
Edzar menggeleng geli melihat reaksi Safa yang menurutnya sangat lucu. Sejak tadi istrinya itu tak lepas memandangi dua benda di tangannya. Rautnya seperti anak kecil melihat sesuatu yang baru. Takjub sekaligus penasaran.
"Ini beneran foto Safa?" tanya Safa mengedipkan mata berkali-kali.
"Ya kamu lah, Ai. Kan Uda nikahnya sama kamu."
"Ini pertama kalinya Safa melihat buku nikah. Lucunya, ini milik Safa sendiri."
Mereka baru saja selesai melakukan pencatatan pernikahan di KUA. Sebenarnya sudah sejak jauh-jauh hari Edzar mengurusnya, tepat setelah malam di mana mereka menikah. Baru hari ini ada info kalau buku nikahnya sudah bisa diambil.
Sebenarnya bukan di KUA sih, tapi di rumah Pak Amil yang menikahkan mereka tempo lalu. Karena ini di luar jam kantor.
Safa tak begitu tahu mengenai persyaratan-persyaratannya. Hanya Ayah serta Edzar yang memegang penuh masalah itu. Dia tinggal nerima beres dan tanda tangan.
Sebuah usapan mampir di puncak kepalanya. "Maaf, Uda belum bisa mengadakan resepsi. Kamu tahu sendiri beberapa minggu lagi pernikahan Tirta dan Miranti. Nanti persiapannya kebentrok karena pasti Ibu dan Bunda kamu akan ikut mengurusi. Sementara saat ini mereka tengah sibuk mempersiapkan pernikahan Tirta yang tertunda beberapa kali."
Edzar menoleh sesaat, "Gak papa 'kan?"
Safa mengangguk, "Gak papa 'kok. Tapi, apa gak kepikiran resepsi bersamaan dengan mereka?"
"Jangan."
"Kenapa?"
"Kasihan. Nanti mereka kalah pamor sama kita." Edzar mengucapkan itu dengan ringan.
Kontan Safa memukul lengannya. "Narsis!"
Edzar terkekeh kecil, meraih tangan Safa yang memukulnya, menggenggamnya untuk kemudian ia cium.
"Jalan-jalan, yuk."
"Ini juga lagi jalan," ucap Safa.
"Maksud Uda ke mana gitu. Refreshing."
Safa menoleh. "Bukannya tadi teman A Uda ngajak reunian, ya?"
Tadi Safa sempat melihat isi chat di grup WhatsApp yang sepertinya berisi teman-teman kuliah Edzar. Kebetulan dia juga yang mengetik balasan karena Edzar tengah menyetir.
__ADS_1
Edzar menoleh, mengecup kilat bibir Safa. Tentu saja Safa melotot. Kalau mereka kecelakaan gimana?
"Ini hari terakhir Uda di sini. Malam nanti 'kan sudah harus ke Jakarta lagi. Masa iya Uda malah sibuk sama teman ketimbang isteri. Lagipula, Uda mau hari ini kita full senang-senang. Berdua. Tanpa ada orang lain di sekitar kita." Edzar memandangnya penuh arti.
Safa mengerti apa yang pria itu inginkan ketika melihat matanya yang menggelap. Tiba-tiba tangan Edzar jatuh di atas pahanya yang terbalut rok tutu hitam di bawah lutut. Sejak menikah, Safa mengurangi penggunaan rok mini kecuali di dalam rumah. Dia hanya ingin menjaga perasaan Edzar yang seringkali cemburu dirinya menjadi pusat perhatian.
Meski tanpa pakaian seperti itupun Safa tetap menarik di mata publik. Ya mau bagaimana lagi, resiko punya istri cantik ya begitu. Safa menyuruh Edzar untuk lapang dada saja.
Mobil mulai menanjak di sebuah jalanan berbatu. Safa mengernyit karena mereka mulai meninggalkan area pemukiman.
"A Uda, jangan aneh-aneh, deh. Ini kita mau ke mana?"
Edzar tak menyahut, pria itu fokus mengarungi bebatuan besar yang membuat mobil berguncang parah. Bahkan Safa harus berpegangan pada hand grip untuk meminimalisir goncangan pada tubuhnya.
Setelah mati-matian menahan jengkel karena jalan yang tak bersahabat, akhirnya Edzar menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Bukan, lebih tepatnya gubuk tua kecil yang terletak di tengah padang ilalang.
Terpencil. Sangat jauh dari keramaian. Safa yakin yang tinggal di sini hanya sejenis ular dan hewan buas. Kontan dia menoleh pada Edzar.
"A Uda, i-ini kita ngapain?" tanya Safa tergagap. Matanya menyorot was-was pada Edzar.
Pun lelaki itu meliriknya sambil melepas sabuk pengaman. "Tenang, Ai. Uda bukan kriminal. Jadi hentikan pikiran negatifmu tentang Uda yang akan bunuh kamu di sini," ucapnya mampu menebak isi kepala Safa.
Safa meneguk ludah. "Te-terus, ngapain ke sini?"
"Ya tapi harus banget di sini? Gak ada tempat yang lebih layak gitu?"
"Uda ingin merasakan bercinta yang lebih primitif dengan kamu, Ai," ucapnya frontal.
Sial. Pipi Safa memanas. Otaknya mulai berlarian.
"Kamu tenang saja. Terlepas dari bangunannya yang seperti tidak layak, di dalam bersih, kok. Terawat. Makanya Uda tidak ragu sewa tempat ini."
Safa melotot. Edzar sampai menyewa tempat demi untuk memuaskan fantasinya?
Safa tidak bisa menolak kala Edzar menarik tangannya menuju gubuk itu. Seperti layaknya orang yang tak pernah menemui kotor, Safa begitu hati-hati melintasi jalan setapak yang kanan kirinya penuh ilalang. Setengah menjinjit saat sandal mahalnya harus menginjak permukaan tanah yang lembab dan sedikit lengket.
Idih, serius Edzar mau mempraktekan bercinta ala zaman Kabayan?
Klek.
__ADS_1
Pria itu membuka rantai gembok dengan kunci yang dibawanya. Safa semakin menelan ludah saat pintu itu perlahan terbuka. Memperlihatkan bagian dalamnya yang gelap dan remang, kendati hari masih cukup siang.
Bau perabotan tua seketika menerpa penciuman. Namun seperti kata Edzar, ruangannya bersih dan terawat. Astaga, Safa baru tahu ada tempat semacam ini yang disewakan. Apa memang khusus untuk pasangan yang ingin bermesum ria?
Seketika dia merasa menjadi orang yang hendak berbuat asusila di tempat terpencil.
Edzar menariknya memasuki ruangan. Kemudian menutup pintu rapat_rapat. Pria itu bertanya apa ingin membuka jendela. Tentu saja Safa menggeleng keras. Sudah cukup permintaan Edzar saja yang konyol. Safa tidak berniat mempertontonkan kegiatan tak senonohnya dengan sang suami.
Meski Edzar bilang tempat ini privat, tetap saja tak ada yang bisa menjamin kalau-kalau ada yang nekat mengintip mereka. Safa sih tidak khawatir mereka akan digerebek. Toh, ada buku nikah.
Safa tersentak kala Edzar merangkulnya dari belakang. Menciumi leher hingga bahu Safa yang masih tertutup kaos. Tangannya naik meremas dada Safa sekilas, menjelajah, mengusap apa saja sekenanya.
Edzar menggamit dagu Safa, menolehkannya ke samping. Dia kecup bibir manis itu, memberinya pagutan serta gigitan yang sen-sual.
Safa mendesah kecil setiap kali tangan besar Edzar melewati dadanya. Dia membalas ciuman memabukkan itu dengan buaian yang sama. Edzar menggumam saat dengan sengaja tangan Safa menyentuh tepat di resleting celananya. Menangkup sesuatu yang sudah mengeras layaknya batu. Safa selalu membuat libidonya melesat dengan cepat. Bahkan sejak di mobil Edzar sudah mati-matian menahannya.
"Ehm ...." Edzar mendorong tubuh Safa ke dinding. Menghimpitnya dari belakang. Menekan miliknya di sela bongkahan Safa yang masih terbalut rok.
"Jangan begitu. Nanti robek." Safa menahan tangan Edzar yang hendak menarik paksa rok tutu itu.
Enak saja. Belinya mahal tahu.
Dengan sukarela dia membuka sendiri roknya. Menyampirkannya di sandaran kursi dengan rapi. Edzar berdecak tak sabar. Pria itu kembali merengkuh tubuh Safa, menaikkan kaos ketatnya hingga mengumpul di atas dada. Kemudian menurunkan bra-nya hingga dua bukit itu menyembul seksi dengan puncaknya yang kemerahan.
Pemandangan yang menakjubkan. Edzar mengangkat tubuh sang istri untuk menduduki meja konsol tak jauh dari mereka. Safa sedikit memekik.
"Dada kamu besar, Ai. Padat. Apa kamu menyuntiknya dengan sesuatu?"
Safa menggeplak tangan Edzar yang tengah asik meremas di sana. "Sembarangan. Meski Safa suka perawatan, Safa gak pernah implan-implanan!"
Edzar mengangguk. "Syukurlah. Uda dengar efek sampingnya tidak baik." Dia mulai mengecup pucuk yang mencuat itu. Membuat Safa menggigit bibir disertai desisan nikmat. Edzar memainkannya secara intens. Perlahan namun membuai. Terlebih tangan pria itu mulai mengusap area sensitifnya di bawah.
"A Uda, sebentar. Ini mejanya gak akan roboh, kan?"
"Enggak lah, Ai," jawab Edzar lanjut melulum dadanya.
"Siapa tau, kan? Kayunya udah tua, persis A Uda."
Kali ini Edzar beralih memagut bibir Safa. "Tua tapi bikin kamu keenakan."
__ADS_1
"Ngaku saja. Selama bercinta dengan Uda kamu selalu mendapat pelepasan lebih cepat. Padahal rata-rata wanita kesulitan dan memerlukan waktu lebih lama untuk orgas-me."
Edzar menyeringai mendapati wajah Safa yang memerah. Kentara sekali wanita itu tengah salah tingkah.