
Kening Safa mengkerut saat melihat ponsel. Dia baru saja selesai mandi dan hendak skincare'an seperti biasa. Safa duduk seraya menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. Membaca pesan dari sang kakak yang baru sempat ia buka.
Dava mengatakan ia mendapat gangguan dari Edzar. Pesan itu dikirim semalam, tapi Safa baru membacanya pagi ini. Entah gangguan macam apa yang Dava maksud.
Safa menyimpan ponselnya di atas meja rias. Ia melilitkan handuk di kepala dan mulai menepuk-nepuk pipinya sambil berkaca. Tangannya mulai mengambil toner dan menuangkannya ke kapas. Lanjut essence, serum, lalu pelembab.
Safa menggambar tipis alisnya, memakai sedikit maskara, dan yang terakhir liptint sewarna bibir untuk menambah tampilannya lebih fresh dan glowing.
Safa beranjak menuju lemari. Memilih pakaian lalu membuka tali kimono yang membalut tubuhnya. Baru dia menurunkannya sampai dada, sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya.
"Perasaan Uda saja atau kamu memang makin montok, Ai?"
"Astaga!" Spontan Safa menoleh ke belakang.
Matanya membeliak ketika melihat Edzar tengah dengan santainya selonjoran di sofa sudut dekat jendela. Letaknya agak melekuk hingga Safa tidak menyadari keberadaan pria itu.
Sebentar, sejak kapan Edzar ada di sana? Lebih tepatnya, siapa yang mengijinkannya masuk?
Safa lupa, ini hari Sabtu. Sudah tentu Edzar pasti ke sini. Tapi, sejak hubungan mereka merenggang Edzar tak pernah berani memasuki kamarnya tanpa izin. Lalu, kenapa sekarang pria itu seolah menembus batasnya?
"Kenapa Om bisa ada di sini?" tanya Safa dengan nada tak bersahabat. Matanya tajam melihat Edzar.
Edzar beranjak dari rebahannya. Rautnya nampak lelah dan terlihat sekali baru bangun tidur. Pria itu duduk mengusap wajah dengan kedua tangan.
"Sebelum itu tutup dulu dada kamu, Ai. Uda gak jamin bisa tahan melihatnya."
Kontan Safa menunduk ke bawah. Dan seketika itu juga ia melotot, lupa bahwa salah satu asetnya sudah terekspos. Cepat-cepat dia menaikkan kembali kimononya dan mengikatnya erat.
"Sudah! Ngapain di sini!"
"Jangan galak-galak, Ai. Dan perihal Uda ke sini, memangnya salah mengunjungi istri sendiri?"
"Harus banget ke kamar?" Safa tak menghiraukan perkataan Edzar. Dia enggan menurunkan suara.
"Ini 'kan kamar istri Uda. Otomatis Uda berhak berada di sini." Kendati begitu Edzar tetap berbicara lembut.
__ADS_1
Terdengar dengusan keras dari Safa. "Istri?" ekspresinya terlihat muak. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain selain Edzar. "Sepertinya Om lupa dengan kesalahan sendiri."
Hening.
Safa tak mendengar suara apapun. Edzar tak menjawab sindirannya sama sekali. Namun tahu-tahu bau maskulin itu menusuk indera penciuman. Disusul sentuhan di bahunya, berasal dari Edzar yang kini sudah berdiri di dekatnya. Membuat Safa sedikit terkejut dan tersentak.
Safa berusaha menolak ketika Edzar menghadapkan tubuhnya ke arah lelaki itu. Nafasnya tak beraturan dengan gejolak emosi yang mulai naik ke permukaan. Ia melarikan mata ke bawah. Yang penting tidak melihat Edzar.
"Ai, sudah cukup, ya? Ini sudah hampir sebulan lebih. Kita tidak bisa seperti ini terus."
"Uda mengaku salah karena telah membohongimu mengenai status Uda yang sebenarnya. Uda lakukan semata-mata karena takut kamu akan meninggalkan Uda, seandainya kamu tahu Uda tak lebih dari seorang yang gagal berumah tangga."
"Uda berniat mengatakannya pada kamu setelah kita menikah. Hanya saja, Uda selalu merasa kebersamaan kita terlalu sayang jika harus dihancurkan oleh pengakuan Uda, yang mungkin akan membuat kamu menyesal," lirih Edzar di akhir kalimatnya.
"Uda benar-benar takut. Apalagi setelah mendengar percakapanmu dengan Bunda dulu. Di supermarket. Tempat pertama kali kita bertemu. Kamu berkata tak akan sudi menikahi pria bekas wanita lain." Suara Edzar bergetar samar. Tanpa sadar Safa mendongak mendengar fakta itu.
Apa benar Safa mengatakan itu dulu? Lalu Edzar mendengarnya?
Pria itu kembali melanjutkan. "Sejak itu Uda semakin yakin untuk menjauhimu. Uda berusaha keras untuk tidak jatuh cinta sama kamu, meski kamu terus saja mengejar dan membuat pertahanan Uda semakin luruh. Uda tidak bisa lagi berbohong pada perasaan sendiri, bahwa Uda memang mulai tertarik sama kamu."
"Uda semakin bingung. Di sisi lain Uda mulai egois menginginkanmu. Tapi di sisi lain Uda ragu. Karena mungkin di mata kamu Uda adalah pria cacat yang jauh dari kriteria idaman."
Safa masih bungkam. Matanya menatap kosong dada Edzar sembari mendengarkan. Jantungnya berdetak tak karuan, sekaligus berdenyut menyakitkan. Semuanya bercampur hingga dadanya terasa penuh sesak. Ia menelan ludah berusaha bertahan. Mungkin benar apa yang bundanya katakan. Safa tak selamanya bisa lari. Cepat atau lambat dia harus bicara dengan Edzar. Berdua. Dan mungkin ini memang saatnya.
"Uda minta maaf. Maafin Uda, Sayang," bisik Edzar. "Uda janji tak akan menyembunyikan apapun lagi dari kamu."
"Tolong, beri Uda kesempatan untuk bahagiakan kamu. Kamu mau 'kan?"
Safa terdiam. Edzar berharap-harap cemas menanti jawaban. Hingga Safa kembali mendongak, menatap tepat di mata Edzar untuk pertama kalinya setelah satu bulan hubungan mereka merenggang.
Manik yang ia rindukan. Kendati pancarannya berbeda, Edzar tetap menganggapnya paling indah.
"Ai ..." bisik Edzar mengekspresikan rasa kagumnya. Safa sangat cantik. Tapi entah kenapa hari ini terlihat jauh lebih cantik.
Edzar tersenyum menyampirkan anak rambut wanita itu yang sudah kembali berwarna cokelat kehitaman. Entah kapan Safa menggantinya. Yang pasti Edzar tetap suka.
__ADS_1
"Aku tidak bisa," ucap Safa tiba-tiba. Membuat gerakan tangan Edzar berhenti di udara.
Mata mereka terpaku, terpaut satu sama lain.
Edzar menelan ludah kasar. Sebuah retakan terdengar dari alam bawah sadarnya. Berderak membentuk serpihan yang lambat-laun berjatuhan. Jantungnya bertalu menyakitkan. Nafas Edzar terasa sesak seketika.
"A-ai .... Apa maksud kamu?" Mata Edzar mulai berkaca. Menatap Safa penuh permohonan. Edzar menggeleng, "Jangan seperti ini, Sayang. Uda mohon. Jika kamu belum siap melihat Uda, Uda akan pergi dari sini."
"Tapi, tolong jangan katakan apapun mengenai perpisahan. Beri Uda kesempatan. Uda janji tidak akan kecewakan kamu kali ini. Tolong beri Uda kesempatan untuk perbaiki hubungan kita."
"Uda cinta sama kamu, Ai. Uda gak bisa kehilangan kamu."
"Kita bicarakan ini lagi nanti, ya? Setelah kepala kamu sudah benar-benar dingin dan mampu berpikir positif." Edzar merapikan rambut Safa yang basah. Persis matanya yang kini tak bisa lagi menahan substansinya.
Lelaki itu sedikit terisak, walau rautnya berusaha tetap tenang.
Safa menurunkan tangan Edzar dari kepalanya. Matanya mengunci Edzar hingga terpaku.
"Aku gak bisa."
Edzar kembali menggeleng. Memohon agar Safa tak melanjutkan ucapannya. "Ai ...."
"Aku gak bisa kalau Om belum pertemukan aku dengan Dika."
"Ai ..."
"Juga semua masa lalu Om yang belum aku ketahui."
Seketika senyum Edzar mengembang lebar. Tanpa sadar tangannya meraih Safa ke pelukan. Mengecupi kepala wanita itu yang wangi oleh aroma shampo yang sudah lama tak ia cium.
Kepala Edzar mengangguk cepat. "Uda siap. Uda siap pertemukan kamu dengan mereka, kalau kamu juga siap."
Safa termangu. Apa keputusannya sudah benar? Kendati hatinya berdenyut nyeri, mau tak mau Safa harus menyelesaikannya.
Dia terlanjur masuk dalam lubang kehidupan Edzar. Suka tidak suka. Ikhlas tidak ikhlas, Safa tetap akan melebur juga meski takdir berkata lain sekalipun.
__ADS_1