SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 102


__ADS_3

Safa tidak mengerti takdir apa yang tengah menimpanya. Safa sudah minta untuk dijauhkan dari Edzar. Namun entah mengapa Tuhan mengirimkan lelaki itu sebagai bala bantuan. Apakah ini kebetulan?


Benar. Katanya, Edzar kebetulan lewat dan melihat kami berdiri di pinggir jalan. Sebagai tetangga dan orang yang saling mengenal, tentu Edzar tak bisa tinggal diam dan bersikap abai. Apalagi mereka terlihat kesulitan.


Tapi, kenapa harus Edzar? Kenapa tidak orang lain saja, Tuhan....


Safa menjerit kesal dalam hati. Meski begitu Edzar tahu apa yang Safa pikirkan. Menurutnya, Safa itu ibarat buku yang terbuka, apa yang ada di kepala gadis itu ketahuan semuanya. Tanpa sadar Edzar mendengus geli, bibirnya tersungging samar menatap Safa yang kini melihatnya dengan tatapan tajam.


Edzar tahu Safa tak senang dengan keberadaannya. Terbukti dari sikapnya yang buru-buru memalingkan muka. Tapi Edzar tak peduli, dia akan berusaha sekeras mungkin untuk menggenggam kembali perasaan gadis itu.


"Kamu kelihatan udah jenuh banget. Mending pulang sama Nak Edzar, ya?" bujuk Tuan Halim sekali lagi.


Safa mengernyit tak senang, "Safa, kan, udah pesan taksi," ujarnya beralasan. Padahal ia sedang mencari cara agar tak pulang dengan Edzar.


"Cancel!" tegas Tuan Halim. "Memangnya kamu mau menunggu sampai berama lama lagi? Satu jam? Dua jam?"


"Udah, mending pulang sekarang."


"Tapi—"


"Jangan membantah."


Bibir Safa mengerucut menerima tatapan tajam dari sang ayah. Safa tahu ayahnya khawatir, tapi apa tidak ada pilihan lain selain Edzar?


Lagipula tumben-tumbenan ayahnya mengizinkan Safa pergi dengan seorang pria. Biasanya Tuan Halim sangat posesif jika ada yang mendekat barang sejenak.


Tuan Halim memberi isyarat agar Safa segera beranjak. Dengan setengah hati Safa bangkit dari posisi duduknya di atas kap mobil dan berjalan menghentak melewati Edzar.


Sejurus kemudian dia menoleh, "Ya udah ayo!" teriaknya pada Edzar yang malah terdiam.


Lelaki itu tersentak. "A-ah, iya."


"Om, kami duluan."


Tuan Halim mengangguk menepuk bahu Edzar, "Saya titip anak saya, ya. Maaf merepotkan."


"Sama sekali tidak."


Apaan, sih, Edzar pakai cium-cium tangan Ayah segala! Batin Safa kesal.


"Ayah gak ikut?" tanya Safa heran.


"Ayah ada urusan. Udah telpon sopir kantor tadi dan lagi jalan ke sini. Sekalian nemenin Pak Iwan, kasian kalo sendirian."


"Kok, gitu? Terus, Safa pulang berdua aja sama orang ini?" tanya Safa tak senang.


Tuan Halim melotot, "Jaga mulut kamu. Gak sopan. Nak Edzar ini keluarga besan."


"Besannya Oma, kan, bukan Ayah?"


"Safa...."


"Sudah, Om. Tidak masalah. Safa pasti lelah karena ini hari pertama dia kerja." Edzar berusaha melerai ayah dan anak itu.


Tuan Halim menatap Edzar tak enak, "Maaf, ya, Nak Edzar."


Edzar mengulas senyum pengertian. Kemudian dia pamit menyusul Safa yang sudah berjalan duluan. Edzar menggeleng melihat Safa dari belakang. Gadis itu tengah merajuk. Anehnya Edzar merasa itu sangat imut.


"Mobilnya di mana, sih!" Safa menghentikan langkah untuk berbalik menatap Edzar. Pun Edzar yang ikut berhenti dan menunjuk sebuah mobil yang sudah mereka lewati.


Sontak hal itu membuat rasa kesal Safa meluap, "Kenapa gak bilang dari tadi?!" ujarnya berteriak.


Dengan santai Edzar menjawab, "Kamu gak tanya."


Safa menghentak kesal kembali melewati Edzar. Sialnya hak sepatu Safa tiba-tiba tergelincir di trotoar, membuatnya terseok dan hampir jatuh kalau saja Edzar tak langsung meraih pinggangnya.


"Hati-hati," bisik Edzar dengan suara yang entah kenapa terdengar.... intim?


Dag dig dug.


Jantungnya berdetak tak karuan. Buru-buru Safa melepas dekapan Edzar dan lanjut berjalan. Menghampiri mobil yang tadi Edzar tunjuk. Sayangnya dia lupa mobil itu masih terkunci.


Edzar terkekeh geli melihat tingkah Safa. Tak mau membuatnya kesal terlalu lama, Edzar pun menekan remot kontrol mobilnya. Tanpa kata Safa langsung membuka pintu dan membantingnya keras.


Brak!


Sungguh, Edzar mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa.


Dia pun menyusul Safa yang sudah duduk di kursi penumpang, bersidekap dengan punggung tegak dan pandangan lurus ke depan. Edzar melirik sabuk pengaman yang sudah terpasang. Rupanya gadis itu sungguh-sungguh menghindari kontak fisik dengannya.


"Kamu bisa keram jika duduk seperti itu."


Tentu saja Safa tak menghiraukan.


Edzar segera menarik perseneling menjalankan mobilnya. Tak lupa ia menekan klakson saat melewati Tuan Halim dan Pak Iwan yang tengah jongkok di pinggir jalan.


Pak Iwan menopang dagu mengamati mobil Edzar yang menjauh. "Bukankah mereka terlihat manis?"


"Hmm." Tuan Halim bergumam sembari mengotak-atik ponselnya. Ia harus menghubungi sang istri bahwa mungkin ia akan pulang telat.


...................


Hening menyelimuti perjalanan Safa dan Edzar. Beberapa kali lelaki itu melirik gadis di sampingnya yang setia bungkam. Safa yang diam seperti ini terasa aneh baginya. Namun, Edzar sadar diri bahwa saat ini Safa tengah membencinya.


"Kamu lapar?"


"Enggak," jawab Safa setengah ketus.


Kruuukk....


Sontak Edzar mengulum tawa. "Kita makan dulu," putusnya.


"Aku bilang aku gak lapar!"


"Perut kamu bunyi, Sayang."


Safa menoleh cepat. Apa telinganya sedang bermasalah?


"Om bilang apa?"

__ADS_1


"Hm? Kamu lapar?"


"Bukan."


"Perut kamu bunyi?"


"Bukan."


Edzar mengernyit dengan fokus menatap jalan, "Lalu apa?"


Safa terdiam sebentar, kemudian dia mengibas dan kembali bersidekap di posisinya. Sudah, lah, pasti ia salah dengar. Tidak mungkin Edzar bilang sayang.


Ternyata Safa masih seberharap ini pada Edzar.


Mobil berhenti di pelataran cafe. Rupanya lelaki itu membawanya ke Morinaza— Cafe milik Edzar sendiri.


Edzar yang tengah membuka sabuk pengaman sesaat berhenti melihat Safa yang murung. "Kamu kenapa?"


Tak ada jawaban.


"Gak suka tempatnya? Mau makan di tempat lain?"


"Gak usah."


Safa membuka seat belt-nya lalu bergegas keluar. Meninggalkan Edzar yang terbengong dengan mulut setengah terbuka. Tangannya terangkat menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


"Dia kenapa?" tanyanya pada diri sendiri.


Safa melewati pintu masuk mengedarkan mata sebentar. Kakinya melangkah memilih kursi di pojokan. Beberapa karyawan di sana saling sikut menunjuknya. Tentu mereka masih ingat perempuan yang dibawa si bos ke ruangan. Sudah gitu ada saksi mata yang melihat mereka berciuman.


Tak lama Edzar menyusul masuk. Jelas hal itu semakin menarik perhatian para pegawainya. Pria itu memutar pandangan mencari Safa, rupanya gadis itu duduk di meja paling ujung dekat jendela. Padahal Edzar ingin mengajak Safa makan di ruangannya agar lebih privasi. Tapi Edzar tak ingin memaksa dan berujung membuat Safa tak nyaman.


"Je!"


Pemuda yang dipanggil Jeje itu mendekat. Bukan Jeje Govinda, lho, ya.


"Iya, Pak, mau pesan apa?" Jeje meringis karena merasa aneh bertanya seperti itu pada owner alias si pemilik tempat.


Yang ditanya malah menatap Safa, "Kamu mau makan apa?"


Safa tak menghiraukan Edzar dan fokus pada buku menu. Tak lama ia menunjuk beberapa yang diinginkan pada Jeje yang langsung mencatatnya dengan cekatan.


Jeje beralih manatap Edzar, "Bapak mau makan apa?"


"Samakan," ujarnya singkat dengan mata tak lepas dari Safa.


Pemuda itu pun mengangguk dan berlalu dari sana. Serentak teman-temannya yang lain langsung menghampiri. Wajah mereka terlihat luar biasa kepo.


"Cewek yang waktu itu, ya?"


Jeje mengangguk.


"Tuh, kan, bener!" seru Hani pelan. "Tapi kayaknya mereka lagi berantem?"


"Gak tau, tuh. Si Bos dicuekin, haha."


Di sisi lain Safa merasa risih karena terus ditatap oleh Edzar. Pria itu kenapa, sih? Bikin gugup aja. Safa, kan, malu. Jantung Safa juga jadi berdisko gara-gara Edzar. Meski Safa membenci Edzar, tapi ia tetap sulit menahan perasaannya jika berhadapan seperti ini.


Edzar tersenyum kalem, "Kamu cantik."


Safa mendelik dengan wajah merengut. Merasa aneh dengan sikap Edzar akhir-akhir ini. Apa ini benar Edzar si pria kaku? Kok, rasanya gak mungkin. Safa lebih percaya kalau pria itu tengah kesurupan.


"Om sakit, ya? Buruan ruqyah!"


Tanpa diduga Edzar tertawa, membuat Safa terperangah karena ternyata suara Edzar sangat renyah. Ini pertama kali Safa melihat Edzar tertawa seperti itu. Tapi, ini juga membuatnya merinding.


"Om kenapa, sih? Aku pindah aja, ah!"


Sontak Edzar menahan lengan Safa yang hendak meninggalkan kursinya. "Mau kemana?"


"Mau pindah! Lepas!"


"Pindah? Ya udah ayo." Edzar malah menyeretnya dengan wajah tanpa dosa. Pria itu mengajak Safa ke ruangannya yang ada di lantai dua.


"Apa sih kok malah ke sini?!" sentak Safa melepas cekalan Edzar.


"Kita makan di sini, ya? Biar lebih nyaman."


"Gak mau."


Safa hendak lari begitu Edzar kembali meraihnya dan memaksanya masuk ke ruangan pria itu. Safa meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Dia baru tahu ternyata Edzar sangat pemaksa.


"Lepasin!"


"Om apaan, sih, maksa-maksa aku!"


Tadinya Edzar tidak ada niat untuk memaksa seperti ini. Tapi, melihat Safa yang jadi pusat perhatian terutama para pengunjung lelaki, mendadak Edzar tak rela. Dia kesal karena yang mereka lihat bukan hanya wajahnya, tapi....


Edzar menunduk melihat rok Safa.


"Rok kamu.... Apa tidak terlalu pendek?"


Safa mengernyit, raut kesal masih tersemat di wajahnya. "Apaan, sih? Mau pendek mau panjang itu bukan urusan Om."


"Lagian ini selutut. Apanya yang pendek?" lanjutnya menggerutu.


"Udah, ah, lepasin!"


Safa menghentak-hentak tangannya berusaha melepaskan cekalan Edzar. Namun Edzar tak menyerah begitu saja. Pria itu menyeretnya ke arah sofa yang ada di sana.


"Om lepasiinn...."


"Kita makan di sini."


"Ya udah kalo Om mau makan di sini, makan aja sendiri. Gak usah ajak-ajak aku!"


"Kamu juga harus makan di sini."


"Gak mau!"

__ADS_1


"Duduk."


"Enggak!"


"Duduk atau saya peluk?"


Seketika Safa terdiam. Aura Edzar membuatnya ciut. Dasar sialan. Bisa-bisanya lelaki itu melakukan pemaksaan. Bisakah Safa membuat tuntutan?


Dengan rasa manut yang terpaksa Safa duduk sesuai kemauan Edzar. Tapi Safa memilih bagian sofa paling ujung dan terjauh.


Edzar yang melihat itupun hanya bisa menghela nafas. Baiklah. Yang penting Safa sudah aman dari pandangan mata keranjang. Edzar merogoh ponselnya di saku celana.


"Halo? Je, bawakan makanannya ke ruangan saya."


"Ini saya di depan pintu, Pak. Nunggu Bapak selesai berantem."


Edzar berdecak memejamkan mata, "Masuk."


Cklek.


Jeje masuk membawa nampan berisi pesanan Safa dan Edzar. Lelaki itu berjalan sangat berhati-hati seolah takut membuat kesalahan. Dia merasakan aura tak enak di ruangan ini. Dengan perlahan Jeje meletakkan satu persatu piring dan gelas ke atas meja.


Jangan tanya detak jantungnya separah apa. Masih untung tangannya tidak tremor.


"Silakan, Pak, Mbak. Apa ada sesuatu yang diinginkan lagi?"


"Tidak ada. Silakan keluar."


"Baik. Saya permisi." Jeje berjalan mengendap, bahkan ia berusaha tak membuat suara saat menutup pintu.


Edzar melirik Safa yang diam di tempat. Karena sepertinya Safa tak ada niatan untuk bergerak, jadi Edzar mendekatkan piring makanan Safa beserta minumannya ke hadapan gadis itu.


Tahu-tahu mata sipit itu mendelik tajam, membuat Edzar menghentikan sejenak gerakannya.


"Saya duduk di sana. Kamu tenang saja." Edzar menunjuk bagian lain sofa yang mereka duduki dengan matanya. Alhasil, mereka duduk dari ujung ke ujung.


Lain Edzar yang makan dengan tenang, Safa sama sekali tak bisa santai. Dia memakan makanannya dengan terburu-buru. Beruntung tidak ada adegan tersedak yang akan membuatnya malu. Apalagi jika makanannya sampai keluar dari hidung kayak di drama True Beauty. Safa tak akan punya muka lagi di hadapan Edzar.


Safa berhasil menghabiskan isi piringnya dengan cepat. Lekas ia minum dengan tergesa-gesa. Namun Safa lupa, tidak tersedak saat makan bukan berarti tidak akan tersedak saat minum.


Karena kurang berhati-hati tenggorokan Safa tersekat hingga membuatnya terbatuk-batuk. Hancur sudah harapannya untuk tidak tersedak. Ujung-ujungnya Safa batuk juga.


"Uhuk uhuk!"


"Uhuuk!"


Edzar yang melihat itu langsung mendekat dengan segelas air. Namun masih sempat-sempatnya Safa mendorong Edzar untuk menjauh. "Jangan deket-deket!"


"Jangan deket-deket gimana? Kamu batuk separah itu!" seru Edzar memaksa Safa untuk minum.


"Berhenti keras kepala dan minumlah!"


Mau tak mau Safa minum dari gelas Edzar karena miliknya sendiri sudah kosong. Safa meminumnya hingga tandas sampai batuknya lumayan mereda. Safa berdehem dengan nafas terengah. Ternyata keselek semelelahkan ini.


Edzar menyimpan gelas kosong itu ke atas meja. Lalu mengusap-usap punggung Safa dengan pelan. "Sudah enakan?"


"Hmm."


"Aku mau pulang."


"Sekarang?"


"Ya iyalah sekarang. Awas, ah!"


Safa berdiri dan hendak melewati Edzar.


"Sebentar. Saya antar."


"Gak usah!"


"Kamu dilarang menolak karena ini amanah dari Ayah kamu."


"Cih, amanah. Dulu aja cuma membual."


"Maksud kamu?"


"Gak maksud apa-apa. Awas!"


"E-eh!"


Safa yang ceroboh. Safa yang kurang berhati-hati. Lagi-lagi jatuh di pelukan Edzar. Kakinya keserimpet tungkai Edzar yang panjang hingga membuatnya oleng ke pangkuan lelaki itu.


Duk.


Safa terduduk tepat di atas paha Edzar. Keduanya sama-sama terdiam karena terkejut. Suasana juga mendadak canggung.


"Ma-maaf..." cicit Safa.


Saat akan bangkit tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu. Secara bersamaan ujung heelsnya mendadak licin hingga membuatnya jatuh kembali di pangkuan lelaki itu.


"Argh!"


Safa tersentak. Edzar kenapa?


Sekali lagi Safa merasakan sesuatu di balik tangannya. Penasaran, Safa mengusap-usap bagian yang ia pegang tanpa menyadari raut Edzar yang kian berubah.


Seolah tak cukup, Safa kembali menambah siksaan hingga membuat Edzar terpejam. Nafas pria itu terengah.


Tidak tahan, Edzar pun berbisik lirih. "Jangan diremas," ujarnya sembari mencekal pergelangan Safa.


Sontak Safa menghentikan gerakan tangannya. Seolah baru saja tersadar, mata Safa membeliak seakan mau loncat keluar.


Apa yang ia lalukan?


Apa yang baru saja Safa pegang?


Bodohnya, tangan Safa masih betah saja diam di sana, di atas resleting celana Edzar. Hingga lambat-laun ia menyadari sesuatu yang dipegangnya semakin mengeras. Entah terlalu terkejut atau apa, Safa malah mematung tanpa berani bergerak.


Tidak, Safa sedang mengumpulkan kesadaran untuk kemudian berteriak.

__ADS_1


"Aaaa...!!!"


"Om mesuumm....!!!"


__ADS_2