SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 188


__ADS_3

Edzar mengayunkan pinggulnya pelan. Sesekali ia membungkuk menyatukan bibir dengan Safa yang terlentang di bawahnya. Meremas lembut buah dadanya yang mengeras, menghisap puncaknya yang mencuat sambil menggeram nikmat meresapi denyutan yang melingkupi hangat miliknya.


"Ahh ... A Uda, pelanin," lirih Safa ketika Edzar meremas terlalu kuat.


"Sakit?"


Safa mengangguk. Edzar pun berhenti memainkan bagian itu. Memang sejak beberapa minggu terakhir Safa mulai mengeluhkan perubahan dadanya yang jauh lebih sensitif. Pernah sekali Edzar tanpa sengaja menyenggolnya. Tidak keras, namun mampu membuat sang istri meringis kesakitan.


"Awhh ... Dielus aja. Diemut juga boleh. Tapi jangan keras-keras." Safa menarik tangan Edzar, menempatkan kembali di atas dadanya. "Gatel ... Ah, iya gitu. Emh ...." Ia melenguh keenakan saat Edzar menarikan lidahnya di sana.


Matanya berkedip sayu. Sampai sesaat kemudian Safa mengerang ketika puncak itu datang. Pinggulnya bergetar. Edzar kembali menggeram merasakan kehangatan di bawahnya. Hingga ia menyusul, dengan segera melepas penyatuan mereka dan mengeluarkan benihnya di atas perut Safa.


"Arrgh ...." Erangan panjang disertai desisan meluncur dari mulut Edzar. Matanya terpejam, kepalanya sedikit mendongak meresapi pelepasan yang baru saja didapatnya.


"Ohh ... Sshh ... Emh." Dengan sengaja Edzar membalurkan sisa-sisa cairan yang masih menempel. Menepik permukaan dada Safa yang mengkilap oleh keringat.


Edzar tersenyum. Dengan iseng dia menggesekkan miliknya di belahan bukit yang kian hari kian montok itu.


Safa yang terengah menunduk. Tanpa diduga ia menjulurkan lidah hendak menyentuh kepala batangnya. Kontan Edzar segera menggamit dagu sang istri. Mengusapnya pelan penuh pengertian. "Jangan. Kamu lagi hamil. Nanti ada bakteri yang ikut tertelan."


Safa menggigit bibir, menatap Edzar dengan pandangan sayu. Edzar yang mengerti langsung menggeleng. "Sudah, ya? Nanti kamu capek. Kamu juga belum makan, Ai. Sudah jam tujuh. Waktunya sarapan."


Jika Edzar mengalami mual dan perubahan selera makan, maka berbeda dengan Safa yang kerap ingin dibelai dan disentuh. Mungkin karena perubahan hormon yang menyebabkan libidonya meningkat pesat. Acap kali Safa mengajaknya bercinta setiap ada kesempatan.


Sebenarnya Edzar mau-mau saja. Tapi, terlalu sering juga membuatnya khawatir. Meski dokter tidak melarang selama kandungan Safa sehat dan tak ada masalah, asal dilakukan dengan wajar tanpa gerakan ekstrim.


"Ayo bangun. Uda bantu bersih-bersih. Setelah itu sarapan. Atau kamu mau langsung mandi?"


Safa menggeleng. Bibirnya masih mengerucut, tak mau menatap Edzar. Dengan sabar Edzar menggendong istrinya yang merajuk itu. Membawanya ke kamar mandi untuk sekalian bersuci. Kendati Safa menolak, Edzar tetap kekeh memandikannya.


Bukan tanpa alasan. Edzar hanya tidak mau Safa kegerahan. Kalau mandi agak siangan juga percuma. Tidak segar. Malah tubuh akan terasa panas.


Selepas mandi, Edzar turun lebih dulu ke dapur. Tadi Safa sempat meminta dibuatkan Mac and Cheese. Tapi sepertinya tidak ada bahan di kulkas. Lantas ia mengambil ponsel, membuka aplikasi pemesanan dan mencari makanan yang dimaksud.


"Den Edzar mau dibuatkan sarapan apa? Tapi maaf Bibi belum belanja lagi." Bik Yah mendekat dengan raut bersalah.


Ia memang belum sempat mengisi stok bulanan karena beberapa minggu terakhir Edzar jarang tinggal di sini. Kalau tidak di Depok, ya di Bandung. Ia pikir Edzar akan langsung bulan madu setelah resepsi kemarin.


"Gak perlu, Bik. Kita beli saja. Bibi mau apa? Biar sekalian saya pesanakan."


"Kalau Bibi apa saja dimakan, Den. Tapi jangan yang aneh-aneh. Masakan rumahan saja, ya, Den."


Edzar tersenyum, lantas mengangguk. Terdengar suara bel dari luar. Ia pun mendongak, menoleh pada Bik Yah dengan tatapan bertanya.


Bik Yah yang tidak tahu pun mengangkat bahu. Kemudian ia melenggang berniat membuka pintu. Melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Tidak tahu saja yang punya rumah baru nikahan.


Tak lama Bik Yah kembali menghampiri Edzar di dapur. Pria itu mengangkat alis mendapati keraguan asisten rumahnya. "Ada apa, Bik? Siapa yang datang?"


"Itu ... Anu, Den. Anaknya Pak RT yang datang."

__ADS_1


Kening Edzar berkerut. "Siapa?" Ia memang lupa namanya.


"Lah, si Aden. Tetangga sendiri masa gak tahu? Namanya Neng ... Alis? Alisa? Alisia?"


Edzar mendengus. "Bibik saja lupa."


Bik Yak melempar cengiran seraya menggaruk rambut yang tersanggul rapi. "Ya pokoknya yang suka kasih makanan itu, lho, Den?"


Edzar mengangkat bahu. Yang dia ingat malah Safa yang kerap memberinya bekal sebelum berangkat kerja. Mengingat itu membuat Edzar senyum sendiri. Sungguh kenangan yang manis. Apalagi saat itu Safa masih imut dengan model rambut poninya.


Edzar melangkah keluar pintu, lalu menghampiri seseorang yang berdiri di luar gerbang yang sepertinya sudah dibuka Bik Yah.


Dahinya berkerut penasaran. "Ada perlu apa, Mbak?"


Alisia menoleh. Seketika Edzar dibuat heran dengan wajah sedih wanita itu.


"Mas Edzar beneran udah nikah?" tanyanya dengan suara parau.


Kerutan Edzar semakin dalam.


Alisia menunduk menatap jemari Edzar yang dilingkari cincin. Spontan tangisnya langsung pecah. Tentu saja Edzar kebingungan. Jujur ia merasa terganggu. Wanita di depannya datang dengan tujuan tak jelas.


Mati-matian ia menahan kesal. Kalau tidak melihat pada etika dan kesopanan, mungkin Edzar sudah memaki wanita yang tiba-tiba menangis tanpa alasan ini.


Benar-benar merepotkan.


"Mbak, maaf kalau tidak ada kepentingan, silakan pulang."


"Huaaa ...."


"Mas Edzar tega. Udah ninggalin aku nikah, sekarang malah usir aku dari rumah. Jahat!"


Apaan, sih? Gerutu Edzar dalam hati.


Tak lama Safa muncul dengan dress rumahan. Rambutnya dililit handuk. Ia berjalan menghampiri Edzar, menoleh pada sang suami dengan kening berkerut. Edzar lantas mengangkat bahu tak tahu.


Safa pun menatap Alisia yang berurai air mata. "Mbak Alis kenapa? Kok, nangis di sini?"


Bukannya menjawab, Alisia menatap Safa dengan geram. Nafasnya terengah setengah sesenggukan. Rautnya terlihat sakit hati.


Sepertinya Safa mengerti. Sontak bibirnya mengulas senyum. Lebih pada mengejek melirik Alisia. Ia rangkul bisep Edzar yang kokoh, lantas berucap. "Aduh, Sayang. Kayaknya aku cium bau angus, deh. Apa di sini ada kebakaran, ya?" Safa menoleh kanan kiri seolah mencari sumber. Hidungnya merengut ditutupi oleh jari.


Tanpa sadar Edzar mendengus geli.


Namun berbeda dengan Alisia. Dia terlihat marah dengan sikap Safa yang menurutnya tak sopan. Apalagi Edzar tersenyum. Tatapannya berbeda. Ia cemburu.


"Dasar gadis tak beretika! Kamu rebut gebetan orang tanpa izin! Rasakan ini ...!!!"


Tanpa diduga wanita itu langsung menyerang Safa hingga hampir terjengkang. Beruntung refleks Edzar bertindak cepat. Dia langsung menahan lengan Safa supaya tidak jatuh. Kemudian ia menariknya ke pelukan.

__ADS_1


Keduanya terkejut. Terutama Edzar yang kini mengatupkan rahang dengan wajah memerah.


Edzar menatap Alisia dengan geram. "Apa maksudnya ini?"


"Siapa anda berani-beraninya mendorong istri saya?"


"Awas saja. Saya tidak akan tinggal diam. Jika terjadi apa-apa dengan anak dan istri saya, saya akan buat tuntutan untuk anda," ucapnya tajam.


Alisia tampak menggigil. Tapi emosi membuatnya tak gentar.


"Bukankah selama ini Mas Edzar tak menyukainya? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba menikah? Mas Edzar tahu? Aku merasa dikhianati!"


Edzar mengernyit. "Dikhianati apa? Saya bahkan tidak kenal dengan anda."


"Mas Edzar tega. Aku tiap hari DM Mas Edzar gak pernah dibalas. Aku juga sering kasih makanan ke sini. Dan ini balasan Mas Edzar buat aku?"


Safa memutar mata jengah. Dia melepas rangkulan Edzar dengan kesal. "Heh, Mbak. Kalau gak ikhlas bagi-bagi gak usah memaksakan diri. Begini 'kan jadinya. Sok-sokan sedekah. Giliran ditinggal nikah marah-marah. Hellooww ... Situ siapa? Ngaca, dong! Pacar aja bukan. Gayanya nuntut ini itu."


"Diam kamu!"


"Kamu yang diam!"


"Kamu!"


"Kamu ...!! Huaaa ...." Safa menjerit ketika Alisia menarik rambutnya hingga handuk putih itu terlepas.


Kontan Edzar mendorong wanita bernama Alisia itu dengan marah. Alisia terduduk di atas aspal. Tersedu menatap Edzar terluka.


"Mas Edzar jahat ...." ucapnya di sela tangis.


Tetangga yang mendengar keributan mulai berhamburan keluar karena penasaran. Termasuk Tuan dan Nyonya Halim serta Dava dan Bik Inem yang langsung terperangah. Drama apa ini? Batin mereka.


"Cukup, ya. Kesabaran saya mulai habis. Sekali lagi saya tegaskan. Saya tidak kenal Mbak. Saya hanya tahu Mbak sebatas tetangga. Tidak lebih. Untuk urusan Mbak yang sakit hati atau merasa rugi, itu bukan urusan saya. Saya siap ganti kerugian Mbak. Tapi jangan sekali-kali Mbak sakiti istri saya. Dia sedang hamil! Jika terjadi sesuatu dengan kandungannya, saya tidak akan segan menuntut Mbak ke Pengadilan!" tegas Edzar.


"Woy, Mbak! Dasar gila. Suka gak usah segitunya kali. Anak saya tuh gak salah apa-apa. Kalau Mbak merasa patah hati, jangan anak saya dong yang disalahin. Salahin itu cowoknya kenapa ngejar-ngejar anak saya sampe rela pulang pergi Bandung." Nyonya Halim yang geram lantas memasang badan untuk Safa.


"Benar, Mbak Alis. Setahu saya juga mereka sudah pacaran sejak lama. Soalnya saya sering lihat mereka menyambangi balkon satu sama lain," celetuk Bu Tejo, tetangga sebelah rumah Nyonya Halim yang tiba-tiba ikutan nimbrung.


Tanpa tahu ucapannya membuat Edzar sekaligus Safa meringis dalam hati. Ternyata kelakuan mereka ada yang melihat. Seketika keduanya menjadi was-was. Apalagi melihat tatapan Nyonya Halim, Tuan Halim, juga Dava mengarah pada mereka.


"Sudah, sudah. Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Nak Alis? Kamu kenapa marah-marah pada anak dan menatu saya?" Tuan Halim beralih tatap pada Alisia yang masih terduduk di jalanan.


"Saya suka sama Mas Edzar. Tapi kenapa Mas Edzar nikahnya sama Safa?" lirihnya parau.


Kontan suasana kembali riuh. Mereka menghujat Alisia yang dinilai tak tahu diri. Bisa-bisanya dia bersikap begitu pada orang yang bukan siapa-siapanya. Bahkan Edzar saja lupa-lupa ingat dengan wanita itu.


Karena iri dan cemburu, wanita itu nekat membuat keributan hingga berujung viral.


Ya, seseorang merekam kejadian itu dan mengunggahnya ke media sosial. Seketika nama Safa mencuat sebagai selebgram cantik yang berhasil menikahi jaksa tampan.

__ADS_1


__ADS_2