
Galuh Ganindra. Pengusaha muda yang sukses di usia dini. Dengar-dengar, pria itu sudah senang berbisnis sejak masa sekolah. Tak heran sekarang dia sudah berjaya di usia kurang dari 30 tahun. Dia seumuran Dava. Safa pernah dengar namanya saat abangnya bercerita.
"Saya setuju untuk tetap menanam modal di sini."
Dan karismanya juga kuat. Safa bisa tahu dengan sekali lihat. Hanya saja sejak tadi pria itu tampak diam, jadi Safa kurang menyadari keberadaannya.
"Pak Galuh?" protes satu orang di sana. Pun yang lainnya melempar tatapan keberatan.
Meski begitu Galuh tetap memasang ekspresi tenangnya. Tak peduli suasana di sekitar mulai menegang. Dan Safa yang menaruh harapan penuh pada pria ini. Semoga dengan bertahannya Galuh, yang lain juga ikut mempertimbangkan.
Setidaknya sampai Tuan Halim kembali. Safa yakin ayahnya bisa mengatasi ini.
"Saya rasa apa yang dikatakan Bu Safana benar. Kita tidak sepenuhnya merugi di sini. Hanya pandangan publik terhadap perusahaan ini yang belum kondusif. Hal itu bisa diatasi dengan beberapa cara sebagai upaya pengembalian citra perusahaan. Maka semuanya akan baik-baik saja dan berjalan seperti semula."
"Sangat disayangkan jika perusahaan sebesar ini harus gulung tikar. Maka dari itu, saya bersedia bertahan."
Safa sedikit tersentak saat tiba-tiba saja Galuh menatap ke arahnya. Mau tak mau dia melempar senyum sebagai tanda terima kasih karena pria itu masih mau menaruh kepercayaannya.
Pertemuan berakhir dengan cukup baik. Setidaknya Safa berhasil menahan mereka untuk sementara waktu. Semoga ayahnya cepat pulang dan mengambil alih masalah ini. Mungkin hari ini Safa masih bisa mengatasinya, tapi tidak tahu nanti akan seperti apa.
"Bu Safana?" panggil seseorang saat dia hendak memasuki lift.
Safa menoleh. "Eh, iya."
"Ada apa, Pak Galuh?"
Orang itu adalah Galuh.
"Bisa kita minum kopi sebentar?"
Sejenak Safa terdiam. Ada gerangan apa Galuh mengajaknya minum kopi?
Dia melirik Pak Anjas yang berdiri di sampingnya. Dengan terpaksa Safa menyuruhnya kembali duluan, sementara dia pergi bersama Galuh ke coffeshop yang ada di bawah.
"Anda tidak suka kopi?" tanya Galuh melihat Safa yang hanya memesan teh.
Safa menggeleng sembari tersenyum, pertanda ia membenarkan pertanyaan Galuh.
"Sayang sekali. Tahu begini saya pilih tempat lain untuk kita bicara."
"Tidak masalah. Memangnya Pak Galuh ingin bicara apa?"
Pria itu terdiam sejenak. Matanya menatap Safa dengan rumit. Mau tak mau Safa jadi salah tingkah ditatap seperti itu. Apa ada yang salah dengan wajahnya? Jangan-jangan ada sesuatu di giginya.
"Pak Galuh?" tegur Safa karena pria itu diam saja.
Galuh tak langsung menjawab, dia nampak menarik nafas sebelum kembali bicara.
"Saya ingin minta maaf."
Safa mengernyit, "Maaf?"
"Iya, saya ingin minta maaf."
"Ini... Minta maaf untuk apa maksudnya?" tanya Safa tak mengerti.
"Untuk Papa saya yang mungkin menyebabkan masalah pada keluarga anda. Saya ingin minta maaf atas nama beliau."
"Sebentar. Saya tidak tahu Papa anda itu siapa?"
"Menteri Sosial. Bukan, mungkin lebih tepatnya sekarang jadi mantan Menteri Sosial karena kasusnya."
Safa berkedip menatap Galuh seksama. "Pak... Santoso Ilyas?" tanyanya sedikit ragu.
"Benar."
Jder!
__ADS_1
Safa terkejut bukan main. Lelucon apa lagi ini? Di saat dirinya berharap untuk tidak berurusan dengan keluarga Menteri Sosialan itu, sekarang tiba-tiba datang seseorang yang mengaku sebagai anaknya.
Apa benar Galuh anak Pak Menteri? Kok, Safa tidak tahu?
"Kenapa anda minta maaf? Bukankah anda tidak salah?"
"Saya tidak salah, tapi saya merasa bersalah. Untuk itu saya minta maaf."
Safa tidak mengerti dengan jalan pikiran Galuh. Yang salah kan bapaknya, kenapa harus dia yang minta maaf? Safa juga jadi bingung harus bersikap seperti apa. Orang bapaknya sendiri gak minta maaf, kok, sama keluarganya.
Sebentar, kalau Galuh meminta maaf, apa dia tahu sebenarnya Dava tidak salah?
"Anda...."
"Ya, apa yang anda pikirkan benar."
Hening.
Pria ini juga tahu isi pikirannya?
Safa terdiam cukup lama. Semua ini terlalu tiba-tiba. Safa jadi berpikir apa Galuh mengetahui sesuatu. Kalau iya, bisakah Safa meminta sedikit bantuan?
"Kalau anda mau, saya bisa memberi sedikit petunjuk."
Wah, sepertinya pria ini memang cenayang.
...................
"Anda tidak perlu meminta maaf. Karena ini bukan ranah anda untuk melakukannya," ucap Safa ketika mereka sampai di luar.
Safa mengantar Galuh hingga lobi, pria itu hendak kembali ke kantornya.
"Meminta maaf untuk kesalahan yang tidak diperbuat. Saya tidak bisa menerimanya."
Kening Galuh berkerut menatap Safa. "Kenapa begitu?"
"Karena saya akan lebih puas jika si pelaku sendiri yang melakukannya," ucapnya membalas tatapan Galuh.
"Saya tidak tahu anda ternyata selucu ini."
Safa lebih tidak tahu apa ucapannya terdengar lucu?
"Ternyata selera humor anda sereceh ini."
Pria itu kembali tertawa dan Safa dibuat heran karenanya. Ia pikir Galuh terlalu pendiam untuk bisa melengkingkan tawa. Ternyata pria itu hanya pemilih perihal lawakan.
Tunggu, Safa tidak melawak. Sudah dia bilang selera Galuh yang terlalu receh.
Selepas kepergian Galuh, Safa kembali ke ruangannya. Setelah Bima, kini datang satu orang lainnya menyodorkan informasi mengenai Dava. Apa Safa langsung percaya begitu saja? Tentu tidak. Dia harus berhati-hati dalam memilih berita.
Omong-omong, ternyata tidak ada yang tahu bahwa Galuh merupakan anak dari Santoso Ilyas. Pantas orang-orang biasa saja. Kalau mereka tahu, sudah pasti Galuh mendapat diskriminasi dari publik. Apalagi pria itu pengusaha, bisa saja perusahaannya akan tergoncang karena masalah ini.
Sial, kenapa terdengar tidak adil? Safa yang bukan siapa-siapa malah terancam kehilangan harta. Sementara pria itu bisa adem ayem tanpa perlu khawatir dengan citranya.
Haruskah Safa beri tahu semua orang?
Tidak, tidak. Itu tindakan yang kekanakan. Lebih baik Safa diam atau pria itu tidak akan membatunya.
............
Waktu bergulir sedikit cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 5 kurang beberapa menit. Sebagian orang sudah pulang, termasuk Pak Anjas yang tengah bersiap karena sudah ditelepon anak dan istri barusan.
Safa yang jomlo bisa apa? Tidak mungkin dia melarang seorang ayah yang ingin menghabiskan malam weekend-nya bersama keluarga.
Sementara Safa harus rela menunda waktu pulangnya untuk satu pekerjaan yang harus selesai sekarang juga. Tenang, besok hari libur. Safa bisa tidur sepuasnya setelah ini.
"Nona mau saya antar pulang dulu?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Pak Anjas duluan saja gak papa. Saya dijemput, kok, hehe."
"Ya sudah, kalau anda tidak keberatan, saya pulang sekarang. Maaf tidak bisa menemani lebih lama," ujar pria itu tak enak.
"Santai saja, Pak Anjas. Lagipula hari ini Bapak sudah banyak membantu saya. Jadi sekarang pulanglah."
"Baik. Kalau begitu saya permisi. Selamat sore."
"Selamat sore," balas Safa mengulas senyum.
Pria itu keluar dari ruangannya. Safa kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hening.
Sedikit lagi.
Selesai.
Safa meregangkan kedua tangannya dengan perasaan lega. Akhirnya dia bisa pulang sekarang. Bergegas mejanya dibereskan. Tak lupa dia membawa berkas yang baru dikerjakannya untuk dibawa ke rumah. Safa mengambil tas lalu keluar.
Saat melewati ruangan Pak Anjas, Safa tidak bisa untuk tidak menghentikan langkah. Rasa penasaran kembali muncul. Apa benar yang dikatakan Bima bahwa Pak Anjas menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan kasus Dava?
Lalu, Safa juga perlu memikirkan dari sisi yang Galuh ceritakan. Pria itu berkata ada orang lain yang terlibat di perusahaan ini. Tapi dia sama sekali tak menyebutkan nama karena masih dugaan, belum ada bukti yang benar-benar menguatkan.
Ragu-ragu Safa menyentuh kenop pintu itu, menekannya perlahan hingga sedikit demi sedikit menimbulkan celah ketika Safa mendorongnya.
Safa tahu tindakannya tidak sopan. Tapi, Safa benar-benar tidak bisa diam lagi. Dia sudah harus bergerak sekarang. Waktu yang telah ditentukan untuk penahanan tinggal sedikit. Dan ironinya sampai saat ini dia belum mendapatkan apapun untuk membantu Dava.
Maka dari itu, Safa berdiri memantapkan hati sebelum memasuki ruangan Pak Anjas. Ini bukan waktunya memikirkan nurani dan kesopanan. Nasib Dava sedang dipertaruhkan.
Gelap.
Apa Safa nyalakan saja lampunya?
Tidak, itu ide yang buruk. Kalau ada yang melihatnya bagaimana. Bisa-bisa Safa dituduh menyusup, walau kenyataannya iya. Safa menutup pintunya perlahan, kemudian masuk lebih dalam hingga sampai di depan meja kerja Pak Anjas. Hal pertama yang menjadi sasaran Safa.
Safa bergerak dengan hati-hati. Jangan sampai ada beda yang berubah apalagi berpindah tempat. Pencahayaan yang minim menjadi tantangan tersendiri karena selain penglihatannya tidak jelas, Safa juga berusaha keras menahan ketakutannya akan hantu yang sewaktu-waktu bisa muncul.
Oke, jangan konyol. Fokuslah Safa.
Safa sudah memeriksa meja kerja. Kini giliran rak buku yang menyimpan sejumlah arsip dan berkas yang tak jauh dari posisinya. Safa sentuh satu persatu dengan pelan. Dia benar-benar takut untuk sekedar membuat suara.
Omong-omong suara, kayaknya Safa mendengar langkah kaki seseorang di luar. Safa melotot. Benar, suaranya semakin mendekat.
Safa kalang kabut. Dia bergerak panik mencari tempat sembunyi. Dan pilihannya jatuh pada kolong meja. Jangan sebut ini klise, ferguso! Hanya benda ini yang memungkinkan memuat tubuhnya agar tak terlihat. Kalau di balik rak buku sama saja bohong. Bisa-bisa Safa sudah ketahuan begitu pintu itu terbuka.
Krieet...
Sontak Safa menegang. Seseorang masuk. Refleks dia membekap mulut takut-takut menimbulkan suara. Suasana sehening ini, nafas saja sudah pasti kedengaran.
Ya Tuhan, tamatlah riwayatnya. Kenapa security sudah berkeliaran di jam segini? Safa hanya bisa berdo'a semoga orang itu segera pergi.
Dan keberuntungan berada di pihaknya. Pintu kembali tertutup dari luar. Safa bisa mendengar suara langkah yang menjauh, dan itu membuatnya lega luar biasa.
Hah.... Sungguh menegangkan. Sepertinya Safa harus segera keluar dari sini.
Safa berjalan mengendap mendekati pintu. Perlahan menekan tuasnya dan keluar tanpa menimbulkan suara. Safa menengok kanan kiri berdiri di pertengahan lorong. Menghela nafas lega saat tak mendapati siapapun di sana.
Namun, sepertinya perkiraan Safa salah. Dia sama sekali tak memikirkan kemungkinan yang satu ini.
"Nona?"
Hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang baru saja ia masuki ruangannya?
Deg.
Apa ini?
Safa berbalik perlahan mendapati Pak Anjas berdiri beberapa meter dari tempatnya. Safa mematung tentu saja. Jangan tanya jantungnya sudah seheboh apa. Kakinya mendadak jadi jelly saking gemetar.
__ADS_1
Apa dia sudah ketahuan?
"Pak Anjas? Kok, balik lagi?"