SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 78


__ADS_3

"Mumpung saat ini Edzar dekat. Saya mau mengusahakan secepat mungkin agar dia bisa segera menikah."


"Dan Liandra adalah pilihan paling tepat saat ini."


"Yah... siapa tahu setelah Tirta, Edzar bisa langsung menyusul."


Tatapan Dyah tampak menerawang. Ketenangan wanita itu persis seperti Edzar. Safa tidak menyangka Tante Dyah bisa berbicara sepanjang ini, karena saat pertama kali bertemu di Bogor, wanita itu terkesan senyap seperti Edzar.


"Eh, malah curhat. Maaf, ya. Habisnya saya terlalu bersemangat."


Safa menarik sudut bibirnya kaku, "Tidak apa-apa, Tante."


"Kamu sedang menunggu siapa?"


"Teman, Tante."


"Oh, mau main?"


Safa tidak tahu apakah pertanyaan itu berupa sarkasme atau bukan. Seolah-olah Safa tidak punya kerjaan selain main.


"Bukan, Tante. Safa mau pemotretan."


"Kamu... model?"


Safa sedikit bingung mau menjawab. Apakah endorsement bisa dikatakan sebagai model?


"Bukan juga, sih, Tante. Safa cuman diminta promosikan beberapa produk." Semoga Tante Dyah mengerti.


"Oh... endorse, ya?"


Safa mengangguk.


Setelah itu mereka tak terlibat percakapan lagi. Beberapa kali Safa menoleh kanan kiri, mengedarkan pandangan agar tak terkesan terlalu kaku. Padahal sebenarnya dia gugup setengah mati.


Dalam hati dia berharap Kamila segera datang dan membawanya pergi dari situasi aneh ini.

__ADS_1


Namun, bukan Kamila yang datang. Melainkan motor Leo yang Safa lihat semakin mendekat ke arahnya. Kening Safa berkerut. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya.


Selain itu, Safa merasakan kehadiran sosok lain di belakangnya. Wangi ini, Safa sangat kenal. Sontak detak jantungnya meningkat semakin cepat. Suhu tubuhnya seketika naik hingga melahirkan keringat-keringat kecil yang mulai bermunculan.


"Edzar? Kamu lama sekali. Ngapain aja, sih?"


Safa menelan ludah. Benar 'kan? Itu Edzar. Aduh, Safa harus bagaimana? Apa perlu dia berbalik untuk menyapa?


Safa bersyukur karena Leo sudah tiba di hadapannya. Dia benar-benar ingin segera meloncat menaiki motor pria itu dan melesat pergi dari sana.


Tapi, Safa tidak bisa mengabaikan sopan santun dengan pergi begitu saja.


"Tunggu sebentar," ucapnya pada Leo yang baru saja menaikkan kaca helm full face-nya.


Kemudian Safa berbalik, berjalan sedikit menghampiri Tante Dyah dan Edzar.


Sejenak Safa mematung, dia sangat gugup. Apalagi saat matanya bersobok pandang dengan Edzar. Rasanya kaki Safa berubah jadi jelly. Lemas tak bisa digerakkan.


"Emm... Tante, Safa duluan, ya. Teman Safa udah jemput." Safa menunjuk Leo yang masih nangkring di atas motornya.


Safa mengangguk. Kemudian dia beralih pada Edzar. Safa tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jadi Safa ulurkan saja tangannya untuk salim.


"Om."


Edzar menyambut dan sedikit terpaku saat kening Safa mengenai punggung tangannya. Jika saat pertama gadis itu menempelkannya di antara hidung dan mulut. Sekarang Safa hanya menyentuhkannya pada kening, itupun sekilas.


Jarak itu benar-benar ada. Dan Edzar sendiri yang telah membuatnya.


"Assalamualaikum, Om, Tante. Safa berangkat, ya," pamit Safa.


Lantas kakinya berbalik menghampiri Leo.


"Waalaikumsalam," sahut keduanya. Suara Edzar lebih terdengar seperti bisikan.


Leo menyerahkan satu helm lain pada Safa. Safa menerima itu dan segera memakainya. Dia harus segera pergi dari sini. Kalau tidak, matanya akan kembali berair jika berlama-lama memandang Edzar.

__ADS_1


Namun, ia kesal saat tangannya kesulitan menyematkan pengait helm. Ini gimana, sih? Kok, susah banget?


Leo yang melihat itu seketika menggeleng. Lantas dia menarik Safa untuk mendekat, membantunya memasang pelindung kepala itu dengan benar. Dia terkekeh melihat bibir Safa mengerucut.


"Dah." Leo menepuk-nepuk pelan sisi kepala Safa yang terbalut helm, membuat gadis itu reflek menangkisnya.


Leo tertawa menghidari pukulan Safa.


"Udah, ih, naik cepet!" titahnya sembari meredakan tawa.


"Jangan ketawa! Aku 'kan jarang naik motor! Wajar kalo gak bisa!"


"Iya tahu. Sukanya naik becak 'kan. Hahaha...."


"Leo, ih!"


Safa merengut merasa dipermalukan. Melihat Safa yang ngambek, Leo pun mengalah.


"Udah-udah jangan ngambek, dong. Mau naik enggak?"


Dengan kaki menghentak Safa menaiki motor Leo yang besar. Untung dia pakai celana, Safa tidak mengira Leo yang akan menjemputnya. Untuk itu Safa bisa tanya belakangan. Yang penting sekarang dia bisa pergi secepat mungkin dari sini.


Interaksi mereka tak lepas dari dua pasang mata yang memperhatikan. Terutama Edzar yang menatap muda-mudi itu dengan pandangan sulit. Ada keresahan di matanya. Rahangnya sedikit mengeras kala rasa tak rela itu datang tanpa bisa dicegah.


Melihat Safa sedekat itu dengan pria lain membuat Edzar kesal. Tatapannya menajam menyaksikan Safa yang duduk berboncengan dengan bocah lelaki itu.


Ya, di mata Edzar, Leo tak lebih dari seorang bocah. Safa tidak pantas dengannya. Meski Edzar berencana ikhlas, setidaknya Safa harus mendapat yang lebih baik. Kalau perlu Edzar sendiri yang akan memilihnya.


Tin!


Klakson itu menjadi penutup perjumpaan mereka pagi ini. Edzar menatap motor yang melaju menjauh, membawa Safa hingga menghilang di kelokan.


"Edzar?"


Panggilan itu membuat Edzar memejamkan mata berusaha menormalkan ekspresi. Lalu menoleh pada sang ibu yang kini menatapnya dengan pandangan penuh arti.

__ADS_1


Wanita itu mengulas senyum tipis. "Jadi bertemu Liandra?"


__ADS_2