
Seseorang pernah berkata, jangan risaukan jodoh, jodoh itu akan datang dalam sendirinya. Ada juga yang bilang jodoh itu selalu bertemu dalam setiap kesempatan. Tapi, seseorang lainnya mengatakan bahwa semua itu adalah mitos.
Jodoh tidak akan datang kalau tidak dicari. Itu benar. Tapi ada juga yang bertemu jodoh tanpa disengaja atau bertemu di tempat tak terduga.
Dan Safa pikir ia sedang berada dalam kemungkinan terakhir itu. Entah itu mitos atau fakta, yang jelas kali ini Safa akan memilih kubu fakta. Kenapa? Karena Safa berharap pertemuannya dengan Edzar merupakan pertanda di atas tadi.
Edzar, Jaksa tampan yang akhir-akhir ini menempati kepala Safa. Safa tak tahu dia sedang berhalusinasi atau tidak saat tiba-tiba matanya menangkap penampakan lelaki itu di rumah Omanya.
Safa berpikir tengah berkhayal saking rindunya. Safa memang bukan remaja kemarin sore yang baru merasakan puber. Di antara kalian pasti pernah mengalami keinginan melihat seseorang dalam kurun menit yang singkat. Itu merupakan naluri alami kita saat menyukai atau mengagumi seseorang.
Namun saat Erina menyikutnya bayangan Edzar tak kunjung hilang. Malah Safa hampir menjerit saat tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Edzar melihatnya. Apakah ini nyata?
Safa mematung di tempat, tak memedulikan sorak sorai yang terdengar saat 2 insan di panggung sana resmi bertunangan. Mata Safa hanya memaku pada satu arah. Dunianya seakan berpusat pada satu titik yaitu Edzar.
Menunggu sewaktu-waktu sosok itu akan memudar. Nyatanya saat lagi dan lagi Erina menyikutnya pun sosok Edzar masih berdiri di tempatnya.
“Safa gak lagi halu ‘kan?” gumam Safa.
Erina mengernyit, “Kamu liatin apa, sih? Kak Riz sama yang lain udah naik, tuh. Mereka mau foto. Ayo ikut!”
Erina menyeretnya. Safa hanya menurut tanpa banyak bicara. Pikirannya berkelana oleh berbagai pertanyaan. Apa yang dilakukan Edzar di sini? Ada hubungan apa lelaki itu dengan keluarga calon pria? Kenapa dia berada dalam rombongan Om Tirta?
Sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu harus mengendap untuk sementara kala dirinya juga Erina naik ke atas panggung, menyusul para sepupu untuk berfoto.
Sesi foto pun dimulai. Tubuh Safa yang mungil membuatnya selalu menempati posisi tengah, tepat di samping tantenya, sang tokoh utama malam ini.
Safa tersenyum lebar mengikuti arahan fotografer. Mereka bukan orang yang kaku di hadapan kamera hingga sedikit banyak mempermudah jalannya pemotretan.
Beralih pada pose lainnya, mereka duduk bersimpuh dengan kaki terlipat setengah selonjor mengelilingi Tante Miranti yang berada di tengah. Kali ini tanpa Om Tirta karena sesi ini khusus untuk para wanita Halim.
“Alolo ... jangan injak rok aku dong Mak!” tiba-tiba Renata berteriak kesal.
Liliana meringis memperbaiki posisinya yang berlutut setengah berdiri. Safa dan yang lain memutar bola mata, pasalnya hal itu terjadi saat jepretan kamera. Alhasil mereka harus mengulang. Kenapa teriaknya gak nanti aja, sih.
Kegaduhan kecil itu sukses mengundang tawa. Miranti sendiri hanya menggeleng melihat polah putri-putri dari kakaknya itu. Mereka seringkali membuat kekonyolan jika disatukan.
__ADS_1
Selesai dengan keponakannya, Tante Miranti lanjut berfoto dengan para saudaranya, termasuk Bunda Safa yang sekarang terlihat bergaya sesuka hati. Jangan remehkan wanita paruh baya itu. Di depan kamera, Nyonya Halim jauh lebih centil daripada Safa.
Safa berlalu mengambil minum. Dia baru sadar belum minum sejak Rizkia mendandaninya, pantas tenggorokannya terasa kering, ternyata dehidrasi. Safa juga merasa tubuhnya tak sebugar biasanya, mungkin besok Safa akan mencari vitamin.
Lagi dan lagi matanya mengedar sekitar, mencari-cari sosok yang sejak tadi mengganggu pikiran. Kemana gerangan Pak Jaksa-nya Safa itu? Safa ‘kan butuh penjelasan.
Memang kamu ada hubungan apa sama Edzar sampai harus dijelasin segala? Batinnya mengejek.
Bukan Edzar yang ia dapat, tapi tepukan ringan di bahunya yang sontak membuat Safa menoleh.
“Mencari seseorang?” Rizkia memiringkan kepala menatap Safa.
Kemudian jari telunjuknya teracung pada sebuah arah membuat Safa mengikutinya dengan kening berkerut.
“Bukankah dia yang kamu cari?”
Hening. Safa masih mencerna maksud kakak sepupunya.
“Jadi dia orangnya?” tanya Rizkia lagi. “Cowok yang kamu suka. Dia ‘kan?”
“Jangan kamu kira kakak gak tau matamu mengarah kemana sejak tadi ya Safa. Kita dari tadi merhatiin kamu ...” ucapnya penuh kemenangan sekaligus menuntut.
Memang benar, tanpa Safa sadari tingkahnya telah diamati para cucu Halim. Mereka kalau sudah penasaran pantang untuk tak mencari tahu. Sialnya Safa terlalu kentara dalam bersikap, dia menyesalkan kebodohannya yang selalu lengah dengan sekitar.
“Tapi ... dari mana kamu kenal kakak ipar Tante Miranti?”
Apa?
“Maksud Kak Riz?” tanya Safa tak mengerti.
“Kamu gak tau? Yang daritadi kamu liatin ‘kan Kakaknya Om Tirta.”
Jdeerr...
Safa merasa ada petir di malam hari. Kebetulan langit memang tak secerah biasanya, mungkin sebentar lagi hujan.
__ADS_1
Apa katanya? Kakak Om Tirta? Itu berarti calon kakak ipar Tante Miranti? Yang artinya calon om Safa juga, dong?
“Om Edzar!”
Sekonyong-konyong Rizkia berseru melambaikan tangan. Safa masih mematung belum berani berbalik. Ia masih berusaha mencerna semuanya. Sampai langkah kaki terdengar mendekat dan Safa dapat mencium aroma maskulin di sampingnya.
Edzar calon om iparnya?
Lelucon macam apa ini?
Ya Tuhan, apa ini kebetulan atau memang takdir? Kalau begini ceritanya, apa iya Safa masih bisa pendekatan dengan Edzar? Secara tidak langsung lelaki itu calon kerabatnya.
Tapi, bukankah sah-sah saja? Mereka kan tidak sedarah. Duh, belum juga official Safa sudah mikir kejauhan. Percaya diri sekali dia. Belum tentu juga mereka berjodoh. Kok, terdengar agak menyebalkan, ya? Positif thinking saja. Siapa tahu Tuhan mengabulkan.
“Kenalin, Om. Saya Rizkia, keponakan Tante Miranti.”
Edzar menyambut tangan Rizkia, “Edzar.”
“Dan ini ... Sepupu saya. Safana.”
Safa masih hanyut dalam lamunan hingga tak begitu memperhatikan perbincangan yang terjadi. Matanya memaku Edzar yang terlihat sangat tampan malam ini.
Kemeja batik lengan panjang dengan warna senada dress code keluarga membuat pesonanya bertambah kali lipat. Fix, sih, ini favorit kedua Safa setelah seragam Kejaksaan pria itu.
Edzar nampak berwibawa, berbeda dengan saat memakai kaos dan celana pendek yang Safa lihat pas cuci mobil, lelaki itu terlihat seksi dan menggoda.
Rizkia menyikut Safa hingga tersadar. Reflek Safa mengulurkan tangan kepada Edzar.
Mereka pun berjabat tangan.
“Saya tahu. Kebetulan kami bertetangga.”
Safa meringis. Terlebih saat melihat ekspresi sepupunya yang mengangguk dengan wajah penuh arti.
Matilah dia. Setelah ini, mereka pasti akan tambah ramai menggodanya. Mendadak Safa berharap waktu bisa diputar. Kalau tahu akan begini, Safa pasti akan lebih menjaga ucapannya supaya tidak asal bicara dan keceplosan.
__ADS_1