SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 66


__ADS_3

“Bagaimana?”


“Sesuai dugaan, Pak. Gadis itu sepertinya memang spesial. Air muka Edzar menjelaskan semuanya.”


Sudut bibir itu tersungging miring, “Bagus. Ini peringatan untuknya. Dia salah jika menganggap semua ini hanya gertakan.”


“Kalau dia tetap nekat berulah, maka jangan salahkan aku jika menginjak kelinci kecil itu,” ucapnya menyeringai tajam.


“Aku sudah berbaik hati dengan tidak menyerang keluarganya. Ternyata ini jauh lebih menyenangkan. Hahaha....”


“Terus awasi mereka. Dan pastikan kejadian tadi hanya sebuah kecelakaan.”


“Bisa dipercaya, Pak. Semuanya bersih, Anda tak perlu khawatir.”


“Hmm.” Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Mengenai orang suruhanmu itu. Aku ingin dia melakukan sesuatu.“


“Melakukan apa, Pak?”


“Aku ingin....”


“Papa?”


Sebuah suara tiba-tiba mengiterupsi pembicaraan mereka. Pria itu menolehkan kepalanya ke belakang. Seorang gadis kecil yang cantik nan imut tengah menatapnya dengan kedipan polos.


Pria itu menurunkan tangannya perlahan, lalu melangkah mendekati gadis berkucir dua itu.


Tubuhnya seketika berjongkok menyamakan tinggi badan mereka. “Ineu? Sejak kapan kamu berdiri di sini, Nak?”


“Balu aja, Papa. Papa ngapain di cini?” tanya anak itu dengan suara cadel.


“Hem? Papa telpon teman, Nak.”


“Tadi Ineu dengal Papa injak kelinci. Kenapa diinjak, Papa? Kacian, kelinci ‘kan lucu.”


“Ah... hahaha....”


“Ada yang lebih lucu lagi. Ineu mau tahu gak?”


“Apa, Papa?”


Pria itu menjawil hidung si kecil dengan gemas, “Kamu yang lebih lucu,” ucapnya sambil tersenyum dengan mata menyipit.

__ADS_1


Bibir mungil itu mengerucut. “Papa, ayo main. Ineu mau main cama Papa.”


“Memangnya Mama kemana?”


“Ada. Tapi Mama gak bica cucun lego. Jadi ayo Papa main cama Ineu...”


Pria itu tersenyum, tangannya meraih pinggang gembul yang terbalut dress lucu berwarna biru, sangat cocok di kulit cerahnya.


“Oke. Nanti kita main sama-sama, ya. Tapi... sekarang Ineu sama Mama dulu. Nanti setelah ini Papa nyusul. Siap, Cantik?”


Kepala Ineu mengangguk menuruti Sang Ayah. Kaki kecilnya lantas berlari meninggalkan tempat itu.


Selepas kepergian Ineu, pria itu kembali menempelkan ponselnya di telinga. Wajahnya berubah mendingin. Berbeda jauh ketika dia berbicara dengan sang anak.


“Kita lanjutkan nanti. Kamu awasi saja mereka. Ingat, tetaplah berhati-hati. Edzar bukan orang yang patut diremehkan.”


“Baik, Pak.”


Pembicaraan mereka pun berakhir. Bergegas kakinya mengayun menyusul Ineu sesuai janjinya. Tangan itu terentang ketika pandangannya menyapu keberadaan sang putri.


Senyumnya terulas lebar seiring tawa Ineu yang mengalun. Juga senyum sang istri yang begitu menyejukkan hati.


Potret keluarga bahagia yang sempurna. Pria itu melepas segala atribut kejahatannya di hadapan mereka.


“Papa! Tangkap!” teriak Ineu melempar bola kecil segenggam tangan orang dewasa.


“Hap! Hahaha....”


..............


Safa menyentuh kedua pipinya dengan tangan menopang dagu. Sesekali senyumnya terkulum kala mengingat sikap Edzar akhir-akhir ini. Sepertinya, pria itu mulai sedikit melunak.


Ada kalanya Edzar bersikap manis padanya. Seperti kejadian tadi, misalnya. Saat Edzar memeluknya dengan raut khawatir luar biasa, seolah pria itu takut kehilangannya.


Atau insiden di cafe waktu itu. Ahh... pipi Safa memanas lagi karena terbayang ciuman pertama mereka—ralat—ciuman kedua, karena yang pertama itu terjadi di hotel.


Tapi Safa tak akan menghitungnya karena itu hanya kecupan biasa, tidak intens seperti saat di cafe. Afeksinya terasa lebih kuat dan nyata. Edzar yang menyapu bibirnya dengan lembut. Membuainya hingga terasa melayang. Menghantarkan rasa panas yang membuat suhu tubuh meningkat. Sungguh, itu pengalaman pertama Safa.


Sebelumnya, tak pernah sekalipun Safa merasa segila ini dalam menyukai seseorang. Berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Safa itu tipe gadis yang bisa dibilang pilih-pilih. Orang-orang menyebutnya sok jual mahal. Karena prinsip Safa wanita itu dikejar, bukan mengejar. Pantang baginya merendahkan diri hanya untuk seorang lelaki.


Tapi sekarang, keyakinan itu seolah lenyap tak bersisa. Safa merasakan sendiri bagaimana rasanya mengejar orang yang dicinta. Mungkinkah ini karma karena di masa lalu Safa mengabaikan banyak pria?


Suara deru mobil yang terdengar lembut menyapa telinga. Safa menoleh menundukkan kepala ke bawah. Sontak senyumnya terbit kala melihat Edzar turun dari Fortuner hitamnya.

__ADS_1


Safa melambai memanggil pria itu. Edzar mendongak menatapnya sekilas, sebelum kemudian berlalu memasuki rumah. Bibir Safa mengerucut merasa diabaikan.


Kemudian dia menggeleng, bukankah biasanya Edzar memang seperti itu? Mungkin pria itu butuh istirahat. Safa bisa melihat gurat kelelahan di wajahnya.


Lebih baik dia segera memasuki kamar dan maskeran sebelum tidur. Berdiam diri di balkon selama dua jam membuatnya ngantuk dan pegal.


Edzar pulang agak telat dari biasanya. Tapi Safa maklumi, pria itu sangat sibuk. Belum lagi harus memantau cafe, Edzar pasti lelah.


Safa pikir, dia bisa segera melihat Edzar esok paginya. Tapi ternyata Safa salah, pria itu sudah lebih dulu beranjak sebelum Safa sempat bahkan untuk sekedar berucap selamat pagi.


“Om Edzar nya udah berangkat, Bik?”


Bik Yah mengangguk, “Iya, Neng. Pagi banget. Gak biasanya. Katanya, sih, ada sidang.”


Safa merengut kecewa, “Gitu? Ya sudah, ini buat Bibi aja,” ucapnya sambil menyerahkan rantang bekal yang tadinya buat Edzar.


“Lha, kenapa malah dikasih Bibi, toh? Bukannya ini buat Den Edzar?”


Safa menghela nafas mengulas senyum, “Om Edzar nya ‘kan sudah berangkat. Jadi ini buat Bibi aja. Sayang kalau gak dimakan.”


“Oalah... ini ikhlas, Neng? Bibi gak berani makan kalau Neng-nya gak ikhlas.”


Safa terkekeh pelan, “Ya ikhlas, lah, Bik. Masa enggak.”


“Lha, wong wajahnya mendung begitu. Tak kira gak ikhlas to.”


Safa berusaha tersenyum senormal mungkin. “Ikhlas, Bik. Seribu persen malah.”


Dia memang kecewa, tapi masalah berbagi dia sangat ikhlas, walau orang yang sebenarnya dituju kini tak ada.


“Ya sudah kalau memang ikhlas. Bibi ucapin terima kasih, ya, Neng. Eh, tapi ini rantangnya mau ditingguin apa gimana?”


“Nanti saja, Bik. Atau kapan-kapan juga boleh. Malah mau Bibi simpan pun gak pa-pa, hehe.”


“Si Neng mah, ada-ada saja. Ya mana mungkin Bibi simpan atuh. Paling simpan di rak, bukan disimpan untuk dimiliki. Memangnya jodoh?”


Safa tertawa mendengar kelakar Bik Yah. Bisa aja si Bibi.


“Ya sudah, Bik. Safa masuk, ya. Makasih sudah diterima makanannya...”


“Sama-sama, Neng. Bukannya kebalik, ya? Harusnya Bibi yang berterima kasih.”


“Hehe, kan saling bertema kasih, Bik.”

__ADS_1


Bik Yah menggeleng melihat Safa yang melenggang memasuki rumahnya. Gadis secantik dan sebaik ini, Edzar masih saja menolak. Kurang apa, coba?


__ADS_2