Pantas?" tanya Safa bingung.
__ADS_1
"Pantas aku baru lihat, hehe."
Entah ini hanya perasaan Safa saja atau senyum Diko memang terkesan aneh di matanya?
Safa menggeleng, yang aneh itu otaknya. Ini pasti efek patah hati, dia jadi sering ber-negative thinking pada orang.
.............
Sabtu pagi yang cerah, secerah penampilan Safa yang sedang berusaha kembali ceria. Hari ini Safa ada janji dengan Kamila untuk pemotretan beberapa produk endorse yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya.
Kamila sangat mahir mencari klien. Entah dari mana dan bagaimana cara Kamila mendapatkannya. Yang pasti, rekening Safa selalu terisi setiap hari. Memang tidak sebanyak pemberian ayah dan abangnya, tapi ada perasaan tertentu saat kita menghasilkannya dengan cara sendiri.
Kamila bilang dia sudah di jalan dan hampir sampai, jadi Safa putuskan untuk menunggu di luar gerbang.
Namun Safa tidak pernah mengira bahwa dia akan bertemu Tante Dyah di sana. Seketika senyumnya berubah canggung saat melihat wanita itu.
Safa menganggukkan kepala bermaksud menyapa.
"Pagi, Tante. Nginap di sini, ya?" tanyanya berusaha bersikap senormal mungkin.
Tante Dyah mengangguk dengan senyum singkat. Responnya membuat Safa menggaruk pipi merasa bingung. Bibirnya tak henti tersenyum kering. Safa berdiri dengan kikuk. Ingin rasanya dia balik masuk ke rumah. Tapi tindakan itu justru terkesan kekanakan. Bukankah Safa sedang berusaha bersikap dewasa?
"Eh?" Safa tersentak menoleh, "I-iya, Tante. Hehe."
"Tante sudah rapi. Mau pergi juga?" tanya Safa balik.
Aduh, terdengar kepo gak, sih? Niat Safa hanya ingin mengobrol. Tapi dia bingung harus bahas apa.
"Iya. Saya dan Edzar ada janji dengan Liandra."
Liandra?
Melihat Safa yang sepertinya tengah berpikir, Dyah pun menjelaskan. "Perempuan yang sedang dekat dengan Edzar. Kemarin juga sempat ke sini."
"Oh...." Safa hanya bisa menggumamkan kata itu.
Jadi namanya Liandra?
__ADS_1
Ada sesuatu yang membuat hatinya merenyut saat mendengar Edzar akan bertemu wanita itu.
Seakan tak cukup membuat perasaan Safa meredup, Tante Dyah kembali berkata. "Mereka sedang masa penjajakan. Do'akan, ya?"
Safa tidak tahu mengapa Tante Dyah membahas hal ini dengannya. Apa wanita itu berniat mengingatkan agar Safa tak mendekati anaknya lagi?
Apapun itu, sekarang Safa semakin yakin untuk melepas Edzar dari hidupnya. Bukan hanya Edzar yang mengharapkannya menjauh, tapi juga ibunya. Safa tidak ada tempat di antara mereka. Safa sadar itu.
Safa berusaha mengulas senyum, "Iya, Tante. Safa pasti do'akan yang terbaik."
"Terima kasih." Tante Dyah balas tersenyum.
"Saya tidak melihat Nyonya Halim dari kemarin. Beliau sehat?"
"Alhamdulillah sehat, Tante. Saat ini Bunda lagi ikut Ayah dinas ke luar kota."
"Oh... pantas."
"Sudah lama?"
"Kurang lebih dua minggu, sih, Tante."
Tante Dyah menganggukkan kepala. "Lama juga, ya."
"Saya jadi teringat Edzar yang kerap berpindah-pindah tempat kerja. 2-3 tahun pasti mutasi ke tempat lain."
"Terlalu fokus dengan karir, dia sampai lupa mencari pasangan. Saya khawatir dengan umurnya yang tidak bisa dibilang muda lagi. Pria seumur dia umumnya sudah memiliki anak. Benar, kan?"
"I-iya, benar." Safa tak tahu harus menanggapi seperti apa. Karena dia juga tidak paham maksud sebenarnya Tante Dyah mengatakan semua ini padanya.
Apakah murni sebuah curahan hati? Atau ada maksud lain?
"Saya kepingin sekali melihat Edzar berkeluarga. Kasihan dia selalu sendiri kalau hidup di perantauan. Kalau sudah menikah, saya tidak akan sering-sering gelisah memikirkan bagaimana Edzar di sana. Karena pasti ada istrinya yang siap mengurus semua kebutuhan dia."
"Makanya, saya mau mencarikan Edzar pasangan yang tepat. Yang bisa mendampinginya dalam suka maupun duka. Saya tahu menjadi jaksa itu tidaklah mudah. Banyak sekali rintangannya. Untuk itu Edzar membutuhkan sosok pendamping yang kuat, dewasa, dan tentu mengimbanginya dengan baik."
Safa tercenung. Salahkah jika dia berpikir secara tak langsung Tante Dyah tengah menegaskan bahwa selamanya wanita itu tak akan memilih Safa sebagai menantu?
__ADS_1
Sebegitu tidak percayanya Tante Dyah pada Safa. Mungkin iya Safa kurang dewasa. Safa juga tidak kuat. Bisa dibilang mentalnya mental tempe. Tapi, apa iya dia tidak bisa mendampingi Edzar?